
Seketika Calista membulatkan mata karena merasa sangat terkejut dengan keputusan sepihak dari sang ayah. Refleks bangkit berdiri dari sofa dan menatap pria paruh baya tersebut dengan penuh kecewa sekaligus marah karena tidak mau mengangkat panggilan dari orang tua Arya dan pastinya akan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Kenapa Papa memutuskan sepihak hubungan antara dua keluarga yang bahkan belum dimulai? Bukankah tadi mengatakan ingin keluarga Arya menjelaskan dengan menelpon, tapi kenapa sekarang berubah pikiran dengan tidak mau mengangkat panggilan?"
"Mungkin saja terjadi sesuatu yang buruk, sehingga tidak bisa datang untuk acara hari ini. Cepat angkat telponnya, Pa!" Calista bahkan berbicara dengan nada memerintah dan tidak memperdulikan jika sang ayah akan kembali murka.
Karena satu-satunya hal yang ingin diketahui adalah apa alasan keluarga Arya tidak datang sampai sekarang.
"Tidak! Bukankah Papa sudah mengatakan bahwa semuanya telah terlambat. Kenapa mereka tidak menjelaskan dari awal? Bahkan keluarga kita sudah dipermalukan di depan sana keluarga. Aku tidak akan pernah memaafkan perbuatan mereka!"
Pria paruh baya tersebut saat ini memilih untuk bangkit berdiri dari sofa dan berjalan meninggalkan istri dan anak perempuan yang masih berada di sana. Tidak ingin melampiaskan amarah yang membuncah di dalam hati pada orang-orang yang disayangi, sehingga memilih untuk pergi menghindar.
Sementara itu, Calista yang merasa penasaran pada alasan keluarga Arya tidak datang sampai sekarang, memilih untuk segera menaiki anak tangga dan menuju ke arah ruangan kamar.
Tentu saja untuk mengambil ponsel dan berniat menghubungi orang tua Arya karena sang ayah tidak mau menerima telpon. "Apa yang sebenarnya terjadi?"
Saat Calista hendak membuka kenop pintu, merasakan tangan ditahan oleh sang ibu dari belakang.
"Sayang, lebih baik kamu lupakan pria tidak bertanggung jawab itu dan menikah dengan salah satu putra dari rekan bisnis ayahmu." Wanita yang sangat menyayangi putrinya tersebut tidak ingin melihat kesedihan dari orang-orang yang disayangi.
Melihat kegagalan acara hari ini, membuat seorang ibu sekaligus istri tersebut merasa tidak tega. Jadi, memilih untuk menghentikan Calista, agar patuh pada perintah sang ayah.
Calista yang tadi buru-buru ingin menghubungi orang tua Arya, merasa sangat kecewa dan kesal atas perkataan dari wanita yang sangat disayangi tersebut.
"Aku pikir Mama bisa mengerti perasaanku yang sangat mencintai Arya, tapi ternyata sama saja dengan Papa. Aku yang akan menjalani kehidupan pernikahan, jadi berhak memutuskan dengan siapa menikah untuk menghabiskan waktu bersama pasangan hidup."
"Aku ingin mendengar penjelasan mereka, baru memutuskan apakah akan melanjutkan hubunganku dengan Arya atau tidak."
Saat Calista hendak membuka pintu, tapi tidak bisa melakukannya karena kuasa dari sang ibu yang masih belum melepaskan pergelangan tangan.
__ADS_1
"Mama belum selesai berbicara padamu, Calista. Apakah kamu sudah tidak lagi menjadi anak berbakti pada orang tua karena membantah perintah kami? Ini semua dilakukan demi kebaikanmu."
"Tidak! Mama tidak tahu apapun tentang kebaikanku karena jika mengetahui, pastinya memahami apa yang saat ini kurasakan pada Arya. Aku sangat mencintai pria itu dan hanya ingin menikah dengan Arya. Jadi, kali ini dukung aku sebagai putrimu yang pertama kali mengambil keputusan besar dalam hidup."
Kemudian tanpa menunggu tanggapan dari sang ibu, Calista melepaskan puasa di pergelangan tangan dan melangkah masuk ke dalam ruangan kamar.
Bahkan Calista yang tidak ingin diganggu oleh siapapun saat menghubungi keluarga Arya, memilih untuk mengunci pintu.
Semua itu dilakukan agar sang ibu tidak mengganggu saat menelpon. Kemudian Calista sudah mengambil ponsel yang tadi diletakkan di atas nakas dan memeriksa kontak orang tua Arya.
Namun, melihat pesan dan langsung membaca. Seketika degup jantung Calista berdebar hebat sambil membekap mulut begitu membaca pesan dari kontak ayah Arya.
Bahkan bulir air mata sudah lolos membasahi pipi putih Calista saat ini begitu mengetahui bahwa terjadi sesuatu hal yang buruk pada pria yang dicintai.
Tubuh Calista terhempas ke atas ranjang karena merasa sangat terkejut sekaligus terpukul dengan kenyataan pahit di hari yang harusnya bersejarah.
