Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Berpikir positif


__ADS_3

Beberapa saat lalu, Calista baru saja selesai dirias oleh make up artist yang tadi merupakan orang yang khusus disiapkan oleh sang ibu untuk merubah menjadi semakin cantik di acara lamaran hari ini.


Tak lupa sepanjang dirias, Calista selalu menyunggingkan senyuman dan wajah berbinar karena merasa sangat bahagia saat hari ini pria yang dicintai akan melamar bersama keluarga.


Bahkan tadi sudah menyiapkan cincin pertunangan dan akan dipakaikan saat acara. 'Aku sudah tidak sabar melihat Arya menyematkan cincin yang tadi kupilih di jemari ini.'


Calista sesekali menatap ke arah jari lentik yang tadi memang sudah latihan bersama Arya di toko perhiasan. 'Tiba-tiba, aku merasa gugup jika sampai acara berantakan karena mood Arya hari ini seperti berubah.'


'Semoga ini hanyalah kekhawatiran tidak berdasar dan tidak akan berimbas pada acara pertunangan malam ini,' gumam Calista yang saat ini tersadar dari lamunan begitu mendengar suara dari wanita yang baru saja berbicara.


"Sudah selesai, Nona. Apakah ada yang perlu ditambahkan? Apa biasanya sudah cocok?" tanya wanita yang saat ini menatap ke arah cermin besar di hadapan dan bersitatap dengan wanita yang baru selesai dirias.


Sementara itu, Calista saat ini menatap pantulan diri di cermin dan karena sudah merasa cocok saat wajah berubah menjadi lebih cantik, menggelengkan kepala dan tersenyum.


"Sepertinya sudah cukup karena sekarang aku terlihat lebih cantik dari biasa. Sepertinya calon suamiku akan mengagumi kecantikanku hari ini. Terima kasih sudah membuatku tampil memesona di acara hari ini."


"Syukurlah jika Anda merasa cocok. Semoga acara malam ini berjalan lancar dan bisa segera berlanjut ke jenjang pernikahan dan bahagia bersama calon suami yang merupakan pria keturunan konglomerat di kota ini. Semoga Anda bisa hidup berbahagia selamanya." Wanita itu tersenyum dan merapikan make up yang berada di atas meja.


"Terima kasih. Aku pasti akan bahagia bersama calon suamiku sampai menikah dan punya anak nanti. Aku akan berganti pakaian karena acara sebentar lagi." Calista kemudian berjalan menuju ke ruangan ganti dan melihat pakaian dengan bahan brokat berwarna merah yang tadi disiapkan oleh sang ibu.


Sementara sang perias menganggukkan kepala dan kembali membereskan semua peralatan untuk merias wanita tersebut.

__ADS_1


Calista yang sudah mengenakan gaun cantik dan semakin terlihat memesona, tidak berhenti tersenyum saat menatap pantulan diri di cermin besar.


"Mama sangat pandai memilihkan gaun yang cocok untukku. Arya pasti hari ini merasa kagum pada kecantikanku dan semakin bangga bisa menikahi wanita sepertiku."


"Aku jauh lebih baik dari wanita bernama Putri. Kira-kira wanita itu akan sadar diri atau tidak? Seharusnya setelah dibuang oleh mantan suami, pergi jauh dan tidak akan muncul lagi di hadapan kami. Namun, jika tidak tahu diri, mungkin akan mengganggu hubunganku dengan Arya."


"Aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi karena jika sampai ada pikiran seperti itu dari wanita terbuang yang sudah diceraikan oleh Arya, aku akan memberikan pelajaran. Mungkin membuang wanita itu di tempat jauh atau menghabisi sekalian."


Embusan napas kasar terdengar menghiasi ruangan ganti berukuran luas dan dipenuhi oleh lemari raksasa dengan banyak pakaian serta perlengkapan seperti tas, sepatu, jam tangan, aksesoris dan masih banyak yang lain.


Tidak ingin mood baik berubah menjadi buruk karena memikirkan mantan istri dari pria yang akan menikahinya, Calista memilih untuk berjalan keluar dari ruangan tersebut dan berniat menemui orang tua yang sudah berada di lantai satu untuk menunggu kedatangan dari keluarga besar Mahesa.


Calista melihat wanita yang tadi merias sudah selesai merapikan peralatan dan membawa tas tersebut berjalan mendekat. "Kamu sudah mau pulang? Apakah tidak akan menunggu sampai acara selesai?"


"Saya mohon pamit dan sekali lagi terima kasih karena mempercayakan make up Anda hari ini. Semoga saat acara pernikahan nanti, masih mau memakai jasa saya. Ini adalah sebuah rayuan."


Calista hanya terkekeh geli mendengar kalimat terakhir yang seperti sedang memohon agar kembali menggunakan jasa wanita itu untuk make up pernikahan.


"Aku biasanya akan mengikuti apapun yang diperintahkan oleh mama. Jadi, jika nanti memilihmu, aku pasti akan patuh dan menurut karena selama ini menjadi anak perempuan yang baik dan tidak pernah melawan orang tua."


"Anda memang wanita yang luar biasa dan mempunyai paket lengkap. Cantik, langsing, sukses, berbakti pada orang tua dan sebentar lagi akan menjadi istri yang baik untuk suami, serta menantu perempuan idaman. Semoga hari ini segera diputuskan kapan hari pernikahan. Saya pergi dulu, Nona."

__ADS_1


Setelah menyunggingkan senyuman dan membungkuk hormat, wanita tersebut langsung berjalan keluar dari ruangan kamar.


Sementara Calista yang dari tadi tidak berhenti tersenyum, kini memeriksa ponsel untuk melihat apakah ada pesan dari pria yang sangat dicintai.


Namun, sedikit merasa kecewa karena tidak ada pesan apapun di ponsel. Akhirnya memilih untuk bertanya dengan mengetik di layar pipih tersebut.


Aku sangat gugup hari ini. Apa kamu juga merasakannya?


Kemudian langsung mengirimkan pesan tersebut dan menunggu hingga ada centang biru yang menandakan sudah terbaca. Namun, Calista merasa sangat kecewa karena hanya ada satu centang dan menjelaskan bahwa nomor sang kekasih sedang tidak aktif.


Ingin memastikan, Calista akhirnya menghubungi kontak dengan nama kekasih tersebut. Namun, nomor yang dituju tidak aktif dan mendapat jawaban dari operator telpon.


Mendadak wajah Calista berubah pucat karena berpikir hal buruk akan terjadi. Bahkan saat ini degup jantung berdebar sangat kencang karena memikirkan jika pria yang dicintai tidak datang di acara hari ini, maka hidupnya akan sangat kacau dan pasti orang tua murka.


Wajah yang tadinya berbinar itu, kini berubah muram dan dipenuhi oleh kekhawatiran saat memikirkan jika pria yang dicintai tidak jadi melamar bersama keluarga.


Namun, Calista saat ini beberapa kali menggelengkan kepala karena berharap jika ketakutan yang dirasakan tidak akan pernah terjadi.


"Tidak! Arya dan keluarganya pasti akan datang. Tadi Arya sudah berjanji datang untuk melamarku malam ini. Bahkan menyerahkan cincin padaku, agar tidak sampai terlupa jika dibawa sendiri."


Calista saat ini melihat jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam. "Pasti keluarga besar Arya sudah dalam perjalanan menuju ke sini. Aku harus berpikir positif dan tidak berprasangka buruk pada calon suamiku."

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2