
Putri semalaman tidak tidur karena menunggu sosok pria yang saat ini ada di hadapannya masih belum sadarkan diri setelah proses operasi. Ia bukannya tidak ingin tidur, tapi tidak bisa karena pikirannya dipenuhi oleh beragam masalah yang terjadi.
Apalagi ia harus membangunkan mertuanya nanti agar tidak terlambat berangkat ke kantor. Ia saat ini menatap ke arah ponsel miliknya yang sudah menunjukkan pukul 05.00 WIB.
Ia adik berdiri dari posisinya dan berjalan mendekati pria paruh baya yang ternyata tidur di atas ranjang kosong. Saat ia mengangkat tangannya yang benar untuk menggerakkan tubuh mertua, terdiam selama beberapa saat ketika melihat raut wajah penat.
Akhirnya ia kembali menurunkan tangannya dan tidak jadi membangunkan karena berpikir jika wanita pria paruh baya tersebut dibiarkannya sampai 1 jam ke depan.
'Kasihan Papa. Biarkan Papa tidur satu jam lagi agar bangun nanti tidak merasa aku pusing di kepalanya karena hanya beristirahat beberapa jam saja,' gumam Putri yang saat ini beralih masuk ke dalam toilet dan mengambil air wudhu karena akan melaksanakan kewajiban sebagai umat muslim.
Beberapa saat kemudian, ia pun keluar dan mengambil perlengkapan yang semalam dibawanya. Saat ia hendak melaksanakan kewajibannya, melihat sekilas ke arah Aldiano.
'Tuan, saya akan mendoakan yang terbaik untukmu,' gumam Putri yang saat ini sudah melaksanakan ibadah dengan kusyu.
Sementara itu, sosok pria paruh baya yang tadinya tertidur pulas di atas ranjang kosong, terbangun dari tidurnya ketika mendengar suara gemericik air dari kamar mandi.
Namun, ia masih belum bergerak dari atas ranjang dan ingin mengetahui apa yang dilakukan oleh Putri.
Hingga ia menyadari jika menantunya tersebut tengah melaksanakan kewajiban dan membuatnya tersadar jika selama ini hidup jauh dari Tuhan karena terlalu sibuk dengan duniawi.
Saat melihat menantunya saat ini sudah melaksanakan ibadah dengan posisi memunggunginya, hatinya merasa damai hanya dengan melihat itu. Hingga ia saat ini bangkit dari posisinya yang berbaring dan sudah duduk di pinggir ranjang.
'Aku mempunyai seorang menantu yang sangat baik dan sudah benar-benar bertobat atas kesalahan yang dilakukan di masa lalu. Semua manusia punya kesalahan masing-masing dan orang-orang yang menghujat itu seperti merasa tidak punya salah saja,' gumamnya yang saat ini menatap ke arah sosok wanita di hadapannya tersebut.
Saat melihat Putri yang baru saja mengucapkan salam dan menunjukkan bahwa kini telah selesai, ia masih menunggu hingga menantunya tersebut bangkit dari posisinya yang masih bersimpuh di lantai sambil menengadahkan tangan dan kepala mendongak ke atas.
Putri saat ini tidak langsung bangkit berdiri setelah selesai, masih fokus berdoa dan berharap didengar oleh Sang penguasa alam semesta.
"Ya Allah, ampuni segala dosa hamba dan keluarga. Berikan keajaibanmu pada tuan Aldiano agar kembali ke jalanmu dan segera sadar dari dari kondisinya pasca operasi. Semoga rahmat-Mu selalu kami dapatkan saat menjalani hidup." Kemudian mengaminkan dengan mengusap lembut ke telapak tangannya.
Putri saat ini masih terdiam sambil menatap ke arah sosok pria yang ada di hadapannya masih belum bergerak sama sekali.
"Tuan Aldiano, Anda harus sembuh untuk mempertanggungjawabkan perbuatan di masa lalu. Aku akan selalu ada jika Anda membutuhkan sesuatu," ucapnya yang saat ini mulai bangkit berdiri dari posisinya dan melipat semua peralatan ibadah yang ada.
Saat ia berbalik badan, seketika memegangi dadanya dan membulatkan mata karena sangat terkejut ketika ternyata mertuanya telah bangun tanpa dibangunkan olehnya.
