
Sebenarnya Calista tidak ingin membahas tentang masa lalu yang sangat menyakitkan dan meninggalkan luka tak berdarah yang sampai saat ini tidak bisa disembuhkan.
Rasa sakit teramat mendalam dirasakan ketika mencintai seorang pria asing, tetapi melihat dengan mata kepala sendiri saat sang kekasih tercinta dengan wanita lain di apartemen.
"Ini sangat menyakitkan dan aku ingin melupakan pria berengsek itu, Arya. Jadi, jangan bertanya mengenai semua hal yang berhubungan dengan masa laluku."
Tanpa memperdulikan penolakan dari wanita dengan wajah yang sudah berubah memerah tersebut, Arya tetap ingin sekali mengetahui seperti apa kekasih Calista.
"Katakan saja dia ada di mana dan seperti apa wajah pria brengsek itu karena menyia-nyiakan wanita secantik dirimu."
Kalimat terakhir yang diungkapkan oleh Arya, seketika membuat sudut bibir Calista melengkung ke atas karena merasa senang ketika dipuji cantik oleh pria incaran dan ingin segera didapatkan.
"Apa kamu sedang merayuku dengan cara memuji?"
Arya hanya menggelengkan kepala perlahan karena tidak sependapat dengan pertanyaan Calista. "Aku tidak sedang memuji karena kamu memang cantik. Memangnya tidak menyadari hal itu? Kenapa harus terpuruk dengan seorang pria berengsek?"
"Padahal kamu memiliki semua hal yang diinginkan oleh para lelaki. Jadi, lebih baik lupakan masa lalu kelam dan buruk itu. Kemudian kamu menjalani masa depan dengan penuh semangat ketika membuka lembaran baru."
Calista saat ini tertawa karena merasa bahwa pria di hadapan tersebut seperti tidak bisa bercermin ketika memberikan nasihat. "Sepertinya aku harus membawa cermin besar untukmu, Arya."
"Kita bahkan sama-sama merasa patah hati karena seseorang yang sangat dicintai. Bahkan sakit tak berdarah kini dialami dan tidak tahu bagaimana cara untuk menyembuhkan."
__ADS_1
"Terkadang aku ingin mencari seseorang yang mengerti dan bisa menyembuhkan luka ini, tapi semakin berusaha, tidak menemukan juga. Sampai aku bertemu denganmu dan terbiasa bekerja bersama dan akhirnya muncul benih-benih yang seolah tumbuh dan menyingkirkan posisi pria brengsek itu."
"Aku sangat senang dengan perasaan ini dan menganggap bahwa merupakan penyembuh dari luka tak berdarah ini. Meskipun aku tidak akan pernah memaksamu untuk menerima cintaku. Biarkan rasa Ini tetap ada dan menyingkirkan pria sialan yang tidak menyadari akan besarnya cintaku di masa lalu."
Arya seolah tidak sanggup untuk berkomentar karena merasa sesak ketika mendengar perkataan dari wanita yang sudah dianggap sahabat baik sendiri. Rasa bersalah semakin menyeruak di dalam hati ketika mengingat perbuatan karena pengaruh minuman beralkohol.
"Maafkan aku karena semakin menambah luka di hatimu, Calista. Aku akan berusaha untuk mencari jalan keluar dari masalah kita, tapi bersabarlah. Kamu tahu sendiri bahwa masalahku saja belum selesai."
"Aku sepertinya memang tidak pernah bercermin ketika menasehatimu. Bukankah ada orang pintar yang mengatakan bahwa ketika dinasehati, jangan melihat orangnya, tetapi lihatlah nasihatnya? Jadi, aku berharap kamu bisa seperti itu—menerima perkataan baik yang baru saja kukatakan demi kebaikan."
Calista hanya mengangguk perlahan dan mengangkat ibu jari sebagai tanda persetujuan. "Kamu memang benar dan sepertinya aku harus menuruti apa yang kamu katakan hari ini."
"Apakah kamu mau mendengarkan ceritaku mengenai pria itu?" Calista menatap intens wajah dengan pahatan sempurna yang selama ini menjadi idaman.
