
Bahkan lama-kelamaan seolah aliran darah Amira Tan mengalir lebih cepat dan seketika membuat tubuh menghangat atas sensasi berputar lepas dari diri ketika pria itu dengan sangat liar menyesap habis bibir.
Seolah sangat menikmati dan tidak akan melepaskan. Sampai Amira Tan kewalahan dan hampir kehabisan pasokan oksigen.
Saat ia hendak mengarahkan tangan pada dada bidang Noah, tidak jadi melakukan itu karena seolah pria itu seperti telah mengerti dan kini membebaskan kuasa.
Segera Amira Tan mengambil pasokan oksigen sebanyak mungkin demi memenuhi paru-paru, agar tidak mengalami sesak napas dan bisa melihat wajah Noah memerah, tepat di depan mata.
Tentu saja Amira Tan bisa merasakan aroma napas mint dari Noah, serta sesuatu yang saat ini tengah ada di pikiran pria itu. Belum sempat membuka mulut untuk berkomentar, Noah sudah terlebih dahulu membahas.
"Amira ...."
Suara serak dari Nosh dan netra gelap itu, kini seolah menunjukkan jika saat ini tengah dikuasai oleh sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata.
Namun, ia ingin Amira Tan tahu jika saat ini menginginkan wanita itu. "Aku menginginkanmu!"
Belum sempat Amira Tan menjawab kalimat ambigu yang sangat dimengerti, ia seolah kehilangan tenaga begitu Noah kembali menyerang semua titik-titik sensitif yang akhirnya berakhir hanya pasrah atas semua perbuatan pria itu.
Seolah waktu di pagi buta itu menjadi saat paling tepat antara dua insan di atas ranjang tersebut mulai memadu kasih. Berawal dari suara dentingan jam yang seolah menjadi musik pengiring di waktu sunyi dan hening, tetapi kini berubah.
Karena suara Amira Tan paling mendominasi di ruangan tersebut. Bagaimana terlihat sosok wanita cantik dengan tubuh seksi tersebut bergerak seperti cacing kepanasan.
Sementara sang pria seolah tengah menunjukkan kekuatan sebagai bukti bahwa hari ini akan menjadi momen paling berharga di antara mereka.
Tanpa kenal lelah karena keduanya seolah sedang berlomba untuk mendaki puncak kenikmatan bersama dengan diiringi suara deru napas memburu ketika sampai di sana.
__ADS_1
Setengah jam telah berlalu dan beberapa saat kemudian terlihat wajah dengan rahang tegas itu mengeluarkan geraman dengan tatapan parau ketika berhasil menggapai puncak kenikmatan.
Sementara itu, sosok wanita yang tak lain adalah Amira Tan, sudah kehabisan tenaga dan membiarkan Noah berbuat apapun sesuka hati. Apalagi tadi sudah berkali-kali mencapai puncak tertinggi ketika beberapa kali pria itu melakukannya dengan sangat kuat.
Ruangan kamar yang beberapa saat lalu dihiasi ******* dan lenguhan, kini berhenti dengan suara deru napas yang tengah dinormalkan.
Posisi keduanya kini terlihat berbaring telentang di atas ranjang dan beberapa saat kemudian saling menatap satu sama lain. Merasa bingung harus seperti apa menanggapi hal yang baru saja terjadi.
Noah ingin mengatakan sesuatu setelah berhasil menormalkan deru napas.
"Amira ...."
"Noah ...." Amira tidak jadi berbicara karena merasa sangat canggung dengan yang terjadi hari ini.
"Kau saja dulu." Amira Tan berucap sambil bersembunyi di bawah selimut untuk melindungi tubuh yang penuh peluh.
Sebenarnya merasa panas karena di kamar itu tidak ada pendingin udara. Tentu saja sangat berbeda dengan ruangan pribadi di rumah keluarga yang penuh dengan segala fasilitas mewah dan pastinya ada AC yang menyejukkan dan terasa sangat nyaman untuknya.
Namun, Amira Tan tidak ingin mengumbar tubuh karena masih merasa aneh dan canggung dengan apa yang terjadi di antara mereka.
