
Amira Tan sudah berteman dengan Jack selama sepuluh tahun lebih dan sangat tahu seperti apa pria itu. Dengan menatap tajam ke arah Noah, Amira Tan kini memilih untuk menarik kemeja pria itu dan berjalan ke lorong yang tidak ada orang.
Berharap tidak ada orang yang mendengar pembicaraan mereka. Begitu memastikan bahwa tempat yang dipilih aman, kini ia mulai menyadarkan pria di hadapan tersebut.
"Kau sama sekali tidak mengenal Jack. Aku tahu jika sekarang dia sedang marah dan patah hati gara-gara akting kita tadi. Bahkan bisa menebak jika sekarang tengah berada di Club malam untuk minum-minuman keras.
"Jika aku menemui Jack dan meminta tolong, kau tahu apa yang terjadi? Pasti akan memanfaatkan situasi. Di mana Jack menginginkan hal yang sama, bisa mencicipi tubuhku. Apa kau mau aku melakukan itu?"
Amira Tan kini menatap dengan mengintimidasi karena saat ini tengah meluapkan emosi yang dirasakan ketika Noah seperti ingin mendorong ke dasar jurang.
Merasa jika Noah lebih memperhatikan Putri, padahal baru pertama kali bertemu, membuatnya sangat emosi. Meskipun sangat ingin membantu Amira Tan, tetapi bukan dengan cara seperti itu.
Kini, ia bisa melihat raut wajah yang terkejut dengan penjelasan barusan. Bahkan suara teriakan Noah seketika membelah keheningan di lorong tersebut.
"Tidak! Apa kamu gila?" Tanpa bisa menekan suara, Noah yang sama sekali tidak pernah terpikirkan akan hal itu karena berpikir jika seorang pria yang masih mencintai, akan bersedia melakukan apapun jika diminta.
"Mana mungkin aku membiarkanmu disentuh oleh Jack. Aku bersumpah tidak pernah berpikir jika Jack adalah pria seperti itu. Padahal aku berharap cinta akan membuat pria itu mau melakukan apapun. Bukan dengan kegilaan seperti itu. Lupakan saja apa yang kukatakan tadi!"
Noah yang kini terdiam karena ingin mencari ide lain untuk bisa menolong Putri, masih belum menemukan cara. Kemudian merasa aneh ketika melihat tatapan mengintimidasi dari wanita tersebut.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu? Apa ada yang salah?"
Refleks Amira Tan menggelengkan kepala, tetapi ingin mencari tahu informasi. Meski tadi merasa sangat senang sekaligus lega ketika melihat sikap penuh penolakan dari sosok pria yang saat ini seperti sangat terobsesi ingin menolong Putri.
"Kamu bahkan baru hari ini bertemu Putri, tapi bisa langsung bersemangat melakukan hal untuk membantu. Apakah kamu sedang berusaha untuk menjadi seorang pahlawan? Jadi, nanti Putri akan terpesona dan menyukaimu."
__ADS_1
"Atau bahkan berpikir bisa menikah dengan Putri untuk menggantikan posisi Arya sebagai suami?" Satu-satunya hal yang memenuhi kepala Amira Tan saat ini hanya itu saja.
Amira Tan bahkan saat ini tidak bisa berpikir jernih selain hal yang barusan dilayangkan. Namun, ketika menginginkan jawaban dari Noah, sama sekali tidak memuaskan hati.
"Kamu seperti seorang anak yang cemburu ketika seorang ayah membelikan saudara mainan. Apa kamu iri pada Putri karena aku sangat mengkhawatirkan saudaramu itu?" Meskipun Noah merasa senang karena akhirnya perlahan wanita itu menunjukkan sifat asli.
Tidak lagi merasa gengsi untuk mengungkapkan kekesalan dari apa yang dilakukan pada Putri sebagai bentuk kepedulian.
"Kamu tahu, setiap aku menatap bola mata redup Putri, selalu teringat pada pria yang merupakan suami itu bersenang-senang dengan wanita lain saat istri sedang sakit. Aku adalah anak tunggal dan tidak mempunyai saudara."
