
Bambang Priambodo dan Aldiano kini saling berisi tatap karena tidak bisa menasihati Putri yang kini berniat untuk mengemasi pakaian. Mengetahui jika wanita yang sibuk memikirkan nasib orang lain daripada diri sendiri, sangat susah untuk dihentikan.
Bambang Priambodo kini memijat pelipis karena merasa pusing saat tidak berhasil membujuk menantu kesayangan dan beralih menatap ke arah putranya yang hanya diam saja di sebelahnya.
"Apa sekarang kau puas dan senang karena kini bebas bisa berbuat apapun sesuka hati setelah berpisah dengan Putri?" Ia sengaja menyindir putranya agar tergerak untuk mencari sebuah ide menghentikan sang menantu.
Bahkan berharap jika apa yang sempat terlintas di pikirannya benar. Jika ada celah di hati putranya untuk Putri. 'Semuanya akan terjawab saat putraku mempunyai niat untuk berusaha menghentikan kepergian Putri,' gumamnya dengan menatap tajam putranya.
Aldiano yang dulunya berpikir jika apa yang dikatakan oleh sang ayah yang benar, kali ini jauh berbeda dan membuatnya tidak tahu apa yang harus dilakukan sekarang.
"Apa Papa sekarang mau menyalahkanku atas semua yang terjadi hari ini? Bukankah Papa sendiri yang mempunyai ide untuk memperkenalkan Putri di depan awak media agar seluruh dunia tahu jika aku sudah mempunyai istri sepertinya?" Aldiano yang tadinya kesal karena melihat sikap keras kepala Putri, kini semakin bertambah karena disudutkan.
Hingga ia yang merasa kesal, kini tidak bisa menahan amarah yang bergemuruh di dalam hatinya dan berjalan masuk ke dalam ruangan yang selama ini ditempati oleh ibu dan anak tersebut karena mereka berada di tempat berbeda meskipun berstatus sebagai suami istri.
Begitu melihat wanita di depan lemari kaca yang tengah memasukkan pakaian ke dalam koper, semakin membuatnya merasa murka. Refleks iya langsung mengangkat koper tersebut dan melemparnya ke sebelah kanan.
"Apa kau tuli, haah?" Aldiano benar-benar sangat marah karena baru pertama kali melihat seorang wanita yang sangat berani dan tidak mau mendengarkannya dan juga sang ayah.
Sementara itu, Putri yang merasa sangat terkejut dengan perbuatan kasar dari Aldiano, seketika amarah meletup-letup dirasakannya dan ingin sekali menampar wajah pria di hadapannya tersebut.
"Apa yang Anda lakukan?" Ia yang masih berusaha untuk bersikap sopan karena sadar jika ia dan pria itu berbeda kasta, jadi meskipun sedang marah sekalipun, tidak bisa menghilangkan panggilan formal.
Apalagi ada mertua yang masih berdiri di depan pintu ruangan kamarnya. Bahkan ia semakin bertambah murka karena saat ini putranya menangis karena terkejut dan terbangun akibat perbuatan kasar Aldiano.
"Apa Anda tidak sadar jika perbuatan kasar itu membangunkan anak kecil yang tengah tertidur pulas? Bahkan orang tua saja bisa sangat marah jika terganggu ketika tidur nyenyak. Apa itu pun saja tidak mengerti?" Putri saat ini seketika beralih mendekati putranya dan menggendong agar tidak terus menangis di tengah malam.
Sementara itu, Aldiano yang sama sekali tidak peduli jika anak kecil itu menangis karena satu-satunya yang diinginkan sekarang adalah menghentikan Putri agar membatalkan niat untuk pergi ketika semuanya masih sangat rumit dan belum diselesaikan.
"Jika kau tidak menjadi wanita yang keras kepala, mana mungkin aku melakukan ini. Bukankah tadi Papa sudah menjelaskan padamu tentang apa yang harus dilakukan mengenai masalah yang menyeret namamu dengan mengorek masa lalu?" sarkas Aldiano yang saat ini berteriak sangat keras dan ruangan kamar itu dipenuhi oleh suara tangisan serta lengkingan suaranya.
