Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Makanan sampah


__ADS_3

Arya saat ini baru masuk ke dalam mobil sang asisten setelah menjemputnya. Ia kini menatap ke arah pria di balik mobil tersebut. "Maaf karena mengganggu waktu istirahatmu. Pasti orang tuaku yang menyuruhmu untuk mencariku. Padahal aku berniat pergi dan meninggalkan semuanya."


Sang asisten yang saat ini fokus mengemudi, sekilas menoleh ke arah bosnya dan membuatnya merasa sangat iba dengan kemalangan yang dialami.


"Anda pasti sudah mengetahui jika orang tua sangat khawatir. Jadi menyuruh saya untuk mencari keberadaan Anda. Semua masalah bisa dibicarakan dan diselesaikan dengan kepala dingin, Tuan Arya. Aah ... maaf karena bukan sok menggurui Anda, tapi hanya mengatakan saran." Ia khawatir jika atasannya tersebut tersinggung karena perkataannya.


Apalagi melihat jika suasana hati khususnya sedang tidak baik, jadi tidak ingin terdengar seperti mendikte ataupun sok tahu dan akan menimbulkan kesalahpahaman.


Sementara itu, Arya saat ini terdiam karena jujur saja ia sadar jika perbuatannya salah jika meninggalkan orang tua yang seakan hanya memiliki satu-satunya putra dan bergantung harapan besar padanya.


Namun, ketika merasa kesal dan marah saat orang tuanya terdengar seperti orang-orang jahat ketika berniat untuk merebut Xander dari wanita malang yang dulu ditinggalkannya, sehingga membuatnya ingin mereka sadar dan tidak meneruskan rencana.


Akhir ia yang tidak ingin disalahkan sepenuhnya oleh sang asisten yang sudah dianggap sebagai saudara sendiri, kini menceritakan semuanya karena ia butuh sebuah saran yang tepat.


Setelah beberapa menit berlalu dan mengakhiri ceritanya, ia pun menatap ke arah sana asisten untuk meminta pendapat apa yang harus dilakukannya saat ini.


"Apakah aku salah jika melakukan ini pada orang tuaku? Aku ingin mereka tidak menjadi orang-orang jahat," ucap Arya yang saat ini mengembuskan napas kasar yang terdengar sangat jelas di dalam mobil.


Saat masih fokus mengemudi dan beneran pendengaran fokus pada penjelasan dari bosnya, sang asisten yang saat ini sudah mengetahui duduk perkara, seketika terdiam karena tengah memikirkan solusi terbaik dari masalah yang dialami pria yang sangat dihormatinya.


"Jika dengan perginya Anda bisa merubah keburukan dari orang tua, mungkin itu adalah jalan yang terbaik. Hanya saja, semuanya akan bertambah buruk jika sampai orang tua Anda marah semakin berbuat negatif pada mantan istri. Bukankah itu akan menjadikannya sebagai korban." Ia memang sudah tahu tentang masa lalu bosnya karena memang telah lama mengabdi di perusahaan.


Apalagi selama ini tidak ada yang ditutupi oleh bosnya yang sering bercerita ketika setengah beristirahat dari pekerjaan di kantor. Selama ini ia berpura-pura tidak tahu apapun mengenai masa lalu pria yang mengalami amnesia tersebut.


Jadi, sekarang seolah menceritakan semuanya meskipun bosnya belum sadar dari amnesia yang diderita. Namun, sudah mengetahui semuanya dari cerita kakak dari istri siri yang mengalami kemalangan karena suami ditusuk oleh orang jahat.


Arya membenarkan apa yang dikatakan oleh sang asisten dan karena itu bisa saja terjadi pada Putri jika sampai orang tua melampiaskannya pada mantan istri. "Kamu benar. Aku bahkan sama sekali tidak berpikir sampai ke arah sana."


"Orang tuaku memang sangat membenci Putri dan bisa saja melakukan itu padanya karena ketika aku pergi. Aku akan makin merasa bersalah dan berdosa pada mantan istri jika sampai hidup menderita karena perbuatan orang tuaku." Arya yang saat ini merasa bingung harus melakukan apa, dadanya terasa sesak karena beban berat yang dipikul.


