Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Tidak akan pernah hidup tenang


__ADS_3

Sementara itu, Arya yang sama sekali tidak pernah berpikir untuk membeli cincin pada acara lamaran nanti malam, kembali merasa frustasi.


"Sial! Sepertinya aku akan gagal untuk pergi ke kontrakan. Bahkan sama sekali tidak terpikirkan jika hari ini akan memakaikan cincin pada Calista di acara lamaran." Arya kini kembali melihat jam tangan dan terdengar nafas kasar yang mewakili kekecewaan.


"Sepertinya aku harus cepat pergi bersama Calista ke toko perhiasan." Baru saja ia menutup mulut dan hendak berjalan keluar ruangan, mendengar suara dari ponsel yang berada di balik saku jas.


Kemudian langsung mengangkat panggilan yang tak lain dari Calista. Setelah menggeser tombol hijau ke atas, membuka suara untuk menjawab wanita itu.


"Ya, Calista."


"Arya, aku sudah berada di parkiran. Cepat turun karena aku sudah tidak sabar untuk menemanimu memberikan cincin untukku. Tadi, papamu mengatakan bahwa kamu akan mengajakku untuk membeli cincin. Aku sangat senang dan bahagia," seru Calista dengan wajah berbinar karena membayangkan jika Arya malam ini akan menyematkan cincin pertunangan di jari manis.


Raut wajah berbeda saat ini terlihat jelas dari Arya karena tidak bersemangat seperti wanita di seberang telpon. Namun, tidak bisa menunjukkan perasaan sebenarnya.


Akhirnya ia memilih untuk mengikuti alur yang diciptakan oleh Calista saat ini. "Aku baru akan turun ke bawah. Mungkin beberapa menit lagi akan tiba. Tunggu aku di sana."


"Cepatlah! Aku sudah menjadi tontonan para staf laki-laki karena berdiri di dekat mobilmu. Apa kamu tidak merasa cemburu pada para pria yang menatap penuh kekaguman padaku seolah sangat memuja calon istrimu yang mempunyai sangat cantik."


Masih dengan sangat percaya diri, Calista saat ini merasa menjadi seorang wanita paling bahagia di dunia karena berhasil memiliki Arya setelah hari ini menceraikan wanita bernama Putri.


"Katakan pada mereka jika berani menatapmu, aku akan memecat dari perusahaan," sahut Arya yang saat ini berjalan masuk ke dalam lift dan sesekali memijat pelipis ketika dipusingkan oleh perkataan Calista dan dianggap sangat tidak penting.


'Kenapa lama-kelamaan sikap berlebihan dari Calista membuatku merasa risi?' gumam Arya yang hanya bisa mengumpat dan mengeluh di dalam hati.

__ADS_1


Meskipun ia sadar jika semua yang ditunjukkan oleh Calista merupakan bentuk sikap seorang wanita yang sangat mencintai, tetap tidak merasa terharu ataupun bahagia hari ini.


'Jika dulu aku sangat bahagia ketika melihat sikap Putri ketika memujaku, tapi sekarang tidak bisa merasakan itu pada Calista—wanita yang akan kunikahi. Apakah Ini semua karena rasa bersalah pada Putri?'


Arya tersadar dari lamunan ketika kembali mendengar suara dari seberang telpon yang masih belum mematikan panggilan.


"Kamu sangat manis sekali, Sayang. Aku sangat mencintaimu. Lihat saja nanti saat kamu berada di hadapanku."


Saat Arya ingin menanggapi, tetapi melihat ke arah ponsel karena sambungan telpon telah terputus secara sepihak. Sebenarnya sikap Calista saat berbicara ditelpon, terdengar sangat menggemaskan.


Namun, hal itu sama sekali tidak membuatnya bisa tertawa hari ini. Hanya wajah datar yang tampak jelas mewakili perasaan ketika dikuasai oleh rasa bersalah.


'Rasanya hari ini semua terasa berat dan gelap. Seharusnya aku merasa bahagia, tapi tidak bisa karena hanya rasa bersalah yang kurasakan,' gumam Arya yang saat ini mendengar suara denting lift terbuka.


Arya kembali berakting tersenyum dan membalas lambaian tangan Calista. Saat sudah menghampiri wanita yang terlihat sangat bahagia tersebut, seketika ke belakang beberapa langkah atas perbuatan tiba-tiba Calista.


Calista merasa sangat bahagia hari ini, semakin gemas pada Arya ketika mengatakan akan memecat para laki-laki jika berani menatap dan menganggu. Begitu melihat Arya berada di hadapannya, langsung menghambur untuk mencium bibir tebal sang kekasih.


Tanpa memperdulikan beberapa staf perusahaan yang memperhatikan, Calista tetap melanjutkan aksi panas dan liar pada Arya.


Tentu saja sangat berharap jika Arya mau membalas ciuman, tetapi merasa kecewa karena pria itu seolah menolak dan melepaskan diri dengan menahan kedua sisi lengan Calista.


"Jangan seperti ini di depan para staf perusahaan. Aku tidak ingin mereka berpikir kamu adalah wanita ...."

__ADS_1


Arya tidak melanjutkan perkataan karena bingung harus mengatakan apa. Khawatir jika Calista akan tersinggung saat menyebutkan wanita murahan.


"Kamu bisa melakukan apapun pada tubuhku saat berada di apartemenmu. Jadi, jangan menunjukkan pada mereka semua!" Arya menunjuk ke arah beberapa staf perusahaan yang juga tengah mengambil kendaraan.


Saat ini Calista merasa sangat aneh dengan sikap Arya hari ini, tapi tidak ingin memancing amarah pria itu jika mengungkit mengenai perihal Putri.


Akhirnya memilih untuk berakting tersenyum dan mengedipkan mata. "Baiklah. Sepertinya aku kali ini harus bersabar. Lagipula sebentar lagi kita akan menikah, jadi bisa sepuasnya bermain-main denganmu tanpa harus menunggu kamu datang ke apartemen."


Arya membukakan pintu untuk Calista dan begitu wanita itu duduk di kursi depan, langsung menutup dan berjalan memutar.


Kemudian mendaratkan tubuhnya di balik kemudi dan memasang sabuk pengaman. Sebelum menyalakan mesin mobil, menoleh ke arah wanita yang melakukan hal sama.


"Apakah kamu ingin membeli cincin di toko perhiasan langganan keluargamu?"


"Kali ini, aku akan menuruti apapun yang kamu belikan untukku. Jadi, akan patuh sepenuhnya." Calista yang baru saja memasang sabuk pengaman, kini menoleh ke arah Arya saat menanggapi.


"Kalau begitu, ke toko perhiasan langganan mama saja karena aku pernah mengantarkan sekali dan mengetahui tempatnya." Arya saat ini kembali mengingat pernah membelikan kalung untuk Putri di hari ulang tahun dulu.


Tidak ingin terlihat Calista saat memikirkan Putri, kini Arya memilih untuk menyalakan mesin mobil dan mengemudikan kendaraan meninggalkan area perusahaan.


'Aku tadi masih melihat kalung masih menghiasi leher jenjang Putri. Apakah setelah aku menceraikannya, Putri masih mau memakainya?' gumam Arya yang kini fokus menatap ke arah depan dan seperti melihat bayangan wajah mantan istrinya di sana.


Tidak ingin dibayangi wajah Putri, Arya memilih untuk mengerjapkan kedua mata beberapa kali. 'Jika aku terus melihat wajah Putri di manapun, tidak akan pernah bisa hidup tenang bersama Calista.'

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2