Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Kecelakaan


__ADS_3

Arya hanya diam menatap ponsel yang berdering tersebut. Tentu saja Arya sangat tahu jika sang ayah menghubungi untuk bertanya mengenai keberadaan saat ini dan kenapa belum sampai di rumah.


Akhirnya ia memilih untuk menonaktifkan ponsel karena hari ini ingin menenangkan diri dan tidak ingin dipusingkan oleh hal lain karena masih ingin memikirkan tentang Putri.


Rasa khawatir sekaligus bersalah seolah tengah menyiksa dan kali ini berpikir mengenai berbagai macam kemungkinan yang menjadi pilihan Putri.


"Kira-kira pergi ke mana Putri?" Mendadak ia berpikir jika Putri pergi ke tempat Bagus.


"Apakah ia saat ini berada di kontrakan Bagus?" Arya sebenarnya berniat untuk menghubungi kontak Bagus, tapi karena berpikir mungkin saja jika pria itu bisa berbohong, kini memilih untuk bangkit berdiri dari posisi yang dari tadi duduk di tanah tanpa alas apapun.


Pastinya saat ini, bagian belakang Arya penuh dengan sisa-sisa tanah yang menempel. Saat sudah berdiri, membersihkan dengan cara menepuk-nepuk celana di bagian pantat, lalu berjalan menuju ke mobil.


Kemudian langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di balik kemudi. Ketika sudah mengemudikan menuju area kontrakan yang pernah menjadi tempat menjalin kasih dengan Putri, ia fokus mengemudi menuju tempat tinggal mantan suami wanita yang baru saja diceraikan tersebut.


"Apa aku harus merasa senang atau marah jika benar Putri berada di sana karena kembali pada Bagus? Jika benar, itu berarti memang semua yang dikatakan oleh mama memang benar."


Meskipun tidak tahu akan bersikap atau bereaksi bagaimana jika bertemu dengan Putri di kontrakan Bagus, Arya memilih untuk langsung menghadapi sendiri.


Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam, mobil Arya telah berhenti di depan rumah minimalis yang dulu pernah menjadi tempat tinggal sementara sekaligus menikah di sana secara sederhana.


Meskipun ada kegetiran defensif yang dirasakan oleh Arya ketika mengingat semua hal yang terjadi di masa lalu, tetapi tidak ingin terlihat terpuruk di depan Bagus.


Arya yang kini langsung mengetuk pintu kayu usang berwarna coklat itu, masih menunggu hingga pintu terbuka. Hingga beberapa saat kemudian melihat pintu terbuka.


Namun, Arya mengerutkan kening karena melihat seorang pria tidak dikenal membuka pintu dan bertanya.


"Mencari siapa?"


"Bagus. Apa dia sedang pergi?" tanya Arya yang saat ini masih menunggu tanggapan dari pria di hadapan.


"Bagus? Aku sama sekali tidak mengenalnya. Apakah pria itu tinggal di sini? Sepertinya kau mencari pria yang dulu mengontrak di sini. Kalau kata pemiliknya, pria itu pindah beberapa hari lalu."

__ADS_1


Arya kini terdiam sejenak dan masih mencoba untuk berpikir. Hingga kemudian memilih untuk berpamitan pada pria yang menjadi penghuni baru di rumah itu.


Begitu kembali ke mobil, ia yang kembali melajukan mobilnya menuju ke jalan utama, tiba-tiba mengingat sesuatu. Bahkan sampai menepuk jidat berkali-kali.


"Aku lupa saat Putri mengatakan jika Bagus akan kembali ke kampung halaman dan mengatakan tidak ada hubungan dengan pria itu."


"Sebelum aku mengetahui di mana keberadaanmu, tidak akan pernah tenang. Mungkin akan lebih baik kamu tinggal bersama pria itu. Namun, jika tidak, bagaimana aku bisa berpikir jernih ketika mengkhawatirkan keadaanmu?"


Arya kini meraih earphone agar memudahkan ketika menelpon seseorang. Ya, untuk mengurangi intensitas rasa bersalah, memilih untuk menyuruh seorang detektif mencari tahu alamat kampung halaman Bagus dan menyelidiki apakah Putri telah kembali pada pria itu.


Setelah menceritakan semua hal mengenai Putri dan Bagus, kini Arya berharap bisa mendapatkan kabar secepat mungkin karena tidak ingin disiksa rasa bersalah jika belum mengetahui keadaan Putri.


"Aku ingin kamu secepatnya memberikan kabar. Nanti, akan kukirimkan foto pria dan wanita yang harus kau cari itu."


"Baik, Tuan Arya. Saya akan usahakan secepatnya memberikan kabar pada Anda," ucap sang detektif yang kini menyunggingkan senyuman begitu mendengar suara bariton dari seberang telpon.


