
Aldiano sudah menduga jika Putri akan berkata seperti itu dan tidak bercanda dengan dirinya sendiri. Namun, ia berkata seperti itu karena merasa yakin jika Putri merupakan seorang wanita yang baik dan bisa dipercaya, sehingga bisa tenang menyerahkan kekuasaan pada istri sendiri.
"Kamu memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh wanita lain, Putri. Jadi, jangan merendahkan dirimu sendiri saat sebenarnya kamu memiliki kemampuan yang lebih baik dari wanita lain. Kamu bisa belajar semuanya dari asisten pribadi papaku."
Aldiano bahkan sudah berencana untuk membahas masalah ini dengan asisten pribadi sang ayah agar bisa menemukan solusi dari permasalahan yang dihadapi.
Bahkan ia sendiri bukanlah seorang pria yang hebat dan bisa meneruskan perjuangan sang ayah untuk memimpin perusahaan karena dari dulu hanya bisa membuang-buang hasil kerja keras dari pria yang saat ini masih mendapatkan penanganan di ruang IGD.
Sementara itu, Putri yang saat ini masih menganggap jika perkataan dari adinda sangatlah konyol karena jujur saja sama sekali tidak pernah dipikirannya untuk itu.
Ia bahkan selama ini tidak pernah berhubungan ataupun berinteraksi dengan orang-orang hebat yang pasti akan membuatnya insecure berasal dari rakyat jelata dan memiliki masa lalu kelam.
Refleks ia menggiringkan kepala tanpa berpikir karena memang tidak ingin terlibat dalam urusan perusahaan.
__ADS_1
"Lebih baik Tuan menyuruh asisten pribadi untuk mengurus perusahaan sampai Papa sembuh. Semuanya akan baik-baik saja setelah Papa sembuh dari penyakitnya," ucap Putri yang saat ini kita ingin membicarakan masalah itu lagi.
Ia ingin fokus pada kesehatan dua pria tersebut tanpa memikirkan masalah perusahaan. "Lebih baik sekarang fokus dulu pada Papa yang masih ditangani di dalam sana."
Aldiano yang saat ini merasa gagal untuk membujuk Putri, bingung harus menjelaskan jika asisten pribadi sang ayah tidak mungkin mau. Namun, ia sekarang membenarkan perkataan dari wanita itu agar fokus terlebih dahulu pada keadaan sang, baru mengurus masalah perusahaan.
Namun, ia ingin mengabarkan pada asisten pribadi sang ayah dan kini mengundurkan tangan untuk meminta ponsel Putri.
Aldiano seketika menganggukkan kepala karena memang pada kenyataannya kabar ini akan cepat tersebar dan pastinya harga saham perusahaan semakin anjlok setelah banyak masalah bertubi-tubi datang.
"Itu adalah konsekuensi dari semuanya, Putri. Bahkan saat ini mungkin orang-orang serakah tengah berusaha untuk melengserkan Papaku agar bisa menggantikannya menjadi pemimpin perusahaan." Ia masih menunggu sang asisten menjawab telepon darinya.
Saat ini Putri merasa sangat iba sekaligus bersalah melihat pria dengan raut wajah muram tersebut. Ia yang merasa tidak bisa membantu untuk menyelesaikan masalah perusahaan karena memang tidak punya pengalaman apapun dan tidak ingin jika terjadi masalah besar seperti mengalami kerugian.
__ADS_1
"Semoga masalah ini segera bisa diselesaikan, Tuan Aldiano." Putri kini melihat pria itu sudah berbicara dengan sang asisten di seberang telepon.
Ia hanya dia mendengarkan pembicaraan dari Aldiano dengan perasaan bersalah.
"Halo, Om. Aku Aldiano. Ada kabar buruk."
"Iya, Tuan Aldiano. Maksud Anda kabar buruk apa? Tadi Tuan Bambang mengatakan akan datang mengunjungi Anda di Rumah Sakit." Sang asisten kini mengerutkan kening sekaligus bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Aldiano saat ini tidak bertele-tele dan menjelaskan semuanya terjadi tentang apa yang dilaluinya dan menyebabkan sang ayah mengalami serangan jantung.
"Om datang ke sini karena aku ingin membicarakan sesuatu hal yang sangat penting mengenai papa dan juga hal lainnya." Aldiano saat ini bisa mendengar suara terkejut dari asisten sang ayah dan bisa dimengerti olehnya jika respon itu merupakan sebuah ketulusan yang penuh kekhawatiran karena menyayangi papanya.
To be continued...
__ADS_1