"Tidak!" Calista berteriak dengan suara sangat kencang untuk meredakan perasaan yang benar-benar terpukul begitu mengetahui bahwa pria yang dicintai mengalami kecelakaan.
"Aku selama ini memang berakting di depanmu, tetapi cintaku benar-benar tulus. Aku sangat mencintaimu dan tidak ingin kehilangan."
Calista saat ini sudah menangis tersedu-sedu di atas ranjang dan perasaan yang dipenuhi oleh kekhawatiran sekaligus ketakutan sudah menguasai diri dan bingung harus bagaimana.
Bahkan seperti tidak mempunyai nyali untuk menghubungi mertua, menanyakan bagaimana keadaan pria yang sangat dicintai.
"Aku sangat takut mendengar kabar buruk. Apa yang harus kulakukan saat ini?" Suara serak dan bergetar mewakili apa yang saat ini dirasakan oleh wanita yang masih sibuk menangis tersedu-sedu di atas ranjang tersebut.
Bahkan ruangan kamar yang awalnya dipenuhi oleh keheningan, kini sudah diwarnai tangisan menyayat hati dari sosok wanita yang sudah bersimbah bulir kesedihan di wajah cantik yang tadi dirias oleh make up artis.
Suara tangisan Calista menggema di ruangan kamar dan terdengar hingga keluar, sehingga wanita paruh baya yang tadi belum beranjak pergi dari depan pintu, bisa mendengar bahwa putrinya sedang menangis.
__ADS_1
Rasa khawatir dan berpikir jika akan terjadi hal buruk pada putrinya, wanita tersebut langsung beberapa kali mengetuk pintu di hadapannya.
"Sayang, cepat buka pintunya! Apa yang terjadi? Jangan menyakiti diri sendiri dengan membahayakan nyawamu!" Masih berteriak dengan suara yang sangat kencang dan berharap pintu yang ada di hadapan segera terbuka.
Bahkan suara teriakan terdengar oleh sang suami yang berada di kamar sebelah kiri dan keluar untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
Begitu melihat sang istri berteriak di depan pintu ruangan Calista, langsung berjalan mendekat. "Apa yang terjadi? Kenapa kamu berteriak seperti itu di depan ruangan Calista?"
Refleks wanita yang dikuasai oleh kecemasan tersebut menoleh ke arah sang suami yang baru saja datang dan langsung mengungkapkan apa yang diketahui.
"Putri kita tadi berteriak di dalam kamar dan menangis. Aku tidak ingin terjadi sesuatu hal yang buruk. Cepat lakukan sesuatu karena aku ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi di dalam kamar putri kita." Namun, jawaban dari sang suami membuatnya frustasi.
"Biarkan saja putri kita tenang. Saat ini Calista sedang patah hati dan frustasi karena acara pertunangan gagal." Baru saja selesai menutup mulut, indra pendengaran menangkap suara kunci yang diputar dari dalam.
Beberapa saat kemudian, pintu yang tadinya tertutup tersebut perlahan terbuka dan menampilkan wajah sebab Calista yang langsung menghambur ke arah sang ibu.
"Mama!" Calista yang merasa tidak kuat menanggung beban berat sendirian di dalam kamar, kini langsung memeluk erat tubuh wanita paruh baya tersebut untuk mengungkapkan hal yang baru saja diketahui.
Tentu saja pasangan suami istri tersebut langsung bersitatap karena merasa heran kenapa putri mereka terlihat seperti sangat berlebihan.
"Syukurlah kamu baik-baik saja, Sayang." Sang ibu langsung memeluk erat Calista dan beberapa kali mengusap punggung belakang. "Jangan seperti ini karena hanya akan menyiksamu."
"Arya, Ma. Benar apa yang aku takutkan dari tadi." Suara Calista mewarnai ruangan di depan kamar pribadi dan menyayat hati bagi siapapun yang mendengar.
"Lupakan pria yang tidak pantas untukmu karena tidak datang di acara pertunangan malam ini!" sarkas pria dengan wajah memerah karena merasa marah ketika membahas Arya dan keluarga yang mempermainkan mereka.
Refleks Calista melepaskan dekapan pada sang ibu dan menatap penuh kebencian pada pria paruh baya tersebut yang dianggap sangat egois.
"Papa tidak boleh berbicara seperti itu karena yang sebenarnya terjadi adalah Arya mengalami kecelakaan, sehingga tidak bisa datang malam ini. Bukan sengaja ingin membatalkan acara pertunangan, tapi karena mengalami kemalangan di jalan saat mobil terbalik ketika kecelakaan."
__ADS_1
Calista menjelaskan sambil berteriak karena ingin menyadarkan sang ayah, agar tidak menyalahkan pria yang dicintai. "Bukankah sudah kukatakan bahwa Arya sangat mencintaiku. Jadi, ini semua terjadi karena di luar kuasa."
To be continued...