Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Ditinggalkan


__ADS_3

Perasaan Amira Tan sangat hancur ketika melihat pria yang belum bisa dilupakan dan masih sangat dicintai telah pergi. Tanpa bisa ditahan, air matanya sudah menganak sungai dan menangis tersedu-sedu di pelukan pria yang juga diketahui memiliki perasaan yang sama sepertinya.


Tanpa memperdulikan apapun, ia saat ini hanya ingin menangis dan merasa sedikit terhibur dengan perbuatan penuh kelembutan dari pria yang saat ini memeluknya dengan erat dan beberapa kali mengusap lengan.


Seolah ingin menyalurkan aura positif dan menenangkan, agar ia tidak semakin bersedih atas kepergian Bagus yang sudah menghilang di balik dinding restoran.


"Semua luka yang hari ini kamu rasakan, akan sembuh seiring berjalannya waktu, Amira Tan. Percayalah padaku. Kamu adalah seseorang yang kuat dan tangguh karena bisa melakukan apapun saat susah dilakukan oleh wanita lain." Jack sebenarnya merasa terluka melihat wanita yang dicintai patah hati karena pria lain.


Namun, di sisi lain, ia juga merasa senang karena satu saingan yang menjadi penghalang untuk mendapatkan wanita diperlukannya tersebut sudah pergi.


'Akhirnya pria itu pergi juga dan aku sedikit lebih tenang karena hanya ada Noah yang perlu diwaspadai saat ini. Apapun akan kulakukan demi bisa mendapatkanmu, Amira Tan. Apakah aku perlu mengusir bartender itu dari kota ini?'


'Sebelum aku melakukan itu, harus mencari tahu mengenai semua hal yang berhubungan dengan pria bernama Noah itu. Kelemahan, mungkin jika menemukannya, bisa menyingkirkan bartender tersebut.' Jack sibuk dengan pikirannya sendiri sambil mengusap lengan Amira Tan.


Sementara itu, Amira Tan masih belum bisa menghentikan bulir air mata yang berjatuhan dari bola mata. Sebenarnya sudah sekuat tenaga berusaha untuk tidak menangis ketika melihat Bagus pergi dan jelas mengatakan tidak akan pernah menerima cintanya.


Namun, ia tetaplah seorang wanita yang memiliki perasaan sensitif dan pastinya tetap terluka ketika patah hati.


"Aku tidak tahu mengapa bisa sangat mencintai Bagus. Padahal sudah mengetahui bahwa pria itu tidak pantas untukku dan masih sangat mencintai Putri yang merupakan adik tiriku."


"Kenapa aku bisa sebodoh ini dalam hal cinta? Aku selama ini tidak pernah jatuh cinta pada sembarang pria, tapi kenapa lemah di hadapan adik ipar yang harusnya tidak boleh dicintai? Bahkan Putri yang hanya merupakan wanita biasa saja, meninggalkan Bagus. Namun, kenapa wanita hebat sepertiku malah jatuh cinta padanya?"


Berbagai macam pertanyaan yang saat ini diungkapkan oleh Amira Tan, sama sekali tidak bisa dijawab oleh Jack.

__ADS_1


Jack bahkan tidak tahu kenapa wanita sehebat Amira Tan bisa jatuh cinta pada seorang pria biasa yang bahkan tidak lebih hebat darinya.


"Hanya hatimu yang bisa menjawab itu, Amira Tan. Meskipun aku tahu bahwa ini sangat berat untukmu, tapi lebih baik mulai sekarang berusaha untuk melupakannya. Apalagi ia sudah tidak ada lagi di sini. Jangan semakin menyiksa diri dengan memikirkan pria yang sama sekali tidak melirikmu."


Saat Jack baru saja menutup mulut, ia merasa tertampar dengan pertanyaan dari wanita yang saat ini menarik diri dari pelukannya.


"Jack, aku sudah berusaha melakukan itu. Namun, bukankah ini tidak semudah membalikkan telapak tangan? Apalagi kamu pun tidak bisa melupakan perasaanmu padaku setelah kutolak berkali-kali."


"Jika kamu bisa melakukannya, aku akan memintamu untuk mengajariku." Amira Tan berbicara sambil mengusap kasar bulir air mata yang menghiasi wajah.


Jack kali ini tidak bisa berkutik dan memilih untuk memalingkan wajah karena Amira Tan menatapnya dengan intens dan seperti sebuah panah menancap di jantungnya.


