
Noah yang saat ini terbebas dari kuasa dua rekan kerja, mengarahkan jari telunjuk pada pria yang tadi menghina harga dirinya. "Kau, dengarkan baik-baik perkataanku! Jika sekali lagi berbicara seperti itu, akan kupastikan kau dipecat dari kantor ini."
Sementara itu, pria yang masih menahan rasa nyeri pada bagian bibir yang robek, kini hanya menelan saliva dengan kasar dan tersenyum masam atas ancaman dari kekasih bos tersebut.
'Sialan! Dia bahkan hanyalah staf rendahan di kantor ini, tapi sekarang besar kepala setelah mendapatkan bos. Pasti Noah berpikir mempunyai kekuasaan seperti nona Amira Tan, sehingga menganggap bisa memecatku.'
Meskipun mengumpat dalam hati karena merasa kesal atas perkataan dari Noah, tetap saja tidak mengeluarkan sepatah kata pun untuk menanggapi karena khawatir jika benar-benar dipecat dan kehilangan pekerjaan yang disukai.
Sementara itu, Noah yang tadinya berniat untuk mencari pekerjaan di beberapa perusahaan setelah menemui sang kekasih pujaan hati di kantor, kini mengurungkan niat karena buru-buru keluar dari sana untuk menuju ke rumah sakit.
Noah saat ini menghubungi ojek online agar mengantarkan ke sana karena berpikir bahwa Amira Tan saat ini sedang menunggu sang ibu di rumah sakit. Sambil menunggu kedatangan ojek online, berbagai macam pertanyaan mengganggu pikiran.
"Apakah ibunya kembali drop? Hingga ia memilih untuk tidak berangkat ke kantor. Amira, kenapa kamu dari semalam tidak mengangkat telponku? Apakah semua itu karena aku tidak bisa menahan kecemburuan pada Jack?"
"Apakah kamu menginginkan aku agar tidak lagi merasa cemburu dan bersikap datar padamu? Lalu, apakah kamu baru tenang dan hubungan kita kembali seperti dulu lagi?" Noah yang berdiri di depan kantor, kini terlihat mengacak frustasi rambut, sehingga sekarang sudah berantakan.
Ia kembali menghubungi sang kekasih dan sangat berharap akan diangkat, tetapi seperti sebelumnya, sama sekali tidak bisa berbicara di telpon dengan Amira Tan.
Bahkan saat ini berpikir bahwa tidak ada jalan lain selain pergi ke rumah sakit untuk memastikan sendiri. Meskipun mungkin akan mendapatkan tatapan tajam dari orang tua Amira Tan, tidak akan diperdulikan.
Beberapa saat kemudian, ojek online telah datang dan Noah segera menyuruh untuk mengantarkan ke rumah sakit.
Hingga setengah jam kemudian, Noah sudah tiba di rumah sakit dan memberikan uang sebagai ongkos. Tanpa membuang waktu, langsung berjalan menuju lobi dan naik ke lantai atas menggunakan lift.
Ia saat ini menatap angka digital yang ada di hadapannya dan merasa seperti bergerak lambat karena sudah tidak sabar ingin bertemu dengan wanita yang sangat dirindukan. Meski baru beberapa jam tidak bertemu dengan sang kekasih, tetapi merasa seperti sudah lama.
Saat bunyi denting lift berbunyi, kini Noah berjalan keluar menuju ke arah ruangan perawatan yang kemarin didatangi bersama dengan Amira Tan, tetapi mengerutkan kening saat melihat ada beberapa orang baru keluar dari sana dengan penampilan sangat rapi.
Noah yang tadinya berjalan cepat karena ingin segera memeriksa apakah Amira Tan ada di dalam ruangan sang ibu, kini memperlambat langkah kaki karena menunggu orang-orang itu pergi.
__ADS_1
Hingga suara-suara yang membuat Noah seketika mengepalkan tangan karena merasa sangat marah dengan apa yang didengar dari pembicaraan beberapa orang tersebut.
"Jack dan Amira Tan benar-benar terlihat serasi dan mereka pasti akan sangat bahagia."
"Iya dan pastinya akan menjadi pasangan pengacara yang paling hebat di kota ini karena kemampuan mereka sudah tidak diragukan lagi."
"Iya. Meski acara hanya dilakukan di ruang perawatan, tetapi tetap tidak bisa menghilangkan momen haru hari ini dan membuat semua orang ikut merasa bahagia dengan pernikahan mereka."
Beberapa orang yang berbicara tersebut adalah saksi dari keluarga Amira Tan dan juga Jack. Hingga beberapa saat kemudian, pria yang tadi menikahkan juga keluar dari ruang perawatan dengan diantarkan oleh ayah Amira Tan dan Jack.
Noah bisa mengerti dengan situasi apa yang saat ini terjadi, sehingga tidak bisa membiarkan lebih lama karena seperti tidak dianggap oleh sang kekasih.
'Amira, apa kamu sudah berpikir untuk meninggalkanku dan sama sekali tidak menganggapku adalah kekasih?'
