Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Sudah sewajarnya


__ADS_3

Bambang Priambodo Priambodo saat ini menatap ke arah kaki putranya yang dari tadi dipijat dan ia tengah memahami apa yang baru saja dikatakan.


"Apa, kamu tidak merasakan apapun pada kakimu saat Papa memijatmu?" Ia saat ini ingin membuang pemikiran buruk di kepalanya dan berharap putranya salah berbicara dan menggelengkan kepala untuk tidak membenarkan apa yang ia katakan.


Namun, seketika ia merasa syok ketika putranya menganggukkan kepala tanda membenarkan apa yang baru saja ia pikirkan.


"Iya, Pa. Kakiku lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Aku sekarang menjadi seorang pria yang cacat dan tidak berguna yang hanya bisa menyusahkanmu semasa hidup." Suara Aldiano terdengar menyayat hati dan membuat siapapun yang mendengarnya pasti akan merasa bersedih.


Sementara itu, Bambang Priambodo yang dari tadi tidak mengalihkan perhatian dari kedua kaki putranya, kini seketika menatap ke arah wajah muram putranya yang tengah berkaca-kaca bola matanya dan ia paham seperti apa perasaannya sekarang.


Hingga ia seketika menoleh ke arah Putri yang baru saja mendekat dan berusaha untuk menghibur perasaannya yang sangat terkejut karena syok dengan kenyataan yang baru saja didengarnya hari ini.


"Tuan Aldiano pasti bisa berjalan lagi seperti saya dulu, Pa. Semuanya pasti akan baik-baik saja, tapi semua butuh waktu untuk kembali seperti semula." Putri tidak tega melihat ayah dan anak tersebut bersedih, sehingga tadi buru-buru mendekat untuk memberikan suntikan semangat dan tidak terpuruk dengan cobaan yang diterima.


Sementara itu, Bambang yang saat ini masih merasa syok dengan apa yang terjadi pada putranya, seketika kembali menghambur memeluk hadiahnya yang terlihat lemas tidak berdaya dengan bola mata berkaca-kaca.


"Putraku!" Ia bahkan saat ini berusaha sangat kuat untuk tidak menangis seperti beberapa saat lalu ketika mengungkapkan rasa bahagia karena berpikir jika putranya sudah bangkit dari kematian.


Ia sama sekali tidak menyangka jika putranya harus mendapatkan cobaan seberat itu dan membuatnya merasa bingung harus bagaimana menghibur. Namun, ia berusaha untuk menghibur sebisanya agar tidak semakin terpuruk.


"Putraku, semuanya akan baik-baik saja seperti yang dikatakan oleh Putri. Kamu akan bisa berjalan lagi asalkan rajin dan fokus melakukan terapi seperti yang dilakukannya dulu. Papa dulu bahkan sempat menemaninya ketika melakukan terapi." Ia beberapa kali menepuk bahu kokoh putranya agar tidak semakin bersedih menghadapi kenyataan yang menimpanya


"Nanti Papa juga akan menemanimu. Kau tidak perlu khawatir karena Papa akan selalu mendukungmu dan tidak akan pernah menganggapmu putra yang menyusahkan orang tua. Kamu fokus aja pada kesembuhanmu dan tidak perlu memikirkan yang lain. Mengenai perusahaan, biar Papa yang mengurusnya." Bambang Priambodo saat ini benar-benar menyesal karena tadi mengatakan hal yang membuat putranya bersedih.


Ia sama sekali tidak menyangka jika ternyata masih putranya sama dengan Putri. Bahwa kecelakaan itu meninggalkan kaki yang cacat dan membuat siapapun yang mengetahuinya pasti akan terluka, apalagi yang merasakannya pasti akan hancur.


Bambang saat ini menghentikan pijatannya karena tidak ingin membuat putranya semakin bersedih ketika tidak merasakan apapun atas apa yang dilakukannya.


"Maafkan Papa, Aldiano. Semua ini benar-benar di luar kuasa Papa. Selama ini Papa bisa menyelesaikan apapun dengan uang, sekarang Papa tidak bisa melakukannya karena membutuhkan proses untuk penyembuhan kakimu dan semua harus kamu lakukan sendiri dan dan jangan pernah menyerah sampai usahamu berhasil."


Ia saat ini benar-benar merasa dunianya hancur karena tadinya berpikir jika putranya sudah sadar dan sebentar lagi akan pulih, lalu hidup dengan normal dan menggantikannya mengurus perusahaan.


