
Setelah menikmati mie instan bersama-sama di meja makan sambil mengobrol banyak hal dan juga membahas mengenai jalan keluar yang melibatkan nama keluarga Mahesa akibat masa lalu yang diekspos, kini Arya sakit berdiri dari kursi.
Ia yang merasa sudah cukup lama mencegah waktu setelah makan untuk pergi tidur, kini menekuk bahu lebar sang asisten. "Tidurlah! Kita sudah ngobrol cukup lama hingga larut. Besok tenaga kita dibutuhkan oleh orang banyak. Apalagi harus melawan para wartawan yang pastinya akan mencari tahu hal yang sesungguhnya tentang masa laluku."
Sang asisten kini melakukan hal sama dengan bangkit berdiri dari kursi dan menganggukkan kepala. Ia selama ini memang susah tidur jika terbangun tiba-tiba, jadi harus makan dan setelah kenyang baru bisa kembali melanjutkan istirahatnya.
Namun, karena ada atasan bersamanya, sehingga tidak langsung tidur karena mengatakan jika setelah makan tidak boleh langsung rebahan karena akan memicu penyakit lambung dan yang lainnya.
"Baik, Bos. Kita besok hadapi para wartawan itu. Saya masih belum mendapatkan kabar mengenai siapa yang menyebarkan tentang rahasia masa lalu Anda pada media. Semoga besok bangun tidur mendapatkan kabar baik dan mengetahui dalang dibalik kejadian ini."
Saat melihat atasannya mengangkat ibu jari untuk membenarkan, ia pun berjalan mengikuti pria tersebut masuk ke dalam kamar masing-masing.
Arya yang saat ini baru saja merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil menatap ke arah langit-langit kamar, tidak pernah bisa melupakan kesalahannya pada Calista dan juga bagaimana sikap dari mertuanya yang tidak mau memaafkan.
"Aku tetap harus pergi ke pemakaman Calista sebagai bentuk penghormatan terakhir dan permohonan maafku padanya karena selalu membuatnya merasa kecewa karena perasaanku yang selalu ragu atas cintaku." Ia berpikir akan pergi ke pemakaman setelah selesai karena tidak ingin mendapatkan kemurkaan dan juga menarik perhatian dari para wartawan.
Hingga ia yang saat ini memejamkan mata dan berharap bisa segera tertidur pulas agar besok bisa bangun pagi, serta menyelesaikan semua masalah yang terjadi di perusahaan.
Hingga ia melihat bisa melihat bayangan masa lalu dan akhirnya mengingat semuanya.
Beberapa menit kemudian, mendengar notifikasi masuk yang baru saja didengarnya. Berpikir jika itu adalah sebuah hal yang sangat penting, kini langsung meraih ponsel miliknya di atas nakas.
Hingga ia pun kini membaca pesan dari sang asisten yang baru saja mengirimkan nomor ponsel dari Putri karena mengetahuinya dari salah satu ahli IT yang meretas nomor Bambang Priambodo.
"Wah ... cepat sekali dia melaksanakan tugasnya." Arya langsung menyimpan nomor Putri dan saat ini langsung memencet tombol panggil tanpa memperdulikan jika saat ini sudah larut malam.
Ia benar-benar sangat khawatir pada keadaan wanita yang merupakan mantan istrinya tersebut. Apalagi semuanya juga berawal dari kesalahannya karena merasa yakin jika ada orang yang menjadi pemberi informasi pada salah satu wartawan adalah orang yang tidak menyukainya.
Apalagi saat ini dipikirannya tengah mencurigai satu orang yang kemungkinan menyebarkan rahasia tentang masa lalunya yang bahkan jarang diketahui oleh orang lain, yaitu mertuanya yang sekarang membencinya.
"Semoga apa yang kau pikirkan ini tidak benar karena sebelum mendapatkan bukti tentang siapa yang menyebarkan informasi pada wartawan, aku akan diam. Setelah mendapatkan bukti akurat, baru akan bergerak untuk membuat perhitungan." Saat Arya tidak terima dengan kejahatan itu karena yang tersakiti paling dalam adalah pihak perempuan.
Jadi, tidak akan merasa tenang sebelum berbicara secara langsung dengan Putri yang tadi bahkan dilihatnya seperti mengalami beban berat di pundaknya. Apalagi melihat wanita itu memejamkan mata dan beberapa kali memijat pelipis saat berada di taksi, membuatnya tidak tega.
