
Noah kini mengikuti arah pandang Amira Tan dan bisa melihat jika wanita di hadapan tersebut sedang memperhatikan sosok pria dengan kemeja hitam yang sedang duduk sendiri tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Amira Tan, apa kamu mengenal pria itu? Ataukah merupakan salah satu mantan kekasihmu?"
Sementara itu, Amira Tan yang tadinya masih fokus menatap arah Arya untuk mencari tahu. Apakah suami dari adiknya bertemu dengan seorang wanita atau pria?
Kemudian ia melirik sekilas ke arah Noah dan hanya menganggukkan kepala karena tidak ingin menjelaskan perihal Arya.
'Aku tidak perlu mengatakan siapa Arya karena jika menjelaskan, akan butuh waktu sampai pagi,' gumam Amira Tan yang saat ini memilih untuk mengalihkan pembicaraan.
"Aku haus, buatkan minuman tanpa alkohol." Amira Tan tidak ingin mabuk sebelum mengetahui hak yang dilakukan oleh Arya. Jadi, memilih untuk menunda bersenang-senang karena berpikir ada yang jauh lebih penting.
'Aku harus tahu apa yang dilakukan Arya di sini. Jadi, lebih baik minum soft drink saja.' Amira Tan yang sesekali menoleh ke arah Arya, merasa kecewa karena belum juga menemukan dengan siapa suami Putri tersebut bertemu.
Noah merasa tidak senang dengan jawaban dari Amira Tan dan memilih untuk membuatkan minuman. Kemudian mengungkapkan apa yang diinginkan.
Apalagi saat ini pengunjung tidak terlalu ramai karena biasanya akan penuh dengan orang ketika tengah malam, sedangkan ini masih jam sembilan.
"Sekarang katakan padaku, apa yang harus kulakukan untuk melupakanmu?" Noah saat ini menatap intens sosok wanita di hadapan dan menunggu jawaban.
Sementara itu, Amira Tan beberapa kali mengerjakan mata karena belum siap dengan jawaban atas pertanyaan yang dianggap sangat konyol tersebut. Apalagi ia mengalami sendiri.
'Sial! Kenapa ia bertanya sekarang? Bahkan tujuanku datang ke sini adalah ingin melupakan Bagus dengan cara minum minuman beralkohol. Sayangnya hari ini bertemu dengan Arya dan masih ingin mengetahui apa yang dilakukan.'
Amira Tan yang asyik bergumam sendiri di dalam hati, menyadari kebodohan ketika merasakan hidungnya ditarik oleh Noah.
Refleks Amira Tan menahan rasa nyeri pada hidungnya. "Astaga! Noah, apa yang kau lakukan?"
"Aku bertanya padamu, tapi kamu malah hanya diam dan melamun. Apakah kamu sedang memikirkan mantan kekasihmu itu?" Noah mengarahkan dagu pada sosok pria yang terlihat tengah sibuk menghubungi seseorang.
__ADS_1
Amira Tan refleks menggelengkan kepala sambil menoleh ke arah Arya dan bisa melihat jika ada rasa frustasi ketika mengacak rambut.
"Tidak, Aku sama sekali tidak memikirkan pria itu karena sama sekali tidak berarti bagiku. Namun, hanya ingin tahu, apa yang dilakukan dan akan bertemu dengan siapa."
Noah Martin kini seketika geleng-geleng kepala karena berpikir bahwa itu tidak ada bedanya dengan perkataan barusan. "Apa yang kamu katakan tidak sama dengan faktanya."
"Apa maksudmu?" Amira Tan semakin tidak mengerti dan mengerutkan kening.
"Kamu masih memikirkan pria itu, jadi dari tadi memperhatikan dan ingin tahu apa yang dilakukan. Jadi, jangan menipu dengan menganggapku adalah seorang pria bodoh." Noah sangat yakin bahwa Amira Tan masih tertarik pada pria itu dan memilih untuk mengungkapkan apa yang ada di pikiran saat ini.
Berbeda dengan Amira Tan yang memilih untuk memijat pelipis karena berpikir jika Noah sok tahu. Namun, tidak ingin berdebat karena perasaan sedang tidak baik.
"Baiklah, terserah apa yang menurutmu benar."
Tidak puas dengan jawaban dari Amira Tan, kini Noah memilih untuk mengeluarkan ancaman. "Sepertinya akan lebih baik jika aku bertanya sendiri pada pria itu."
Saat Noah hendak berjalan keluar dari area bartender, refleks Amira Tan seketika langsung berteriak untuk menghentikan aksi pria yang dianggap gila tersebut.