Bahkan saat ini ia merasa sangat menyesal karena tadi mengatakan jika keturunan keluarga Priambodo akan lahir. Ia saat ini menatap ke arah Putri yang terdiam di sebelah kanan ranjang perawatan putranya.


Ia ingin mengatakan sesuatu mengenai konferensi pers yang tadi dan membahas mengenai masalah keturunan yang ia lakukan untuk menipu publik dan sekarang membuatnya tidak tahu harus bagaimana.


'Mungkin Putri mempunyai solusi untuk masalah yang kubuat. Harusnya aku tidak menambah masalah dan sekarang malah yang terjadi adalah semakin rumit. Aku benar-benar tidak bisa berpikir jernih saat ini. Putraku tidak boleh tahu apa yang tadi aku sampaikan di konferensi pers,' gumam Bambang Priambodo yang saat ini menetap ke arah menantunya.


Ia salat mengarahkan tatapan penuh pengharapan dan membuatnya berharap menantunya tersebut mempunyai solusi dari apa yang ia katakan di depan media.


Namun, saat ini masih berusaha untuk terus menghibur putranya agar tidak patah semangat dan terus melakukan terapi.


Saat Aldiano menatap ke arah sana aja yang seperti sangat mengasihaninya, ia merasa seperti seorang anak yang tidak berguna karena bisanya hanya menyusahkan orang tua. Namun, ia tahu jika mengatakannya, akan mendapatkan kekecewaan dari sang ayah karena tidak suka mengatakan itu.


Kini, ia kita ingin membahas lebih lanjut mengenai keadaan kakinya yang memang sudah lumpuh dan hanya bisa menjalani terapi akan bisa berjalan lagi. Ia mengalihkan apa yang dibicarakan oleh sang ayah.


"Pa, aku ingin melihat konferensi pers yang dilakukan tadi di perusahaan. Aku pinjam ponselnya, Pa." ucap Aldiano yang tadi melupakan konferensi pers dan langsung mengingatnya begitu sang ayah datang.


Namun, ia mengerutkan kening ketika melihat sikap sang ayah yang sangat mencurigakan.

__ADS_1


"Tidak perlu melihatnya karena semuanya sudah beres dan Papa sudah menyelesaikan masalah yang terjadi." Bambang Priambodo awalnya merasa bingung harus menjelaskan tentang konferensi pers yang dilakukan, sehingga memilih untuk mengatakan seperti itu dan berharap putranya tidak bertanya lagi.


Sementara itu, Putri yang sudah mengetahui semuanya, hanya diam menatap ke arah mertuanya yang kebingungan ketika mendapatkan tatapan penuh pertanyaan dari putranya sendiri.


'Papa tidak akan bisa menolak keinginan tuan Aldiano yang sangat penasaran dengan konferensi pers itu. Pasti sebentar lagi semuanya akan terungkap dan tinggal menunggu waktunya saja,' gumam Putri yang saat ini hanya terdiam sambil menunggu mertuanya mengelak untuk tidak memberitahukan tentang apa yang disampaikan di depan media.


Hingga ia mendengar suara bariton dari mertuanya yang seolah ingin meminta bantuannya agar Aldiano tidak membicarakan tentang konferensi pers lagi.


"Kamu hibur Aldiano agar tidak melihat konferensi pers yang hanya akan membuat kesal karena perkataan dari para awak media yang menghujat." Bambang Priambodo masih berusaha untuk menghindar dan berharap putranya tidak lagi membahas.


Namun, ketika melihat putranya masih terus ingin mencari tahu, ia merasa sangat bingung harus menjelaskan dari mana.


"Pasti ada sesuatu yang terjadi pada konferensi pers itu, kan Pa? Makanya Papa tidak langsung memberikan videonya padaku." Aldiano semakin merasa curiga karena melihat sikap sang ayah yang sangat aneh dan membuatnya mengulurkan tangan pada Putri agar meminjamkan ponsel padanya.


"Apa kamu juga akan menyembunyikannya dariku? Sepertinya kamu sudah tahu dari tadi karena sikapmu seolah berubah setelah keluar tadi," ucap Aldiano yang saat ini mengulurkan tangannya dan menunggu mendapatkan ponsel milik wanita itu.


Putri yang saat ini merasa pusing karena harus selalu berada di tengah-tengah antara ayah dan anak tersebut. Ia akhirnya memilih untuk cari aman dan tidak ingin membantu siapapun dan memilih diam.


"Aku sangat lelah dan ingin tidur sebentar," ucap Putri yang saat ini berjalan menuju ke arah sofa dan membaringkan tubuhnya di sana.


