Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Pertanyaan Putri


__ADS_3

Beberapa saat lalu, Aldiano yang baru saja tiba di rumah, melihat taksi yang sudah diyakininya jika ada Putri di dalamnya. Namun, sama sekali tidak memperdulikan hal itu dan memilih untuk tetap masuk ke dalam rumah. Namun, ia seketika terkejut begitu melihat sang ayah ternyata belum pulang.


"Kenapa pulang sendiri? Bukankah Papa menyuruhmu untuk menjemput Putri? Bahkan kau sudah pergi dari tadi, tapi kenapa kembali tanpa istrimu?" tanya Bambang Priambodo yang memang berniat untuk menginap di rumah putranya hari ini.


Setelah kejadian menegangkan di hotel karena terjadi penusukan pada seorang pengacara hebat, sehingga membuat banyak berita yang menyudutkan perusahaannya dan membuat pusing.


Itu karena momen malang tersebut terjadi ketika di hari ulang tahun perusahaan serta merupakan salah satu tamu di acara. Ia bahkan berniat untuk melakukan konferensi pers besok pagi bersama dengan putranya agar bisa berangkat bersama ke perusahaan.


Meskipun masalah ini sudah ditangani oleh pihak berwajib, tetap saja ia harus mengklarifikasi mengenai kejadian malang tersebut.


Bahwa kejadian itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan perusahaan dan akan memastikan jika itu merupakan musuh dari pengacara kondang yang sering memenangkan berbagai macam kasus.


Ia menatap tajam putranya yang terlihat sangat kesal dan mengembuskan napas kasar. "Apa yang sebenarnya terjadi pada kalian? Cepat katakan sekarang!"


Sementara itu, Aldiano yang saat ini bad mood dan tidak jadi pergi ke tempat sang kekasih gara-gara Putri yang membuatnya sangat marah sekaligus kesal. Ia mendaratkan tubuhnya dengan kasar di atas sofa dan menatap ke arah sang ayah.


"Lebih baik Papa tanyakan sendiri pada menantu kesayangan yang sebentar lagi akan masuk. Aku benar-benar sangat lelah dan ingin beristirahat, tapi tidak bisa melakukannya karena harus menjelaskan hal yang tidak penting ini." Ia bahkan memijat pelipis karena benar-benar pusing menghadapi wanita yang berani melawannya dan menantang untuk bercerai.


Hingga apa yang dikatakannya benar karena kini mendengar suara wanita yang baru saja masuk ke dalam rumah dan mengucapkan salam. "Nah, itu menantu kesayangan Papa. Sekarang tanya sendiri karena aku mau tidur."


Aldiano saat ini berniat untuk kembali ke kamar, tetapi kerah kemejanya malah ditarik oleh sang ayah dan membuatnya tidak bisa melangkah.


"Tunggu di sini karena Papa belum selesai bicara denganmu!" Bambang Priambodo yang memang menunggu putranya serta menantu datang untuk membicarakan masalah mengenai kejadian di toilet hotel.


Bahkan ia merasa penasaran karena Putri pergi dengan istri dari pengacara dan juga berprofesi yang sama. Ia bahkan kini menatap ke arah menantunya yang baru saja masuk dengan wajah lelah.


"Malam, Pa. Jadi, Papa masih di sini?" Putri tadi memang melihat mobil mertuanya dan merasa yakin jika berada di dalam.


Berpikir ada sesuatu yang akan dikatakan oleh mertuanya, sehingga kini langsung duduk di sofa saat melihat pria paruh baya tersebut memberikan kode.


"Papa tadi langsung pulang ke sini setelah acara selesai karena ingin membicarakan mengenai masalah tadi. Sebenarnya apa hubunganmu dengan pasangan suami istri itu? Benarkah kalian hanya berteman? Para polisi saat ini mencari informasi dari para saksi dan pastinya kamu juga akan dipanggil ke kantor." Bambang mungkin tidak akan menanyakan hal itu jika Putri tidak pergi dengan Amira Tan ke rumah sakit.


