Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Tangan yang patah


__ADS_3

"Berhenti berpikir negatif, Noah! Seperti yang kukatakan tadi bahwa saat ini hanya membutuhkan kepercayaanmu. Kau harus percaya padaku. Aku bukanlah seorang wanita yang sangat bodoh dan bisa dengan mudah ditaklukan oleh Jack."


"Jika seperti itu, mana mungkin aku memilihmu untuk menjadi kekasihku? Padahal sudah bertahun-tahun aku bersama Jack, tapi tidak sekalipun membuka hatiku. Apakah dengan bukti itu masih membuatmu tidak percaya padaku?"


Amira Tan yang benar-benar kehilangan kesabaran saat mencoba untuk membuat Noah bisa memahami bahwa tidak ada jalan lain selain ini. Apalagi sikap Noah yang dianggap sangat kekanakan akan membuatnya tidak bisa mengendalikan amarah dan pastinya hubungan mereka akan mengalami masalah.


Karena tidak ingin seperti itu, kini Amira Tan memilih bangkit berdiri dari kursi karena jika lama-lama bersama dengan Noah yang masih susah untuk mengerti, sudah dipastikan akan berdebat dan berakhir dengan pertengkaran.


"Kau butuh memikirkan hal ini dengan tenang, Noah. Aku tidak bisa berlama-lama di sini bersamamu karena nanti orang tuaku akan curiga. Khususnya mama dan aku tidak ingin sakitnya kambuh."


"Daripada kita bertengkar untuk berebut benar, lebih baik saling introspeksi diri dan berpikir dengan kepala dingin tanpa amarah."


Kemudian ia berjalan menuju ke arah ruangan perawatan sang ibu tanpa menoleh ke belakang lagi. Tanpa menunggu respon dari sang kekasih yang saat ini masih tidak mengeluarkan sepatah kata pun.


Bahkan beberapa saat yang lalu, Amira Tan melihat jika Noah menggertakkan gigi dengan rahang yang mengeras. Seolah tengah sekuat tenaga menahan amarah, agar tidak dilampiaskan padanya.


'Noah sepertinya tetap tidak bisa mengerti bahwa keputusanku adalah jalan terbaik diantara kami. Kenapa sangat susah untuk memberikan pengertian pada Noah? Apakah Ini semua karena usianya yang masih sangat muda?'


'Seperti yang sering kudengar bahwa jiwa muda seorang pria akan lebih membara jika berusia di bawah 30 tahun. Sementara usia dewasa akan membuat seseorang lebih bijak. Hal itulah yang membuat Jack dan Noah sangat berbeda.'


Saat Amira Tan berjalan dengan kaki jenjangnya menuju ke arah ruangan sang ibu sambil terus membandingkan antara Jack dan Noah, hal berbeda dirasakan oleh pria yang saat ini tengah bangkit berdiri dari kursi dan mengacak frustasi rambut.

__ADS_1


Tentu saja Noah benar-benar sangat kesal karena Amira Tan tidak bisa mengerti maksudnya untuk lebih berhati-hati pada Jack. Sebenarnya ingin sekali menghentikan wanita itu ketika pergi, tapi karena tidak ingin membuat Amira Tan semakin tertekan dengan keadaan, sehingga membiarkan pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun untuk membalas perkataan wanita yang sangat dicintainya tersebut.


"Apa yang harus kulakukan sekarang? Berengsek! Jack benar-benar sangat licik, sedangkan Amira Tan naif dan mudah dikelabui oleh bajingan itu."


Karena merasa sangat marah, ia tidak bisa mengendalikan amarah yang membuncah di dalam hati ketika mengingat semua yang dikatakan oleh Jack dan juga ekspresi wajah pria itu saat ingin berperang dengannya untuk membuktikan siapa yang selamanya akan memiliki Amira Tan.


"Apa perlu aku membunuh Jack agar Amira Tan tetap selamanya hanya menjadi milikku?" Noah menyadari kebodohannya dan menepuk jidat berkali-kali.