Calista akhirnya memutuskan untuk membagi tentang masa lalu kelam yang dialami karena berpikir bahwa Arya bisa menjadi teman sekaligus pria yang dicintai.
"Saat aku kuliah dulu, selama setahun sangat fokus dan sering mendapatkan prestasi karena rajin belajar. Namun, pada tahun kedua, ada mahasiswa pindahan dari luar negeri yang masuk ke kelasku. Awalnya, aku sama sekali tidak peduli seperti biasa karena ingin fokus belajar."
"Namun, pria yang merupakan warga negara Inggris tersebut tiba-tiba mengajakku untuk sering belajar bersama karena dia juga sangat cerdas dan dosen sering memberikan tugas untuk ikut lomba. Jadi, di kelas, hanya kami yang terpilih. Mau tidak mau, aku menyetujui semua ajakan pria itu untuk belajar bersama demi mendapatkan hasil terbaik dari lomba."
Calista menatap Arya cukup lama karena ingin melihat ekspresi wajah pria itu. "Apakah setelah ini, kamu sudah mengerti seperti apa hubunganku dengan pria itu?"
__ADS_1
Arya tidak langsung menjawab karena sedang berpikir mengenai kehidupan Calista di luar negeri yang pastinya sangat bebas karena tidak ada orang tua yang mengawasi. Namun, tidak langsung mengatakan hal itu. Khawatir akan menyinggung perasaan Calista.
"Lebih baik lanjutkan saja karena aku tidak ingin menebak. Apalagi saat ini pikiranku sudah dipenuhi dengan banyak masalah dan tidak ingin terlalu memforsir otak untuk berpikir."
Embusan napas berat dan panjang terdengar sangat jelas dari mulut Calista. Akhirnya terpaksa melanjutkan cerita mengenai masa paling menyakitkan di masa lalu.
"Jadi, aku selalu belajar bersama, mulai dari restoran, perpustakaan, kelas, kantin dan semakin lama dekat. Akhirnya datang ke apartemenku untuk belajar dan beberapa kali masih aman. Namun, setelah satu bulan, pria berengsek itu merayuku."
"Aku belum pernah dekat dengan seorang pria dan begitu mendapatkan rayuan dari pria tampan dan pintar, tidak bisa menolak dan jatuh cinta. Mark Zuckerberg nama seseorang yang menjadi cinta pertamaku dan sekaligus mematahkan hatiku."
Arya kini memilih untuk bertanya mengenai hal yang bersifat privasi. "Jadi, kalian melakukan hubungan intim seperti layaknya pasangan suami istri di apartemen? Lalu pria itu berselingkuh darimu?"
Calista kini berkaca-kaca ketika mengingat tentang perbuatan Mark. "Aku saat itu datang ke apartemen Mark untuk mengucapkan selamat ulang tahun pada tengah malam. Karena mengetahui passcode apartemen, langsung masuk ke dalam kamar dan melihat dengan mata kepala sendiri ketika berada di atas tubuh seseorang wanita."
Suara serak dari Calista dan juga bulir bening kesedihan sudah mengalir membasahi pipi putih itu. Bahkan sudah menangis tersedu-sedu dengan tubuh gemetar hebat.
"Mark sangat berengsek dan aku langsung pergi dari tempat itu dan pindah kuliah. Aku tidak ingin melihat wajah pria yang telah mematahkan hatiku."
Arya yang merasa sangat iba karena melihat Calista menangis tersedu-sedu dengan tubuh bergetar, refleks bangkit dari posisi yang duduk di hadapan dan beralih memeluk erat.
Berharap bisa menenangkan perasaan hancur dari seorang wanita yang telah dikhianati oleh pasangan. Merasa bernasib sama karena telah dibohongi oleh seseorang yang dianggap sangat berarti dan dicintai, Arya yang merasa iba pada Calista, kini mengungkapkan sesuatu.
__ADS_1
"Bagaimana jika kita berdua berusaha untuk menyembuhkan luka yang dirasakan? Apakah kamu mau mencobanya? Aku akan berusaha mengobati lukamu dan kamu melakukan hal yang sama."
To be continued...