"Papa sudah bangun? Maaf, karena tadi ingin membangunkan pukul enam. Melihat wajah lelah Papa, membuatku tidak tega membangunkan pukul lima." Diandra kini mengembalikan peralatan ibadah pada tas miliknya.
Sementara itu, Bambang Priambodo yang dari tadi mengamati semua pergerakan menantunya, kini berniat untuk mengungkapkan sesuatu yang sebenarnya membuatnya malu.
Namun, ia berpikir jika ingin menjadi orang yang lebih baik, jadi menyisihkan rasa malu yang dirasakan saat ini.
"Putri."
"Iya, Pa." Putri yang tadinya membungkuk setelah selesai menyimpan perlengkapannya, kini beralih menatap yang masih duduk di tepi ranjang perawatan kosong tersebut.
Melihat wajah penuh keraguan yang saat ini membuatnya makin penasaran tentang apa yang hendak disampaikan padanya. 'Papa kenapa? Apa apa sedang memikirkan masalah yang terjadi di perusahaan serta nama baik keluarga Priambodo dipertaruhkan.'
Saat ia sibuk dengan pemikirannya sendiri, seketika merasa sangat malu ketika dianggap sebagai seorang wanita yang ahli ibadah.
__ADS_1
"Ajari Papa untuk beribadah sepertimu tadi. Papa sebenarnya sangat malu mengatakan ini, tapi sebelum semuanya terlambat, ingin belajar karena dari dulu tidak pernah sekalipun menghadap-Nya. Ajari Papa mengaji juga karena memang dari dulu tidak bisa." Bambang Priambodo selama ini hanya mementingkan urusan duniawi dan tidak mempedulikan masalah akhirat.
Jadi, ia saat ini menyadari bahwa hidup di dunia ini hanyalah sementara dan kematian akan menjemput kapan saja. Ingin mencari bekal sebanyak-banyaknya sebelum ia kembali pada sang pencipta.
"Papa selama ini beragama hanya di KTP saja, tapi tidak pernah melaksanakan perintah-Nya untuk beribadah. Sekarang Papa sadar dan ingin berubah," ucap Bambang yang saat ini menatap intens menantunya yang terlihat bingung dan tidak langsung mengiyakan permintaannya.
"Ada apa? Apa kamu tidak bersedia mengajari Papa?" tanya Bambang yang saat ini merasa kecewa jika sampai menantunya tidak mau membantu.
Refleks Putri menggelengkan kepala karena ia saat ini sama sekali tidak berpikir seperti itu. Ia perjalanan semakin mendekat agar berbicara lebih jelas untuk mengungkapkan apa yang saat ini dirasakan.
"Bukannya aku tidak mau mengajari Papa, tapi aku saja juga bukanlah orang yang pintar dalam hal agama. Aku takut salah mengajari dan membuat Papa tersesat. Jadi, lebih baik mencari guru seorang ustad agar belajar yang benar. Nanti sekalian aku juga ingin belajar yang lebih karena pengetahuanku sangat dangkal sangat dangkal, Pa."
Putri yang selama ini hanya mengetahui dasar-dasar semuanya ketika sekolah dulu dan belajar lagi dari buku yang dulu ia beli. Jadi, merasa tidak pantas untuk mengajari orang yang seharusnya mendapatkan pengajaran terbaik oleh ahlinya.
Bambang Priambodo saat ini terdiam dan membenarkan perkataan dari menantunya. Ia bahkan beralih menatap ke arah putranya. "Dulu keluargaku maupun aku selalu mementingkan sekolah umum demi bisa menjadi pintar dan hidup sukses."
"Tapi sekarang aku sadar jika harta melimpah pun tidak bisa membuatku tenang. Justru saat melihatmu tadi, rasanya hatiku ikut sejuk melihatnya. Jadi, berpikir juga ingin melakukannya dan menghabiskan masa tuaku dengan beribadah." Kini, ia berencana untuk melakukan apa yang disampaikan putri tadi untuk mencari guru agar mengajarinya.
"Papa pun berharap putraku juga demikian setelah sadar nanti. Semoga harapan kita menjadi kenyataan." Ia kini menatap ke arah jam di dinding yang menunjukkan pukul 06.00 WIB.