Tidak tahu harus berkomentar apa, Jack memilih untuk mengambil satu sendok makanan dan menyuapkan ke dalam mulut.


Saat mengunyah makanan, mengalihkan pembicaraan, agar Amira Tan tidak membahas lagi mengenai perasaan. "Cepat habiskan makanannya karena sudah dingin."


"Bagaimana mungkin kamu bisa menyuruhku makan saat hatiku sedang hancur karena patah hati? Inilah bedanya seorang wanita dan pria."


"Pria tetap bisa makan sepuas hati dan mengenyangkan perut saat patah hati. Bukankah semalam kamu makan dua porsi nasi goreng setelah aku menolakmu? Terkadang aku berpikir apakah kamu normal atau tidak karena masih bisa makan saat patah hati?"


"Ataukah kamu sama sekali tidak patah hati karena selama ini hanya bermain-main denganku?" Amira Tan saat ini malah berpikiran buruk pada pria yang terlihat lahap menikmati makanan.


Bahkan yang ada di otak saat ini adalah Jack hanya ingin mempermainkan perasaan karena penasaran ingin mendapatkan wanita sepertinya. Apalagi selama ini susah didapatkan oleh para pria.

__ADS_1


"Mungkin jiwa petualang yang selalu ada di dalam dirimu, menuntun untuk menyatakan cinta padaku karena rasa penasaran bagaimana berhubungan dengan wanita yang belum pernah menjalin kasih dengan lawan jenis."


Amira Tan masih mengarahkan tatapan mengintimidasi sambil menunggu jawaban apa yang saat ini diungkapkan oleh Jack.


Saat Jack tidak ingin membahas mengenai perasaan yang sebenarnya terluka, tetapi berusaha untuk menjadi pria kuat seolah tidak terjadi apapun karena berharap bisa selalu dekat dengan Amira Tan.


Ingin sekali ia melemparkan gelas yang berada di tangan untuk melampiaskan amarah karena Amira Tan tidak mengerti dengan perasaan cinta tulus yang dirasakan. Namun, hanya meremas dan menahan diri, agar tidak meluapkan perasaan membuncah di dalam hati.


"Jangan meluapkan perasaan hancur karena patah hati oleh pria itu padaku, Amira. Aku tidak bersalah dalam hal ini. Jika kamu melupakan perasaanku padamu, sepertinya aku tidak bisa menjelaskan apapun."


"Terserah kamu menganggap perasaanku ini seperti apa, tapi yang jelas, aku tulus mencintaimu dan meskipun kamu melukaiku berkali-kali, tetap tidak bisa pergi darimu. Rasanya hanya berada di sisimu setiap hari seperti ini, sudah mengobati luka menganga di dalam hatiku."


Jack merasa kesal dan memilih untuk bangkit berdiri dari kursi. "Aku tidak bisa terlalu lama berada di sini karena tidak dipercayai. Padahal selama ini sangat tulus mencintaimu dan bodohnya aku tetap ingin berteman di saat hati terluka."


Tidak ingin berlama-lama di di dekat wanita yang membuatnya patah hati, Jack memilih pergi tanpa menunggu tanggapan dari Amira Tan.


Sebenarnya ia tadinya ingin berlama-lama menghibur Amira Tan yang sedang patah hati, tetapi merasa marah karena ketulusannya sama sekali tidak dihargai.


Sementara itu, Amira Tan saat ini hanya diam menatap bahu lebar pria yang berjalan semakin menjauh dan lama-kelamaan menghilang di balik dinding restoran.


Amira Tan mengembuskan napas kasar dan berat begitu menyadari tidak bisa menjaga perkataan yang akhirnya menyinggung Jack. "Apakah karena ini, Bagus sama sekali tidak bisa mencintaiku?"


"Pria yang kucintai kini telah pergi dan aku tidak akan pernah bisa melihatnya lagi. Pasti akan sangat merindukannya, tapi tidak bisa melakukan apapun karena sepertinya harus melupakan cintaku."

__ADS_1


"Sekarang, bahkan Jack pun telah pergi karena marah padaku. Harusnya aku merasa kesal karena sikap Jack seperti anak kecil yang merajuk karena tidak diberi permen. Namun, sepertinya aku harus introspeksi diri mengenai semua sikapku pada Jack."


To be continued...


__ADS_2