Selain ingin menjaga nama baik keluarga serta perusahaan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, sehingga ingin memastikan terlebih dahulu sebelum besok melakukan konferensi pers


Putri yang awalnya sama sekali tidak ingin menceritakan tentang jati dirinya, kini berpikir harus mengatakan semuanya tanpa terkecuali. Ia tidak ingin keluarga mertuanya terlibat masalah jika sampai ia melakukan kebohongan dan malah dicurigai oleh kepolisian.


"Cepat duduk di sebelah istrimu!" titah Bambang Priambodo yang saat ini melepaskan kuasa pada kerah kemeja putranya yang ingin kabur darinya.


"Astaga! Padahal aku sama sekali tidak ada hubungannya dengan kejadian penusukan itu, tapi kenapa harus repot-repot memikirkannya." Meskipun mengumpat serta mengeluh, tetap saja Aldiano menuruti perintah sang ayah dan mengempaskan tubuhnya dengan kasar di atas sofa.


Sejujurnya ia juga ingin mengetahui penjelasan dari wanita yang duduk di sebelah kirinya karena tadi hanya mendengar sekilas tentang status dari wanita itu dengan Arya Mahesa.


"Cepat jelaskan semuanya pada Papa!" sarkas Aldiano yang sangat geram karena Putri masih diam dan belum membuka suara sepatah kata pun.

__ADS_1


Putri tahu jika menceritakan jati dirinya, hanya akan mengorek luka lama yang dirasakan dan kembali mengingat masa paling kelam sepanjang sejarah hidupnya. Namun, karena memang kenyataannya harus menceritakan semuanya, akhirnya saat ini memilih untuk tidak lagi menyembunyikan masa lalunya.


Ia menelan saliva dengan kasar sebelum membuka mulut dan mulai menceritakan tentang perbuatan buruknya di masa lalu serta jati dirinya yang merupakan anak haram dari ayah Amira Tan yang berselingkuh dengan ibunya ketika bekerja sebagai pelayan.


Putri berbicara dengan menguatkan hati agar tidak menangis dan terlihat lemah di depan dua pria tersebut. "Aku sebenarnya ingin mengubur rapat-rapat masa lalu kelam itu, Pa."


"Namun, ternyata aku harus mengatakannya sekarang agar keluarga ini serta perusahaan tidak mendapatkan masalah jika sampai aku berbohong di depan polisi. Jadi, seperti itu kenyataannya." Ia yang saat ini merasa tenggorokannya sangat kering karena bercerita panjang lebar, ingin sekali segera pergi dari sana dan minum air dari kulkas.


Hanya saja, ia masih harus menunggu sang mertua menanggapi cerita panjang lebar yang baru saja diungkapkannya. Bahkan ia melihat mertuanya terdiam seperti tengah memikirkan banyak hal.


'Apa aku ungkapkan saja keinginanku untuk bercerai karena ini sepertinya sangat pas,' gumam Putri yang berniat untuk membuka suara sambil menatap ke arah Aldiano yang fokus pada sang ayah.


Hingga ia membuka mulutnya untuk memulai pembicaraan mengenai perceraian, tapi tidak bisa melakukannya karena suara bariton dari mertuanya menggema di ruang tamu dengan berbagai macam furniture mewah menghiasi di sana.


"Untung kamu hari ini menceritakan semuanya pada Papa karena besok akan dilakukan konferensi pers di perusahaan. Jadi, ketika ada pertanyaan yang menyangkut dirimu, aku tidak mengarang cerita dengan mengatakan bahwa kamu hanya berteman dengan mereka." Aldiano benar-benar sangat terkejut karena ternyata menantunya memiliki hubungan dengan orang-orang hebat.


Apalagi pernah menjadi istri dari putra pengusaha sukses sekelas Ari Mahesa. Meskipun sama sekali tidak dianggap dan berakhir hancur karena fitnah. Ia marah pada poin itu dan kali ini ingin melindungi putra dari Putri yang kemungkinan akan direbut oleh keluarga Mahesa.


"Aku akan melindungimu dari keluarga jahat itu. Apalagi mantan suamimu yang sudah menikah lagi dan istrinya telah meninggal tersebut tidak mempunyai anak. Pasti mempunyai niat untuk merebut Xander. Aku tidak akan membiarkan hal itu," ucapnya sambil menatap ke arah menantunya yang terlihat seperti tengah tertekan.


