Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Memberikan pelajaran


__ADS_3

Lima orang pria yang berjalan mendekati dua wanita di balik etalase kaca tersebut kini mengedarkan pandangan ke arah makanan.


"Ada makanan apa saja, Nona?" Salah satu pria mewakili empat teman yang juga tengah berkumpul untuk melihat menu makanan yang akan dipesan.


Putri yang belum sempat menjawab perkataan dari Mira ketika berpesan mengenai sikap yang pada pembeli laki-laki, kini memilih untuk langsung menjawab dengan bersikap sesopan mungkin.


Meski sama sekali tidak ada senyum yang tersungging dari bibir Putri saat ini karena khawatir jika melakukan itu akan menimbulkan kesalahpahaman dari lawan jenis.


Bahkan saat ini menyesali wajahnya yang terbilang cantik dan menjadi pusat perhatian dari para laki-laki yang selalu menatap dengan tidak berkedip. Tentu saja para pria muda itu jelas terlihat sekali ketika curi-curi pandang padanya.


Meskipun demikian, ia memilih untuk menuruti perintah dari Mira dan bersikap baik pada pembeli. Kemudian menjelaskan menu makanan yang hari ini ada di etalase kaca tersebut.


"Hari ini ada ayam sambal hijau, balado telur, rendang daging, lele goreng, tongkol pedas manis dan sayurannya bisa dipilih dari nangka muda, tumis kangkung, kacang dan tempe dimasak kecap dan beberapa sayur tidak pedas, yaitu sop dan sayur asem."


Kemudian Putri mulai mengambil piring makanan dari bahan rotan dan meletakkan alas kertas. Sengaja tidak memakai piring kaca karena akan repot mencuci. Jadi, memanfaatkan bahan yang tidak perlu dicuci, sehingga ketika membereskan hanya dengan langsung dibuang alasnya.


Putri memberikan waktu pada beberapa pria tersebut untuk memilih makanan yang ingin dipesan dan beberapa saat kemudian satu persatu menyebutkan pesanan yang berbeda, lalu duduk di kursi yang tersedia.


Sementara itu, Mira yang saat ini ikut membantu, sesekali memperhatikan lima pria muda tersebut.


"Mereka seperti mahasiswa karena masih muda dan berpenampilan keren. Bukankah menatap pria tampan akan baik otak seperti studi yang dilakukan oleh orang-orang pintar."


Sementara itu, Putri hanya geleng-geleng kepala mendengar perkataan Mira yang saat ini dianggap sangat konyol. "Ingat umur, Mira. Awas saja jika suamimu nanti marah karena kamu mengatakan pria lain tampan."

__ADS_1


"Jika menatap pria tampan baik untuk otak, puaskan saja nafsu di matamu itu. Aku tidak akan melakukannya karena sudah pernah sakit hati karena seorang pria yang sangat tampan. Sialan! Aku jadi mengingat lagi."


Putri mengembuskan napas kasar dan mencoba untuk menormalkan perasaan yang kembali membuncah begitu mengingat mantan suami yang tak lain adalah Arya.


Mira yang awalnya terkekeh, seketika berubah penuh penyesalan karena telah membuat Putri bersedih dan berakhir mengumpat.


"Maaf."


"Aku yang seharusnya meminta maaf karena marah saat mengingat pria berengsek itu." Putri yang baru saja mengambilkan makanan pesanan pembeli, kini beralih menatap Mira.


"Kamu saja yang mengantarkan ini karena aku tidak ingin mataku ternodai dengan wajah para pria itu. Jadi, Kamu bisa memuaskan diri untuk menatap pria tampan sepuas hati." Menyerahkan dua piring dari bahan rotan tersebut pada Mira.


"Baiklah. Asalkan kamu tidak melaporkanku pada suami, maka dengan sangat senang membantumu." Mira mengedipkan mata dan tersenyum pada Putri, lalu membawa pesanan dari para pria yang terdengar sedang berbincang sambil tertawa.


Kemudian meletakkan di atas meja dan kembali mengambil tiga lagi. "Silakan menikmati."


Saat Mira yang hendak berbalik badan untuk kembali membantu Putri, kini mendengar suara salah satu pria bertanya. Namun, panggilan yang didapatkan membuatnya seketika menampilkan wajah masam.


"Nyonya, apa Anda tahu kamar kos murah di sekitar sini? Kami hanya akan tinggal satu minggu di kampung ini untuk melakukan riset mengenai perkembangan di area sekitar tempat wisata sebagai tugas kuliah." Salah satu pria dengan tubuh tinggi kurus tersebut memutuskan untuk bertanya dengan mewakili yang lain.


Mira merasa sangat kesal ketika dipanggil nyonya, sedangkan tadi mereka memanggil Putri dengan sebutan nona. Padahal usia mereka tidak terpaut jauh dan juga sama-sama sudah memiliki anak.


Kini, Mira ingin kembali bertanya untuk menghilangkan rasa penasaran yang dirasakan. "Kenapa kalian memanggilku nyonya dan wanita itu nona? Bahkan kami sama-sama sudah menikah dan mempunyai anak. Lalu, kenapa kalian membeda-bedakan orang saat memanggil?"

__ADS_1


Refleks lima orang pria muda tersebut saling bersitatap dan sebenarnya ingin sekali tertawa ketika mendapatkan pertanyaan yang dianggap sangat konyol.


Namun, tidak ingin sikap mereka menimbulkan keributan karena wanita tersebut tersinggung.


Akhirnya pria yang saat ini memiliki paras lebih tampan dari yang lain, angkat bicara agar wanita itu tidak kembali kesal. "Maaf, Nona. Temanku ini memang tidak bisa memandang seseorang yang mempunyai aura kecantikan dari dalam karena selalu mementingkan fisik."


"Jadi, karena melihat Anda lebih berisi, sedangkan wanita yang ada di sana kurus kering, sehingga membedakan dengan memanggil seperti itu. Maafkan temanku dan ini tidak akan terjadi lagi." Mengalihkan perhatian dengan menatap tajam.


"Cepat minta maaf!" ucap pria itu pada temannya, agar tidak menambah masalah.


Benar saja, pria yang memanggil nyonya, akhirnya memilih untuk mengalah dengan bangkit berdiri dari kursi dan membungkuk hormat.


"Maafkan saya, Nona."


Refleks Mira yang merasa jika sikap para pria muda itu sangat menggemaskan sekaligus lucu dan konyol, berusaha untuk menahan diri agar tidak tertawa terbahak-bahak karena berhasil mengerjai mereka.


Masih berakting dengan wajah garang, Mira kemudian tidak berniat untuk memberitahukan jawaban dari pertanyaan pria yang membuatnya kesal.


"Karena aku sangat kesal atas perbuatan kalian, jadi cari saja sendiri dengan bertanya pada orang lain! Segera nikmati makanannya dan bayar sebelum pergi, oke!"


Puas memberikan pelajaran pada beberapa pria muda yang berhasil menghibur hati, Mira berbalik badan dan menghampiri Putri untuk menceritakan apa yang baru saja terjadi.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2