
Beberapa saat lalu, Arya yang merasa sangat marah pada orang tuanya karena menganggap tidak punya hati ketika berbicara ingin merebut darah dagingnya dari seorang ibu yang telah berjuang merawat dan membesarkan sendiri tanpa dukungan dari siapapun.
Hingga ia saat ini berniat untuk meninggalkan semuanya dan memulai hidup baru tanpa memanfaatkan harta orang tuanya. Kemudian ia berjalan ke arah jalan raya karena ingin menghilangkan pikiran yang dipenuhi oleh banyak masalah.
Namun, ia yang tidak fokus ketika hendak menyeberang, hampir saja tertabrak mobil yang melaju sangat kencang, tapi masih baik iya bisa menghindar dengan cepat begitu menyadarinya.
Hingga yang terjadi adalah mobil itu menghantam kendaraan lain hingga mengakibatkan kecelakaan dan memenuhi badan jalan serta membuat arus lalu lintas macet.
Sementara ia yang masih berdegup kencang jantungnya ketika tadi berlari secepat kilat untuk menghindar dan membuatnya terjatuh di seberang jalan dengan kondisi luka-luka di bagian tangan serta kaki.
__ADS_1
"Aku masih hidup? Kupikir hari ini adalah terakhir berada di dunia karena melihat mobil yang melaju sangat kencang hendak menabrakku." Saat ia sudah dikerumuni oleh beberapa orang yang iba padanya karena terjatuh di seberang jalan, indra pendengaran menangkap suara seorang wanita yang sangat tidak asing memanggil namanya.
"Tuan, Anda tidak apa-apa?" tanya beberapa orang yang datang menghampiri untuk memeriksa.
Sementara beberapa yang lain tengah menatap memeriksa keadaan dua mobil yang saling bertabrakan.
Arya bahkan tidak fokus pada pertanyaan beberapa orang itu karenanya ingin memastikan bahwa Indra pendengarannya masih normal.
Ia saat ini berbicara dengan salah satu pria yang berjongkok untuk memastikan keadaannya yang masih terduduk di pinggiran aspal dengan rasa nyeri serta tangan dan kaki terluka.
__ADS_1
"Pak, tolong lihat seorang wanita yang pengen memanggil namaku. Itu adalah mantan istri saya." Saat Arya berniat untuk menyuruh pria tersebut memberitahukan putri jika ia saat ini baik-baik saja agar tidak khawatir, tidak jadi melakukannya.
Itu karena ia bersitatap dengan seorang wanita yang menghambur mendekat ke arahnya dan membungkuk untuk memeriksa keadaannya. Bahkan raut wajah kekhawatiran terlihat jelas ketika Putri saat ini memeriksa keadaan tangan dan kakinya.
"Arya, syukurlah kamu baik-baik saja. Aku tadi mengikutimu dari belakang dan tiba-tiba menghilang, sehingga kupikir ditabrak oleh mobil berwarna putih itu. Aku bahkan berpikir mencari tubuhmu dengan membayangkan sudah bersimbah darah dan tergeletak di tengah jalan." Putri masih berusaha untuk menormalkan degup jantungnya yang tidak beraturan karena dipenuhi oleh rasa takut.
Ia mengingat tentang cerita dari Amira Tan ketika Arya mengalami kecelakaan saat malam kepergiannya, sehingga berakhir mengalami amnesia dan sampai sekarang bahkan tidak bisa mengingat apapun mengenai hubungan mereka.
"Aku benar-benar sangat lega kamu selamat dari maut," lirih Putri yang saat ini berkaca-kaca dan berbicara dengan suara serak karena menahan kesedihan ketika membayangkan pria yang bahkan sampai saat ini masih dicintai terbujur kaku kehilangan nyawa seperti sang istri setelah mengalami kecelakaan.
__ADS_1
"Arya, maafkan aku dan aku menarik kata-kataku yang ingin kamu mati ketika berbicara di depan ruangan jenazah tadi," lirih Putri dengan menangis tersedu-sedu karena sangat takut jika kemurkaannya beberapa saat lalu menjadi kenyataan dan benar-benar melihat mayat mantan suami.
To be continued...