Ia selama ini melihat jika menantunya selalu kuat dan tidak menunjukkan kelemahan apapun karena menjadi seorang wanita mandiri. Namun, pertama kali melihat wajah suram dari menantu kesayangannya yang telah menyelamatkan nama baik keluarganya akibat perbuatan dari putranya yang keluar jalur, kini berjalan mendekat dan menepuk pundaknya.


"Tenanglah karena selama ada aku, pasti akan melindungi kalian." Kemudian melirik sinis ke arah putranya karena kesal. "Meskipun Papa tahu jika suamimu sama sekali tidak bisa diandalkan. Jadi, biar Papa yang mengambil alih tugas untuk melindungi kalian."


"Issh ... Papa selalu lebih mementingkan semua hal yang berhubungan dengannya. Sebenarnya siapa anak kandung Papa? Apa aku adalah anak pungut atau anak tiri?" sarkas Aldiano yang benar-benar sangat kesal karena selalu saja disudutkan oleh sang ayah di depan wanita yang sangat dibencinya.


Selama melangkahkan kaki panjangnya menaiki anak tangga, bisa mendengar suara bariton dari sang ayah, tapi sama sekali tidak diperdulikan olehnya.


"Aldiano, Papa belum berbicara denganmu!" teriak Bambang Priambodo yang saat ini tengah memikirkan tentang konferensi pers besok agar putranya tidak melakukan kesalahan ketika diwawancarai.


Ia memijat pelipis melihat putranya sama sekali tidak peduli dan menghilang dibalik anak tangga. Bahkan bisa mendengar suara pintu yang dibanting ketika menutupnya.


"Dasar anak susah diatur!" umpat Bambang yang kini mendaratkan tubuhnya di atas sofa. Bahkan sudah memijat pelipis karena pusing menghadapi sikap putranya yang sulit diatur dan selalu berbuat sesuka hati.


Putri merasa tidak tega melihat pria paruh baya yang selalu saja di buat kecewa oleh sang putra. "Sabar, Pa. Doakan saja tuan Aldiano agar suatu saat nanti bisa kembali ke jalan yang benar dan membanggakan Papa serta almarhumah mamanya yang sudah tenang di surga sana."


"Aamiin. Semoga aku masih hidup ketika melihatnya kembali ke jalan yang benar. Papa sangat berharap jika kamu mau bersabar menghadapi Aldiano. Mungkin saja Tuhan memberikan hidayah melalui dirimu, Putri." Bambang mempunyai harapan besar pada sosok menantunya.


Apalagi melihat perubahan baik sang menantu setelah mengetahui masa lalunya, sehingga berharap jika putranya mengikuti jejak Putri yang bertobat dan menjalani kehidupan normal.


"Siapa tahu putraku akan berubah dan kalian bisa hidup berbahagia sebagai pasangan suami istri yang sesungguhnya." Ia tidak mendengar Putri mengaminkan harapannya, sehingga sedikit merasa kecewa karena seperti tidak yakin.


Putri yang merasa bingung karena berpikir bahwa rumah tangganya dengan Aldiano tidak ada harapan sama sekali. Sejujurnya ia hanya menghibur pria paruh baya tersebut agar tetap berpikir positif, sedangkan pikirannya sendiri dipenuhi oleh hal-hal negatif.

__ADS_1


Jadi, sekarang tidak tahu harus bagaimana. Apalagi tadi sudah mengatakan pada Aldiano untuk bercerai, tapi malah disuruh menundanya.


Ia yang saat ini melihat raut wajah kekecewaan dari mertuanya, membuatnya tidak ingin membiarkan pria paruh baya tersebut salah paham padanya.


Akhirnya mengatakan hal yang ada di pikirannya. "Bukan maksudku untuk tidak mau mengaminkan doa baik itu, Pa. Hanya saja, sepertinya itu tidak mungkin terjadi karena tuan Aldiano sangat membenciku dan tidak mungkin bisa mencintaiku."


"Tadi sebenarnya aku sudah mengatakan padanya agar menceraikanku." Putri mengakhirinya dan melihat raut wajah terkejut mertuanya dan membuatnya merasa tidak enak.


