Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Menipu publik


__ADS_3

Aldiano tidak tahu apakah yang dikatakan oleh wanita di hadapannya benar atau tidak, tapi ketika melihat ekspresi Putri benar-benar terlihat seperti orang yang jujur dan tidak munafik, hanya membuatnya tertawa.


Ia bahkan baru pertama kali bertemu dengan seorang wanita seperti Putri yang bahkan tidak tertarik dengan harta yang melimpah milik keluarganya. Bahkan dulu ia sampai menghalalkan segala cara agar sang ayah tetap menuliskan namanya di surat wasiat.


Dengan menuruti perintah sang ayah yang menyuruhnya menikah dengan wanita di hadapannya, sehingga sekarang menyadari apa alasan pria paruh baya yang merupakan satu-satunya keluarga tersebut memilih Putri dari sekian banyak wanita di dunia ini.


Meskipun belum terbukti perkataan dari wanita itu, tetap saja ia yakin jika Putri berbohong. Bahwa wanita sekelas Putri yang selalu hidup mandiri dengan berjuang mulai dari nol melalui usaha catering dan kini sudah berkembang, sehingga mengerti arti perjuangan dan juga uang.


Ia saat ini menatap ke arah wajah wanita yang seperti tidak memiliki beban apapun ketika melepaskan harta yang tidak sedikit jumlahnya.


"Dasar bodoh!" umpat Aldiano yang saat ini merasa jika wanita di hadapannya telah menyia-nyiakan kesempatan emas untuk menjadi seorang milyuner.


"Ya, aku dari dulu memang bodoh, Tuan Aldiano. Itulah mengapa aku tidak beruntung dalam hidup. Jadi, jangan bersikap seolah-olah hanya Anda di dunia ini yang hidup menderita karena mendapatkan cobaan berat."


Dengan sangat santai Putri menanggapi dengan sini karena jujur saja sangat lelah dengan ayah dan anak itu membuatnya berada di posisi yang berat. Hingga ia kini merasa sangat pegal pada kakinya dan memilih untuk mendaratkan tubuh di kursi.


Ia saat ini merasa bingung harus melakukan apa karena tidak bisa mengecek ponsel yang sudah hancur.


Jika ia sering membuat konten promosi untuk usahanya agar lebih dikenal publik, sekarang seperti mendadak menjadi pengangguran karena tidak melakukan apapun dan hanya bisa menatap ke arah sang suami yang dari tadi sibuk memikirkan kematian.


Hingga ia saat ini menyadari ada sesuatu yang salah dan membuatnya bangkit berdiri. Namun, sebelum ia keluar dari ruangan, menoleh ke arah ria di atas ranjang perawatan tersebut.


"Tuan, aku harus keluar sebentar. Aku tidak akan lama," ucap Putri yang ingin memberikan pelajaran pada Aldiano dengan cara meninggalkan dan merasakan hidup kesepian tanpa siapapun di sampingnya.

__ADS_1


Aldiano saat ini hanya mengibaskan tangan dan tidak ingin ikut campur atau bertanya ke mana wanita itu pergi. Meskipun sebenarnya merasa sangat penasaran, tapi menahannya karena tidak ingin dianggap ikut campur ataupun diejek kepo urusan orang lain.


Putri berbalik badan dan berjalan keluar. Ia merasa penasaran dengan konferensi pers yang dilakukan oleh mertuanya. Jadi, saat ini berniat untuk meminjam ponsel dari perawat tadi.


Ia juga akan menyuruh pelayan untuk membelikan ponsel baru dan mengantarkan ke rumah sakit karena benar-benar membutuhkan benda yang sudah menjadi nyawa kedua untuk manusia karena saat ini mayoritas orang hidup dengan ponsel yang hampir 24 jam dipegang.


Beberapa saat kemudian, ia yang berhasil meminjam ponsel perawat selama beberapa menit, kini langsung mencari konferensi pers yang dilakukan oleh mertuanya.


