Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Mantan narapidana


__ADS_3

Noah yang saat ini jatuh terduduk di atas kursi karena merasa apa yang dikatakan oleh anak benar adanya, membuat ia kali ini tidak bisa berkutik dan menutup rapat bibirnya.


'Apa yang saat ini dikatakan oleh pengacara ini memang benar. Aku sudah melakukan hal yang tidak pantas pada seorang wanita dan bisa mendapatkan hukuman jika ia menuntutku.'


Masih terdiam karena tidak tahu harus berkomentar apa atas permintaan dari sosok wanita yang tengah menatap dengan tajam, Noah saat ini berpikir bahwa pantas untuknya dituntut oleh sang pengacara yang berkuasa tersebut.


Hingga ia pun menguatkan hati dan juga tekad saat menemukan solusi dari masalah yang dihadapi. Noah kini bangkit berdiri dari posisi yang tadi jatuh terduduk di atas kursi. Kemudian ia mengarahkan kedua tangan ke hadapan Amira Tan.


Perbuatannya persis seperti seorang penjahat yang menyerahkan diri pada polisi. "Kau bisa melakukan apapun padaku sekarang karena aku menyerahkan diri padamu."


"Perbuatanku memang bisa diartikan sebagai pelecehan terhadap seorang wanita dan pantas mendapatkan hukuman. Meskipun aku tahu bahwa segala sesuatu itu ada sebabnya, tapi itu tidak pantas digunakan sebagai alasan pembenaran diri."


"Jadi, hukum saja aku dengan menjebloskan ke penjara." Noah kali ini sudah pasrah karena berpikir tidak ada jalan keluar dari masalah yang terjadi di antara mereka.


'Mungkin saja aku bisa tenang saat berada di penjara karena tidak akan mengingat apa yang kami lakukan,' gumam Noah di dalam hati dan ia saat ini sudah tidak lagi bisa berpikir jalan lainnya.


Sementara itu, Amira Tan yang awalnya berpikir jika Noah akan mengatakan bahwa mereka sama-sama impas setelah melakukan kesalahan, tetapi semua itu tidaklah seperti yang dibayangkan.


Amira Tan saat ini masih mengarahkan tatapan menusuk pada pria dengan iris berkilat yang tengah berdiri di hadapan. "Jadi, kau memilih untuk menyelesaikan permasalahan yang kita hadapi ini dengan melibatkan hukum?"


Noah tidak langsung menjawab karena sejujurnya merasa ragu. Ini adalah pengalaman pertama untuknya berurusan dengan polisi dan petugas pengadilan. Tentu saja ia tidak menginginkan dipenjara karena akan berdampak pada kehidupannya.

__ADS_1


"Di dunia ini, tidak ada orang yang menginginkan dipenjara, tapi sepertinya semua perbuatan buruk harus mendapatkan balasan setimpal. Jadi, aku ingin menebus kesalahanku padamu."


"Namun, aku tidak akan berhenti untuk membuatmu bertanggung jawab karena menjadi penyebab dari semua yang terjadi. Kau pun harus siap jika nanti aku mengatakan semuanya karena saat berada di pengadilan, tidak mungkin menutupi kejadian semalam."


"Sekarang kita impas karena sama-sama mempertanggungjawabkan perbuatan, bukan?" Saat Noah baru saja menutup mulut, ia melihat wanita yang merupakan pengacara tersebut berjalan keluar dari meja yang menjadi penghalang di antara mereka.


Hingga suara pukulan yang mendarat di lengannya, menghiasi ruangan berukuran luas tersebut, serta bibirnya meringis karena menahan rasa nyeri.


"Apa yang kau lakukan?"


Amira Tan yang dari tadi menunggu kalimat impas dari Noah, kini didapatkan, tetapi dalam kondisi yang sangat konyol. Ia merasa sangat geram pada sosok pria yang saat ini dianggapnya terlalu bodoh sekaligus lugu.