Ia ingin ayah dan anak itu membahas masalah tanpa melibatkannya. Apalagi ia dari semalam tidak tidur dan kepalanya seperti mau melayang dan juga tubuhnya serasa ringan.


Alasan paling tepat untuk melarikan diri diri adalah beristirahat dan akan dimaklumi karena memang dari semalam belum tidur sama sekali.


Sementara itu, ayah dan anak yang saat ini sama-sama menatap ke arah Putri yang tengah membaringkan tubuhnya di atas sofa dan memejamkan mata, kini saling bersikap.


Mereka sama-sama merasa iba pada wanita itu dan membiarkan untuk beristirahat.


"Cepat katakan apa yang terjadi di konferensi pers itu, Pa. Aku benar-benar tidak bisa tenang jika Papa menyembunyikan sesuatu dariku. Sebenarnya ada apa? Apakah aku tidak berhak tahu jika perusahaan dalam masalah?" Ia saat ini masih menunggu saat ayah mau memberitahunya tentang apa yang sebenarnya terjadi.


Ia benar-benar merasa bingung jika sampai terjadi hal yang semakin buruk menimpa perusahaan, akan merasa sangat bersalah dan berdosa karena hanya bisa menyusahkan orang tua saja.


Sementara itu, Bambang yang saat ini masih mempertimbangkan harus mengatakan sesuatu pada putranya, mengembuskan napas kasar karena bingung bagaimana bisa menjelaskan kebohongannya tadi pada publik.


Akhirnya ia mengambil ponsel miliknya dari saku jas dan langsung menyerahkan pada putranya agar bisa melihat sendiri kesalahan fatal yang dilakukannya.


"Papa benar-benar tidak bisa menjelaskan dan lebih baik kamu lihat sendiri kesalahan fatal yang telah kulakukan," ucapnya yang saat ini sudah melihat putranya langsung mencari video konferensi pers perusahaan.


Sementara itu, Aldiano tidak bisa fokus mendengar perkataan dari sang ayah karena ia hanya ingin segera melihat video konferensi pers yang dilakukan oleh pria paruh baya yang sangat disayanginya tersebut.


Hingga ia pun kini sudah fokus melihat video tersebut mulai dari awal hingga akhir. Awalnya ia merasa tidak ada yang salah sama sekali, tapi begitu mendekati akhir, seketika membulatkan mata begitu mengetahui kesalahan yang dimaksud oleh sang ayah.


Ia seketika beralih menetap ke arah sang ayah yang terlihat kebingungan dan menyesali perbuatannya karena baru saja mengarang sebuah kebohongan besar di depan publik dan tidak bisa diselesaikan hanya dengan uang.


"Papa, kenapa harus menambahkan poin kebohongan di akhir? Bagaimana jika semua orang mengetahui bahwa papa berbohong hanya untuk meminta simpati publik?" Aldiano bahkan saat ini memijat pelipis dan merasa sangat kebingungan harus bagaimana.


Ia bahkan beralih menatap ke arah sosok wanita yang saat ini sudah memejamkan mata di atas sofa tersebut. Bahkan ia tahu jika Putri saat ini tidak tidur, tapi juga merasakan pusing setelah mengetahui apa yang dikatakan sang ayah pada media.


"Pa, hubungan ini akan menyerang Putri. Dia bisa dituduh telah membohongi Papa dan publik. Padahal Papa-lah yang mengarang semuanya. Lebih baik ungkapkan saja semuanya jika putri tidak hamil dan kami menikah hanya berdasarkan ingin melindungi kegilaanku dulu."

__ADS_1


Aldiano bahkan saat ini tidak bisa lagi mencari ide lain selain itu. Ia bahkan tidak bisa berpikir ketika sang ayah mengarang sebuah kebohongan besar yang pastinya sudah tersebar di seluruh media sosial.


Kini, Bambang Priambodo berdiam selama beberapa menit karena tengah mencari jalan keluar untuk masalah yang dihadapi dan ia khawatir apa yang dikatakan oleh putranya menjadi kenyataan dan semua orang berbalik menyerang Putri.


Padahal itu benar-benar murni kesalahannya yang mengarang sebuah cerita penuh kebohongan. Saat ini, Bambang Priambodo menoleh ke arah wanita yang sudah menutup kedua mata dengan tangan.


"Putri, Papa tahu kamu tidak tidur dan sedang memikirkan masalah ini. Lebih baik kamu mengungkapkan apa yang ada di kepalamu. Siapa tahu bisa menyelesaikan masalah yang Papa buat. Papa benar-benar minta maaf padamu." Ia yang saat ini baru saja menutup mulut, melihat pergerakan Putri yang membuka kelopak matanya.