Di sisi lain, Noah yang sama sekali tidak pernah menyangka jika akan berakhir berhubungan dengan Amira Tan secara intim karena tadi hanya berniat untuk membalas dendam saja, tapi entah mengapa tidak bisa berhenti dan berakhir melakukan hal yang tidak seharusnya.
Apalagi status mereka pun tidak jelas, jadi Noah berniat untuk menanyakan tentang kejelasan hubungan setelah malam ini. Namun, merasa penasaran dengan apa tanggapan dari wanita itu terlebih dahulu.
"Perempuan berhak duluan berbicara. Jadi, lebih baik kamu katakan apa yang ada di pikiran sekarang!" Menunggu dengan perasaan berdebar kini dirasakan oleh Noah saat ini dengan satu-satunya harapan bahwa Amira Tan akan mengatakan agar segera bertanggungjawab dengan menikahinya.
__ADS_1
Amira Tan yang kini menelan ludah karena tiba-tiba sangat gugup untuk berbicara dengan Noah.
Apalagi saat ini posisi mereka saling berhadapan. Berusaha untuk menjadi seorang Amira Tan yang biasanya, yaitu pengacara hebat dan arogan yang selalu disegani oleh banyak orang, kini mulai mengungkapkan hal di pikiran.
"Baiklah. Aku sebenarnya ingin bertanya padamu mengenai apa yang barusan kita lakukan ini atas dasar suka sama suka. Bukankah begitu?" Mengawali sesuatu dengan pertanyaan adalah cara yang digunakan Amira Tan untuk menormalkan debaran jantung tidak beraturan saat ini.
Sembari menunggu jawaban Noah, Amira Tan mengambil oksigen sebanyak-banyaknya untuk dikeluarkan ketika nanti kembali membicarakan sebuah hal bersifat privasi.
Masih tidak mengalihkan pandangan, tetapi berubah menyipitkan mata ketika Noah merasa curiga jika sesuatu yang akan lolos dari bibir Amira Tan tidak sesuai yang diprediksi.
'Sebenarnya apa yang dimaksud oleh Amira Tan? Kenapa filingku mengatakan ada hal yang tidak beres?' lirih Noah yang kini memilih untuk mengangguk perlahan tanpa berniat membuka mulut karena sudah tidak sabar untuk segera mendengar kelanjutan perkataan wanita yang dianggap sangatlah berbeda dari yang dipikirkan.
"Berarti kita sepemikiran. Jadi, karena sama sekali tidak ada unsur paksaan di antara kita karena sama-sama menikmati, bukankah bisa kita lupakan kejadian ini tanpa saling meminta pertanggungjawaban?" Akhirnya lolos juga hal yang dari tadi ingin ingin diungkapkan oleh Amira Tan.
Jadi, sekarang berpikir jika yang terjadi saat ini adalah kesalahan dari kedua belah pihak dan tidak berniat untuk marah pada Noah. Memilih untuk melupakan hal yang terjadi hari ini adalah keputusan Amira Tan.
Tidak mendengar tanggapan apapun dari Noah yang menampilkan wajah datar dan seolah tidak bisa dibaca oleh Noah, Amira Tan kembali mengungkapkan alasan apa yang membuat tadi berakhir terlena dengan perbuatan pria yang telah mengirimkan sejuta kenikmatan di setiap urat syaraf.
"Aku tadi sedang emosi karena memikirkan Bagus. Jadi, menganggap ini adalah sebuah balasan untuk pria itu. Bahwa aku tidak akan patah hati dan bisa bersenang-senang dengan pria lain. Jadi, lupakan dan anggap tidak terjadi apapun hari ini!"
Meskipun berat terasa ketika meloloskan kalimat tersebut, tapi Amira Tan ingin langsung menyelesaikan masalah yang terjadi di antara mereka. Jadi, saat esok hari sudah tidak terbebani dan menganggap masalah ini selesai.
'Apa ia akan murka seperti tadi? Kenapa hanya diam saja? Apakah tidak ada yang ingin disampaikan oleh pria yang telah berhasil merenggut kesucianku?' gumam Amira saat memilih untuk menunggu hingga Noah berkomentar.
To be continued...
__ADS_1