"Aku akan mentransfer sebagai uang muka. Mengenai kekurangan akan kubayar setelah kamu berhasil menyelesaikan perintahku," ucap Arya yang kini langsung mematikan sambungan telpon.


Hingga sekarang selalu menggunakan jasa detektif untuk membantu mencari tahu mengenai hal apapun.


Kini, mobil mewah berwarna hitam yang dikendarai oleh Arya telah melaju semakin menjauh dari jalan pulang. Memang hari ini Arya tidak berencana untuk kembali karena ingin menenangkan pikiran hari ini.


Arya berniat untuk pergi ke Club malam, tapi berpikir jika mabuk, akan mendapatkan masalah baru.


Tidak ingin kejadian seperti yang terjadi bersama Calista terulang, kini ia memilih untuk pergi ke hotel dan berpikir akan diam di dalam kamar sambil menikmati minuman beralkohol.


"Hanya malam ini saja. Aku ingin bisa tenang tanpa ada yang mengganggu," ucap Arya yang saat ini berpikir untuk menunda acara pertunangan.


"Jika aku tetap melanjutkan acara sesuai perintah papa, hanya akan mengacaukan segalanya. Bahkan saat ini aku ingin menghancurkan apapun untuk melampiaskan amarah!" sarkas Arya yang saat ini sudah mengempaskan tangan pada kemudi dan kembali fokus menatap ke arah jalanan yang sudah semakin gelap.


Hanya ada lampu jalanan di kanan kiri baju jalan sebagai penerangan dan Arya kini menginjak pedal gas untuk semakin menambah kecepatan, agar segera bisa tiba di hotel yang dituju.

__ADS_1


Tanpa memperdulikan apapun seperti keselamatan yang mungkin akan terancam jika sampai mengalami kecelakaan. Bahkan Arya langsung mengerem mendadak saat tiba di lampu merah.


Nasib baik tidak sampai menabrak mobil yang berhenti di depan. Suara embusan napas kasar menghiasi ruangan di dalam mobil yang saat ini penuh keheningan.


Selama beberapa detik menunggu lampu merah berubah hijau, beberapa saat kemudian Arya kembali melajukan kendaraan menuju ke hotel yang berada sekitar lima ratus meter lagi.


Namun, saat di persimpangan jalan, Arya melihat ada pengendara motor yang tiba-tiba melintas di depan mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi dan akhirnya memilih untuk membanting setir ke kanan karena di sebelah kiri ada mobil.


Hingga perbuatan Arya tersebut mengakibatkan mobil yang dikemudikan oleh dan seketika terbalik dan bergerak sampai beberapa meter.


Banyak kendaraan yang melintas berusaha untuk menghindari kecelakaan beruntun tersebut. Hingga jalanan utama itu kini dipenuhi mobil-mobil yang saling menabrak hingga seperti sampah berserakan.


Meskipun tidak separah yang dialami mobil berwarna hitam dengan di dalamnya ada sosok pria yang masih bisa tersadar meskipun sudah dipenuhi oleh darah yang mengalir dari kepala, tangan dan kaki.


"Putri, maafkan aku. Sebelum mati, aku ingin sekali bisa bertemu denganmu," lirih Arya yang masih menahan rasa sakit teramat sangat pada sekujur tubuh ketika terhempas sangat kuat ketika mobil terbalik.


Seolah kilasan kejadian di masa lalu yang terjadi mulai terekam di otak seperti kaset yang berputar dan Arya merasa jika saat ini ajal telah menjemput dan satu-satunya yang dikatakan hanyalah menyebut nama sosok wanita yang tak lain adalah Putri.


Merasa sangat bersalah pada wanita yang masih sangat dicintai, Arya hanya bisa mengungkapkan permohonan maaf hingga lama-kelamaan kesadaran mulai menghilang.


Kini, kelopak mata yang tadinya terbuka tersebut telah tertutup dan tidak lagi mendapatkan cahaya karena telah kehilangan kesadaran.


Sementara itu, beberapa orang yang terluka langsung dibantu keluar dari mobil dan menepi di pinggir jalan.


Menunggu ambulans datang karena kebetulan di persimpangan itu ada pos polisi yang dan langsung sigap bergerak untuk menertibkan lalu lintas kendaraan.


Bahkan saat ini dibantu oleh beberapa orang untuk mengeluarkan korban paling parah yang berada dalam mobil terbalik.


Salah satu polisi mencoba untuk mengecek tanda-tanda vital dari korban tersebut dan langsung mengatakan sesuai yang diketahui.


"Korban ini ternyata telah ...."

__ADS_1


To be continued....


__ADS_2