
Saat Neil baru saja selesai bergumam sendiri di dalam hati, mendengar suara seorang wanita yang memanggil namanya dan tak lain adalah Mira.
"Selamat malam, Tuan Neil!" Mira yang saat ini berdiri di depan pintu karena ingin berpamitan pada Airin, sekilas melihat tetangga yang berprofesi sebagai polisi.
"Putri, kamu harus menyapa pria yang berprofesi sebagai pihak keamanan di sini. Jadi, memperkenalkan diri dan memohon perlindungan karena merupakan seorang janda dan tidak ada suami yang melindungi." Mira langsung menggandeng pergelangan tangan Putri untuk menemui pria yang sangat dihormati oleh semua orang di kampung itu.
Putri yang hanya patuh dan akan melakukan apapun yang diperintahkan oleh Mira, kini sudah berjalan mengikuti wanita itu dan langsung membungkuk hormat seraya memperkenalkan diri.
"Saya akan menjadi warga baru di kampung ini, Tuan Neil. Senang bisa bertemu dengan orang penting yang menjaga keamanan di sini." Putri memperkenalkan diri tanpa mengulurkan tangan karena merasa harus menjaga jarak dengan semua pria.
Sebagai seorang janda yang pastinya akan dimusuhi oleh para istri di kampung itu, jadi berpikir tidak akan pernah dekat dengan pria manapun dalam bentuk apapun, sehingga menjauhi hal-hal yang membuat pria tertarik ataupun wanita membencinya.
"Aku sudah tahu," sahut Neil yang saat ini menatap sekilas ke arah Putri dan beralih pada Mira.
"Benarkah? Dari mana Anda tahu, Tuan Neil?" Mira beralih menatap ke arah Putri dan merasa sangat aneh dengan apa yang baru saja diungkapkan oleh tetangga yang merupakan polisi tersebut.
"Ada seseorang yang tadi memberitahuku. Lanjutkan saja perbincangan kalian. Aku akan membeli sesuatu yang disuruh istriku. Nanti marah jika sampai lama keluar." Kemudian berbalik badan dan berjalan menuju ke toko yang dituju sambil mengumpat di dalam hati.
'Sial! Ternyata wanita yang membuat Ardi jatuh cinta dan berbuat nekad sangat cantik. Pantas saja tadi mengatakan jatuh cinta pada pandangan pertama. Jika janda seperti wanita itu, pasti semua pria akan langsung terpesona.'
__ADS_1
'Bahkan jika aku belum mempunyai istri, juga akan langsung jatuh cinta pada wanita itu.' Masih melangkah kaki menuju ke toko dan sama sekali tidak menyangka akan mengagumi kecantikan wanita yang merupakan seorang janda anak satu itu.
Sementara itu di sisi lain, Putri masih tidak berkedip menatap siluet belakang pria yang semakin menjauh tersebut. 'Kenapa sikap pria itu sangat aneh? Memangnya mengetahui dari siapa?'
Putri yang merasa sangat khawatir dengan hal buruk di kepala, kini menatap ke arah Mira. "Memangnya ada yang mengetahui kedatanganku? Dari mana pria itu tahu mengenai aku? Aneh sekali."
Mira yang sependapat dengan perkataan dari Putri karena tadi sebenarnya ingin bertanya pada pria itu, tapi tidak bisa melakukannya karena seperti sedang buru-buru.
"Aku juga sama. Baru kali ini melihat sikap tuan Neil aneh. Bahkan aku belum melapor akan kedatanganmu, tapi kenapa sudah tahu? Kita butuh penjelasan, tapi karena pria itu adalah seorang polisi, tidak mungkin menginterogasi, bukan?"
Mira berbicara masih dengan menatap siluet belakang sang polisi tengah berbicara dengan pemilik toko. "Kebetulan rumah ini dekat dengan toko. Jadi, kamu bisa dekat membeli apapun yang dibutuhkan jika sewaktu-waktu membutuhkan."
"Sepertinya kita akan mengetahui nanti saat tiba masanya," ucap Putri yang saat ini menepuk pundak Mira. "Pulanglah. Bukankah kamu akan menjemput anak-anakmu di rumah orang tua?"
"Kamu benar. Ini sudah malam. Jangan sampai mereka sudah tertidur, nanti aku yang kesusahan karena harus tidur sendirian di rumah," ucap Mira yang saat ini mulai berjalan meninggalkan Putri setelah berpamitan.
Sementara itu, Putri masuk ke dalam rumah dan langsung mengunci pintu. Setelah memastikan jika semuanya telah terkunci, baru melangkah ke dalam kamar untuk menemui putranya.
Kebetulan di kontrakan sudah ada ranjang dan juga lemari seperti yang dikatakan oleh Mira, jadi bisa langsung berkemas dan menempati ranjang.
__ADS_1
"Syukurlah kita mendapatkan tempat tinggal yang cocok, Putraku. Kamu senang kita tinggal di sini tanpa papa? Semoga kamu akan tetap merasa bahagia saat hidup tanpa figur seorang ayah."
Saat membahas mengenai seorang ayah yang tidak akan pernah didapatkan kasih sayang untuk Xander, Putri selalu merasa sangat bersalah, tapi sadar tidak bisa melakukan apapun.
Jadi, memilih untuk pasrah dan menjalani semuanya dengan ikhlas. Berharap suatu saat nanti putranya tersebut mengerti dan tidak akan menyalahkan sebagai seorang ibu yang tidak bertanggungjawab karena harus bercerai dengan suami yang harusnya menjadi ayah untuk Xander.
Ia memilih untuk menyibukkan diri dengan cara memasukkan semua pakaian ke dalam lemari dan satu jam kemudian telah selesai.
Hingga beberapa saat kemudian ia memilih untuk menikmati Snack yang tadi dibeli untuk dimakan di dalam bus saat perjalanan.
Namun, tadi tidak melakukan itu karena sibuk menangis karena bersedih saat mengingat tentang Arya. Putri kini sudah sibuk mengunyah makanan ringan tersebut dan berpikir sesuatu.
"Kenapa aku merasa ada yang aneh dengan polisi itu? Memangnya siapa yang memberitahunya mengenai kedatanganku? Padahal aku baru tiba di kampung ini dan pertama kali bertemu."
"Kenapa perasaanku tidak enak?" ucap Putri yang kini merasa jika ada sesuatu tidak beres telah terjadi.
Namun, tidak tahu harus berbuat apa dan memilih untuk pasrah. "Aku akan mengetahui saat tiba masanya nanti. Semoga bukanlah sebuah hal yang buruk," ujar Putri yang beralih meneguk air mineral di dekat tempat duduknya.
Kemudian beralih naik ke atas ranjang dan mengistirahatkan tubuh dengan berbaring di dekat putranya. Berharap esok akan menjadi hari baik untuk mulai membuka lembaran baru.
__ADS_1
To be continued...