"Papa akan bersiap pulang daripada terjebak macet. Nanti aku suruh pelayan untuk mengantarkan pakaian ganti untukmu dan juga makanan. Papa serahkan Aldiano padamu." Menepuk lengan sebelum beranjak keluar dari ruangan.
Putri saat ini hanya menganggukkan kepala dan tersenyum. Ia selalu menunjuk ke arah pria yang masih belum sadar di atas ranjang tersebut.
"Lebih baik Papa juga pamit pada tuan Aldiano."
Kini, ia sudah berdiri di sebelah kiri ranjang, di mana putranya masih belum membuka mata dari semalam. "Aldiano, kamu harus segera bangun untuk mempertanggungjawabkan perbuatan. Jangan hanya bisa menyusahkan Papa saja."
"Jika tidak terima dengan perkataan Papa, cepat sadar dan selesaikan semua masalah yang terjadi karenamu," sarkas Bambang Priambodo yang sebenarnya tidak serius dengan perkataannya karena saat ini hanya ingin putranya terbangun karena emosi seperti biasanya ketika masih sehat.
Sementara itu, Putri yang dari tadi hanya diam sambil menatap siluet beragam mertuanya, sebenarnya bisa melihat kasih sayang pria paruh baya tersebut pada putranya sangatlah besar. Hanya saja, memang mengungkapkannya dengan cara berbeda dari orang lain.
'Tuan Aldiano, Anda harus melihat kasih sayang tuan Bambang tidak rela kehilangan dan rela menukar nyawanya agar Anda bisa kembali menjalani hidup,' gumam Putri yang saat ini melihat pria paruh baya tersebut membungkuk untuk mencium kening sang putra satu-satunya.
Hal itu membuat bola matanya berkaca-kaca dan merasa sangat terharu atas kasih sayang seorang ayah pada putranya. Ia saat ini mengingat ayah kandungnya yang bahkan tidak pernah memberikannya kasih sayang.
'Apakah saat aku mati, ayah kandungku akan bersedih atau tidak sama sekali?' gumam Putri yang merasa miris dengan kehidupannya karena sama sekali tidak dianggap oleh ayah kandung sendiri hanya karena tidak ingin sang istri kembali sakit.
Meskipun sangat mengagumi seorang pria yang mencintai istrinya, tapi itu tidak berlaku pada sang ayah karena sudah menyakiti orang-orang di sekitar dan ia menjadi korbannya.
Hingga lamunannya musnah begitu mendengar suara bariton dari pria yang kini keluar.
"Papa pergi sekarang," ucap Bambang Priambodo yang tadinya hanya sekilas berpamitan, tapi melihat Putri melamun, seolah mengerti apa yang mengganggu pikiran wanita itu.
"Putri." Ia sebenarnya merasa iba pada menantunya yang terlihat sangat lelah karena tidak tidur semalaman, tapi juga tahu jika wanita itu tidak akan mau disuruh pulang dan digantikan oleh pelayan.
Jadi, ia sengaja membiarkan Putri melakukan apa yang diinginkan tanpa berniat untuk memaksa. Apalagi saat membebaskannya dari penjara agar bebas bisa melakukan apapun, sama sekali tidak diterima dan membuatnya semakin mengagumi sosok menantu yang selama ini sangat disayangi.
"Aah ... Iya, Pa. Ada apa?" tanya Putri yang tadinya terkejut karena fokus
__ADS_1
"Tidak perlu mengkhawatirkan masalah yang terjadi karena semua akan Papa bereskan. Kamu fokus saja mengurus Aldiano dan semoga dia segera sadar." Kemudian kembali melangkah menuju ke arah pintu keluar begitu melihat menantunya menganggukkan kepala.
Saat ini Putri masih menatap siluet pria yang baru saja menghilang di balik pintu. Ia lalu mengembuskan napas kasar yang menghiasi ruangan perawatan penuh kesunyian itu.
Ia yang tadi merasa sangat haus, kini mengambil botol air mineral dan meneguknya perlahan setelah duduk di kursi yang ada di sebelah kiri ranjang perawatan sang suami.
"Tuan Aldiano, apa Anda tuli? Bahkan papa Anda tadi marah-marah dengan sangat keras, tapi kenapa tidak bangun juga? Apa aku juga perlu berteriak di telingamu untuk melampiaskan amarahku?" seru Putri saat ini tidak mengalihkan perhatian dari pria yang menurutnya malah lebih terlihat seperti seorang mumi karena wajah tidak terlihat.