"Jadi, ketika melihat Putri yang memang adalah adikmu, seperti sudah menganggap bahwa rasa kasih sayang terhadap saudara tiba-tiba muncul. Aku tidak tega melihat raut wajah penuh kesedihan dari Putri. Bukankah kamu bisa melihat itu?"
Noah kini merasa bersalah pada Amira Tan dan mengulurkan tangan. "Maafkan aku karena sangat ceroboh dan hampir mendorongmu ke dalam api. Aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi."
Sikap menyerah dan patah semangat yang ditunjukkan oleh Noah terasa seperti mendapatkan angin segar.
Jadi, sekarang memilih untuk memikirkan cara untuk membantu besok. "Aku yang akan bertindak sendiri. Putri hanya perlu berjalan di sebelahku saja. Aku sangat berharap jika semua seperti yang kupikirkan."
"Aku ingin Putri melihat sendiri perselingkuhan yang dilakukan Arya. Jadi, dengan mudah akan membantu mengurus surat perceraian."
Kemudian Amira Tan menceritakan tentang pertemuan dengan pria yang seperti berubah menjadi orang lain. "Menurutmu, apa yang membuat Arya berubah sangat drastis seperti itu?"
"Kau kan seorang pria, jadi aku yakin bisa mengerti apa yang dipikirkan Arya ketika berubah menjadi pria dingin dan hanya berbicara pendek saat aku mengomel panjang lebar."
Noah sendiri menyadari jika memang sama-sama pria, tapi bukan orang yang bisa membaca pikiran.
__ADS_1
"Aku bukan peramal yang bisa membaca pikiran orang. Jadi, jangan bertanya macam-macam mengenai pria yang bahkan tidak kukenal. Lebih baik kita temui Putri sekarang! Karena harus membahas hal penting itu."
Tanpa pikir panjang, Noah kini sudah memegang pergelangan tangan dan mengajak ke ruangan perawatan. Begitu melihat Putri, kini tengah berbaring di atas ranjang, mencoba untuk mengurai keheningan.
"Apa kamu sudah lama menunggu? Tadi aku bertemu Noah di luar dan sudah membahas tentang rencanamu besok. Semua akan diurus oleh Amira Tan. Jadi, tenang saja. Semuanya akan beres."
"Terima kasih, Amira dan kamu juga Noah Aku sangat beruntung dikelilingi oleh orang-orang baik. Padahal aku hanyalah wanita hina penuh dosa." Putri selalu dilanda kekhawatiran semenjak Arya menuruti perintah dari sang ayah untuk tinggal di istana keluarga Mahesa.
Bahkan setiap hari, Putri mengingat dosa perselingkuhan di masa lalu dan berharap suatu saat nanti Tuhan mau memaafkan semua dosa-dosanya.
Bahkan ia sudah mengikrarkan janji setia dengan Arya. Bahwa mereka akan selamanya hidup bahagia.
Sementara itu, Amira Tan yang saat ini tengah memikirkan sesuatu, berjalan mendekati Putri. Besok aku akan membawakan pakaian kerja untukmu. Jadi, semua orang nanti tidak akan melarangmu masuk karena dianggap adalah asisten pribadi."
"Lalu aku? Apa yang perlu kulakukan?" tanya Noah yang kini masih menunggu jawaban.
"Kau hanya supir yang menunggu di parkiran karena ini adalah urusan sesama wanita." Amira Tan terkekeh geli melihat wajah masam Noah.
Padahal tadi berpikir jika hubungan dengan Noah bertambah buruk karena sikap pria itu sangat dingin. Ternyata tidak seperti yang dipikirkan.
Karena kini kembali seperti biasa. Semua berjalan seperti air mengalir dan Amira Tan pikir, harus mengingat jalan pulang agar tidak tersesat.
'Setelah beres mengurus perceraian, aku akan mengatakan pada Noah, apa yang sangat menggangu otakku.'
To be continued...
__ADS_1