Noah yang tadinya sudah berniat untuk keluar dari area bar, memicingkan mata karena merasa aneh dengan apa yang diungkapkan oleh Amira Tan.
"Sepertinya kamu memiliki hobi untuk menipu orang. Apa maksud perkataanmu? Lebih baik kamu jelaskan padaku mengenai siapa sebenarnya pria itu." Noah kini menunjuk ke arah sebelah kiri dan melanjutkan perkataannya.
"Sepertinya kamu benar karena pria itu ada janji dengan wanita." Noah masih tidak berkedip menatap ke arah sosok wanita yang memakai dress panjang berwarna gelap.
Refleks Amira Tan menoleh dan saat ini mengerti apa yang dilakukan Arya di Club. "Jadi benar apa yang kupikirkan dari tadi."
"Apakah kamu cemburu?" Noah kembali menatap Amira Tan dan merasa bahwa jawaban dari wanita itu sangat penting.
Amira Tan kembali menggelengkan kepala. "Sudah kubilang tidak seperti itu. Pria itu sebenarnya adalah suami dari adikku. Sepertinya sebentar lagi mereka akan bercerai karena ada masalah dan juga salah satunya adalah wanita itu."
__ADS_1
Kini, Amira Tan merasa kasihan pada nasib Putri. 'Jika dipikirkan, sepertinya hidupku jauh lebih beruntung daripada Putri. Apakah setelah ini, Putri akan mendapatkan karma atas perbuatan jahat yang berselingkuh dari suami?'
Noah saat ini bisa melihat aura kesedihan dari raut wajah Amira Tan dan berpikir bahwa penyebab hal itu karena melihat suami adiknya berselingkuh.
"Kenapa kamu dari tadi malah melamun dan tidak menjawab pertanyaanku? Aku menyuruhmu datang ke sini karena ingin membantu menyelesaikan permasalahanku. Jika itu adalah suami adikmu yang berselingkuh, aku akan membantumu untuk menghajarnya."
Amira Tan kali ini kembali menghentikan Noah dengan menahan pergelangan tangan. "Jangan lakukan apapun. Lebih baik kita selesaikan urusan kita. Aku akan mengajarimu untuk melupakan kejadian di kamar."
"Buatkan aku minuman seperti saat pertama datang ke sini. Baru aku akan mengatakannya padamu." Amira Tan memilih untuk menipu pria yang dianggap sangat bodoh tersebut.
Noah Martin saat ini tidak tertarik untuk memenuhi permintaan Amira Tan karena berpikir akan kembali direpotkan oleh wanita itu. "Minum soft drink saja. Kamu akan mabuk dan kembali merepotkanku."
"Tidak akan, tenang saja karena aku sudah mengatakan pada orang tuaku, kalau hari ini tidak pulang dan tidur di luar. Jadi, saat nanti aku mabuk, antarkan saja ke hotel dan tinggalkan aku di sana."
Noah masih menggelengkan kepala meskipun sudah mendapatkan jalan keluar. "Jika kamu mabuk, mana mungkin bisa mengajariku. Lupakan saja niatmu untuk mabuk di Club. Sekarang katakan saja apa yang harus kulakukan!"
Merasa sangat geram pada Noah, Amira Tan kini memilih untuk menggebrak meja bar dan meledakkan amarah karena saat ini pikirannya sedang kacau dan buntu.
"Dasar pria bodoh dan konyol!"
Noah saat ini sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Amira Tan. "Apa maksudmu? Apa kamu sedang menghinaku?"
"Aku bukan menghinamu, tapi ingin menyadarkanmu. Mengenai keinginan konyol yang kamu katakan. Mengenai pertanggungjawaban? Bahkan aku saja tidak bisa melakukan apapun untuk melupakan seseorang. Bagaimana bisa aku mengajarimu?"
Amira Tan yang kini memilih untuk bangkit berdiri dari kursi, kini langsung merebut botol whisky pria di sebelah kiri dan meneguk hingga membuat tenggorokan terasa panas dan menjalar di setiap urat syarafnya.
"Biar aku yang bayar minuman ini." Amira Tan pun langsung berjalan menuju ke arah dance floor
Kemudian menuju ke arah dance on the floor untuk bergabung bersama banyak pengunjung lain yang sudah sibuk menggerakkan tubuh mengikuti alunan musik DJ.
__ADS_1
Noah Martin yang saat ini terdiam beberapa saat melihat sikap Amira Tan, kini berkacak pinggang dengan penuh frustasi. "Astaga! Wanita itu benar-benar sedang menguji kesabaranku."
To be continued...