Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Akting totalitas


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam dan masih baik tidak terjebak macet, Amira Tan dan Noah sudah tiba di rumah sakit dan langsung bertanya pada salah satu perawat yang dijumpai.


Amira Tan tadi mendapatkan pesan dari sang ayah mengenai ruangan yang menjadi tempat ibunya dirawat.


Sementara itu, Noah masih tetap setia berada di samping wanita yang dicintai dan berjanji tidak akan pernah meninggalkan Amira Tan yang sedang merasa sedih karena keadaan dari sang ibu.


Meskipun dari tadi seperti mendapatkan firasat buruk dari hubungan mereka, tapi tidak ingin semakin memikirkan dan mengganggu pikiran saat ini. Ia memilih fokus untuk menemani sang kekasih yang sangat membutuhkan dukungan dan penghiburan ketika merasa khawatir pada keadaan sang ibu.


Beberapa saat kemudian, mereka sudah tiba di depan ruangan yang menjadi tempat perawatan. Tanpa membuang waktu, Amira Tan langsung membuka pintu dan berjalan masuk bersama Noah.


Dengan perasaan berkecamuk dan dipenuhi oleh kekhawatiran pada keadaan sosok wanita paruh baya di atas ranjang perawatan dengan berbagai macam alat yang menopang kehidupan sang ibu, Amira Tan berjalan cepat mendekat.


Bahkan bulu kuduk merinding ketika mendengar suara alat-alat yang saat ini menempel pada tubuh sang ibu.


"Papa, bagaimana keadaan mama?" tanya Amira yang yang langsung bersimbah air mata begitu melihat wajah pucat ibunya dan ada sang ayah duduk di sebelah kiri.


Sementara Noah saat ini hanya mengunci rapat mulut karena tidak ingin mengganggu pembicaraan antara ayah dan anak perempuan tersebut.


Ia hanya fokus menatap ke arah wanita paruh baya dengan mata terkejam dan pucat tersebut bahkan tengah memakai selang oksigen dan bunyi dari alat-alat yang menopang kehidupan menghiasi ruangan terbaik di rumah sakit.


'Bahkan hanya dengan melihat ruangan perawatan ini, seolah langsung membuatku sadar bahwa keluarga Amira Tan sangat kaya. Berbeda dengan keluargaku yang hanya bisa dirawat di ruangan kelas bawah karena tidak sanggup membayar tagihan rumah sakit.'


'Semoga tidak terjadi apapun pada hubungan kami karena dari tadi merasa ada firasat buruk kurasakan. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan Jika sampai dia memutuskan hubungan kami karena merasa bersalah pada ibunya yang seperti tidak setuju begitu mengetahui kabar dari ayahnya.'


Noah dari tadi berpikir bahwa penyebab ibu wanita yang dicintai tersebut berakhir di rumah sakit karena ayah Amira Tan menceritakan tentang hubungan mereka.

__ADS_1


Akhirnya membuat wanita tersebut terkena serangan jantung karena merasa sangat terkejut dan pastinya tidak rela putrinya pasangan yang tidak lebih baik.


Ia bahkan sekarang berpikir bahwa tidak ada seujung jari dari Amira Tan yang sangat hebat dan terbersit sebuah pikiran buruk, yaitu mengenai seorang pria yang selama ini dianggap remeh, yaitu Jack.


'Mungkin jika aku Jack, keadaannya tidak akan seperti ini dan pastinya mereka langsung merestui hubungan kami,' gumam Noah di dalam hati yang kini melihat tatapan penuh kebencian dari pria paruh baya yang bangkit berdiri dari kursi, sehingga hanya bisa menelan ludah dengan kasar.


Edi Indrayana yang dari tadi berakting dengan sang istri dan semua perawat dan dokter sudah diatur oleh Jack. Pria itu benar-benar mengurus semuanya, agar semua sandiwara yang dilakukan sukses dan hubungan putrinya dengan pria itu segera berakhir.


"Kenapa kamu baru datang? Bagaimana jika ibumu mati dan kamu tidak sempat menemuinya?" sarkas Edi Indrayana dengan wajah memerah penuh kilatan amarah.


Tentu saja kalimat terakhir dari sang ayah, berhasil menumpahkan bulir kesedihan yang seketika lolos dari mata Amira Tan saat ini. Amira Tan berkali-kali menggelengkan kepala dan menghambur memeriksa ibu.