Hingga ditambah satu masalah besar yang akhirnya menyangkut dua perusahaan besar serta nama baik keluarga. Begitu sambungan telepon diangkat dan mendengar suara dari seberang telepon yang tidak seperti orang bangun tidur, Arya merasa yakin jika saat ini Putri belum tidur dari tadi.
"Halo, siapa ini?" tanya Putri yang baru saja selesai membereskan kekacauan yang tadi dibuat oleh Aldiano saat melarangnya untuk pergi dari rumah.
Awalnya ia tidak pernah mengangkat telepon dari nomor tidak dikenal karena khawatir jika itu adalah seorang penipu ataupun orang jahat. Namun, karena kali ini ia mengalami masalah besar yang menyangkut masa lalunya, sehingga berpikir jika yang menelpon adalah orang yang ingin menghancurkannya.
Hingga ia mengerjapkan mata begitu mendengar suara yang sangat dihafal dan merasa bingung harus bagaimana.
"Halo, Putri. Aku sangat yakin jika kamu sudah mengetahui sebuah artikel yang beredar di media sosial mengenai masa lalu kita. Makanya sampai sekarang kamu belum tidur dan pasti tengah memikirkan jalan keluarnya, kan?" Arya sebenarnya ingin langsung mengatakan jika ia sudah mengingat tentang masa lalunya.
Namun, masih ingin mengetahui respon dari Putri mengenai kabar memanas hari ini. Bagaimana cari wanita itu menghadapi, ingin diketahuinya.
__ADS_1
Saat mengetahui jika Arya yang menelpon, ia merasa sangat yakin jika yang dibahas adalah mengenai artikel di media sosial yang sudah tersebar dan sedang ditangani oleh mertuanya. Kini, ia hanya bisa mengembuskan napas kasar ketika mengingat dosa-dosanya di masa lalu.
"Pasti keluargamu saat ini menanggung malu karena aku dan khawatir jika mengalami penurunan harga saham. Maafkan aku karena kembali ke Jakarta dan membuat masalah untuk kalian. Aku sangat menyesal kembali ke sini, sehingga membuat orang-orang yang ada di sekitarku mengalami masalah."
Wanita pembawa sial adalah sebutan untuknya dari mantan mertua yang dari dulu tidak pernah menyukainya, sehingga sekarang meyakini jika itu semua memang benar.
Apalagi saat mengingat ketika tinggal di daerah pegunungan bersama dengan Mira, malah membuat warga merasa malu. Meskipun itu hanyalah sebuah kesalahpahaman, tetap saja ia akhirnya harus mengalah pergi dari sana saat merasa nyaman tinggal di kampung itu untuk membuka lembaran baru.
Arya yang awalnya berpikir jika Putri akan menangis karena merasa malu atas masa lalu yang diungkit oleh media, ini tidak percaya dengan tanggapan wanita itu yang malah memikirkan nasib perusahaannya.
Ia yang awalnya ingin menghibur keterpurukan Putri, seolah merasa tertampar dengan rasa bersalah wanita yang kini semakin lebih dewasa tersebut.
"Putri, aku sudah mengingat semuanya."
Putri yang tadinya berpikir untuk menebus kesalahan Karena membuat nasi perusahaan serta nama baik keluarga Mahesa terancam buruk, seketika mengerjapkan mata dan menelan saliva dengan kasar.
"Apa? Kamu sudah mengingat semuanya? Bagaimana bisa? Apa kamu baru saja terjatuh atau terbentur di bagian kepala?" Putri yang saat ini sudah berdiam diri di kamar sendirian karena putranya dari tadi tidak dikembalikan oleh mertuanya dan diajak tidur bersama.
Jadi, sekarang bisa berbicara dengan leluasa untuk menanyakan tentang bagaimana bisa mantan suaminya tersebut kini sudah mengingat semuanya.
Arya yang tidak ingin membuat Putri merasa bersalah, kini menceritakan tentang bagaimana ia bisa mengingat semua masa lalu saat tadi tiba-tiba bayangan muncul di ingatannya.
"Mungkin karena masalah ini, sehingga membuat ingatanku kembali. Aku tidak akan membiarkanmu menghadapinya sendirian karena aku ikut bersalah karena sama-sama melakukan dosa di masa lalu. Tapi kita sudah sama-sama bertobat dan ingin kembali ke jalan yang baik dan benar, bukan?" Arya ingin Putri tetap berbesar hati dengan apa yang dihadapi dan mau memaafkan kesalahannya.