"Apa perlu aku memotret Anda agar mengetahui perjuangan saat mengalami kecelakaan ketika berniat untuk bunuh diri?" Ia saat ini terdiam beberapa saat untuk mengambil keputusan.
Hingga ia pun kini mengambil ponsel miliknya yang tadi diletakkan di dalam laci saat berniat untuk beribadah. Kemudian akhirnya memutuskan untuk mengabadikan momen-momen pria itu dirawat.
"Semoga saat Anda sadar dan melihatnya nanti ketika sembuh, bisa menjaga diri agar tidak berbuat bodoh lagi dengan mengakhiri hidup." Saat ia memeriksa beberapa foto yang diambil, indra pendengaran menangkap suara lirih seperti rintihan dan membuatnya seketika mengalihkan perhatian dari layar ponsel ke arah sosok pria yang baru saja bersuara.
"Tuan Aldiano? Anda sudah sadar?" Ia saat ini bangkit berdiri dan segera memencet tombol di atasnya agar perawat serta dokter segera datang untuk memeriksa sang suami.
Ia yang saat ini masih berdiri di sebelah kiri ranjang perawatan, membuatnya seketika menggenggam telapak tangan yang perlahan bergerak tersebut dan mengusapnya beberapa kali agar merasakan sentuhannya.
"Syukurlah Anda sekarang sudah sadar, Tuan Aldiano," ucap Putri yang di saat bersamaan menoleh ke arah pintu yang terbuka dan satu orang perawat wanita berseragam biru serta pria dengan jubah putih yang merupakan dokter yang menangani sang suami sudah berjalan masuk.
"Apa pasien baru saja sadar?" tanya sang dokter yang saat ini segera memeriksa kondisi pasien yang baru saja sadar dari operasi.
"Iya, Dokter. Baru beberapa menit yang lalu, tapi dengan gerakan sangat lambat. Bahkan suara pun sangat diri dan awalnya membuat saya berpikir salah dengar, ternyata benar jika suami saya sudah sadar." Ia tidak menyangka jika setelah mertuanya pergi, malah sadar.
Nanti ia berniat untuk menelpon ayah mertuanya yang mungkin masih berada di dalam mobil yang mengantarnya pulang. "Apa semuanya baik-baik saja, Dokter?"
Sang dokter yang saat ini baru selesai memeriksa, terdiam beberapa saat untuk memikirkan sesuatu hal yang ada di pikirannya.
Hingga ia kini membuka suara sambil menatap ke arah pasien. "Ini berapa?"
Sementara itu, Aldiano yang baru saja membuka mata dan menormalkan cahaya yang masuk ke retina, tiga Rama kelamaan membuat pandangannya semakin terang. Jadi, saat sang dokter bertanya, ia bisa dengan jelas menjawabnya. Meskipun sebenarnya merasa sangat heran kenapa ditanya seperti itu.
"Dua."
Kemudian sang dokter mencubit kecil bagian kaki. "Apakah terasa?"
Refleks Aldiano hanya menggelengkan kepala karena mengatakan hal yang sebenarnya. Ia bahkan sama sekali tidak merasakan apapun dan tidak tahu kenapa ia mati rasa.
Tadinya saat pertama kali terbangun, berpikir jika berada di surga, tapi begitu mendengar suara yang sangat dihafal dan bisa melihat wanita yang tak lain adalah istri di atas kertas, jika sekarang masih berada di dunia dan sama sekali tidak diterima oleh Tuhan karena bergelimang dosa.
Itulah yang kira-kira saat ini dipikirkan oleh Aldiano dan tidak tahu harus bagaimana saat ini untuk mengekspresikan diri.
'Apakah Tuhan tidak mau menerima kematianku karena aku harus menjalani siksaan dulu di dunia sebelum mempertanggungjawabkan perbuatan di akhirat?' gumam Aldiano yang saat ini melihat yang dokter membawa sebuah alat di tangan dan dipukulkan ke kakinya.
Namun, ia masih tidak merasakan apapun dan membuatnya kini bisa mengerti apa yang terjadi padanya.
"Kakiku ... apa sekarang aku akan lumpuh?" tanya Aldiano dengan suara serak karena dipenuhi oleh perasaan membuncah.
To be continued...
__ADS_1