Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Merasa konyol


__ADS_3

Amira Tan semakin bertambah murka ketika melihat ponsel miliknya bernasib nahas karena sudah menghantam lantai, bukan wajah yang menghindar dari lemparannya.


"Apa yang sebenarnya kau inginkan, pria berengsek! Bukankah urusan di antara kita sudah selesai semalam? Lalu kenapa sekarang kau ada di sini? Aku tidak akan membiarkan kau datang ke kantorku dan berbicara sesuka hati."


Pancaran wajah penuh dengan aura kemurkaan terlihat jelas saat ini, tetapi tidak menyurutkan nyali seorang Noah Martin untuk menuruti perintah dari sang pengacara yang terkenal tersebut.


Ya, Noah Martin diam-diam mencari tahu informasi mengenai wanita yang berprofesi sebagai pengacara tersebut dan mengetahui berbagai macam prestasi dan juga kekuasaan yang pastinya bisa saja membuatnya segera berakhir di penjara jika sampai melawan seorang Amira Tan.


Namun, ia sama sekali tidak merasa takut karena saat ini yang dipikirkan hanyalah menuntut pertanggungjawaban atas perbuatan dari sang pengacara padanya ketika sedang sakit dan berada di alam bawah sadar.


"Sayang sekali ponsel mahal milikmu hancur karena perbuatan sendiri. Hampir saja wajahku yang tampan ini hancur kembali karenamu." Noah yang baru saja menutup mulut, melihat pintu yang terbuka dari luar.


Tentu saja ia tahu apa yang akan dilakukan oleh pria yang baru saja masuk ke dalam ruangannya. Ia pun mengarahkan tangan kanan ke depan, untuk menghalangi, agar tidak mendekat.


"Jangan ikut campur dengan urusanku bersama wanita ini karena aku sedang menuntut hakku, serta pertanggungjawaban darinya."


Seketika pria bernama Steve tersebut terdiam dan beralih menatap ke arah bosnya untuk meminta saran mengenai apa yang harus dilakukan.


"Bos?"


Amira Tan ingin sekali berteriak dan menyuruh pegawainya tersebut mengusir pria yang sangat ia benci tersebut.


Namun, saat menyadari bahwa sang bartender bisa saja mengungkapkan pada semua pegawainya tentang kejadian semalam, akan membuatnya merasa malu dan tidak mempunyai muka lagi.


Akhirnya ia mengembuskan napas kasar sebelum mengeluarkan suara. Hingga ia pun akhirnya mengibaskan tangan pada Steve. "Sepertinya aku salah karena memanggilmu ke ruanganku. Sekarang pergilah! Jika nanti aku membutuhkanmu, akan kembali menelpon."

__ADS_1


Saat ini, Noah yang masih bersikap sangat tenang dan tidak merasa takut sama sekali pada wanita yang menurutnya sangat arogan tersebut, ini ikut mengibaskan tangan.


"Kau dengar perintah dari bosmu? Sekarang pergilah dari sini karena aku ingin berbicara empat mata dengan pengacara hebat se-kelas Amira Tan!"


Ada penekanan pada kalimat terakhir yang diucapkan oleh Noah karena sengaja ingin menyindir sosok wanita yang saat ini mengarahkan tatapan tajam padanya.


Sedangkan Steve tidak suka dengan sikap arogan dari pria yang baru saja ditemuinya tersebut.


Akhirnya membuatnya memilih untuk segera pergi dari ruangan dan membiarkan dua orang itu menyelesaikan masalah yang sebenarnya membuatnya merasa sangat penasaran.


'Sialan! Sebenarnya siapa pria itu? Kenapa ia seperti sangat berlagak dan berkuasa saat berada di dekat nona Amira Tan? Apakah yang kupikirkan tadi benar? Bahwa itu adalah kekasih bos?'


Refleks ia menggelengkan kepala karena berpikir bahwa yang ada di otaknya tidak masuk akal. Apalagi mengetahui seperti apa watak dan juga selera dari bosnya mengenai semua hal.


Ia pun kembali duduk di kursi kerja dan mendapatkan tatapan penuh pertanyaan dari rekannya yang lain.


