Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Mengungkapkan apa yang ada di pikiran


__ADS_3

Salah satu pria berseragam putih yang mewakili beberapa rekan untuk menjelaskan apa yang terjadi pada pasien pasca kecelakaan dan mengalami masa kritis hingga koma selama satu bulan.


"Sepertinya benturan yang sangat kuat pada kepala pasien saat mengalami kecelakaan itu, diakibatkan beberapa kali mobil terbalik. Hal itu berakhir menyerang area syaraf di kepala dan akhirnya mengalami amnesia."


"Jadi, pasien saat ini mengalami Post Traumatik yang sering disebut sebagai


Amnesia traumatis, terjadi karena cedera pada kepala yang diakibatkan oleh kecelakaan, benturan, pukulan atau jatuh dari ketinggian."


"Ingatan pasien yang hilang akan bergantung pada bagaimana trauma atau kerusakan pada area otak yang dialami. Amnesia jenis ini dapat membuat seseorang kehilangan ingatan secara sementara atau permanen. Untuk mengetahui hal itu, kami akan melakukan pemeriksaan secara intensif dengan alat-alat yang dibutuhkan."


Semua orang yang masih sangat terkejut dengan kenyataan itu, seolah suara tercekat di tenggorokan, sehingga saat ini berpikir bahwa Arya benar-benar sangat tersiksa karena tidak mengingat apapun mengenai diri sendiri dan yang lainnya.


Arya yang dari tadi hanya diam mendengarkan penjelasan dari para tim dokter, tengah memijat kepala yang terasa sangat nyeri ketika mencoba untuk memaksa ingatan saat ingin sekali mengingat hal yang bisa memberikan informasi mengenai diri sendiri.


"Bahkan saat ini tidak bisa ingat siapa sebenarnya aku! Kenapa ini semua terjadi padaku? Siapa aku sebenarnya?" seru Arya yang masih mencoba untuk menahan rasa nyeri di kepala akibat memaksakan diri mengingat hal yang ingin dicari.


Tentu saja saat melihat hal itu, orang tua serta Calista merasa sangat iba dan tidak tega. Bahkan mereka belum sempat menenangkan diri sendiri dan harus melihat sikap Arya yang sangat mengenaskan dan menyayat hati.


Refleks dokter saat ini memberikan obat penenang dengan cara menyuntikkan melalui cairan infus. Tidak ingin pasien mengalami traumatik sangat tinggi jika sampai mempengaruhi syaraf, akan terjadi hal yang buruk seperti kematian otak.


Arya masih memegangi kepala dan berharap bisa sedikit mendapatkan informasi mengenai diri sendiri. "Siapa aku sebenarnya?"

__ADS_1


Saat merasa tidak tega pada putranya, Rani saat ini menghambur ke arah Arya dan memeluk dengan akhlak setelah dokter selesai menyuntikkan cairan ke infus.


"Arya, tenanglah karena ada Mama di sini yang akan selalu bersamamu. Mama akan membantumu untuk mengingat siapa dirimu dan semua hal yang kamu lupakan. Kami akan memberikan yang terbaik agar para dokter merawatmu."


"Kamu akan sembuh dan mengingat semuanya. Yakinlah itu, Putraku," ucap Rani yang dari tadi masih memeluk erat putranya untuk memberikan sebuah ketenangan.


Arya merasa sangat nyaman berada dipelukan wanita paruh baya yang bahkan tidak diingat sama sekali. "Aku siapa dan kenapa bisa mengalami kecelakaan hingga berakhir koma?"


Merasa sangat penasaran dengan apa yang terjadi, Arya ingin segera mengetahui semua hal yang menjadi penyebab amnesia. Namun, beberapa saat kemudian, kehilangan kesadaran dan memejamkan mata.


Saat melihat putranya sudah kehilangan kesadaran karena obat tidur yang tadi diberikan oleh salah satu dokter, Rani melepaskan pelukan dan berurai air mata.


