Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Menceritakan masa lalu kelam


__ADS_3

Mira membawakan bubur dan sari apel untuk Putri karena ingin wanita itu menikmati semua yang diproduksi olehnya. Begitu kembali ke kamar, melihat Putri tengah mengusap lembut tubuh bayi yang sudah terbaring di atas ranjang.


"Bayi memang lebih banyak tidur, jadi kamu akan lebih mudah saat nanti membuka usaha, tapi sepertinya tetap membutuhkan bantuan orang lain. Tidak mungkin kamu melakukan semuanya sendiri." Mira yang sudah berjalan mendekat, menyerahkan bubur yang dibawa dengan Sari Apel.


"Makanlah ini dulu. Nanti aku akan memesan makanan. Aku sangat malas memasak karena sudah lelah dengan pekerjaan yang menumpuk. Nanti, jika kamu sudah membuka usaha warung makan, akan memudahkanku karena bisa membeli setiap hari. Itu adalah hal yang menguntungkan bagiku, bukan?"


Saat ini Putri hanya tertawa mendengar kalimat terakhir dari wanita yang duduk di sebelahnya tersebut. Ia memilih untuk kembali menikmati makanan yang merupakan hasil produksi dari Mira.


"Ini enak. Mungkin nanti aku akan bertambah gemuk karena sering makan camilan darimu. Mengenai orang untuk membantuku, sepertinya aku memang membutuhkannya. Hanya saja, mungkin tidak bisa membayar mahal dan bekerja setengah hari saja."


Tentu saja Mira mengerti kendala yang saat ini dipikirkan oleh Putri, yaitu modal untuk membuka usaha dan khawatir tidak bisa membayar gaji pekerja.


"Kamu tenang saja untuk masalah modal, nanti aku bisa memberimu pinjaman."


"Tidak! Aku sudah terlalu banyak merepotkanmu. Aku memiliki tabungan yang cukup, jadi kamu tidak perlu khawatir. Mungkin aku hanya akan memintamu untuk membantuku menemani pergi membeli semua peralatan untuk membuka warung. Jadi, bimbing aku untuk bisa sukses sepertimu."


Putri pun kini kembali menikmati bubur Apel tersebut. Sebenarnya ingin mengatakan mengenai sopir taksi yang tadi selalu menatapnya.


Akan tetapi, tidak ingin dianggap sebagai wanita yang terlalu berlebihan dalam menanggapi hal sepele, akhirnya memilih diam dan memendam sendiri kekhawatiran yang dirasakan.


Menormalkan perasaan, Putri kini meneguk minuman siap saji dalam kemasan gelas plastik yang memiliki rasa segar itu.


Sari Apel dengan Rome Beauty yang memiliki perpaduan manis dan asam telah memanjakan lidahnya saat ini. Kemudian membahas lagi tentang usaha yang menjadi pilihan.


"Aku ingin secepatnya membuka usaha, agar tidak menganggur dan juga mendapatkan uang. Jadi, besok antarkan aku membeli semua peralatan."


"Baiklah. Kamu tenang saja karena aku akan membantumu. Sekarang kamu sebaiknya beristirahat karena pasti sangat lelah setelah menempuh perjalanan sangat jauh. Aku sampai lupa menghubungi suamiku untuk memberitahukan bahwa kamu tiba di sini."

__ADS_1


Kemudian Mira saat ini langsung meraih ponsel di dalam tas, lalu berbicara dengan sang suami di luar karena tidak ingin suaranya mengganggu tidur nyenyak bayi di atas ranjang.


Sementara itu, Putri saat ini menatap ke arah putranya yang tertidur pulas. "Sayang, kita akan bahagia hidup di sini tanpa ada satupun yang mengenal. Semoga saat besar nanti, kamu tidak menanyakan tentang papamu karena Mama ingin melupakan semua rasa sakit ini."


Putri saat ini telah memegangi dada yang terasa sesak kala mengingat sosok pria yang masih belum bisa dilupakan sampai sekarang. Padahal mengetahui bahwa pria yang pernah menjadi pusat dunianya tersebut telah bahagia dengan wanita lain.


'Apakah mereka akan menikah?' gumam Putri saat ini masih memikirkan mengenai apa yang dilakukan oleh mantan suami.


Sebenarnya ia bisa saja mencari informasi di media sosial mengenai mantan suaminya itu, tetapi sangat takut jika satu kali melakukannya, akan semakin menambah dalam luka yang dirasakan.


Putri langsung mengalihkan pikiran buruk yang saat ini memenuhi otaknya. "Aku tidak akan pernah mencari informasi apapun mengenai Arya. Ini Semua demi kebaikan putraku, agar tidak melihat ayahnya tak lebih dari seorang bajingan karena lebih mementingkan wanita selingkuhan daripada anak dan istri."