Mungkin jika aku tidak mengetahui masa laluku, semua ini tidak akan terjadi. Bahkan orang tuaku tidak akan mengusik ketenangan wanita itu," ucap Arya yang menatap ke arah jalanan ibukota sudah tidak terlalu macet.


Ia yang tiba-tiba mengingat sesuatu, kini meraih ponsel miliknya di saku celana. "Aku tadi berniat untuk menelpon Amira Tan karena ingin menanyakan nomor ponsel Putri."


"Apa tidak besok saja, Tuan karena pasti nona Amira Tan saat ini tengah beristirahat. Ini sudah sangat larut. Apalagi baru saja mengalami kemalangan." Ia yang mengemudikan mobilnya kini berbelok di area apartemen yang ditempati.


Arya yang tadinya mencari kontak sang pengacara terkenal tersebut, seketika terdiam dan ia akui jika perkataan dari asistennya benar. "Kau benar. Apalagi dia sepertinya sangat membenciku. Pasti tidak akan memberikan nomor ponsel Putri padaku."


"Lebih baik kau saja yang mencari tahu dan temukan nomor mantan istriku." Arya memijat pelipis karena kepalanya dipenuhi oleh banyak beban berat yang dialami hari ini.


Kejadian demi kejadian yang hari ini dilalui benar-benar membuatnya sangat lelah baik fisik maupun tenaga. Bahkan otaknya pun demikian karena begitu mengetahui masa lalunya, beberapa kali mengalami pusing luar biasa pada kepala, tapi ditahannya dan tidak ditunjukkan pada orang lain.


Di sisi lain, sama asistennya baru saja memarkirkan mobil pada tempatnya, kini semakin pusing karena mendapatkan tugas baru. Namun, tidak menunjukkan ada bosnya tersebut dan beranjak dari mobil setelah melepaskan sabuk pengaman.


"Apartemen saya tidak semewah rumah keluarga Mahesa, Tuan," ucapnya setelah berjalan menuju ke arah lobi bersama dengan atasannya.

__ADS_1


Arya yang sama sekali tidak memperdulikan hal itu karena satu-satunya yang dipikirkan hanyalah butuh tempat untuk berteduh, sehingga saat ini langsung mengarahkan pukulan ringan pada bahu lebar tersebut.


"Aku benar-benar sangat lelah dan ingin segera pergi tidur. Daripada aku tidur di hotel dan mengeluarkan uang, akan lebih baik tidur di tempatmu yang gratis." Arya masuk ke dalam lift dan melihat asistennya memencet tombol di hadapannya.


Hingga melihat pria itu tersenyum simpul, seolah merasa senang dengan perkataannya.


"Anda lapar atau tidak, Tuan? Saya akan memasakkan karena belum berbelanja kebutuhan dapur." Ia tidak ingin disalahkan jika bosnya tersebut tiba-tiba kelaparan. Jadi, memilih jujur.


Arya yang sama sekali tidak berselera makan selama beberapa hari ini akibat selalu bertengkar dengan sang istri. Rencananya ia makan di hotel cara pesta ulang tahun perusahaan suami Putri, tapi begitu melihat wanita itu malah membuatnya lupa untuk makan.


Hingga sibuk dengan bocah laki-laki yang ternyata adalah putra kandungnya. Kini, ia berjalan keluar bersama dengan sang asisten menuju ke apartemen. "Aku sebenarnya belum makan, aku tidak perlu repot-repot masak karena aku saat ini hanya ingin beristirahat."


Pria muda yang saat ini memencet passcode apartemen, merasa sangat peka karena tidak harus repot-repot melayani bosnya di tengah malam.


"Baik, Bos. Kalau begitu, saya akan mencari tahu nomor mantan istri Anda dengan mengandalkan IT perusahaan kita. Silakan masuk dan anggap saja rumah sendiri," ucapnya ketika melangkah ke dalam apartemen yang menjadi tempat paling nyaman untuk melepas penat meskipun hanya satu petak dan tidak sebesar rumah bosnya yang megah.


Arya saat ini langsung berjalan mengikuti sang asisten yang menunjukkan ruangan kamar untuknya. "Lebih baik kau sekarang beristirahatlah dan lakukan pekerjaan besok."