"Kenapa ini terjadi padamu, Sayang? Apa yang harus dilakukan jika melihat putra sendiri tidak mengingat kami sebagai orang tua?" Rani beralih menatap ke arah beberapa dokter tersebut. "Tolong berikan perawatan terbaik untuk putraku agar bisa segera sembuh dari amnesia."


"Tentu saja kami akan melakukan yang terbaik demi kesembuhan. Namun, harus dilakukan tes menyeluruh dari pasien agar mengetahui metode untuk menyembuhkan pasien dari amnesia paten yang saat ini diderita oleh putra Anda."


Ari Mahesa saat ini berjalan mendekati untuk mengungkapkan apa yang diharapkan. "Lakukan semua yang terbaik dan akan membayar biaya berapapun demi kesembuhan putra kami."


"Tentu saja, Tuan. Sebentar lagi, akan dilakukan tes menyeluruh dan para perawat yang akan membawa pasien ke ruangan. Kami pergi dulu," sahut pria paruh baya yang mewakili rekannya untuk berpamitan dan kemudian berjalan menuju ke arah pintu keluar bersama yang lain.


Sementara itu, tiga orang yang saat ini seketika saling bersitatap dan mengalihkan pandangan pada sosok pria malang yang sama sekali tidak bisa mengingat apapun.

__ADS_1


Calista bahkan saat ini tidak bisa berkata apa-apa karena pikiran sangat kacau begitu melihat kenyataan hari ini mengenai Arya. Pria yang sama dicintai dan menjadi satu-satunya harapan, ternyata sama sekali tidak mengingat apapun dan seketika tidak percaya diri.


'Aku sangat takut Arya tidak mau menerimaku sebagai kekasih. Bagaimana jika itu terjadi? Apa yang harus kulakukan?' gumam Calista yang saat ini hanya bisa bergumam sendiri di dalam hati untuk mengungkapkan keluh kesah.


Namun, begitu mendengar suara bariton dari calon ayah mertua, Calista seperti seketika mendapatkan angin segar.


"Kamu tidak perlu merasa khawatir, Calista karena kamu akan tetap menjadi menantu perempuan di keluarga Mahesa. Meskipun Arya saat ini tidak bisa mengingat apapun, berusaha mengatakan bahwa kalian adalah sepasang kekasih yang akan menikah."


Ari Mahesa sudah berjanji pada diri sendiri bahwa hanya akan menjadikan Calista menantu perempuan karena melihat ketulusan wanita itu ketika masih tetap menunggu hingga Arya sadar.


Mungkin jika wanita lain, sudah langsung pergi dan tidak mau menunggu. Bahkan hal yang sama juga dipikirkan pada wanita yang dicintai oleh Arya di masa lalu, yaitu Putri.


"Kamu sudah membuktikan besarnya cintamu pada putraku dibandingkan wanita yang merupakan mantan istri Arya yang bahkan tidak tahu saat ini berada di mana. Mungkin jika ada di sini pun, aku tidak yakin apakah tetap mau menunggu dan merawat putraku yang tidak sadarkan diri karena kecelakaan."


Rani yang sebenarnya merasa hancur melihat putra yang sangat disayangi kehilangan ingatan, tetapi mencoba untuk menghibur Calista dengan menyambung perkataan dari sang suami yang dianggap benar.


Rani saat ini bahkan sudah berjalan mendekati calon menantu tersebut dan memeluk erat untuk menyalurkan aura positif. Seolah berusaha untuk saling menghibur diri agar tidak hancur melihat kenyataan hari ini mengenai pria yang sama-sama mereka sayangi.


"Mama hanya ingin kamu yang menjadi menantu di keluarga Mahesa. Jadi, jangan merasa takut saat putraku kehilangan ingatan. Aku sangat yakin jika Arya akan patuh pada perintah kami, seperti saat sebelum mengenal Putri."


Rani saat ini berpikir bahwa Arya seperti kertas putih yang bersih dan belum ternoda sama sekali dan pastinya akan sangat mudah untuk dikendalikan oleh orang tua. Berpikir bahwa semua yang terjadi tetap ada hikmahnya, Rani saat ini kembali mengungkapkan apa yang ada di pikirannya.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2