"Tidak, Pa. Mama akan baik-baik saja dan panjang umur. Papa tidak boleh berkata yang buruk karena lebih baik berdoa untuk kesembuhan mama." Amira Tan berbicara tanpa menatap ke arah sang ayah karena sudah membungkuk dan menangis di atas dada ibunya.


"Apa kamu ingin menyalahkan Papa dan tidak menyadari kesalahanmu? Mamamu berakhir di rumah sakit karena tadi Papa menceritakan kegilaanmu di kantor dengan pria ini. Selama ini, kamu selalu menjadi kebanggaan untuk orang tua, tapi bukan dalam hal memilih pasangan."


Kini, Edi Indrayana berakting secara totalitas dan mengatakan semua hal yang tadi dikatakan oleh Jack.


Tadi, Jack mengatakan untuk menyerang mental pria yang dicintai Amira Tan. Hal itu bertujuan untuk mematahkan harga diri dan juga semangat dari Noah, agar segera mundur setelah menyadari perbedaan yang cukup jauh diantara mereka.


"Mama langsung terkena serangan jantung begitu mengetahui bahwa kau berniat untuk menikahi pria miskin yang tidak punya pekerjaan dan hidup bergantung padamu. Apa kamu tahu, kami membesarkanmu dengan baik, agar tidak hidup menderita."


"Namun, semua terasa sia-sia begitu kamu memutuskan untuk menjalin hubungan dengan pria yang bahkan tidak punya pekerjaan tetap."


Noah saat ini hanya berdiri mematung di tempat dan seolah suara tercekat di tenggorokan, begitu merasakan sebuah penghinaan luar biasa dari ayah wanita yang dicintai.

__ADS_1


'Apakah aku sehina itu untuk bisa menjadi pendamping wanita yang kucintai? Bahkan ayah Amira Tan seperti menganggap aku hanyalah sebutir debu yang tidak terlihat dan tidak pantas bersanding dengan seorang pengacara hebat seperti putrinya.'


Noah sebenarnya ingin segera keluar dari ruangan tersebut karena merasa seperti tidak punya harga diri setelah penghinaan luar biasa yang dikatakan oleh pria paruh baya dengan tatapan penuh penghakiman itu


Namun, suara Amira Tan yang menjawab, terdengar seperti embusan angin yang seketika menyejukkan perasaan membuncah saat ini.


"Papa, jangan berbicara seperti itu pada pria yang kucintai. Bahkan Tuhan menganggap bahwa semua manusia yang ada di dunia ini sama. Aku tidak pernah menilai pria yang kucintai dari pekerjaan ataupun harta."


"Papa seharusnya tahu bahwa cinta tidak bisa dipaksakan dan aku memilihnya untuk menjadi pendamping hidupku." Amira Tan benar-benar merasa tidak tega melihat wajah murung Noah saat sang ayah menghina dengan kalimat kasar.


Sementara itu, Laila Sundari yang dari tadi masih berpura-pura tidak sadarkan diri, bisa mendengar perdebatan di antara seorang ayah dan putrinya.


'Astaga, bahkan saat aku masih belum sadar saja, tapi putriku masih tetap membela pria itu. Sepertinya aku harus segera melaksanakan rencana kedua yang tadi dikatakan oleh Jack,' gumam Laila Sundari yang saat ini berakting seperti sesak napas.


Jack tadi berkata padanya untuk berakting seperti orang sekarat jika Amira Tan tetap teguh pada pendirian, yaitu memilih bersama dengan pria itu.


Jadi, sekarang berakting seperti tengah mengalami sesak napas dan sekarat. Bahkan Laila Sundari dengan totalitas berakting seperti aktris yang meraih penghargaan, demi bisa membuat putrinya meninggalkan pria yang tidak direstui olehnya.


Amira Tan yang tadi berapi-api membalas perkataan dari sang ayah, mendengar suara embusan napas berat dari sang ibu dan seketika membuat wajahnya pucat dan beralih menatap wanita paruh baya yang terbaring di atas ranjang perawatan.


"Mama! Apa yang terjadi?" teriak Amira Tan dengan wajah memerah karena sangat ketakutan melihat wanita yang melahirkannya tersebut seperti sedang sekarat.


"Cepat panggil dokter!" Amira Tan bahkan berteriak dengan suara yang sangat keras tanpa memperdulikan apapun karena satu-satunya hal yang dipikirkan adalah keadaan dari sang ibu yang terlihat sangat kesusahan bernapas.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2