Putri yang saat ini masih sibuk menenangkan putranya agar tidak menangis, tentu saja gagal karena Aldiano kembali berteriak dan membuat buah hatinya ketakutan dan semakin kencang tangisnya.
"Tolong Anda pergi karena akan menenangkan Xander terlebih dahulu. Kita bahas masalah ini lagi setelah putraku kembali tertidur." Putri ini masih memeluk erat putranya dengan beberapa kali mengusap punggung.
Berharap perbuatannya bisa menenangkan putranya yang ketakutan dan perkataannya didengar oleh Aldiano agar keluar dari ruangan kamar. Ia sama sekali tidak menyangka jika pria itu terlihat murka padanya.
Ia berpikir jika orang pertama yang merasa sangat senang melihatnya pergi adalah Aldiano karena selama ini selalu menghinanya dengan kata-kata kasar, tapi kali ini merasa sangat bingung sekaligus kesal, tapi tidak bisa meluapkannya. Ia memilih sibuk menenangkan putranya.
'Apa dia sudah gila? Bukankah ini yang dari dulu diinginkannya? Kenapa sekarang ada kesempatan, malah marah padaku dan melarangku pergi? Apa dia ingin aku mati, baru bisa puas?' umpat Putri yang saat ini beralih menatap ke arah sang mertua baru masuk ke dalam.
Awalnya ia merasa sangat lega karena berpikir mertuanya tersebut membawa sang putra untuk keluar dari ruangan kamar dan membiarkannya tenang menidurkan putranya kembali.
__ADS_1
Namun, semuanya tidak seperti yang dipikirkan begitu mendengar suara bariton dari pria paruh baya tersebut yang meminta putranya.
"Biarkan Xander bersamaku. Aku akan menenangkannya agar kembali tidur. Kalian selesaikan saja masalah ini berdua untuk mencari solusi." Ia melirik sekilas ke arah putranya. "Jika sampai kau menyakiti Putri dan melukainya, Papa akan menjeblos kamu ke penjara dengan tuduhan KDRT."
"Tapi, Pa," ucap Putri yang ingin menghentikan mertuanya ketika menggendong Xander yang dipeluk olehnya.
Ia bahkan saat ini merasa semakin bertambah bingung karena biasanya selalu dibela oleh mertuanya, tapi sekarang malah seolah diumpankan pada pria dengan raut wajah memerah yang seperti hendak menerkamnya saat ini.
Bambang Priambodo yang merayu bocah laki-laki tersebut agar mau ikut bersamanya, kini berhasil melakukannya dan sudah menggendongnya.
Sebelum pergi, berpesan pada Putri karena tidak ingin menantunya tersebut pergi. "Tenang saja karena Aldiano tidak akan bersikap kasar padamu. Dia pasti hanya akan membanting barang-barang saat marah. Kalian perlu membahas mengenai jalan penyelesaian masalah ini. Aku sudah memberikan solusi dan kalian tinggal melengkapinya."
Ia lalu berjalan keluar sambil mengusap punggung cucunya dan merayu untuk membelikan apapun yang diinginkan jika menurut dan kembali mau tidur. Tentu saja tidak sulit baginya untuk menenangkan anak kecil itu karena selama ini selalu memanjakannya dengan menuruti apapun yang diminta.
Berbeda dengan Putri karena masih sering melarang serta tidak selalu memberikan apapun yang diinginkan.
Kini, ruangan kamar yang sudah dihiasi dengan beberapa potong pakaian berhamburan di lantai karena perbuatan Aldiano.
Putri saat ini merasa bingung harus bagaimana menghadapi pria yang dianggap sangat sulit untuk dipahami. Hingga ia memilih menunggu untuk mengetahui apa yang diinginkan pria yang berdiri tak jauh darinya.
Aldiano kini merasa sangat lega karena sang ayah mengerti apa yang diinginkannya. Ia masih menatap tajam sosok wanita yang belum beranjak dari tempat tidur dengan posisi duduk di pinggir ranjang.
