Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Tamat riwayatku


__ADS_3

Noah tidak ingin berdebat dengan Amira Tan, jadi memilih untuk berjalan menuju ke arah mobil tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Saat tidak ditanggapi oleh pria yang sudah masuk ke dalam mobil, Amira Tan mengejar dengan sedikit berlari menggunakan kaki telanjang. Bahkan beberapa kali meringis karena merasakan nyeri.


Selama ini selalu memakai alas kaki, jadi pertama kali tidak menutupi, merasakan nyeri saat berjalan dan kini berlari menuju mobil.


Begitu masuk dan duduk, Amira Tan mengarahkan tatapan tajam pada pria yang menyalakan mesin mobil dan melajukan kendaraan menuju ke arah jalan utama.


"Apa kamu tadi berpikir aku merampok uangmu? Jadi, sangat takut kehilangan? Aku tidak membawa tas yang berisi ponsel dan dompet saat kau membawaku ke rumah sakit. Jadi, aku pinjam uangmu yang tidak seberapa tadi."


Saat Amira Tan baru saja menutup mulut, mendengar Noah yang tertawa terbahak-bahak. "Dasar pria gila!"


Merasa sangat lelah, Amira Tan menyandarkan tubuh dan kepala sambil menatap jalanan yang mulai dicerahkan oleh cahaya matahari. Bahkan sudah tidak sepi seperti tadi karena mulai banyak kendaraan melintas.


Sementara Noah yang tadi tertawa miris saat Amira Tan menyebutkan jika uang yang menghiasi dompetnya dan merupakan gaji satu bulan dikatakan tidak seberapa.


"Jangan samakan semua hal sepertimu, Amira Tan. Bahkan semua uangku yang bisa dipakai untuk makan satu bulan dan kirim ke kampung halaman telah kamu rampas. Kenapa tidak memakai uangmu sendiri?"


"Memangnya kamu lupa kalau semalam mabuk dan tidak membawa tas masuk ke dalam rumah. Saat kamu mengatakan pada pria itu jika tas berisi dompet ketinggalan di rumah, ingin sekali menepuk jidatmu."


Amira Tan yang kini mengerjapkan mata karena baru mengingat semua, merasa sangat malu dan membuka dasbor mobil. Tentu saja kini melihat jika tas ada di sana.


"Aku benar-benar lupa. Kenapa aku sangat bodoh seperti ini? Bahkan aku belum tua, tapi sudah pelupa. Sepertinya aku harus memeriksakan diri ke dokter untuk mengobati ini sebelum semakin parah."


"Ternyata cinta butamu pada iparmu membawa dampak negatif. Seperti yang dikatakan oleh pria itu, kamu harus hidup berbahagia." Noah berbicara dengan sekilas menatap ke arah Amira Tan yang tengah memeriksa ponsel Putri.

__ADS_1


"Tidak sopan mencari tahu privasi orang lain. Jika Putri tahu kamu memeriksa ponselnya, pasti akan marah padamu." Noah tadinya ingin membahas mengenai uang yang tadi dirampok oleh Amira Tan dan meminta dikembalikan.


Apalagi sudah tidak punya uang untuk ongkos naik ojek online karena saat ini membawa mobil menuju ke arah alamat Amira Tan. Sebenarnya Noah tidak mengetahui alamat rumah Amira Tan, tetapi tanpa sengaja tadi melihat saat di rumah sakit diminta kartu tanda pengenal wanita itu oleh perawat.


Jadi, mengambil dari dalam dompet dan sekarang masih menyimpan itu. 'Amira Tan tidak menyadari jika tadi aku mengambil kartu tanda pengenalnya. Bahkan sempat merasa shock karena melihat banyak kartu kredit dan ATM di dalam dompetnya.'


Bahkan Noah sempat membuka dompet karena ingin tahu berapa banyak uang wanita kaya seperti Amira Tan. Namun, saat melihat hanya ada beberapa lembar saja, bisa menebak jika wanita itu jarang melakukan transaksi tunai karena selalu menggunakan kartu kredit.


Amira Tan masih berkonsentrasi melihat beberapa pesan Bagus pada Putri yang penuh perhatian. Menegaskan jika pria itu memang masih memiliki harapan untuk kembali rujuk.


