Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Tidak akan pernah menemuinya lagi


__ADS_3

Amira Tan yang masih terdiam dan sama sekali tidak mengeluarkan suara ketika ia mempertanyakan tentang apa yang dilakukan oleh wanita di hadapannya tersebut di dalam rumah bersama sang bartender. Hingga ia berpikir apa yang ada di pikirannya benar terjadi.


Bahwa wanita yang dicintai baru saja melakukan hal terlarang bersama dengan seorang pria yang baru saja dikenal. Tentu saja ia merasa sangat marah sekaligus murka dan ingin segera menghabisi selesai pria yang masih belum menampakkan batang hidungnya.


"Bangsat! Di mana pria itu? Aku akan benar-benar menghabisinya saat ini juga karena telah berani membuatmu berbuat hal diluar nalar! Kamu bukanlah wanita yang seperti ini. Kenapa bisa berubah hanya karena pria sialan yang bekerja di Club malam itu."


Puas mengumpat, Jack memilih untuk segera menghambur masuk dan mencari pria bernama Noah yang merupakan pemilik rumah tersebut.


Merasa akan terjadi perkelahian hebat antara dua pria yang dikenalnya, membuat Amira Tan langsung menghentikan langkah Jack dengan menahan pergelangan tangan kiri dan menatap tajam. Seolah ingin menunjukkan ancaman, agar pria tersebut tidak melakukan hal buruk di rumah itu.


"Hentikan, Jack! Kamu salah karena aku tidak melakukan apa-apa dengannya. Aku tadi hanya mengompres karena suhu tubuhnya sangat tinggi. Bahkan ia dari tadi tidur dan tidak menyadari bahwa aku ada di sisinya."


"Jadi, jangan membuat keributan di sini dan kembali memancing perhatian para warga sekitar. Kamu hanya akan mempermalukan diri sendiri dan juga aku. Aku sudah akan mau pulang, tapi kamu datang tiba-tiba dengan berteriak seperti orang kehilangan akal."


Amira Tan kembali bersikap setenang mungkin dan juga menampilkan wajah sinis seperti biasa karena biasanya Jack akan patuh pada apapun yang diperintahkan.


Namun, ia menelan ludah dengan kasar saat melihat tanggapan dari sosok pria di hadapannya tersebut malah tertawa terbahak. Seolah menegaskan bahwa kebohongannya tidak dipercayai oleh Jack.


"Apa kamu bilang? Aku kehilangan akal karena sangat mengkhawatirkanmu?" Setelah tertawa miris begitu melihat ekspresi wajah Amira Tan, Jack semakin frustasi dan berbalik badan sambil berkacak pinggang.


Tentu saja ia saat ini tengah sekuat tenaga menahan amarah, agar tidak sampai meluapkan pada wanita yang dicintai, tetapi sama sekali tidak mau menanggapi perasaannya.


Bahkan beberapa saat kemudian, ia juga menarik rambutnya dengan kasar dan tentu saja rasa nyeri pada kulit kepala dirasakan. Namun, tidak membuatnya berhenti melakukan itu karena menganggap bisa sedikit mengurangi rasa yang membuncah saat ini.


"Kamu seperti bukan Amira Tan yang selama ini kukenal." Jack yang merasa sangat murka, kini berbalik badan dan mengarahkan tatapan tajam.

__ADS_1


Sosok wanita yang selama ini dicintai dan juga membuatnya sangat menghormati, sehingga tidak pernah memaksakan kehendak. Mungkin jika Amira Tan bukanlah sahabat baiknya selama kuliah sampai sekarang, sudah memperkosa wanita itu, agar menjadi miliknya.


Dengan begitu, mungkin wanita yang ada di hadapannya tersebut tidak akan selalu bersikap kasar padanya karena sudah menjadi miliknya.


Namun, ia masih belum mempunyai nyali karena takut jika sampai wanita yang dicintai sangat membencinya. Bukan itu yang diinginkannya karena kebencian dari wanita yang dicintai akan perlahan mencekiknya dan membuatnya kesulitan bernapas.


Hidupnya tidak akan pernah tenang karena mendapatkan kebencian dari wanita yang dicintai. Jadi, Jack selama ini membiarkan Amira Tan berbuat sesuka hati padanya. Tentunya dengan harapan, suatu saat nanti akan luluh juga jika ia terus bersama wanita itu.


"Aku sangat mengkhawatirkanmu. Apakah kamu sama sekali tidak mengetahui bahwa aku selama ini mencintai dan selalu menjagamu? Bahkan kamu selalu menutup mata dan tidak pernah mau menerimaku."