Ia sebenarnya ingin mengatakan jika dari dulu perasaannya tidak pernah berubah pada Putri, meskipun melampiaskannya pada Calista saat sakit hati begitu mengetahui hasil tes DNA yang ternyata palsu dan merupakan sebuah konspirasi besar dari orang tuanya.
"Syukurlah jika kamu berpikir demikian, Arya. Semoga Tuhan memberikan jalan untuk kita kembali ke jalan-Nya. Aku turut senang karena ingatanmu sudah kembali dan mengetahui bahwa aku tidak pernah menipumu semenjak berhubungan denganmu."
"Meskipun seorang wanita yang mengkhianati suami tidak pantas untuk dipercayai," ucapnya dengan menahan sesak di dada dan membuatnya kesulitan bernapas karena membayangkan masa lalu membuatnya benar-benar terluka.
Luka yang sempat ia kubur dalam-dalam itu kini kembali menganga dan mengingat sosok pria yang pernah dicintainya tersebut menjatuhkan talak dan lebih membela wanita lain. Hingga ia bisa merasakan bagaimana hancurnya perasaan mantan suami pertama, yaitu Bagus.
Hingga ia teringat pada perkataan Amira Tan tentang mantan suami pertamanya tersebut yang akan menikah dengan seorang wanita muslimah dan tertutup.
"Oh ya, aku mendapatkan kabar dari Amira Tan jika satu minggu lagi, Bagus akan menikah dengan seorang guru. Aku benar-benar sangat bersyukur karena akhirnya dia bisa hidup berbahagia dan putra-putriku mendapatkan sosok ibu yang baik dan mengerti agama, tidak sepertiku yang berlumur dosa." Putri sebenarnya selama ini sangat tersiksa dengan perasaan rindu pada putra-putrinya.
Namun, merasa sangat malu dan tidak pantas berhadapan dengan putra-putrinya karena ia sangat hina dan bergelimang dosa.
"Benarkah? Syukurlah jika dia memutuskan menikah lagi setelah mengatakan jika tidak akan menikah seumur hidupnya dan fokus pada putra-putrinya." Arya sebenarnya bukan bermaksud menyindir mantan suami Putri, tapi memang dulu sempat mengingat ekspresi wajah pria itu ketika mengatakan hal tersebut.
Putri yang sama sekali tidak menyalahkan Bagus untuk menikah lagi karena memang dari dulu ingin mantan suami pertamanya tersebut bahagia dan juga anak-anaknya mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu untuk menggantikannya.
"Itulah yang dinamakan jodoh dari Tuhan karena meskipun manusia berusaha untuk mengatakan tidak, tapi jika sang pencipta alam semesta berkehendak, sangat mudah bagi-Nya untuk melakukannya." Saat Putri harus aja menutup mulut, ia mendengar suara ketukan pintu dan seketika beranjak dari tempat tidurnya untuk melihat siapa karena tidak ada suara.
"Sebentar, ada yang mengetuk pintu. Kamu istirahat saja karena ini sudah malam. Selamat malam," ucap Putri yang tidak ingin ketahuan mengangkat telepon mantan suami di tengah malam, sehingga langsung mematikan sambungan telepon dan menaruh ponselnya di atas nakas.
__ADS_1
Berpikir jika yang mengetuk pintu adalah mertuanya, kini ia buru-buru berjalan untuk membuka pintu yang tadi dikunci. Begitu memutar kunci dan membuka pintu, ia mengerutkan kening ketika melihat sosok pria yang tak lain adalah Aldiano berdiri di hadapannya dengan tatapan tajam.
"Tuan? Ada apa?"
Aldiano tadinya disuruh oleh sang ayah untuk mengambilkan Pampers sebagai ganti Xanders karena memang saat tertidur selalu memakainya agar tidak mengompol. Begitu tadi hendak mengangkat tangan untuk mengetuk pintu, malah mendengar suara Putri dan membuatnya berdiri di depan ruangan sambil mendengarkan.
Saat merasa sudah terlalu lama berdiri di depan pintu, tentu saja membuatnya sangat kesal dan ingin menghentikan wanita itu bertelepon ria dengan Arya Mahesa.
"Di saat kami sibuk menyelesaikan masalah tentang masa lalumu, kau malah asyik bernostalgia dengannya. Aku tadi mendengar kau berbicara di telepon dengan mantan suamimu itu. Jangan pernah mengangkat telepon dari pria itu karena nanti hanya akan menjadi masalah dan dikaitkan dengan yang lainnya, sehingga meluber ke mana-mana."