Sementara itu, dari tadi Putri memang tidak bisa tidur karena memikirkan tentang perkataan dari mertuanya yang sangat membebaninya. Ia sempat berpikir jika apa yang dikatakan oleh Aldiano adalah sebuah solusi dari permasalahan itu.


Kini, ia bangkit dari posisinya yang tadinya berbaring dan sekarang bangkit berdiri. Kemudian berjalan menuju ke arah 2 pria yang kini seperti Tengah menunggu keputusannya sebagai hasil akhir dari masalah yang terjadi hari ini.


Ia bahkan memijat pelipisnya karena merasa pusing akibat kurang tidur serta banyak masalah yang dihadapi. Hingga ia saat ini menyampaikan sesuatu yang ada di kepalanya.


"Semuanya sudah terlanjur dan sepertinya hanya ada dua hal yang bisa menyelesaikannya."


"Katakan saja," ucap Aldiano yang saat ini berpikir jika semuanya akan baik-baik saja jika menuruti perkataan dari Putri.


Begitu juga dengan Bambang Priambodo yang seolah pasrah dengan keputusan menantunya karena memang Ia yang melibatkannya dalam masalah.


"Papa akan mendengarkan."


Putri seolah merasa menjadi seorang hakim yang ditunggu keputusan dan sebenarnya ingin sekali membuatnya berteriak karena bukan ia yang membuat masalah, tetapi harus mencari solusi.


"Yang pertama adalah mengatakan jika aku keguguran setelah beberapa bulan dan bekerjasama dengan Rumah Sakit agar lebih meyakinkan. Sementara yang kedua adalah mengatakan pada media jika aku berbohong pada Papa bahwa aku hamil dan itu kulakukan karena mengincar harta keluarga Priambodo."


Putri yang baru saja menutup mulut, seketika berjenggit kaget ketika mendengar suara dua pria tersebut menolak.


"Tidak! Itu tidak akan dilakukan!" ucap Bambang dan Aldiano secara bersamaan karena tidak ingin membuat Putri seolah-olah menjadi kambing hitam atas kesalahan yang tidak dilakukan.


"Tapi itu adalah jalan dan solusi yang terbaik. Kalau memang tidak bisa memakai poin kedua, lakukan saja poin pertama, meskipun itu membohongi publik untuk kedua kalinya," ucap Putri saat ini sudah tidak tahu apalagi yang harus dilakukan selain dua ide yang tadi terlintas di pikirannya.


Sementara itu, Bambang Priambodo yang tadinya berpikir jika putranya tidak cacat dan juga sudah kembali ke jalan yang benar, menganggap jika mempunyai keturunan bukanlah hal yang sulit.


Ia saat ini menatap ke arah putranya. "Aldiano."


"Ya, Pa?" Aldiano kini mengerutkan kening karena melihat tatapan dari sang ayah sangat mencurigakan dan membuatnya ingin tahu apa yang diinginkan.


Bambang Priambodo yang saat ini tidak mengalihkan perhatiannya dari putranya, seolah berharap besar jika Aldiano bisa memenuhi impiannya untuk mempunyai seorang cucu kandung.


"Kenapa harus memakai dua opsi itu jika ada opsi yang lebih baik?"


"Opsi yang lebih baik?" Aldiano seketika bersitatap dengan Putri karena sama-sama ingin tahu apa yang dimaksud oleh sang ayah.


"Opsi yang lebih baik itu apa, Pa?" Putri yang tadinya memutar otak untuk mencari tahu tentang apa yang dimaksud oleh sang ayah mertua, seketika sesuatu terbersih di pikirannya dan membuatnya menggelengkan kepala.


Hingga ia mendengar penjelasan dari sang ayah sama persis dengan yang ada di pikirannya saat ini, sehingga membuatnya membulatkan mata.


"Kalian adalah pasangan suami istri yang sah dan sudah sewajarnya jika hamil, kan?" ucap Bambang Priambodo yang saat ini sangat berharap jika putranya bisa menghamili menantunya dan perkataannya pada publik tadi menjadi kenyataan, sehingga tidak perlu mengarang cerita untuk kedua kalinya ataupun mengorbankan Putri sebagai kambing hitam.

__ADS_1


"Apa?" teriak Aldiano dengan raut wajah yang terlihat sangat syok dengan apa yang baru saja didengarnya dari sang ayah.


To be continued...


__ADS_2