
Bahkan hal yang membuatnya merasa sangat terkejut adalah mendapatkan pesan berisi ancaman dan ada gambar Noah serta seorang wanita di atas ranjang.
Dengan perasaan berkecamuk dan dikuasai oleh kekecewaan serta kemurkaan, ia mulai membaca pesan tersebut yang diketahui dikirimkan oleh wanita yang bersama dengan Noah.
Tolong jangan ganggu Noah lagi karena kami sudah melakukan hubungan seperti sepasang suami istri. Ia memang belum mencintaiku, tapi merasa nyaman ketika bercerita padaku.
Aku melihat daftar kontak ini yang diberi nama kekasih, jadi ingin kamu melupakan Noah karena kami sudah melakukan hubungan intim saat tidak sadar karena dikuasai oleh minuman beralkohol dan berakhir mabuk.
Kini, Amira Tan meremas gaun tidur yang dikenakan dan diketahui semua pakaian yang ada di dalam ruangan ganti memang sengaja dibeli oleh Jack dan menyimpan di dalam lemari tanpa memberikan padanya.
Bahkan jawaban Jack tadi membuatnya semakin merasa bersalah karena pria itu masih berharap jika ia menjadi istri dan memakai semua yang dibeli. Hingga takdir membuat keinginan Jack menjadi kenyataan.
Meski pernikahan mereka hanyalah sebuah sandiwara semata, tapi tidak bisa dipungkiri jika ia memakai gaun yang dibeli oleh Jack. Bahkan tadi ia sempat merasa heran dengan semua kebetulan yang terjadi ketika apa yang diinginkan oleh Jack menjadi kenyataan.
Namun, karena merasa bersalah sekaligus lelah dengan masalah yang dihadapi, sehingga tidak ingin membahas lebih jauh dan memilih untuk pergi tidur. Apalagi saat menyuruh Jack pergi saat ia ingin tidur, pria itu tanpa membantah langsung menuruti perintah.
Hingga ia tidak sadar kapan Jack masuk ke dalam kamar dan tidur di sofa. Kini, bola matanya berkaca-kaca karena merasa sangat hancur ketika pria yang dipercayai dan dicintai sudah bercinta dengan wanita lain dengan mudahnya.
Padahal saat ini sedang berjuang untuk menjaga hati karena sangat mencintai Noah dan berharap pria itu bisa mengerti suatu saat nanti setelah ia bercerai dengan Jack ketika tiba masanya.
Namun, semua harapan seketika pupus setelah melihat banyaknya foto yang dikirimkan oleh wanita yang bercinta dengan Noah dan meminta untuk tidak merebut pria itu meski mengatakan masih mencintainya.
Ia yang masih berusaha untuk tidak menangis ketika hatinya hancur. Hatinya bagaikan kaca yang pecah dan tidak bisa disatukan lagi, tetapi saat ini merasa seperti tidak kuat menahan perasaan membuncah dan ingin menangis tersedu-sedu.
Hingga Amira Tan seketika melemparkan ponsel miliknya yang ada di dalam genggaman hingga hancur dan berserakan di lantai.
Bahkan saat melihat itu, seperti perasaannya yang sudah hancur karena perbuatan sosok pria yang dipercaya dan dicintai.
'Aku sama sekali tidak pernah menyangka jika kau akan mengkhianati cinta kita, Noah.'
'Pasti kau juga berpikir yang sama. Bahwa aku juga mengkhianati hubungan kita setelah menikah dengan Jack. Padahal selama ini tidak ada hubungan apapun. Bahkan sekarang tidur terpisah.'
__ADS_1
Amira Tan memilih untuk membanting tubuhnya di atas ranjang dan menangis tersedu-sedu di bawah bantal karena tidak ingin Jack mendengar.
Ia bahkan harus menahan ketika menangis agar tidak ada yang mendengar. Mungkin jika saat ini berada di dalam kamar sendiri, sudah berteriak dengan sangat kencang untuk meluapkan kesedihan dan kemurkaan karena merasa dikhianati oleh pria yang selama ini dicintai.
'Kau memang benar-benar seorang pria berengsek. Aku takkan pernah memaafkanmu. Bahkan berharap tidak akan bertemu denganmu lagi. Aku ingin kau musnah dari hadapanku.'
Amira Tan yang saat ini masih menyembunyikan wajah di bawah bantal dengan bulir air mata yang sudah membasahi ranjang king size tersebut, menguatkan semua perasaan membuncah yang dirasakan melalui tangisan menyayat hati.
Hingga beberapa saat kemudian, mendengar suara dari Jack yang seperti tengah mendekat dan bertanya padanya.
"Amira Tan? Apa yang kamu lakukan di bawah bantal?" tanya Jack yang tadi terbangun karena mendengar suara-suara seperti tengah menangis tersedu-sedu.
Begitu membuka mata, melihat wanita yang sudah ditunggu-tunggu kehancurannya, bersembunyi di bawah bantal dan mengerti apa yang menjadi penyebab wanita itu menangis tersedu-sedu.
Namun, berpura-pura untuk tidak mengetahui penyebabnya dan saat ini mendaratkan tubuh di belakang wanita yang masih belum membuka bantal yang berada di wajah.
