Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Pusing dan lelah


__ADS_3

Arya beberapa saat lalu berbicara dengan polisi dan setelah semuanya beres, langsung memesan taksi agar mengantarkannya ke rumah keluarga Calista. Ia memang meninggalkan rumah sakit ketika istrinya yang telah meninggal itu belum dipulangkan ke rumah.


Sebenarnya ia ingin pergi jauh dari Jakarta agar orang tuanya tidak meremehkannya hanya mengandalkan kekayaan mereka. Hanya saja, berpikir harus menghormati kepergian dari sang istri dan memilih untuk pergi satu minggu setelahnya.


Beberapa saat kemudian, ia masuk ke dalam taksi setelah tiba. Tentu saja akan pulang ke rumah mertua dan tinggal di sana selama satu minggu, baru merencanakan akan pergi ke mana karena saat ini belum ada tujuan sama sekali.


Selama di dalam taksi, ia menyadarkan tubuhnya serta kepala dan memejamkan mata. Bahkan sesuatu yang diingatnya adalah Putri tadi ingin menyeretnya ke rumah sakit agar diobati karena mengalami luka pada lengan serta kaki ketika jatuh terguling hingga ke seberang jalan.


'Semoga suaminya tidak marah padanya hanya gara-gara melihat kami tadi bersama,' gumamnya yang saat ini merasakan perih serta pegal pada bagian bawah tubuhnya karena tadi terhempas aspal ketika terjatuh dan masih baik bukan kepalanya.


"Tuhan masih baik padaku karena membiarkan aku hidup lama dan belum mati karena kecelakaan itu." Ia bahkan berbicara tanpa berniat untuk membuka mata.


Hingga tiba-tiba ia hampir terjerembab ke depan ketika sopir taksi menginjak rem dan membuatnya langsung membuka kelopak mata untuk melihat apakah terjadi kemalangan.

__ADS_1


"Apa yang terjadi?" Arya yang baru saja menutup mulut, awalnya menatap ke arah sang supir, tapi seketika beralih pada sosok wanita yang baru saja menghentikan taksi.


"Maaf, Tuan karena tiba-tiba ada seorang wanita yang berdiri untuk menghentikan taksi," sahut sang supir yang langsung menatap tajam sosok wanita bukan pelanggan yang memesan jasa.


"Mbak, apa yang dilakukan sangat membahayakan nyawa orang lain. Bagaimana jika terjadi kecelakaan?" Baru saja menutup mulut, ia seketika bergerak menangkap ke belakang karena merasa heran serta terkejut menangkap suara dari penumpang di kursi belakang.


"Biarkan saja, Pak karena ini adalah mantan istri saya." Arya saat ini tidak mengalihkan perhatiannya pada Putri karena duduk di sebelahnya.


"Oh ... Jadi mbak ini adalah mantan istrinya? Baiklah kalau begitu. Memangnya mbak mau ke mana?" Sang supir yang sudah mengerti duduk permasalahannya dan kini langsung bergerak mengemudikan kendaraan.


Hanya saja, ia yang mengingat sang suami bisa menyeretnya karena mengetahui bersama dengan Arya, refleks menatap ke depan. "Ngebut aja, Pak. Biar orang-orang jahat tidak bisa membuntuti."


Ia bahkan saat ini berani menatap ke arah belakang untuk memastikan jika mobil suami tidak ada dan merasa sangat lega. 'Untungnya dia tidak mengejar. Bahkan jika sampai mengejar pun, aku yakin jika hanya karena tidak ingin mendapatkan kemurkaan papa saja.'

__ADS_1


Putri yang kini kembali menatap ke depan, mengatakan alamat dari mertuanya dan berharap segera sampai ke rumah. Hingga ia menyadari tengah cuek pada Arya.


"Terima kasih karena bersedia memberi tumpangan. Tenang saja karena kamu sama sekali tidak ada kaitannya dengan pertengkaran kami. Apalagi kami bertengkar karena hal lain." Putri sebenarnya merasa sangat tidak nyaman dengan gaun mahal yang dikenakan.


Ia lebih suka memakai pakaian ala rumahan sederhana dengan bahan yang menyerap keringat. Namun, gaun yang dikenakan cukup berat karena mencintai panjang dan dibuat dari bahan yang diimpor langsung.


"Lalu, hal lain itu apa contohnya? Apa aku boleh tahu?" Entah mengapa Arya merasa sangat tenang hatinya ketika berada di samping Putri.


Ia berpikir jika dulu melakukan hal gila karena mencintai istri orang disebabkan perasaan aneh yang sangat kuat, sehingga tidak memperdulikan logika sama sekali.


"Aku memang mantan suamimu pada faktanya, tapi aku juga tidak bisa mengingat apapun dan jangan berpikir macam-macam padaku,' seru Arya yang kini seketika tertampar dengan kalimat pedas dari wanita yang bahkan tengah berbicara tanpa menatapnya.


"Jika kau tidak diam, aku akan mencari taksi lain untuk mengantarkanku pulang. Aku benar-benar sangat pusing dan lelah, jadi jangan menambahnya." Putri kini mengempaskan tubuhnya pada punggung jok mobil.

__ADS_1


Hingga rasa pusing di kepalanya makin menjadi dan membuatnya terpaksa memijat kedua sisi pelipis agar jauh lebih rileks dan tenang karena emosi seolah membakarnya.


To be continued...


__ADS_2