
Amira Tan yang beberapa saat lalu mencuci muka di dalam kamar mandi untuk menghilangkan rasa stres ketika berbicara dengan Jack karena tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang diajukan. Beberapa saat kemudian, berjalan menuju ke arah kursi.
Sementara Jack masih menunggu berkas-berkas untuk syarat pernikahan.
Jack memang sengaja tidak mengatakan langsung mengenai pesan dari Noah. Tentu saja karena saat ini berharap hubungan dengan Amira Tan tidak mengalami masalah.
Karena saat berbicara dengan wanita yang masih merasa kesal dan emosi, tentu saja akan memicu pertengkaran dan berakibat buruk. Hal itu akan berdampak pada pernikahannya besok dan Jack tidak ingin itu terjadi.
Jack memilih akan mengatakan hal itu setelah mereka menikah dan resmi menjadi sepasang suami istri. Setelah itu akan selalu membuat Amira Tan kesal pada Noah.
"Sabar, Jack. Kau tidak boleh terlalu serakah dengan ambisimu menghancurkan pria sialan itu karena Amira Tan sudah berada di tanganmu. Apalagi restu dari orang tua sudah kau genggam dan pastinya sebentar lagi wanita yang selama ini menolakmu akan jatuh ke pelukanmu."
Saat Jack mencoba untuk menjernihkan pikiran di dalam kendaraan, beberapa saat kemudian melihat pelayan yang mengetuk pintu mobil dan menyapanya setelah membuka.
"Ini berkas yang Anda butuhkan, Tuan Jack," ucap salah seorang pelayan di rumah keluarga Amira Tan.
Begitu mendapatkan amplop coklat di tangan, Jack saat ini memeriksa agar tidak ada yang terlewatkan. Jadi, tidak perlu bolak-balik untuk pergi ke tempat Amira Tan dan bisa langsung mengurus sebagai syarat pernikahan besok.
"Oke, ini sudah cukup. Terima kasih. Apa Amira Tan langsung pergi tidur?" ujar Jack yang saat ini tengah penasaran apa yang dilakukan oleh calon istri di rumah tanpa orang tua.
"Sepertinya begitu, Tuan. Tadi nona Amira Tan langsung mengunci pintu setelah menyerahkan ini pada saya. Apa ada yang Anda butuhkan lagi?" Masih membungkuk untuk menatap ke arah pria di balik kemudi.
Kemudian Jack menggelengkan kepala karena memang semua sudah didapatkan. "Tidak. Aku harus pergi sekarang."
__ADS_1
"Baik, Tuan. Hati-hati di jalan." Kemudian menutup pintu mobil setelah melakukan kepala.
Sementara itu, Jack mengemudikan mobil keluar dari rumah lantai 2 keluarga Amira Tan tersebut dengan kecepatan sedang. Kendaraan yang melintasi jalanan ibu kota dengan suasana kerlap-kelip lampu di kanan kiri jalan.
Saat tiba di dekat lampu merah, ponselnya berdering dan begitu melihat siapa yang menghubungi, hanya tersenyum menyeringai karena ternyata Noah kembali menelpon.
"Aku tahu bahwa kau pasti saat ini sedang kebingungan karena Amira Tan tidak mau mengangkat panggilan darimu. Bagaimana mungkin dia mau setelah melihatmu bersama dengan seorang wanita. Dasar bodoh!"
Jack sama sekali tidak berniat untuk mengangkat panggilan telpon dan memilih fokus mengemudi. Hingga dering ponsel berhenti dengan sendirinya setelah beberapa detik. Namun, kembali berbunyi sampai 5 kali dan tetap dibiarkan.
"Aku sangat yakin jika Amira Tan tidak akan mau mengangkat telpon beberapa hari ini karena sedang kesal padamu. Jadi, aku akan memanfaatkan itu untuk menjadi seorang pria yang baik dan berjanji tidak akan pernah lagi berhubungan dengan para wanita setelah berstatus sebagai suaminya yang sah."
Membayangkan hal itu, Jack benar-benar merasa sangat senang karena besok adalah hari pernikahan dan bisa tinggal bersama Amira Tan dalam satu rumah.
