
Jika Jack memendam rasa cemburu dan tidak bisa menunjukkan pada siapapun karena akan mempermalukan diri sendiri di depan saingan. Jadi, ia bersikap seperti biasa layaknya, seorang teman.
Bahkan kini, Jack hanya terkekeh mendengar kalimat dari Amira Tan yang sebenarnya menusuk tepat di jantungnya. "Jika kau jatuh cinta padaku, bukankah bisa dibilang menjadi pria paling beruntung di dunia ini?"
"Siapa yang bisa menolak wanita cantik, elegan, pintar, mempunyai karir cemerlang dan sangat terkenal di kalangan para pengacara? Hanya pria bodoh saja yang tidak jatuh cinta padamu, Amira Tan."
Sengaja Jack menekankan kalimat terakhir untuk membalas dendam pada pria yang terlihat sangat santai, seolah tidak merasakan apapun ketika Amira Tan berusaha untuk memancing suasana.
'Sial! Rasanya saat ini aku ingin meninju wajah Bagus. Kenapa pria ini bisa sangat tenang? Apakah ini yang menjadi nilai plus di mata Amira Tan?'
'Sayangnya aku tidak bisa seperti pria ini. Bersikap dingin pada seorang wanita, bukanlah gayaku.' Jack masih sibuk mengumpat di dalam hati dan begitu mendengar suara Amira Tan yang mengintimidasi suasana, ia pun menoleh.
"Bukan seperti itu, Jack. Kamu salah!" Amira Tan yang kini menatap tajam ke arah sahabat baiknya tersebut.
"Lalu? Sebutan apa yang pantas untuk pria yang menolakmu, Amira Tan? Aku ingin tahu." Tanpa memperdulikan kemurkaan Amira Tan, Jack saat ini merasa penasaran, akan berlanjut seperti apa suasana yang diciptakan oleh wanita di sebelah kiri tersebut.
Amira Tan memang kesal saat Jack menghina Bagus bodoh karena hanya ia yang boleh mengatakan itu. Jadi, kini memilih untuk menyebut sebutan lain. "Pria yang menolakku mungkin pria buta karena tidak bisa melihat segala kelebihan dalam diriku."
Kemudian Amira Tan beralih menatap ke arah Bagus yang masih betah mengunci mulut dengan sangat rapat. "Bukankah begitu, adik ipar?" Menepuk jidat begitu menyadari bahwa panggilan itu sudah tidak berlaku.
"Sepertinya aku harus membiasakan diri untuk tidak memanggilmu adik ipar lagi karena sudah resmi bercerai dengan Putri. Lebih baik aku memanggil nama saja, agar tidak ada rasa bersalah karena adikku telah menyakitimu."
Setelah mengungkapkan kalimat mengejek pada Bagus, Amira turun kini mengeluarkan amplop coklat dari tas kerja dan menyerahkan pada pria di hadapannya tersebut.
__ADS_1
"Ini berkas milikmu kukembalikan karena tugasku sudah selesai. Dua minggu lagi, kamu bisa datang untuk mengambil akte cerai dengan menunjukkan kartu tanda pengenal. Lebih baik kita segera nikmati makanan ini sebelum dingin."
Sementara itu, Bagus hanya menganggukkan kepala ketika melihat amplop besar berwarna coklat yang baru saja diberikan oleh Amira Tan. Memang sengaja untuk tidak menanggapi ejekan dari iparnya dan Jack.
Ia hanya menganggap dua orang di hadapannya tersebut seperti anak kecil yang tidak perlu diladeni. "Baiklah. Aku juga sudah lapar setelah tadi sibuk membantu korban kecelakaan beruntun."
Kemudian Bagus mulai mengambil nasi setelah Amira Tan dan Jack. Sebenarnya saat ini tidak berselera makan karena selalu terbayang momen kecelakaan dengan korban berlumuran darah di jalanan beberapa saat lalu.
Namun, berusaha menghargai Amira Tan yang mengajaknya untuk makan siang. Jadi, berusaha untuk menikmati makanan yang terlihat sangat lezat tersebut.
Jack saat ini sudah sibuk mengunyah makanan di mulut dan sesekali melirik ke arah Amira Tan. Tentu saja bisa membaca apa yang saat ini dirasakan wanita itu.
'Jika saja Amira Tan tidak ada di sini, mungkin aku sudah membuat wajah Bagus bapak belur seperti Noah. Apalagi saat ini jelas sekali terlihat jika sikap pria ini membuat perasaan seorang wanita yang sama sekali tidak berpengalaman dengan lawan jenis, terluka.'
"Jangan diet untuk hari ini karena kamu sudah terlalu seksi."
Amira Tan yang dari tadi menahan rasa yang mengguncang di dalam hati, seketika terhibur dengan candaan dari Jack.
Meskipun ia tidak menyukai sifat playboy Jack, tapi terkadang sikap pria itu sangat menggemaskan karena selalu berhasil membuatnya tertawa dalam situasi apapun.
Amira Tan merasa terhibur ketika candaan dari Jack berhasil membuatnya tertawa. "Apakah aku terlihat sangat seksi di matamu?"
"Iya. Bahkan teramat seksi. Jadi, jangan asyik diet dan membuatku semakin menginginkanmu karena kamu tidak akan bisa bertanggung jawab atas apa yang kurasakan, bukan?" Jack kembali menyuapkan satu sendok makanan ke dalam mulutnya.
__ADS_1
Kemudian mengunyah sambil menunggu seperti apa Amira Tan menanggapi ungkapan perasaan tulus yang baru saja lolos dari bibir.
Amira Tan bahkan tidak jadi menikmati makanan karena asyik berbicara dengan Jack. "Mungkin bisa jika takdir berpihak padamu."
"Apakah aku mengganggu kalian?" Bagus yang sebenarnya ingin makan dengan tenang, tidak bisa melakukannya ketika mendengar obrolan dari Amira Tan dan Jack.
Amira Tan berpura-pura merasa bingung. "Apa maksudmu?"
"Aku tidak tahu jika Jack juga datang. Jika mengetahui, akan membiarkan kalian berduaan. Rasanya sekarang aku seperti mak comblang saja," ucap Bagus dengan suasana hati yang sedang tidak baik, kini ditambah dengan sikap Amira Tan yang jelas sekali memancing suasana.
Rasanya Bagus ingin segera pergi dari tempat itu dan menenangkan pikiran. Apalagi tadi mengalami kejadian buruk di rumah sakit.
'Dua bersaudara ini seolah kompak untuk membuat perasaanku semakin tak menentu. Putri bahkan tadi berteriak dan memakiku, agar tidak lagi menampakkan diri. Aku memang pria tidak tahu diri karena tetap saja menemui wanita yang sama sekali tidak mencintaiku.'
Kembali terluka karena cinta, sehingga membuatnya menjadi pria bodoh yang tidak bisa berpikir jernih.
Bahkan untuk sejenak saja menenangkan diri, seolah tidak diizinkan oleh alam karena kembali melihat sikap Amira Tan.
'Lebih baik aku segera menghabiskan makanan ini dan pergi dari sini. Sepertinya akan lebih baik jika aku segera pulang ke kampung halaman dan Putri tidak lagi melihatku.'
Bagus menganggap diri sendiri adalah kuman yang dihindari oleh semua orang. Jadi, tekadnya sudah bulat untuk segera meninggalkan kota yang meninggalkan kenangan buruk.
To be continued...
__ADS_1