Namun, sikap Putri tetaplah sama karena mencintai pria yang ternyata tak lebih baik dari Bagus karena telah berselingkuh saat pernikahan baru setahun.


Meskipun itu karena Putri dan Arya mengalami konspirasi, semua hal yang terjadi tidak bisa dikembalikan seperti semula ketika sadar dari kesalahan.


Seperti pepatah yang mengatakan 'Nasi sudah menjadi bubur', jadi hanya perlu mengikuti ke mana alur membawa mereka.


"Putri adalah saudara perempuanku, jadi tidak masalah aku membaca sebentar. Lagipula aku tidak akan membuka aib. Masalah uangmu tadi, akan kutransfer karena hanya menyimpan sedikit uang cash."


Kemudian ia mengambil ponsel di dalam tas dan menunggu jawaban dari Noah, tetapi mengerutkan kening karena melihat jalanan yang dilalui menuju ke arah kompleks perumahan keluarganya.


"Kenapa lewat sini? Apa kau sedang mengantarku pulang? Apa kam gila? Orang tuaku akan melihatmu nanti. Aku pun sedang berpakaian seperti ini." Amira Tan menunduk menatap ke arah pakaian yang dikenakan dan merasa khawatir jika nanti akan diinterogasi macam-macam oleh orang tua.


Kemudian Noah menepikan mobil di depan pintu masuk area perumahan. "Tenang saja karena aku hanya mengantarmu sampai di sini. Jadi, kamu bisa berpakaian lagi. Lagipula pakaian aslimu ada di kursi belakang."


Setelah mematikan mesin mobil, Noah kini melepaskan sabuk pengaman dan bergerak mendekati Amira Tan.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan?" Amira Tan mengerjapkan mata begitu melihat Noah mendekat dan posisi mereka berakhir dengan jarak hanya beberapa senti.


Tanpa berniat untuk menjawab, Noah kini langsung mengambil dompet Amira Tan dan melakukan hal seperti beberapa saat lalu ketika wanita itu mengambil semua uang yang dimiliki.


"Tentu saja untuk merampokmu. Aku tidak punya uang untuk bayar ojek online saat pulang." Kemudian beralih mengembalikan dompet Amira Tan ke dalam tas.


Saat Amira Tan berpikir jika Noah segera menjauh karena telah selesai, ternyata masih ada lagi hal yang berhasil memantik amarah begitu Noah berbicara.


"Aku akan mengembalikan ponsel Putri, jadi mampir dulu ke klinik." Noah mengambil ponsel Putri yang berada di dalam tas Amira Tan. "Oh ya, jam kerjaku berapa jam? Dimulai dari jam delapan pagi, kan?"


Saat Noah berbicara pada posisi sangat intim, bisa merasakan embusan napas yang membuat Amira Tan seperti menahan napas karena ada sesuatu yang aneh di dalam hati.


Refleks ia mendorong dada bidang Noah agar menjauh karena tiba-tiba merasa sangat sesak berada sedekat itu. Meskipun sudah melakukan hal yang sangat intim pagi buta tadi, tetap saja merasa sangat tidak nyaman saat Noah berada sangat dekat.


"Jangan sampai kau berbuat sesuka hati seperti ini di kantor nanti! Aku tidak ingin ada kabar tidak enak didengar nanti. Jangan buat para staf kantor salah paham dengan sikapmu yang seperti ini."


Merasa jika berhasil membuat Amira Tan merasa gugup hanya dengan berdekatan, Noah merasa ada secercah harapan. Kemudian tersenyum simpul dan kembali ke posisi semula.


"Baik, Bos. Siap, laksanakan! Kamu belum menjawab pertanyaan terakhir mengenai jam kerja."


"Dimulai jam delapan, tapi kau harus datang lebih awal dari pegawai lain. Pulang jam lima dan mengenai gaji awal, aku akan memberimu ...." Amira Tan tidak melanjutkan perkataannya karena mendengar suara ketukan di jendela mobil dan seketika menoleh.


Begitu melihat seseorang di luar pintu, refleks ia membulatkan kedua mata sekaligus membekap mulut. "Astaga! Tamat sudah riwayatku!"


"Siapa? Kenapa kamu sangat terkejut seperti melihat hantu?" tanya Noah yang kini mengamati seseorang ada di luar mobil.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2