Saat baru selesai mengumpat dan menyadari bahwa itu sama persis dengan keadaannya saat mengkhianati Bagus, Putri tertawa miris.


"Dasar bodoh! Seharusnya kamu bercermin dulu sebelum berbicara. Jika Arya adalah seorang bajingan, lalu sebutan apa yang pantas untukmu. Wanita murahan, ya itulah yang pantas untukku."


"Jangan selalu berbicara seperti itu pada diri sendiri, Putri!" Mira yang beberapa saat lalu baru saja selesai berbicara dengan sang suami di telepon, mendengar suara Putri yang seperti menyalahkan diri sendiri.


Bahkan melihat bola mata berkaca-kaca dan wajah murung, Mira langsung berjalan mendekat. Kemudian mendaratkan tubuh di sebelah kiri Putri.


"Kamu tidak perlu menyalahkan diri sendiri seperti itu. Apakah aku boleh tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu hingga bisa berakhir di sini? Terkadang menceritakan sesuatu pada teman bisa membuatmu lebih baik."


"Meskipun aku tidak bisa menyelesaikan masalahmu, tapi berharap bisa menghiburmu saat kau selalu menyalahkan diri sendiri seperti ini. Jika aku tidak mengetahui apapun tentangmu, bagaimana caraku untuk melakukannya?"


Saat Putri hanya terdiam dan tidak membuka suara, seolah bisa dimengerti oleh Mira bahwa wanita itu masih belum siap untuk menceritakan semua masalah yang terjadi.


"Sepertinya kamu butuh waktu untuk mempercayaiku sebagai teman. Aku akan mengambil sesuatu yang akan membuatmu gemuk sepertiku," ucap Mira yang tertawa untuk menguraikan keheningan di ruangan kamar.

__ADS_1


Putri langsung menghentikan Mira dengan memegang pergelangan tangan kiri wanita yang sudah memunggunginya. "Tunggu!"


"Ya?" Mira hanya menjawab singkat karena ingin tahu apa yang sebenarnya diinginkan oleh Putri.


"Aku memang tidak menganggapmu teman."


"Wah ...." Mira seketika terkejut begitu mendengar jawaban dari Putri yang seolah bersikap sinis padanya.


Namun, semua teralihkan begitu mendengar kalimat selanjutnya dari Putri dan membuatnya merasa sangat terharu.


"Karena aku menganggapmu sebagai saudara perempuanku. Bukannya aku tidak mau menceritakan tentang apa yang terjadi padaku, tapi sebenarnya merasa sangat hina dan takut jika kau membenci, peserta didik padaku setelah mengetahui semuanya"


Baru saja Putri menutup mulut, merasakan rasa nyeri pada lengan karena Mira baru saja memukul.


"Dasar wanita bodoh! Asal kamu tahu, bahwa para pekerja wanita yang bekerja di sini merupakan bekas pelacur. Aku sama sekali tidak pernah menghina ataupun berpikir bahwa mereka sangat hina. Hanya Tuhan yang bisa menilai hati manusia."


"Karena penampilan bisa menipu seseorang. Jadi, jangan pernah menilai orang lain dari luar saja karena kita tidak tahu bagaimana hati mereka. Bukan hal yang tidak mungkin jika pelacur memiliki hati yang lebih mulia daripada orang yang berpenampilan rapi dan bekerja di kantor."


Awalnya, Putri berpikir jika Mira marah karena memang merasa jijik padanya. Namun, begitu mengetahui semua hal mengejutkan yang diungkapkan oleh wanita itu, ia merasa sangat bersalah karena berpikir seperti itu pada wanita sebaik Mira.


"Aku sama sekali tidak pernah menyangka jika orang-orang yang bekerja di sini dahulu memiliki masa lalu kelam. Bagaimana caramu mengajak mereka bekerja di sini? Bagaimana kamu bisa mengenal para pelacur?"


Mira yang tidak mungkin menceritakan panjang lebar mengenai semua pekerja, hanya menjawab sekilas sambil menggelengkan kepala.


"Akan butuh waktu berhari-hari untuk menceritakan kisah mereka. Seharusnya kamu yang menceritakan kisahmu terlebih dahulu, bukan? Sekarang ceritakan padaku mengenai masa lalumu yang membuatmu merasa sangat hina."


Akhirnya Putri menganggukkan kepala dan boleh menceritakan mengenai masa lalu kelam yang dialami hingga terpuruk seperti sekarang ini. Berharap bisa lebih baik setelah menceritakan semuanya pada wanita yang sudah menjadi Dewi penolong tersebut.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2