"Aku bukan bos kejam yang menyuruh anak buah untuk bekerja di jam istirahat," sahut Arya yang masuk ke dalam kamar dan menutup pintu karena ini tenang saat melepas lelah.


Sang asisten saat ini masih berdiri di depan pintu dan terus terang ia juga sangat mengantuk karena jam dinding menunjukkan pukul satu dini hari.


'Tuan Arya aku sangat berbeda dengan sang ayah dan tidak perduli pada apapun jika memberikan perintah. Apalagi semenjak bos hilang ingatan, benar-benar berubah drastis menjadi seorang pria yang lebih kalem. Seolah menjadi pria yang berbeda,' gumamnya yang kini berbalik badan dan berjalan menuju ke arah ruangan kamar, lalu masuk ke dalam setelah mengunci pintu.


Ia saat ini mengamati ruangan kamar yang terlihat sangat rapi dan bersih. "Dia tidak punya pelayan, tapi tempat tinggalnya sangat bersih dan rapi seperti ini." Arya pun kini mendaratkan tubuhnya di atas ranjang dan berbaring telentang sambil melihat ke arah langit-langit kamar.


Arya saat ini mengingat tentang berita yang dibacanya tadi. "Apa sekarang kamu baik-baik saja? Kamu pasti sangat bersedih karena masa lalu yang harusnya tidak diketahui oleh publik malah menjadi konsumsi semua orang."


"Semoga aku besok bisa berbicara dengannya setelah menemukan nomor teleponnya. Sekarang aku harus beristirahat untuk memulihkan tenagaku karena besok dibutuhkan untuk menjalani hari yang berat." Arya saat ini meraih selimut di bawahnya karena cuaca hari ini sangatlah dingin.


Apalagi di beberapa kota sampai turun embun salju dan berdampak pada beberapa wilayah lain yang terkena hawa dingin.


"Dinginnya!" lirih Arya yang saat ini memejamkan mata setelah menyembunyikan tubuh di bawah selimut.


Namun, saat ia baru beberapa menit memejamkan mata, tiba-tiba kepalanya terasa pusing dan membuatnya memijat pelipis. Hingga beberapa saat kemudian seperti mendengar suara bising dan juga sekilas bayangan muncul di kepalanya.


Ia saat ini bisa melihat sekilas bayangan saat mobil terbalik setelah tertabrak do area belakang dan menyadari jika itu adalah dirinya sendiri ketika mengalami kecelakaan setelah pulang dari kontrakan dulu untuk mencari Putri.


Seketika ia membuka mata dan merubah posisi dengan duduk sambil menatap kosong. "Aku sekarang mengingat semuanya," lirihnya dengan perasaan berkecamuk ketika sudah menemukan apa yang hilang dalam hidupnya.


Ia akan mengingat pertemuan pertama dengan Putri yang dulu dan bisa jatuh cinta pada wanita itu tanpa memperdulikan statusnya sebagai seorang istri pria lain.


"Aku tiba-tiba mengingat kejadian di masa lalu yang sempat kulupakan. Sekarang aku tahu awal mula perjalanan cintaku dengan Putri. Pantas perasaanku padanya sangat aneh ketika menatapnya untuk pertama kali."


"Ternyata cintaku jauh lebih besar padanya dan hanya menganggap Calista adalah sebuah pelampiasan karena kekecewaan ketika ditipu oleh orang tuaku mengenai hasil tes DNA." Arya seketika bangkit dari ranjang dan ia saat ini menuju ke dapur karena tenggorokannya tiba-tiba kering.

__ADS_1


Ia mengambil air sejuk dari mesin pendingin dan duduk di meja makan. Saat tenggorokan yang kini sudah terasa segar dengan air dingin, terdiam selama beberapa saat ketika membayangkan tentang masa lalunya bersama dengan Putri yang penuh dengan liku-liku.


"Aku akan memberitahu putri jika sudah mengingat semuanya. Apakah itu akan merubah hubungan kami? Apakah dia mau memaafkanku atau menerima aku kembali jika memintanya untuk bersamaku?" Arya terdiam selama beberapa saat untuk mengambil keputusan apa yang akan ia lakukan.


