
Hal sepele yang dikatakan Calista barusan mengingatkan Arya pada Putri dulu ketika awal-awal menjalin hubungan dan kembali merasa bersalah. Seolah sangat tersiksa dengan rasa yang membuncah di dalam hati, Arya tidak sabar untuk segera menemui Putri hari ini juga.
Selain untuk meminta maaf karena menyakiti perasaan wanita yang masih dicintai, tetapi keadaan yang memaksa harus berpisah. Selain itu juga ingin memberikan sejumlah uang sebagai bentuk pertanggungjawaban.
Berharap setelah melakukan hal itu, tidak akan disiksa oleh rasa bersalah. Kemudian ia langsung masuk ke dalam mobil dan mengemudikan kendaraan meninggalkan area toko perhiasan langganan keluarga.
Sambil sesekali menanggapi perkataan Calista, Arya yang kini fokus menatap ke arah jalanan, tanpa sengaja melihat mobil yang mirip dengan milik seseorang.
'Mobil itu?' Ingin memastikan sendiri jika tebakan benar, kini Arya mendahului kendaraan itu dan melihat seorang pria yang tengah mengemudi.
'Ternyata bukan ...."
Arya yang makin menginjak pedal gas, berhasil mendahului dan di saat bersamaan melihat seorang wanita yang duduk di sebelah pengemudi adalah orang yang ditebak tadi.
'Ternyata benar itu mobil milik pengacara yang merupakan saudara perempuan Putri yang tadi menamparku,' gumam Arya yang kini sudah berada di depan dan sesekali melirik kaca spion mobil untuk melihat.
Apakah mobil yang membawa Amira Tan masih berada di belakang atau sudah berbelok ke arah lain. Hingga beberapa saat kemudian melihat telah berbelok di lampu merah, sedangkan saat ini masih lurus karena jalan menuju ke rumah Calista masih cukup lumayan jauhnya.
'Apakah Amira Tan akan pergi ke kontrakan Putri? Itu adalah jalan utama menuju ke arah kontrakan. Meskipun masih jauh, tapi hanya itu jalan utama ke sana.' Arya masih sibuk bergumam sendiri di dalam hati saat memikirkan kemungkinan yang terjadi.
'Ya, pasti Putri tadi marah pada Amira Tan karena kejadian hari ini. Tidak ingin bertengkar berlarut-larut, akhirnya Amira Tan memilih untuk datang ke kontrakan sepulang kerja. Seperti aku yang ingin meminta maaf karena telah menyakiti hatinya.'
'Bahkan kami seperti pecundang tidak berguna saat menemuinya hanya untuk meminta maaf.'
__ADS_1
Hanya keheningan yang saat ini melanda di dalam mobil karena dua orang itu sibuk dengan pikiran masing-masing.
Calista dari tadi sibuk melihat ponsel yang menampilkan konsep-konsep pernikahan. Jadi, berpikir jika saat ini tidak ada yang lebih menarik selain itu.
Impian Calista dari dulu adalah ingin mengadakan pesta pernikahan secara outdoor di tempat terbuka yang indah. Namun, mengetahui jika harus membicarakan tentang ide di kepala pada keluarga Arya.
Kini, Calista melirik sekilas ke arah pria tampan di balik kemudi tersebut. "Kamu suka tema pernikahan indoor atau outdoor, Sayang?"
Lamunan Arya seketika sirna mendengar suara Calista yang kini menatap intens. Sekilas Arya menoleh dan menjawab, "Indoor karena menurutku sangat aman dan tidak beresiko."
Sebenarnya Arya ingin menjawab suka dua-duanya, tergantung keinginan dari pasangan, tetapi mengetahui bahwa wanita tidak menyukai jawaban seperti itu. Jadi, memilih salah satu.
Apalagi dulu berpikir bisa menikahi Putri secara besar-besaran di gedung mewah ataupun ballroom hotel, tetapi pada kenyataannya tidak seperti itu.
Hanya bisa menyembunyikan pernikahan tanpa pesta karena hanya dilakukan di kontrakan dan dihadiri beberapa orang. Bahkan sekarang Putri sudah berstatus sebagai single parent dan semua itu karena kekejaman yang dilakukan olehnya.
"Kalau outdoor, akan berantakan jika tiba-tiba hujan deras. Memang kelebihan terbesar dari acara pernikahan outdoor adalah pemandangan alam dan suasana yang lebih hangat dan kasual. Alih-alih memandang wallpaper dinding gedung yang mengelupas, tapi bisa memanjakan mata melihat pepohonan, langit biru, laut, bahkan matahari terbenam."
"Namun, sekarang adalah musim penghujan dan pastinya sangat beresiko jika tiba-tiba saat acara hujan deras. Atau kamu ingin main basah-basahan bersama para tamu undangan?"
Di saat bersamaan, mobil yang membawa mereka telah tiba di depan rumah lantai 2 dengan pintu gerbang berwarna hitam yang merupakan tempat tinggal keluarga Calista.
"Sebaiknya kamu pikirkan baik-baik mengenai konsep pernikahan outdoor. Sekarang sudah sampai. Aku tidak akan masuk karena waktu sudah petang dan harus mempersiapkan diri untuk acara nanti malam."
__ADS_1
Calista yang baru memahami apa yang dikatakan oleh Arya, kini menganggukkan kepala dan melepaskan sabuk pengaman.
"Aku mengerti dan akan menyampaikan pada orang tuaku. Hati-hati di jalan, Sayang. Jangan lupa bawa cincinnya nanti." Calista kini membuka pintu dan saat menampakkan kaki keluar, dihentikan oleh Arya.
Refleks Arya menyerahkan paper bag yang berada di dasbor mobil. "Kamu bawa saja. Aku khawatir nanti terlupa. Akan lebih aman saat berada di tanganmu."
"Benar juga." Calista akhirnya menerima paper bag berisi kotak perhiasan berbentuk hati yang di dalamnya ada cincin pertunangan mereka. "Baiklah, biar aku yang membawanya."
Kemudian Calista mengambil paper bag dari tangan Arya dan berjalan keluar.
Setelah Calista menutup pintu mobil dan melambaikan tangan, akhirnya Arya langsung menginjak pedal gas dan mengemudikan meninggalkan kompleks perumahan tempat tinggal wanita itu.
Embusan napas lega seolah mewakili perasaannya saat ini karena terbebas dari belenggu yang seolah beberapa saat mencekik leher.
Tentu saja Arya langsung menuju ke arah kontrakan untuk menemui Putri. Setelah setengah jam berlalu, mobil berwarna hitam itu telah tiba di depan area rumah kontrakan yang beberapa bulan terakhir ditempati Arya bersama Putri.
Bahkan melihat mobil milik Amira Tan juga berada di sana, tetapi Arya mengerutkan kening karena pintu rumah tertutup dan di saat bersamaan sosok wanita dan pria keluar dari salah satu pintu gerbang yang
merupakan tempat tinggal pemilik kontrakan.
"Kenapa mereka keluar dari rumah pemilik kontrakan?" tanya Arya yang kini langsung berjalan keluar dari mobil dan berjalan mendekati Amira Tan yang sedang bersama dengan seorang pria.
Namun, saat ingin membuka mulut bertanya, merasakan pukulan mendarat di wajah dari pria yang sama sekali tidak dikenal hingga membuat sudut bibir robek.
__ADS_1
"Dasar pria bajingan!" teriak Noah yang saat ini seketika merasa emosi melihat mantan suami Putri yang telah berselingkuh tepat di depan matanya.
To be continued...