Namun, mendadak ada ide yang tiba-tiba melintas di pikiran Jack saat ini. "Jika nanti tidak ada perkembangan dari hubungan kami saat tinggal bersama dalam satu rumah, akan melakukan cara itu."
Setelah merasa yakin dengan keputusan yang diambil, setengah jam kemudian, telah tiba di rumah dan ada orang tua yang sengaja menunggu karena ingin membahas mengenai pernikahan besok.
Sementara itu di sisi lain, yaitu di rumah keluarga Amira Tan, terlihat wanita yang baru saja selesai mandi dan memilih untuk segera beristirahat dengan meluruskan tubuh di atas ranjang king size favoritnya.
Kini, Amira Tan sudah menatap langit-langit kamar dan mengingat saat melihat peri yang tadi bersama seorang wanita. Di saat bersamaan, dering ponsel di dalam tas dan saat beranjak mengambil benda pipih tersebut, melihat kontak pria yang baru saja dipikirkan.
"Aku ingin memberinya pelajaran karena berani berselingkuh di belakangku. Aku tidak akan mengangkat teleponmu!" Kemudian Amira Tan yang masih berwajah masam karena kesal pada sang kekasih, memilih untuk menekan tombol silent.
__ADS_1
Berharap tidak akan terganggu jika Noah berkali-kali menelpon. Tentu saja mengetahui bahwa sang kekasih tidak akan menyerah sebelum ia mengangkat telpon.
"Aku harus menenangkan diri karena jika mengangkat telpon, hanya akan bertengkar dan mungkin hubungan kita akan terkena imbasnya."
Setelah kembali menaruh ponsel di atas nakas dan mengisi daya baterai, Amira Tan kembali mengempaskan tubuh dengan berbaring dan memejamkan mata karena merasa sangat lelah dan butuh waktu istirahat untuk menormalkan semua kepenatan yang dirasakan.
Hingga berpikir bahwa beristirahat sangat dibutuhkan oleh tubuhnya setelah hari ini diforsir oleh banyak tekanan dalam hidup dan tidak bisa berbuat apapun untuk menghindar.
Hingga beberapa saat kemudian, suara napas teratur terdengar dan memenuhi ruangan kamar berukuran sangat luas tersebut dengan berbagai macam furniture mahal yang semakin menghiasi kamar Amira Tan.
Sementara di tempat berbeda, yaitu di kontrakan Noah, pria itu berkali-kali meninju udara untuk melampiaskan amarah karena saat ini berbicara dengan Amira Tan, sama sekali tidak diangkat.
Berpikir jika sang kekasih masih bersama Jack, berusaha untuk menghubungi dan berpikir bisa memberitahu pada Amira Tan. Namun, saat hanya kekecewaan yang dirasakan, tentu saja semakin memantik amarah yang mengguncang di dalam hati Jack.
"Kenapa mereka sama-sama tidak mengangkat telponku? Sebenarnya apa yang sedang mereka lakukan? Jack benar-benar sangat berengsek karena dari tadi tidak mau menjawab panggilan."
"Lalu, kenapa sekarang Amira Tan juga tidak mau berbicara denganku?" Noah mengacak frustasi rambut dan saat ini tengah berpikiran buruk dengan membayangkan jika sang kekasih bermesraan dengan Jack.
Hingga beberapa saat kemudian merasakan nyeri pada bagian tangan semakin menyiksa karena tadi digunakan untuk meninju udara ketika melampiaskan amarah.
"Sial! Aku tidak boleh seperti ini terus karena hubungan kami bisa terancam berakhir buruk. Lebih baik aku besok pagi pergi ke kantor Amira Tan untuk berbicara secara langsung dan bertanya kenapa tidak mengangkat telpon," ucap Noah yang saat ini memutuskan bahwa sebelum mencari pekerjaan, akan ke kantor Amira Tan terlebih dahulu.
Berharap setelah bertemu sang kekasih, mendapatkan jawaban dan hubungan mereka kembali seperti semula.
__ADS_1
Sebenarnya Noah berpikir ingin menemui Amira Tan di rumah karena tidak ada orang tua sang kekasih, tetapi ingin wanita itu menenangkan pikiran untuk hari ini dan berharap esok hari hubungan mereka kembali seperti semula.
To be continued...