Kemudian langsung berjalan masuk tanpa permisi karena ini mengambil sendiri apa yang diperintahkan oleh sang ayah. Ia yang mengedarkan pandangan ke sekeliling karena sebenarnya tidak tahu di mana letak Pampers, sehingga pandangannya berhenti pada ponsel di atas nakas.
Merasa ada yang perlu dilakukan, kini berjalan mendekat dan membuka ponsel milik Putri.
"Apa yang Anda lakukan, Tuan Aldiano?" Putri yang tadinya malas untuk menjelaskan karena berpikir akan percuma seperti biasanya dan hanya membuang waktu serta tenaga, kini merasa heran karena ponselnya berada dalam kuasa pria itu.
"Aku akan memblokir nomor mantan suamimu agar tidak bisa menghubungimu! Kau harus mendengarkan perkataanku agar tidak terjadi masalah kedepannya!" Aldiano yang membuka daftar panggilan teratas, langsung memblokir nomor tersebut agar tidak bisa menghubungi Putri.
Setelah beres, ia kembali meletakkan ponsel itu di tempat semula dan menatap wanita yang berdiri tak jauh dari hadapannya. "Papa menyuruhku mengambilkan Pampers untuk ganti Xander. Cepat ambilkan!"
Putri yang sebenarnya sama sekali tidak keberatan dengan masalah memblokir nomor Arya agar tidak bisa berhubungan dengan mantan suaminya karena memang tidak ada niatan sama sekali untuk berinteraksi lagi seperti dulu.
Tetap saja ia merasa tidak nyaman berhadapan dengan pria yang pernah sangat berarti untuknya. Apalagi perasaan untuk pria itu seolah 50:50 antara benci dan cinta yang dirasakan.
Kini, ia memilih untuk menuju ke arah lemari yang ada di sudut kanan ranjang dan membukanya, lalu mengambil 2 Pampers dan diberikan pada pria yang masih menunggu itu.
Ia bahkan sama sekali tidak menyangka jika pria itu akan patuh saat disuruh sang ayah untuk mengambilkan Pampers, sehingga merasa aneh.
"Sebenarnya Papa membawa Xander ke sini karena aku sudah selesai berkemas."
"Papa tidak ingin sendirian tidur karena aku tidak mungkin tidur bersamanya," ucap Aldiano yang langsung menerima Pampers tersebut dan berjalan keluar dengan perasaan puas karena bisa menghentikan Putri berhubungan dengan mantan suami yang dianggap hanyalah pengacau dan akan semakin memperumit keadaan.
'Jika sampai kematian istri dari Arya Mahesa dikaitkan dengan Putri, keluarga Priambodo akan makin terpuruk. Jadi, aku harus berbuat sesuatu sebelum itu terjadi dengan cara tidak mengizinkannya berhubungan dengan mantan suaminya itu,' gumam Aldiano yang merasa jika perbuatannya benar.
Ia yang saat ini membawa 2 Pampers dan berjalan menuju ke arah ruangan kamar sang ayah, kini mengetuk pintu dan beberapa saat kemudian membukanya karena tidak mendapatkan jawaban.
Hingga ia berjalan masuk ke dalam untuk memberikan pesanan sang ayah, tapi membulatkan mata begitu melihat pria paruh baya tersebut kini sudah tertidur pulas di samping anak laki-laki yang juga tengah memeluknya.
"Astaga! Bukannya tadi papa menyuruhku mengambilkan ini? Lalu, buat apa jika malah tertidur kan ini menjadi tidak berguna." Ia saat ini menaruh di atas ranjang sebelah anak laki-laki itu tidur dan berniat untuk keluar kamar.
Namun, ia seketika terhenti melihat pemandangan di hadapannya. Entah mengapa perasaannya bergemuruh hebat ketika melihat sang ayah yang memeluk erat tubuh bocah laki-laki itu.
Ia mengingat jika dulu sang ayah tidak melakukannya karena terpuruk setelah kematian sang ibu dan membuatnya selalu kesepian.
'Kenapa dulu tidak melakukan hal sekecil ini padaku ketika mama meninggal? Mungkin jika dulu Papa tidak larut dengan kesedihan sendiri tanpa mempedulikan aku, mana mungkin aku bisa sejauh ini?'
__ADS_1
'Aku memilih cara untuk melampiaskan kesepianku dengan cara tidak biasa untuk mencari perhatianmu, Pa. Sekarang aku tidak bisa berhenti karena sangat sulit keluar dari lingkaran dosa ini,' lirih Aldiano yang saat ini masih berdiri di sebelah ranjang dan menatap intens dengan perasaan berkecamuk.
To be continued...