'Kenapa kamu sama sekali tidak memberitahuku bahwa hari ini akan menikah dengan Jack? Bahkan aku tidak pernah berpikir jika pernikahanmu dilakukan secepat ini. Apakah aku tidak boleh marah padamu setelah mengetahui hal ini?'
'Apakah ini adalah alasanmu tidak mau mengangkat telpon dariku dari semalam?' Noah yang saat ini masih berhenti di dekat ruangan perawatan ibu sang kekasih, bisa melihat dua pria paruh baya yang mengantarkan seseorang keluar.
'Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan sekarang? Haruskah aku hanya diam saja dengan situasi seperti ini? Ataukah meluapkan kecemburuan yang kurasakan pada Amira Tan karena sangat mencintainya dan tidak rela jika semua ini terjadi secepat ini.'
Noah saat ini masih terdiam di tempat karena belum bergerak sama sekali dan hanya merasakan tatapan tajam dari ayah Amira Tan.
Ia sama sekali tidak merasa takut, tetapi menunggu hingga dua pria tersebut pergi. Noah bisa menebak bahwa mereka adalah orang yang menikahkan Amira Tan dengan Jack.
Hingga beberapa saat kemudian, melihat dua pria itu pergi dan di saat bersamaan, ayah Amira Tan melambaikan tangan padanya.
Noah saat ini seperti seorang pria yang tidak punya harga diri ketika berjalan mendekati ayah Amira Tan saat menatap seperti ia adalah seorang pria rendahan.
"Kemarilah! Sepertinya kau ingin mengucapkan selamat atas pernikahan putriku dengan Jack," ucap Edi Indrayana yang saat ini tersenyum menyeringai dan berpikir bahwa tidak akan ada yang bisa memisahkan putrinya dari menantunya.
__ADS_1
Bahkan akan melakukan apapun agar pria yang berjalan semakin mendekat tersebut tidak lagi berpikir untuk mendekati putrinya.
Noah benar-benar terluka dengan apa yang baru saja dikatakan oleh pria paruh baya tersebut, tetapi berusaha untuk terlihat kuat. Hingga begitu tiba di hadapan dua pria paruh baya tersebut, ia saat ini membungkuk hormat saat menyapa.
"Siapa pria ini?" tanya ayah Jack yang saat ini mengerutkan kening karena merasa penasaran dengan sosok pria di hadapannya.
Di saat bersamaan, melihat putranya keluar dari ruangan perawatan. "Apa ini temanmu, Jack?"
Jack yang tadi mendengar suara dari ayah mertua dan juga sang ayah, sudah menebak siapa yang datang dan ingin memastikan sendiri dengan keluar dari ruangan.
Hingga beberapa saat kemudian, bersitatap dengan Noah. "Wah ... kau berani juga datang ke sini. Padahal sudah jelas-jelas tidak mendapatkan restu dari orang tua Amira, tetap saja datang untuk menemui istriku."
Kalimat terakhir benar-benar menyayat hati Noah saat ini dan berharap Amira Tan bisa mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Jack. Bahwa pria itu sangat licik dan memang berusaha untuk merebut Amira Tan darinya.
Saat Noah berniat untuk membuka mulut, kini mendengar suara sosok wanita yang sangat dirindukan.
"Noah?" Amira Tan berjalan cepat menuju ke arah pintu untuk memeriksa huru-hara di luar ruangan perawatan dan sudah bisa menebak jika Noah datang ke Rumah Sakit.
Padahal kemarin sudah melarang agar tidak datang dan berhubungan diam-diam saja, tetapi pria itu seperti tidak mau menuruti apapun yang diperintahkan.
Ia benar-benar sangat marah karena Noah selalu berbuat sesuka hati. Padahal saat ini sedang berusaha untuk menyelesaikan masalah agar tidak kehilangan dua orang yang sama-sama berarti di hati, tetapi seolah pria di hadapannya tersebut tidak menghargai usahanya.
"Apa aku tidak boleh datang untuk menemuimu? Apakah sekarang kamu berpikir bahwa hubungan kita telah berakhir setelah menikah dengan bajingan ini?" sarkas Noah yang saat ini sudah tidak bisa lagi bersabar melihat sikap Amira Tan yang seperti selalu membela Jack, meski mengetahui bahwa pria itu sangat licik.
Tidak bisa lagi menahan amarah yang mengguncang di dalam hati atas sikap kekanakan dari Noah dan tidak pernah mempercayainya, Amira Tan seketika berjalan mendekat dan mengarahkan tamparan pada pipi putih dengan rahang tegas tersebut.
"Dasar pria kekanakan! Pergi dari sini karena aku tidak ingin melihatmu lagi!" Tanpa mengalihkan tatapan tajam setelah menampar, Amira Tan bisa melihat raut wajah memerah dari Noah saat ini.
Namun, sama sekali tidak diperdulikan karena benar-benar kesal pada Noah yang selalu mencurigainya setelah berusaha untuk berjuang mempertahankan hubungan mereka dengan cara berpura-pura untuk menikah dengan Jack, sekarang semuanya berantakan karena pria itu.
__ADS_1
To be continued...