Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Merebut


__ADS_3

Putri saat ini melihat wanita yang dari dulu tidak pernah menyukai atau pun menerimanya dan seketika membungkuk hormat sebagai bentuk penghormatan. "Maaf. Tolong jangan salah paham karena ini semua adalah suatu kebetulan dan tidak ada unsur kesengajaan."


Ia saat ini malas menjelaskan panjang lebar karena memang harus segera pergi, sehingga menoleh pada Arya. "Jelaskan semuanya karena aku tidak ingin ada kesalahpahaman. Sekali lagi, saya turut berdukacita atas meninggalnya Calista."


Kemudian ia melangkah pergi meninggalkan lima orang yang ada di depan ruangan jenazah. Namun, ia mendengar suara-suara yang lebih mengarah menghinanya.


"Kenapa wanita ****** itu ada di sini? Cepat jelaskan pada Mama, Arya!" Rani yang kini menatap tajam ke arah putranya, mendengar suara dari orang tua Calista.


"Kenapa malah sibuk membahas wanita ******? Apa kalian benar-benar tidak punya hati? Bahkan saat ini putriku baru saja meninggal, tapi kalian seolah sudah mengganti posisi putriku!" sarkas ayah Calista yang masih memeluk erat sang istri.


Sang istri merasa syok dan dari tadi dan tidak berhenti menangis sepanjang perjalanan. Bahkan untuk bicara sudah tidak punya kuasa lagi. "Ayo, Sayang. Kita lihat putri kita."

__ADS_1


Tanpa menjawab, kini ia sudah berjalan menuju ke ruangan dan bingung karena tidak ada yang bisa ditanya.


"Baiklah," lirih sang suami. "Aku akan bertanya terlebih dahulu mengenai apa yang terjadi pada putri kita." Mereka sebenarnya tidak yakin dengan pemikirannya sendiri.


Bahwa setelah mendapatkan telpon dari besannya, seketika tidak mau makan dan kehausan di dalam mobil. Bahkan sampai sekarang sangat yakin jika putri mereka masih hidup di dunia ini.


"Pa, Ma, jangan seperti ini! Calista benar-benar sudah meninggal dalam kecelakaan karena efek mabuk." Arya tidak mau menjelaskan pada sang ibu mengenai Putri karena sangat iba pada mertuanya yang seperti linglung saat ini.


Pria paruh baya tersebut langsung menggendong sang istri menuju ke IGD. "Kamu harus kuat dan bertahan bersamaku selamanya, Sayang."


Saat Arya mengkhawatirkan keadaan mertuanya sekaligus merasa sangat iba, tapi tidak bisa berbuat apapun karena hati yang luka hanya bisa disembuhkan oleh waktu. Hingga ia kembali mendengar suara sang ibu.

__ADS_1


"Cepat jelaskan semuanya tanpa terkecuali pada Mama, Arya! Bagaimana bisa kamu bertemu dengan Putri?" tanya Rani yang mengarahkan tatapan tajam mengintimidasi pada Arya.


Arya tidak ingin membuang-buang waktu dan akhirnya kini menjelaskan semuanya tanpa terkecuali karena ingin melihat respon orang tuanya.


"Apa kalian puas setelah membuat konspirasi dalam hidupku? Memalsukan tes DNA hanya agar bisa memisahkan aku dengan Putri. Meskipun aku masih belum bisa mengingat tentang masa lalu bersamanya, tapi hatiku bergetar saat bertatapan dengan Putri," ucap Arya yang saat ini menatap tajam orang tuanya.


"Arya, Mama melakukan ini semua demi kebaikanmu!" Rani yang tidak mungkin bisa mengelak lagi, kini memilih jujur karena berpikir itu jauh lebih baik.


"Iya, Arya. Kami melakukan ini demi kebaikanmu sendiri," seru Ari Mahesa yang kini tiba-tiba memiliki pemikiran yang terlintas. "Apa kita rebut saja putramu dari wanita itu? Kamu adalah ayah biologis Xander dan sangat wajar jika merebutnya dari wanita itu."


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2