Hingga ia ingin mencari tahu perihal awal mula bisa menikah dengan putra dari keluarga Priambodo yang merupakan salah satu konglomerat di Jakarta.


"Aku tidak akan merusak kebahagiaan Putri jika dia hidup bahagia bersama dengan pria itu, tapi kenapa aku ragu? Apalagi melihat tatapannya pada sang istri sangat berbeda ketika tadi bertemu di pesta ulang tahun perusahaan." Saat Arya sibuk dengan pemikirannya sendiri, di saat bersama cacing-cacing di perutnya berteriak meminta diisi.


Ia takkan merasa sangat mual dan perutnya sebah karena memang belum makan. Tidak ingin berakhir sakit karena tidak makan, ia kini mencari persediaan mie instan yang tadi dikatakan oleh sang asisten.


Saat membuka lagi dapur, ia membulatkan mata karena begitu banyak rasa mie instan yang kini ada di hadapannya.


"Dasar bodoh! Dia bahkan menyimpan makanan tidak sehat sebanyak ini. Padahal gajinya banyak. Apa dia mau mati muda karena sering makan makanan instan seperti ini?" Meskipun merasa heran pada sang asisten, ia memilih satu mie instan dengan rasa kari dan membuka kulkas untuk mengambil telur yang tadi dilihatnya saat mengambil air minum.


Kulkas yang saat ini hanya dipenuhi oleh air dingin dan telur, seolah menegaskan jika asistennya tersebut tidak suka memenuhi stok makanan. "Pasti ia selama ini memesan makanan dari luar dan tidak pernah masak."


Memaklumi seorang pria muda yang belum menikah dan pastinya malas memasak juga untuk dimakan sendiri karena dulu juga seperti itu dan semua dilayani oleh pelayan.


Saat menunggu mie yang dimasak matang, kembali mengingat sikapnya yang sangat arogan dan seperti layaknya bos ada putri dulu.


"Aku dulu benar-benar tidak berperasaan karena bersikap kejam padanya ketika frustasi hidup miskin setelah menikah dengannya." Ia bahkan menampar diri sendiri ketika mengingat hal itu.


"Aku kita akan mencurahkan seluruh bebanku padanya dan tidak memperdulikannya pekerjaan dan keadaan nanti mudah sampai besar." Saat ia semakin merasa bersalah ketika mengingat masa lalu, ia tersadar jika mie yang dimasak sudah terlalu lembek.


"Putri, aku akan menebus kesalahanku padamu," ucapnya ketika mengangkat panci kecil dari kompor dan langsung membawanya ke meja makan untuk dinikmati.


Saat ia baru saja menyiapkan dalam mulut, mendengar suara pintu yang dibuka dan beberapa saat kemudian melihat asistennya masuk ke dapur.


"Kau belum tidur?"


"Belum, Tuan karena mencium aroma mie instan, jadi tiba-tiba merasa lapar." Kemudian mengambil mie instan rasa bakso dan memasaknya karena merasa ingin makan yang hangat ketika cuaca sangat dingin.


"Saya temani Anda, Tuan." Menyalakan kompor dan menunggu hingga air mendidih.


Arya yang kebetulan ingin memarahi asistennya, seketika mengungkapkan apa yang ada di pikirannya. "Jangan sering makan mie instan jika tidak mau mati muda karena serangan penyakit kronis."


Kau bahkan punya banyak uang, jangan sampai dihabiskan di rumah sakit hanya gara-gara ini." Menunjukkan mie yang akan dimasukkan ke dalam mulutnya.


Saat ini, pria yang yang berdiri di depan kompor itu hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Iya, Tuan. Saya akan mengurangi mengonsumsi makanan instan dan mengganti dengan makanan sehat karena tidak ingin mati muda. Apalagi saya belum menikah."


Arya hanya mengangkat ibu jari dan melanjutkan menikmati ini yang sudah tidak nikmat karena terlalu lembek saat memasaknya.


Namun, tetapi ia makan karena perutnya sangat lapar dan berharap sedikit lebih baik setelah diganjal dengan mie instan yang dari dulu dianggapnya hanyalah makanan sampah tidak sehat.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2