"Dasar pria naif!" sarkas Amira Tan yang dua kali memukul lengan kekar pria di hadapannya. "Apakah dari dulu kau seperti ini? Bersembunyi di balik wajah polosmu itu?"


Merasa sangat geram dengan apa yang saat ini ditunjukkan oleh Noah, kembali membuat Amira Tan mengembuskan napas kasar. "Sabarkan aku saat menghadapi pria bodoh ini, Tuhan."


Amira Tan sengaja menaikkan nada suaranya, agar Noah mendengar apa yang baru saja diungkapkan. Kemudian ia kembali berbicara untuk menyadarkan pria yang berprofesi sebagai bartender di klab malam.


"Saat kau mengatakan impas tadi, seharusnya itu bisa diartikan bahwa kita sama, yaitu melakukan kesalahan dan menyadari itu merupakan hal yang bisa diselesaikan dengan cara berkomunikasi secara baik-baik, bukan? Jadi, tidak perlu mempermalukan diri sendiri dengan membuka aib kita di pengadilan."


Amira Tan saat ini ingin mengatakan bahwa ia tidak menganggap apa yang dilakukan oleh Noah adalah sebuah pelecehan karena kejadian semalam itu mengalir begitu saja atas dasar suka sama suka. Jadi, tidak ada unsur paksaan di antara mereka.

__ADS_1


Karena yang sebenarnya terjadi, mereka saling menikmati dan tidak merasa tersakiti atau pun dilecehkan. Jadi, Amira Tan ingin pria yang jelas terlihat sama sekali tidak berpengalaman saat berhubungan dengan wanita tersebut mengerti dan membatalkan untuk melibatkan aparat kepolisian dan yang lainnya.


"Lupakan kejadian semalam dan kita anggap tidak terjadi apapun. Jadi, kau tidak perlu mendekam di penjara."


Noah yang dari tadi diam karena mendengarkan kalimat panjang lebar dari sosok wanita yang saat ini tidak mengalihkan pandangan padanya, kini langsung menyahut, "Kau pun tidak akan merasa malu dan merasakan karirmu hancur hanya karena masalah memalukan ini, bukan?"


"Tepat sekali!" Amira Tan kini mengulas senyuman tipis karena membenarkan apa yang dikatakan oleh pria polos sekaligus bodoh tersebut.


"Sayangnya aku tidak bisa melupakannya dengan mudah. Bukankah tadi sudah mengatakannya padamu?" Noah kembali mengulangi hal yang sama dan sebenarnya membuatnya merasa bosan.


Sementara itu, Amira Tan pun merutuki kebodohannya karena ia sendiri yang membuat masalahnya menjadi rumit.


'Dasar bodoh! Seharusnya aku menuruti perkataannya yang menyuruhku untuk membantunya melupakan kejadian semalam. Bukan malah menuntut balik pertanggungjawaban konyol darinya. Astaga! Lama-kelamaan bersama dengan pria ini, bisa berakibat membuatku gila.'


Puas mengumpat diri sendiri, meski hanya di dalam hati, Amira Tan pun kini mencoba untuk bersikap seolah ia adalah wanita yang berpengalaman.


Padahal ia tidak tahu menahu apa yang harus dilakukan untuk menuruti permintaan Noah. Namun, ia berpikir harus profesional dan menganggap ini adalah sebuah tantangan.


'Aku pasti bisa membuat pria ini melupakan kejadian semalam. Tidak ada hal yang membuatku menyerah dan gagal karena selama ini pantang menyerah saat menghadapi berbagai macam kasus.'


Setelah mencoba untuk menghibur diri sendiri dengan memenuhi pikiran positif di kepala, Amira Tan pun kini mulai membuka suara, "Baiklah. Aku akan bertanggung jawab padamu."

__ADS_1


"Jadi, kita lupakan pemikiranmu untuk mendekam di penjara. Kau masih muda dan mempunyai masa depan yang panjang. Jangan sampai meninggalkan hal buruk seperti dipanggil mantan narapidana."


To be continued...


__ADS_2