Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Bercerita


__ADS_3

Amira Tan yang saat ini sedang patah hati karena pria yang dicintai akan pergi dan tidak akan pernah bisa melihat lagi, merasa murka karena perkataan dari Noah yang dianggap sok tahu.


Jadi, tidak bisa mengendalikan amarah dan berbuat kasar pada Noah. Tanpa merasa takut jika pria yang berprofesi sebagai bartender tersebut akan marah dan menyakitinya. Apalagi menyadari bahwa ia hanyalah seorang wanita yang pasti tidak akan pernah menang menghadapi seorang pria.


"Lebih baik kau diam karena tidak tahu apapun mengenai diriku! Jadi, jangan selalu memancing emosiku karena aku sedang tidak baik-baik saja sekarang. Bukan hanya kau yang tidak bisa melupakan kejadian itu."


"Bukankah sudah aku katakan tadi? Sekarang berikan minuman untukku! Whiski, aku ingin itu." Amira Tan yang baru saja menutup mulut, kini membuka tas selempang miliknya dan mengambil dompet yang berisi beberapa lembar uang.


Kemudian mengeluarkan dan memberikan pada pria yang hanya diam saja saat dipukul tadi. "Ini uang muka untuk sewa kamarmu dan juga membayar minuman."


Embusan napas kasar terdengar sangat jelas lolos dari bibir Noah saat ini. Sebenarnya ingin sekali marah karena merasakan nyeri pada kepala ketika mendapatkan pukulan dari seorang wanita arogan di hadapannya.


Namun, begitu mendengar teriakan Amira Tan yang terdengar sangat frustasi karena baru mengetahui bahwa wanita di hadapannya tersebut sedang patah hati karena seorang pria.


'Seorang pengacara hebat dan arogan ini patah hati? Apakah aku tidak salah dengar? Bagaimana mungkin wanita yang terlihat sangat kasar dan kuat ini merasakan kecewa pada seorang pria?'


'Apakah pria itu sangat hebat, sehingga bisa membuat wanita yang arogan ini patah hati?' gumam Noah yang saat ini memilih untuk tidak menanggapi kemurkaan wanita dengan wajah memerah tersebut.


Apalagi ada rasa iba yang saat ini dirasakan ketika melihat Amira Tan yang frustasi dan memilih untuk melampiaskan pada minuman keras. Akhirnya Noah menerima uang tersebut dan mengambil whiski yang diminta oleh Amira Tan.


Kemudian tanpa berbicara apapun, langsung memberikan minuman dengan botol panjang tersebut pada wanita yang langsung menuangkan pada gelas berisi potongan es.


Noah Martin kini melirik ke arah Lorenzo karena ingin mengatakan sesuatu. "Kau layani pengunjung. Aku akan melayani tamu VIP ini karena sudah memberiku banyak uang."

__ADS_1


Lorenzo hanya tersenyum masam karena tidak bisa menolak keinginan dari sahabatnya. Ia mengerti tentang posisi wanita yang baru saja berteriak tersebut.


"Baiklah. Layani pengacara arogan itu karena jika dibiarkan, akan membuat keributan di sini." Kini, giliran Lorenzo yang mengarahkan dagu pada sang pengacara, untuk memberikan kode pada Noah agar fokus pada wanita itu.


Noah yang kini kembali berjalan mendekati Amira Tan saat tengah menuangkan whiski ke dalam gelas. Bahkan dalam sekejap, botol tersebut sudah berkurang banyak.


Ingin sekali ia melarang dan menghentikan, tetapi berpikir akan kembali menyulut api amarah. 'Jika aku melarangnya lagi, mungkin botol itu akan mendarat di kepalaku. Lebih baik aku melayani wanita ini dengan baik.'


Noah yang baru selesai bergumam di dalam hati, ini memilih untuk mengangkat botol whiski.


"Mau kau bawa ke mana botol itu?" Amira Tan yang baru saja meneguk minuman berwarna keemasan tersebut, memicingkan mata dan mengarahkan tatapan tajam.


Tanpa menanggapi kemurkaan dari Amira Tan, Noah memilih untuk menuangkan whiski pada gelas kecil setelah menambahkan potongan es.