"Papa tadi sudah bilang agar kau tetap tinggal di sini dan jangan pergi, bulan? Lalu, kenapa kau sangat keras kepala dan susah dinasihati? Apa kau ingin terlihat seperti seorang bidadari atau malaikat baik hati dengan pemikiranmu tadi?" Saat Aldiano berhasil meluapkan semua keluh kesah yang dirasakan, berpikir jika Putri kembali bersikap seperti di dalam mobil.
"Apa kau sekarang berubah bisu?"
"Cukup!" seru Putri yang saat ini menutup kedua telinga karena merasa terganggu dengan teriakan Aldiano.
Kemudian mengembuskan napas kasar mewakili amarah bergemuruh dan bergejolak yang dirasakan. "Aku bahkan sama sekali tidak punya niat buruk apapun pada keluarga ini ketika menikah denganmu saat diminta oleh Papa."
"Tapi kau selalu saja menuduhku yang bukan bukan dan sekarang mengatakan jika aku ingin terlihat seperti seorang malaika." Seketika ia tertawa miris sambil mengacak frustasi rambutnya yang berantakan karena tadi bangun tidur dan belum sempat menyisirnya.
Ia sama sekali tidak memperdulikan penampilannya di depan pria itu karena tengah menahan hatinya yang terluka akibat kata-kata pedas mengguncang jatuhnya.
Hingga ia seketika bangkit berdiri dari posisinya dan berjalan mendekati Aldiano. "Sekarang apa yang kau inginkan dariku? Apakah aku harus tetap di sini, baru kau tidak mengganggu ketenanganku? Padahal itu sangat tidak mungkin terjadi karena selama tinggal denganmu, tidak akan pernah hidup tenang."
Merasa jika Putri kini berubah kepikiran karena kemurkaannya, Aldiano sama sekali tidak memperdulikan nada protes
itu. Ia saat ini mengarahkan dagu pada koper di atas lantai dengan beberapa pakaian tersebut.
"Kembalikan itu di tempatnya semula dan tetap di sini sampai semua masalah beres. Bahkan Papa sudah mempunyai solusi untuk masalah ini, tapi kau malah berlagak ingin menyelesaikan sendiri."
__ADS_1
Aldiano berniat untuk melangkah pergi karena merasa jika usahanya telah berhasil untuk membuat Putri tetap tinggal, tapi ketika tangannya hendak membuka pintu, terdiam karena kalimat skakmat yang seolah menamparnya.
"Anda adalah satu-satunya pria di dunia ini yang paling sulit dimengerti. Apa yang sebenarnya ada di hati Anda saat ini? Apakah masih ada hati nurani dari seorang manusia?" umpat Putri yang sama sekali tidak peduli jika perkataannya akan semakin memantik amarah pria dengan bahu lebar itu.
Ia bahkan kini sudah berjalan ke arah kopernya dan memunguti semua pakaian yang tadi hendak dikemas saat pergi dari rumah. Kemudian langsung bergerak untuk kembali merapikan dan memasukkan lagi ke dalam lemari.
Hingga ia bisa melihat siluet pria yang pergi tanpa membuka suara untuk menanggapinya. Bahkan saat ini berjenggit kaget karena pintu ditutup dengan sangat keras hingga menimbulkan suara bising yang memekakkan telinga.
"Diam adalah cara yang paling aman dan dia kini memilih kabur tanpa menjawab. Harus dengan apa aku membuatnya sadar? Apa Papa menganggap aku adalah pesulap yang bisa merubah pria sekeras baja itu?" Putri saat ini hanya bisa mengumpat dan menggerutu di dalam kamar sambil merapikan kembali pakaian.
Saat ia baru selesai melakukannya, berniat untuk mengangkat koper dan menaruh kembali di tempat semula. Namun, ia tidak jadi melakukannya karena di dua sudut koper kini pecah.
"Lihatlah hasil dari perbuatannya. Bahkan koper tidak bersalah pun menjadi korbannya. Ini sudah tidak bisa digunakan, tapi sayang jika membuangnya. Lebih baik aku berikan pada pekerja yang menginginkannya." Sebenarnya ia masih ingin memakainya karena berpikir hanya pecah sedikit.