"Amira Tan, apa aku melakukan kesalahan dengan tidur di sofa? Aku tidak mungkin tidur di kamar lain karena pasti orang tuaku sudah pulang saat ini. Aku terbangun karena mendengar suara tangisan. Jangan membuat orang tuaku berpikir aku menyakitimu."
Beberapa saat kemudian, Amira Tan yang sedikit merasa tenang setelah puas menangis, tidak ingin membuat Jack merasa khawatir, sehingga perlahan membuka bantal yang dari tadi menutupi wajahnya sehingga seperti kesulitan untuk bernapas.
Kemudian terlebih dahulu menghapus kasar bulir air mata yang membasahi wajah, lalu menatap ke arah sosok pria yang saat ini masih duduk di tepi ranjang.
Ia yang saat ini bersitatap dengan iris tajam berkilat milik Jack, seperti mendapatkan perhatian dan membuatnya ingin melampiaskan semua kesedihan yang dirasakan pada pria di hadapannya.
Namun, berpikir bahwa itu adalah membuat Jack seperti dimanfaatkan olehnya, sehingga tidak jadi melakukan itu. Amira Tan kini hanya menggeleng perlahan.
"Aku tidak apa-apa. Hanya sedang bersedih ketika memikirkan keadaan mama yang mungkin bisa terkena serangan jantung sewaktu-waktu saat mendengar kabar buruk."
Jack yang merasa kecewa karena Amira Tan tidak mau jujur padanya, sehingga memilih untuk pura-pura percaya. "Mama pasti akan baik-baik saja karena sudah mendapatkan perawatan dari dokter terbaik di rumah sakit."
"Kenapa aku merasa bahwa saat ini kamu menyesal karena menuruti permintaan untuk menikah denganku? Apakah sekarang tengah memikirkan Noah yang baru kamu putuskan? Aku sangat yakin jika kamu menyesal melakukan itu."
__ADS_1
Jack saat ini berpura-pura untuk tidak lagi memperdulikan Amira Tan dan bangkit dari ranjang. "Tenang saja karena setelah semuanya berangsur baik, kita bisa bercerai dan kamu kembali pada Noah."
Jack saat ini memilih untuk berjalan meninggalkan Amira Tan yang masih telentang di atas ranjang dengan wajah sembab karena menangis dan diketahui bahwa wanita itu baru saja melihat foto-foto yang dikirimkan oleh orang suruhannya.
Meski tidak merasa senang sepenuhnya karena Amira Tan memilih berbohong, tapi Jack berusaha untuk mengerti bahwa wanita itu membutuhkan waktu menenangkan diri.
"Aku akan memeriksa apakah orang tuaku sudah pulang atau belum dari rumah sakit." Jack saat ini berbicara tanpa menoleh ke belakang untuk melihat Amira Tan.
Sementara itu, Amira Tan yang merasa sangat marah karena perkataan Jack membuatnya seperti seorang wanita bodoh, sehingga buru-buru bangkit dari ranjang untuk mengejar pria itu agar tidak keluar dari kamar karena ingin membicarakan sesuatu.
Ia refleks menahan pergelangan tangan kanan Jack dan melihat pria itu menghentikan langkah kaki, lalu menoleh ke arahnya dengan tatapan penuh pertanyaan.
"Tunggu, Jack! Semua tidak seperti yang kau pikirkan!"
Jack saat ini menatap ke arah tangan yang sedang ditahan oleh Amira Tan, lalu beralih menatap wajah sembab itu yang ingin sekali dibersihkan bulir air mata dari pipi putih tersebut.
"Lalu? Apa itu penting untukku?"
"Penting agar kau tidak lagi membahas pria berengsek itu di depanku," sarkas Amira Tan yang saat ini tengah mencoba untuk menormalkan dari napas memburu ketika dikuasai oleh kemurkaan sekaligus kekecewaan dan sakit hati.
Sementara itu, Jack tidak ingin banyak pertanyaan karena hanya menunggu bahwa saat ini menginginkan wanita di hadapannya tersebut menceritakan semua tanpa terkecuali, meski sudah mengetahui terlebih dulu.
Amira Tan yang saat ini berhadapan dengan sosok pria di hadapannya, mendadak berpikiran ingin membalas dendam perbuatan Noah yang sudah berhubungan dengan wanita lain tanpa memikirkan perasaannya.
'Aku pun bisa bercinta dengan pria lain selain dirimu, Noah. Bahkan saat ini aku sudah menjadi istri sah dari Jack dan bebas melakukan apapun dengannya. Sementara kau, bercinta dengan wanita yang bahkan bukan istrimu. Meski itu dalam keadaan mabuk sekali pun, tidak bisa dipungkiri jika kau telah mengkhianati cinta kita.'
Amira Tan yang saat ini sibuk bergumam sendiri di dalam hati karena memikirkan balas dendam untuk Noah ketika mengkhianati hubungan mereka. Namun, masih merasa ragu dan tidak ingin dianggap sebagai seorang wanita murahan oleh Jack karena memilih melampiaskan kekesalan pada pria di hadapannya.
Jack yang saat ini melihat Amira Tan melamun, seketika menggerakkan tangan di depan wajah wanita itu. "Amira? Apa yang sedang kamu pikirkan, hingga melamun dan menatap kosong seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi denganmu?"
"Aku hanya sedang memikirkan membalas dendam," ucap Amira Tan yang saat ini menatap sosok pria yang selama ini menjadi sahabat baiknya.
__ADS_1
To be continued...