Jadi, kebiasaan mereka adalah memilih untuk membahas mengenai bosnya tersebut di luar kantor. Seperti saat makan siang ataupun pulang ke rumah.


Terkadang mereka memilih nongkrong di restoran atau cafe Sebelum pulang ke rumah setelah jam kerja usai hanya untuk sekedar pembicarakan tentang bosnya yang selama ini tidak pernah dekat dengan seorang pria manapun.


Namun, saat wanita itu menghilang, tiba-tiba ada tiga pria yang datang ke kantor dan membuat mereka semakin penasaran dan menebak siapa yang akan menjadi pasangan dari bosnya.


Tentu saja mereka merasa senang jika wanita yang sudah cocok untuk menikah tersebut menemukan pasangan. Bukan karena ingin membicarakan hal buruk tentang wanita itu, tapi lebih pada rasa penasaran.


Sementara itu di dalam ruangan kerja, Amira Tan kembali mengempaskan diri di kursi kerjanya dan memberikan kode pada Noah, agar duduk di hadapannya.

__ADS_1


"Sepertinya kau menyadari bahwa memakai cara kekerasan tidak akan menyelesaikan permasalahan kita." Noah duduk sambil menyindir wanita yang membuatnya semalaman tidak bisa tidur tersebut.


Amira Tan yang saat ini masih diam membisu karena ingin mengetahui apa yang diinginkan oleh Noah darinya. "Katakan apa maumu karena aku tidak punya waktu banyak untuk meladeni orang tidak penting sepertimu."


"Apa maksudmu menuntut pertanggungjawaban dariku atas kejadian semalam? Apakah kau saat ini ingin memerasku? Berapa uang yang kau butuhkan untuk membungkam mulutmu, agar tidak mengatakan pada semua orang tentang perbuatan gila kemarin?"


Amira Tan hanya melindungi harga dirinya. Ia tidak mau jika nama baik tercemar hanya karena ulah pria di hadapannya tersebut. Hingga ia pun semakin bertambah kesal ketika melihat respon dari sang bartender yang malah tertawa terbahak.


Ia kini mengepalkan kedua tangan kanan yang berada di bawah meja sambil mengumpat di dalam hati untuk meluapkan kekesalan.


'Bajingan ini tertawa? Sialan? Apa ia sedang merasa menang karena aku bertanya mengenai berapa jumlah yang diinginkan? Ataukah ia sedang memikirkan nominal dari uang untuk memerasku?'


Amira Tan saat ini masih sibuk bertanya di dalam hati mengenai nominal angka yang disebutkan oleh pria itu.


Ia menganggap Noah akan memerasnya dan langsung membawanya ke meja hijau, akan mempertanggungjawabkan perbuatan dengan cara mendekam di penjara.


Namun, apa yang dipikirkan ternyata melesat jauh begitu mendengar jawaban dari sosok pria yang menatapnya sangat tajam, seolah berhasil menembus jantungnya saat ini.


"Apakah kau berpikir bahwa aku adalah seorang pria murahan yang suka memeras para wanita? Aku memang adalah orang miskin, tapi sama sekali tidak membutuhkan uangmu itu."


"Aku bisa bekerja mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhanku dan tidak akan memakai uang haram hasil memeras seorang wanita." Noah saat ini merasa terhina harga dirinya ketika kedatangannya disalahartikan oleh wanita yang ingin dimintai pertanggungjawaban.


Ia datang ke sana karena ingin bertanya bagaimana caranya melupakan kejadian semalam. Sejak melakukan itu, ia tidak bisa tidur dan tersiksa dengan perasaan aneh di dalam hati dan membuatnya ingin bertanya apa yang harus dilakukan untuk menghilangkannya.


Sementara itu, Amira Tan yang merasa perkataan dari Noah sangat konyol dan dianggap sok suci sebagai seorang pria, membuatnya mengikuti perbuatan pria itu dengan tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


Bahkan ia sampai memegangi perutnya yang terasa sakit karena merasa konyol atas situasi yang sedang terjadi di antara mereka.


To be continued...


__ADS_2