"Jika aku melakukannya dan ditangkap oleh polisi, selalu membusuk di penjara, Amira Tan akan berakhir menjadi milik pria lain. Bukankah ini jauh lebih bodoh!" sarkas Noah yang berbicara sendiri seperti orang gila dan bisa melihat tatapan beberapa orang yang melintas.


Tatapan aneh yang seolah berpikir bahwa saat ini seperti orang gila karena berbicara sendiri sambil mengumpat. Karena tidak bisa menahan amarah yang dirasakan, Noah bahkan sudah mengarahkan pukulan pada dinding dan membuat tangan dengan buku-buku kuat itu berdarah.


Noah memang meringis menahan rasa nyeri pada tangannya, tetapi menyadari bahwa rasa sakit itu tidak sesakit luka yang ada di dalam hatinya.


Noah saat ini menatap ke arah tangannya yang mengeluarkan darah, tetapi hanya tertawa miris saat menyadari bahwa saat ini menjadi seorang pria tidak berguna ketika tidak mendapatkan restu dari orang tua wanita yang dicintai.


"Cinta yang tidak mendapatkan restu, ternyata rasanya sesakit ini. Padahal dengan percaya diri aku mengatakan akan menculik Amira Tan dan membawanya kabur dari orang tua, ternyata hanya sebuah omong kosong dan tidak bisa melakukannya. Dia pasti tidak akan mau meninggalkan orang tua jika keadaannya sudah begini."


Tidak ingin semakin dikuasai oleh kegelisahan, Noah memilih untuk pergi dari rumah sakit dengan menahan rasa nyeri pada bagian tangan. Namun, indra pendengaran menangkap suara seorang wanita yang mencoba untuk menghentikan langkah kakinya.


"Tuan."

__ADS_1


Noah menghentikan langkah kaki dan melihat ke belakang untuk mencari tahu siapa yang memanggil. Apakah memanggilnya atau orang lain.


Begitu melihat seorang wanita berseragam yang tak lain adalah salah satu perawat di Rumah Sakit tersebut, ia menunjuk ke arah diri sendiri.


"Apa kau memanggilku?"


Wanita berseragam putih tersebut menganggukkan kepala perlahan dan menunjuk ke arah tangan yang terluka dan mengeluarkan darah.


"Anda terluka dan perlu diobati. Tadi Saya melihat Anda meninju tembok dan pasti rasanya sangat sakit. Jika itu tidak segera ditangani, ada kemungkinan tulang yang retak. Sepertinya Anda sedang patah hati, sehingga sampai melampiaskan pada dinding yang bahkan tidak bersalah."


Noah saat ini menatap ke arah tangannya yang berdarah. "Biarkan saja tangan ini patah sekalian. Anggap saja kau tidak pernah melihat apa yang kulakukan." Kemudian ia berbalik badan dan berjalan menuju ke arah lift karena ingin segera meninggalkan rumah sakit yang dianggap seperti sebuah neraka untuknya.


Namun, kembali mendengar suara perawat tersebut yang malah mau berjalan mengejar dan kini berada di sebelahnya.


"Tuan, saya adalah petugas medis yang tidak bisa tinggal diam melihat seseorang terluka. Jadi, Anda harus segera diobati." Perawat tersebut tidak ingin menyerah untuk mencoba membujuk pria yang baru saja dilihat tersebut.


Semua itu karena perbuatan pria itu mengingatkan pada mantan kekasih yang dulu melakukan hal sama ketika tidak terima diputuskan. Hingga saat ini mengalami tulang bengkok pada bagian tangan, sehingga selalu merasa bersalah.


"Tolong ikut saya untuk diobati sebentar. Saya tidak akan menyuruh Anda untuk membayar, jadi tenang saja karena ini atas dasar perikemanusiaan sebagai sesama manusia."


"Aku tidak butuh semua itu!" Noah melangkah masuk ke dalam lift tanpa memperdulikan perawat wanita tersebut.

__ADS_1


Namun, pintu yang akan tertutup ditahan oleh perawat yang masuk ke dalam dan membuatnya merasa heran atas perbuatan wanita itu. "Apa yang kau inginkan sebenarnya?"


To be continued...


__ADS_2