Amira Tan tidak sependapat dengan kalimat terakhir dari Noah karena berpikir bahwa pria itu berubah setelah mendapatkan uang. "Ternyata kau adalah pria yang menyukai uang. Sikapmu seketika berubah patuh setelah aku mengeluarkan beberapa lembar tadi."


Tanpa berniat untuk menolak atau membantah tuduhan dari Amira Tan yang saat ini sudah mulai mabuk, Noah hanya tertawa kecil. "Kau benar. Aku memang menyukai uang. Apalagi di dunia ini tidak ada yang gratis."


"Jika ada kesempatan, kenapa tidak dimanfaatkan dengan baik? Jadi, aku akan melayanimu seperti ratu hari ini." Noah melanjutkan perkataan di dalam hati karena tidak mungkin mengumpat secara terang-terangan.


'Saat berada di bawah pengaruh alkohol, pasti akan menceritakan perihal pria yang membuat seorang pengacara hebat patah hati. Entah mengapa, aku merasa penasaran, seperti apa seseorang yang membuatmu bisa seperti ini.'


Kini, Amira Tan terbahak dan kembali menikmati minuman sampai beberapa gelas. Merasa senang karena malam ini bisa sepuasnya menikmati whiski tanpa ada yang melarang, Amira Tan berpikir akan melupakan Bagus.

__ADS_1


Setengah jam kemudian, Amira Tan sudah menghabiskan satu botol whiski dan mabuk berat. Bahkan meracau tidak jelas ke mana-mana dengan mengatakan apapun.


"Berikan aku satu botol lagi! Aku ingin melupakan Bagus," racau Amira Tan yang saat ini berbicara dengan kepala berada di meja bartender.


Merasakan berat pada kepala, sehingga memilih untuk bersandar di meja bartender, Amira Tan masih ingin terus menikmati minuman yang berhasil membuat panas tubuhnya.


Berbeda dengan Noah yang saat ini baru mengetahui nama pria bernama Bagus. Mengingat nama itu tidaklah asing dan memicingkan mata, begitu ingatan berhenti pada seseorang yang pernah datang ke rumah.


"Bagus? Bukankah pria itu yang merupakan supir taksi dan pernah datang ke rumah? Tidak mungkin!" Noah yang merasa tidak percaya dengan pikiran sendiri, memilih untuk bertanya pada wanita yang sudah di bawah pengaruh alkohol.


"Aku akan memberikan minuman lagi untukmu, Amira Tan."


"Cepat berikan!" Amira Tan berteriak dan kembali meracau tidak jelas.


"Ceritakan dulu semuanya tentang Bagus. Aku ingin mengetahui tentang pria yang kau cintai itu." Noah mulai memancing Amira Tan, agar menceritakan semua hal yang ingin diketahui, hingga usahanya berhasil karena wanita itu mulai meracau untuk menceritakan.


"Aku baru pertama kali jatuh cinta pada seorang pria dan sialnya merupakan suami dari saudara tiriku sendiri. Mereka telah bercerai dan sangat berharap ia jatuh cinta padaku. Namun, meskipun sudah disakiti oleh adikku, tetap saja masih mencintai dan mengatakan tidak akan pernah menikah lagi seumur hidup."


"Bukankah pria itu sangat bodoh karena menolak setelah aku mengungkapkan perasaan? Apakah pantas seorang pria biasa yang hanya merupakan sopir taksi, menolak wanita dengan karir cemerlang sepertiku?"


"Meskipun aku tidak secantik adikku, tapi sangat pintar mencari uang dan tidak akan pernah membuat hidup Bagus kekurangan dalam masalah materi. Bahkan sebutan bodoh sangat tidak cukup untuknya!"


"Besok atau lusa, ia akan kembali ke kampung halaman. Aku tidak akan pernah bertemu dia lagi untuk selamanya. Aku sangat kecewa dan juga patah hati, tapi sama sekali tidak diperdulikan. Ia malah menyuruhku untuk menerima Jack yang hanya kuanggap sebagai sahabat."

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2