
Amira Tan masih merasa sangat kesal dengan menampilkan wajah masam dan tatapan tajam pada sosok pria yang bangkit dari kursi dan berjalan memutar meja untuk mendekatinya.
Tentu saja hal itu membuatnya merasa sangat gugup, hingga berkali-kali menelan saliva dengan kasar. Apalagi saat ini, pria yang sudah berdiri di hadapannya itu mulai semakin mendekat dan posisi membungkuk hingga wajah mereka berada pada jarak beberapa senti saja.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Amira yang dengan debaran jantung yang melebihi batas normal ketika berada pada posisi sangat intim dengan pria yang tidak berkedip menatap.
Sementara itu, Noah yang dari tadi merasa sangat gemas pada sang pengacara yang menjadi wanita pilihan karena sangat mencintai, sehingga tidak membuang waktu untuk mendekat dan menyadari bahwa Amira Tan saat ini sangat gugup hanya dengan jarak beberapa senti saja.
Kemudian mengarahkan ibu jari untuk mengusap pipi putih yang sudah berubah memerah dan seperti menunjukkan rasa gugup padanya.
"Lihatlah wajahmu yang memerah seperti kepiting rebus ini sangat menggemaskan dan selalu membuatku tergila-gila padamu." Mengarahkan tatapan intens dan tidak berkedip ketika mengunci pandangan dari wanita dengan bulu mata lentik dan hidung mancung tersebut.
Amira Tan bahkan merasa jantungnya seperti mau melompat dari tempat begitu mendengar pernyataan dari pria dengan jarak sangat intim tersebut. Bahkan mereka pernah melakukan hal yang lebih intim dari berdekatan seperti ini, tetap saja ia merasa sangat gugup.
Untuk menghilangkan kegugupan yang dirasakan, Amira Tan saat ini mengarahkan tangan untuk mendorong dada bidang Noah agar segera menjauh dari hadapan.
"Menjauhlah! Tingkahmu seperti anak remaja saja." Menelan kasar saliva begitu meloloskan kalimat ejekan.
Padahal yang terjadi adalah merasa tersindir dengan kalimat sendiri karena saat ini seperti menjadi anak remaja yang baru saja jatuh cinta pada seorang pria.
'Aku malah seperti menyindir diri sendiri ketika mengejek Noah. Kenapa jantungku seperti mau meledak dari tempatnya? Kenapa sekarang aku berubah seperti anak kecil?' gumam Amira Tan yang seketika membulatkan mata begitu menutup mulut, langsung dibungkam oleh bibir tebal yang selama ini menjadi candu untuknya.
__ADS_1
Noah dari tadi sudah sibuk untuk menahan diri agar tidak menyerang sosok wanita yang terlihat sangat menggemaskan di matanya. Namun, karena saat ini wanita di hadapannya tersebut seperti memancing api gairah karena bibir sensual dan seksi bergerak ketika berbicara, sehingga ingin sekali membungkamnya.
Jadi, tidak menyia-nyiakan kesempatan karena langsung melakukan hal yang dari tadi ditahan dan menikmati perbuatan ketika Amira Tan sama sekali tidak menolak dan memilih untuk membalas.
Noah saat ini merasa sangat yakin jika Amira Tan perlahan membuka hati dan mau menerimanya sebagai seorang kekasih, bukan lagi pria berstatus tidak jelas.
Karena bukan teman, tetapi pernah bercinta. Bukan juga kekasih karena tidak ada kejelasan dari hubungan mereka. Namun, hari ini semuanya sudah jelas karena Amira Tan tidak bisa menolak apapun yang dilakukan oleh Noah.
Seperti hari ini yang membuktikan bahwa sangat memuja Noah. Bahkan merasa kemenangan berada di tangan begitu melihat Jack beberapa saat lalu setelah bercinta.
Noah baru saja melepaskan pagutan setelah kehabisan pasokan oksigen. Kemudian membersihkan bekas perbuatan di bibir merah merekah wanita dengan paras cantik yang sangat dipujanya.
Amira Tan yang dari tadi menutup mata dan menikmati ciuman dari Noah, merasa sangat malu dan tidak tahu harus berbuat apa atas perbuatan dari pria yang sanggup menjungkir balikkan perasaan saat ini.
Bahkan indra pendengaran Amira Tan seperti dibelai dengan suara merdu Noah ketika memanggilnya dengan sebutan sayang. Pertama kali mendengar hal itu memang rasanya sangat aneh, tetapi entah mengapa ingin mendengarnya lagi.
Namun, merasa sangat malu untuk mengakui atau pun menyuruh pria yang menyandarkan tubuh pada meja tersebut mengulangi panggilan.
'Rasanya sangat aneh, tapi seperti candu dan aku ingin mendengarnya kembali menyebut sayang, tapi tidak mungkin aku mengatakan.'
Saat ia baru saja selesai bergumam sendiri di dalam hati, seketika membulatkan mata begitu mendengar bahwa pria dengan paras rupawan di hadapannya tersebut kembali memanggil.
__ADS_1
"Sayangku, kenapa diam saja? Cepat jawab aku sekarang! Aku tadi mengatakan sangat mencintaimu, bukan? Jadi, jawab aku!" ucap Noah dengan raut wajah penuh kekesalan karena tidak langsung mendapatkan sesuatu yang diinginkan.
Noah sangat berharap jika Amira Tan juga mengatakan mencintainya dan bukan karena bernafsu ketika hanya diam menikmati sentuhan saat bercinta beberapa saat lalu di sofa.
Ia yang sebenarnya sangat ingin berteriak mengungkapkan luapan perasaan bahagia ketika Noah kembali memanggilnya sayang dan mengungkapkan cinta. Namun, egonya sangat tinggi dan tidak ingin terlihat seperti sangat tergila-gila pada pria dengan paras rupawan tersebut.
Saat ini, ia hanya memilih untuk menggelengkan kepala dan mengunci rapat bibir karena suara seperti tercekat di tenggorokan.
'Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kukatakan saat ini untuk menanggapi ungkapan cinta dari Noah karena saat ini jantungku seperti mau meledak.'
Merasa sangat geram karena tidak mendapatkan apa yang diinginkan, Noah seketika mendekatkan wajah dan langsung mengincar leher jenjang putih yang ingin diberikan jejak kepemilikan di sana agar tidak ada lagi yang melirik wanita itu.
'Ini adalah hukuman untukmu,' gumam Noah yang sudah melakukan bibir di tempat yang diincar.
Amira Tan yang sama sekali tidak pernah menyangka akan mendapatkan serangan tiba-tiba dari pria yang sudah mengirimkan denyut kenikmatan dan kenyerian sekaligus pada kulit leher, sehingga bergetar hebat dan bergelinjang.
Saat tubuhnya memanas karena perbuatan intim pria yang baru saja mengirimkan kenyerian sekaligus kenikmatan secara bersamaan tersebut baru saja selesai dan sudah tersenyum menyeringai padanya.
"Apakah kamu lebih suka mendapatkan hukuman dari pada membalas pernyataan cintaku, Sayang?"
To be continued...
__ADS_1