"Apa?" Bambang Priambodo yang tadinya berpikir jika Putri tidak akan pernah mengatakan hal itu pada putranya, sangat terkejut.


"Maaf, Pa," lirih Putri yang saat ini langsung menceritakan tentang apa yang terjadi di dalam mobil tadi dan membuatnya tidak bisa menahan amarah.


Sementara itu, Bambang Priambodo saat ini mengerutkan kening begitu mendengar cerita sebenarnya mengenai penyebab Putri sampai memutuskan untuk bercerai.


Awalnya ia berpikir jika wanita di hadapannya tersebut melakukan itu karena kejadian di hotel yang membuatnya merasa bersalah karena berhubungan dengan orang-orang itu. Namun, kali ini malah merasa heran dengan alasan dari putranya.


"Benarkah Aldiano ketika kamu mengajaknya bercerai?" Ia bahkan masih memikirkan tentang alasan putranya menolak.


Putri hanya mengangguk perlahan untuk membenarkan. "Tuan Aldiano benar-benar takut kehilangan harta warisan jika sampai Papa marah dan mencoret dari kartu keluarga. Makanya tidak berani ketika aku menantangnya mengakhiri pernikahan."


Saat ini, Bambang Priambodo masih memikirkan beberapa kemungkinan mengenai alasan putranya seperti yang dikatakan oleh Putri. Ia tidak ingin membebani wanita yang sudah dianggap sebagai Putri kandungnya tersebut.


"Baiklah. Beristirahatlah karena kamu pasti sekarang sangat lelah. Jika besok ada polisi yang datang ke rumah untuk mengintrogasi, sesuai dengan faktanya dan jangan ada yang ditutup-tutupi. Aku tidak masalah jika semua orang mengetahui bahwa kamu adalah mantan istri dari Arya Mahesa."


"Jika mereka menyerangmu, akulah yang akan menjadi tameng." Ia kini juga bangkit berdiri karena ingin menenangkan diri di ruang kerja putranya.


"Iya, Pa. Aku ke kamar dulu," ujar Putri yang kini tersenyum pada mertuanya yang sudah dianggap seperti ayah kandungnya sendiri karena selalu baik padanya.


Bahkan tidak berubah sikapnya sama sekali ketika sudah mengetahui kebusukannya dulu. Ia merasa sangat lega setelah menceritakan semuanya dan tidak ada yang ditutupi.


'Syukurlah Papa sama sekali tidak marah padaku ataupun jijik karena merupakan seorang pendosa di masa lalu,' gumam Putri yang saat ini tengah pelajaran masuk menuju ruangan kamar.


Di mana di sana ada putranya yang tengah tertidur pulas dan ia tersenyum saat berjalan mendekat, membungkuk dan mencium buah hatinya yang merupakan pusat dunianya tersebut.


"Maafkan Mama karena hari ini membiarkanmu tidur sendirian, Sayang. Mama tadi bersama papamu," lirih Putri yang mengingat saat berada di dalam taksi bersama dengan Arya.


Ia kini masih berdiri di dekat ranjang dan mengingat mantan suaminya. "Kamu semakin terlihat dewasa, Arya. Sayangnya kamu seperti seorang anak kecil yang tidak tahu apapun ketika amnesia."


Kemudian ia melepaskan gaun pesta yang dikenakan dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum berangkat tidur dengan memeluk tubuh putranya.


Saat ia menatap penampilannya di depan cermin di ruangan kamar mandi, mengingat tentang perkataan Arya yang tadi memujinya cantik dan membuatnya harus berpura-pura tertidur dan tidak mendengarnya.


"Jika aku cantik, mungkin bisa membuat tuan Aldiano terpesona dan jatuh cinta padaku. Namun, kenyataannya, dia masih mencintai sesama jenis. Apakah dia bisa sembuh dan mencintai seorang wanita?" Ia beberapa kali menggelengkan kepala karena menutupi kebodohannya.

__ADS_1


Tidak ingin merasa pusing memikirkan pria yang selalu saja menghinanya habis-habisan dan menganggapnya hina, kini mencuci muka agar make up yang menempel di wajahnya hilang.


To be continued...


__ADS_2