Hingga ia menemukannya dan melihat serta mendengarkan apa yang disampaikan oleh mertuanya tersebut. Bahkan ia duduk di dekat ruangan kantor di lantai khusus pasien VVIP tersebut.


"Semoga tidak ada masalah dalam konferensi persnya," ucap Putri yang saat ini mulai fokus melihat serta mendengarkan dengan memasang telinga lebar-lebar karena tidak ingin terlewatkan satu hal pun.


Kini, terlihat mertuanya baru saja masuk dan langsung menuju ke arah podium untuk menjelaskan tentang masalah yang menimpa keluarganya.


Bambang Priambodo awalnya membungkuk hormat untuk menyapa semua awak media yang datang.


"Selamat pagi, semua. Kalian semua pasti sudah menunggu dari tadi dan maaf jika terlambat karena masih mengurus banyak hal." Ia pedang sejenak untuk menormalkan tenggorokannya yang kering setelah mendapatkan tatapan tajam dari banyak media.


"Mengenai banyak pertanyaan yang terkait dengan masalah yang menyangkut menantu serta putra saya, kini ingin memohon maaf atas ketidaknyamanan dari apa yang kalian dengar dan lihat. Setiap orang mempunyai masa lalu dan apakah mereka tidak boleh bertobat setelah menyadari kesalahan?"


Semua orang yang hadir di ruangan tersebut sama-sama saling bersitatap. Seolah mereka disalahkan saat datang ke perusahaan karena terus mengorek masa lalu.


Bahkan untuk pihak keluarga Mahesa sama sekali tidak ada komentar dan seolah menutup diri dari wartawan yang berkerumun di bawah perusahaan dan akhirnya para security bergerak untuk tidak membiarkan mereka masuk ke dalam perusahaan.

__ADS_1


Sementara itu, Bambang Priambodo yang berhasil memantik berbagai macam pertanyaan di otak para wartawan, kini semakin membuatnya merasa seperti di atas angin. Kemudian mulai melanjutkan apa yang ingin disampaikan kepada semua orang.


"Ya, saya memang mengakui jika menantu pernah melakukan kesalahan di masa lalunya dan tidak akan membantahnya. Tapi semua itu tetaplah masa lalu yang tidak perlu dilihat karena kita hidup di masa depan. Apalagi menantu saya sudah bertobat semenjak lama dan belum mengenal keluarga kami."


Saat Bambang Priambodo mencoba untuk membela menantunya, terdengar sangat jelas suara dari seorang wartawan yang menyahut. Padahal ia sudah melarang untuk mengajukan pertanyaan secara langsung.


Ia ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan yang masuk melalui file khusus dan dipilih yang sangat penting-penting saja.


Namun, kini sudah melihat dan mendengar suara dari pria itu dan membuatnya menjadi sangat kesal.


"Apa putra Anda yang dikabarkan menyukai sesama jenis itu hanya melakukan pernikahan palsu selama ini?"


Tentu saja saat ini Bambang mengarahkan tatapan tajam pada pengawal agar memberikan pelajaran pada wartawan yang tidak mematuhi aturan yang telah dibuatnya sebelum mengundang para wartawan untuk menjelaskan tentang kabar miring yang beredar.


Tentu saja semua wartawan kini melihat orang yang sama sekali tidak mengikuti aturan pemilik perusahaan dan akhirnya diminta meninggalkan ruangan tersebut.


Hingga suara riuh rendah dari para wartawan telah tenang begitu Bambang Priambodo membahas tentang putranya.


"Mengenai putra saya yang dikabarkan miring, itu memang benar, tapi sebelum menikah sudah sembuh total dan hal itulah yang membuat pria itu menyebarkan informasi terkait masa lalu kelamnya. Namun, sudah bisa dipastikan jika sebelum menikah, dia telah sembuh."


Bambang Priambodo sengaja menipu publik karena berpikir jika jauh lebih baik daripada akan semakin menyeret nama putranya yang baru sadar setelah operasi.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2