"Padahal hanya kamulah satu-satunya wanita yang membuatku ingin segera melepaskan masa lajang. Namun, saat aku mengatakan masalah perasaan yang selama ini kupunya untukmu, kamu selalu mengalihkan pembicaraan."


"Bagaimana kamu bisa dengan mudahnya bersama pria yang baru dikenal beberapa hari. Bagaimana mungkin aku bisa menutup mata melihat ini?"


Amira Tan bisa melihat tatapan tajam berkilat dari Jack sangat mewakili perasaan tulus yang mencintainya. Namun, ia selama ini hanya menganggap pria di hadapannya tersebut hanyalah teman dan tidak lebih.


"Aku tahu bahwa kamu sangat mengkhawatirkanku dan juga mencintaiku. Tapi aku sama sekali tidak memiliki perasaan apapun padamu, Jack. Kita hanya akan menjadi sahabat dan tidak lebih dari itu. Jadi, tolong pahami aku. Bahwa cinta tidak bisa dipaksakan."


"Mengenai Noah, aku pun juga tidak memiliki hubungan apapun dengannya. Aku datang ke sini tadi hanya ingin melihat bagaimana keadaan pria yang menolongku. Jika kamu tidak berbuat seenaknya sendiri dengan memukulinya, mana mungkin aku datang ke sini."


"Jadi, jangan buat masalah lagi dengan membuatku merasa bersalah dan berpikir harus bertanggung jawab pada Noah, oke! Lebih baik kita segera pulang. Biarkan Noah istirahat karena ia masih tidak enak badan."


Amira Tan kini menarik pergelangan tangan yang masih berada dalam kuasa karena dari tadi tidak ia lepaskan.


Ia sangat khawatir terjadi pertengkaran hebat dan juga perkelahian antara dua pria yang memiliki watak sangat keras kepala tersebut, serta tidak pernah mau mengalah.

__ADS_1


"Ayo, kita pulang sekarang! Aku pun sangat lelah dan ingin segera beristirahat di rumah."


Jack yang masih belum puas dengan perkataan dari Amira Tan. Ia ngin sekali bertanya hal lebih banyak mengenai apakah wanita dengan siluet belakang yang seksi tersebut benar-benar benar tidak melakukan perbuatan intim di dalam kamar bersama sang bartender.


Namun, ia khawatir jika wanita yang mempunyai sifat sangat arogan tersebut akan marah padanya, sehingga membuat hubungan di antara mereka bertambah buruk.


'Tahan, Jack. Lebih baik sekarang kamu mematuhi semua perintah dari Amira Tan. Hanya di hadapan wanita ini, tapi nanti bisa kembali setelah berhasil mengelabuinya.'


Jack akhirnya memilih patuh dengan tidak menolak perintah dari wanita yang sudah semakin mendekati mobil mereka.


Amira Tan melepaskan pergelangan tangan dengan buku-buku kuat tersebut, begitu tiba di dekat mobil berwarna hitam milik Jack. "Masuklah, Jack! Aku akan langsung pulang ke rumah. Kamu juga harus melakukan hal yang sama, oke!"


Tanpa berniat untuk membuka mulut, Jack saat ini memilih untuk hanya menganggukkan kepala dan membuka pintu mobil. Ia masih merasa sangat dongkol pada wanita yang dianggapnya telah berubah setelah mengenal pria bernama sang bartender tersebut.


'Lihat saja nanti, aku akan kembali ke sini lagi setelah mengantarmu pulang. Aku harus memastikan bahwa kamu tidak kembali ke sini,' gumam Jack yang saat ini menyalakan mesin mobil begitu melihat Amira Tan sudah masuk ke dalam kendaraan milik wanita itu.


Amira Tan yang sudah menyalakan mesin mobil dan melajukan kendaraan, meninggalkan area tempat tinggal pria yang telah membuatnya berbuat hal diluar nalar.


"Nasib baik Jack tidak melanjutkan kemarahannya dengan mengobrol lagi dan mengobrak-abrik isi rumah Noah. Aku tidak akan pernah datang ke sini lagi karena hanya akan mempermalukan diri sendiri," ujar Amira Tan yang saat ini sudah mengambil keputusan bulat.


Namun, sebenarnya di dalam hati, ia merasa penasaran dengan apa yang dirasakan oleh Noah begitu menyadari apa yang mereka lakukan.


"Bahkan ia sama sekali tidak keluar dari kamar ketika terjadi keributan di dalam rumah ini. Dasar pria berengsek! Aku tidak akan pernah menemuimu lagi."


Amira Tan mengumpat dengan perasaan yang membuncah sambil mengempaskan tangan pada kemudi untuk melampiaskan amarah yang menyeruak di setiap urat syarafnya.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2