Namun, tidak mungkin melakukannya karena itu akan mempermalukan nama baik keluarga Priambodo yang selama ini dianggap adalah konglomerat di Jakarta.
"Mana mungkin seorang istri dari putra tunggal pengusaha sukses di Jakarta memakai koper yang pecah. Pasti akan menjadi bulan-bulanan dari wartawan," ucap Putri yang saat ini memilih untuk menepikan koper tersebut di sudut sebelah kiri ruangan kamar agar bisa diberikan pada salah satu pekerja di rumah.
Saat sekarang bingung harus melakukan apa ketika pikirannya dipenuhi oleh banyak masalah yang terjadi hari ini, ia kini mendaratkan tubuhnya di atas ranjang dan mengambil ponsel.
Awalnya ia berniat untuk mengirimkan pesan pada saudara tirinya, pertanyaan tentang hasil operasi Jack, tidak jadi melakukannya karena benda pipih di tangannya berdering.
Begitu melihat nomor yang tidak terdaftar menelpon, ia ragu untuk menggeser tombol hijau ke atas. Namun, merasa khawatir jika itu adalah telepon penting, akhirnya ia berani mengangkatnya dan mendengar suara tidak asing dari seberang telepon.
"Putri, apa kamu baik-baik saja?" tanya Amira Tan ya saat ini tengah menatap ke arah Jack dengan banyaknya alat yang menopang kehidupan suaminya tersebut.
"Amira? Bagaimana dengan hasil operasinya? Jack bisa diselamatkan, kan?" Putri merasa lega karena malah mendengar suara saudara tirinya saat ingin mengirimkan pesan.
"Alhamdulillah proses operasi berjalan lancar dan saat ini Jack tengah telah melewati masa kritis. Jadi, tinggal menunggu ia sadar setelah efek obat tidur habis." Amira Tan merasa bingung dengan perasaannya saat ini ketika menatap ke arah pria yang ternyata menciptakan konspirasi besar pada hidupnya ketika masih berhubungan dengan Noah.
"Aku tadi menunggu Jack sambil memeriksa media sosial dan menemukan kabar mengenai tentangmu. Kamu sudah melihatnya atau belum?" tanya Amira Tan yang kini kembali fokus pada masalah yang dihadapi oleh saudara tirinya tersebut.
Dengan menjawab lemah untuk menghilangkan pertanyaan itu, Putri ingin saudaranya tersebut tidak mengkhawatirkannya karena saat ini baik-baik saja.
"Kamu fokus aja pada keadaan Jack dan tidak perlu memikirkanku. Mertua dan suamiku sudah membereskannya dengan menghapus berita itu setelah menyuruh para IT di perusahaan. Bahkan akan mencari siapa yang menyebarkan itu dan menuntutnya di pengadilan." Ia sebenarnya ingin Amira Tan yang menjadi pengacara pada kasus itu.
Ia merasa yakin jika saudaranya pasti akan memenangkan tuntutan, tapi tidak mungkin melakukan itu karena pihak keluarga sudah memiliki kuasa hukum sendiri. Jadi, tidak bisa melakukan keinginannya.
Putri bahkan saat ini mendengar embusan napas lega dari Amira Tan dan membuatnya tersenyum. "Terima kasih karena sudah mengkhawatirkanku."
"Syukurlah jika kamu tidak down kan bersedih karena masalah ini. Aku benar-benar sangat lega mendengarnya. Semoga orang yang menyebarkan tentang masa lalumu segera ditangkap dan mendapatkan hukuman setimpal." Saat Amira Tan selesai berbicara, ia melihat telapak tangan Jack bergerak.
__ADS_1
"Putri, aku tutup teleponnya karena saat ini melihat Jack menggerakkan tangan. Aku akan memanggil dokter dahulu," ucap Amira Tan yang saat ini langsung mematikan sambungan telepon setelah mendengar suara Putri mengiyakan dan meminta untuk dikabari.
To be continued...