Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Tidak punya perikemanusiaan


__ADS_3

Refleks pasangan suami istri paruh baya tersebut membulatkan mata dan saling bersitatap. Mereka sama sekali tidak pernah berpikir akan seperti itu.


"Arya mengalami kecelakaan?" lirih pria yang tadi dikuasai oleh amarah dan sekarang seolah langsung hilang dan berubah menjadi rasa iba dan penyesalan.


"Iya. Kenapa Papa tidak mengangkat panggilan dari orang tua Arya yang ingin menjelaskan keadaan putra mereka yang mengalami kecelakaan? Jadi, mereka memilih untuk mengirimkan pesan padaku karena aku juga tidak mengangkat telpon saat ponsel berada di dalam kamar."


Calista benar-benar terpukul sekaligus marah pada sang ayah yang terlambat mengetahui bahwa pria yang dicintai saat ini baru saja mengalami kemalangan.


"Kenapa ini harus terjadi di malam ini? Bahkan kami sudah memutuskan untuk saling mencintai dan memahami, sehingga memilih menikah. Namun, kenapa takdir mempermainkan cinta kami?"


Refleks wanita paruh baya tersebut langsung memeluk erat putrinya untuk menenangkan perasaan hancur yang dirasakan saat mendengar pria yang dicintai mengalami kecelakaan.


"Tenanglah, Sayang. Mama yakin semuanya akan baik-baik saja. Arya sudah dibawa ke rumah sakit, bukan? Jadi, pasti sudah ditangani oleh tim dokter."


"Aku tidak tahu, Ma karena belum menghubungi mereka saat masih terpukul. Aku sangat takut mendengar kabar buruk dan Arya meninggalkanku selamanya." Calista masih berbicara dengan suara setelah dan menangis tersedu-sedu di pelukan sang ibu.


Sementara itu, pria paruh baya yang saat ini tidak bisa berbicara apapun karena menyesal telah mengungkapkan hal-hal buruk pada keluarga Arya. Namun, juga berpikir sesuatu mengenai nasib Calista.


'Jika Arya mengalami kecelakaan nahas, tidak akan berpengaruh pada fisik pria itu, bukan?'


Tidak ingin memikirkan kemungkinan buruk sendiri, sehingga mengatakan pada ibu dan anak tersebut yang saling berpelukan.


"Sayang, Bagaimana jika kecelakaan ini membuat Arya meninggal ataupun cacat? Kamu harus siap menerima semua kemungkinan buruk karena kita tidak tahu apa yang terjadi. Jika kemungkinan buruk terjadi, seperti Arya cacat, apa kamu masih akan mencintainya dan mau menerima kondisi kekurangan pria itu?"

__ADS_1


Calista yang merasa bersedih saat menangis tersedu-sedu ketika mengkhawatirkan keadaan pria yang dicintai, seketika bertambah marah pada sang ayah saat mengatakan hal buruk.


"Papa seharusnya menghiburku yang sedang bersedih, bukan malah menambah beban seperti ini. Arya akan baik-baik saja dan kembali seperti sedia kala setelah mendapatkan perawatan dari dokter. Orang tua Arya pasti akan memberikan semua yang terbaik untuk putra mereka agar bisa sembuh."


Sementara itu, pria yang saat ini sama sekali tidak sependapat dengan putrinya, ingin menyadarkan, agar bisa menerima semua kemungkinan buruk.


"Papa tahu itu, tapi tidak ada manusia bisa mengubah takdir yang telah ditetapkan. Seperti jodoh rezeki dan maut sudah diatur oleh Tuhan. Kamu harus siap dengan segala kemungkinan buruk yang mungkin terjadi, tapi jika semuanya baik-baik saja, patut bersyukur."


"Jika Tuhan sudah memberikan takdir buruk pada Arya, memangnya apa yang bisa kau lakukan? Apakah kamu akan ikut menemani di liang lahat? Ataukah akan dengan sabar merawat pria cacat sebagai suami? Jadi, pikirkan itu baik-baik sebelum memutuskan."


Calista benar-benar sangat kesal karena sang ayah semakin membuatnya merasa takut akan terjadi sesuatu hal yang buruk akibat kecelakaan yang menimpa Arya.


Bahkan saat ini bisa melihat siluet sang ayah yang masuk ke dalam kamar, seolah tidak memperdulikan kabar yang baru saja diberitahu oleh keluarga Arya.


Kemudian Calista beralih menatap ke arah sang ibu untuk mencari jawaban atas pertanyaan yang baru saja diungkapkan. "Apa Mama juga tidak memperdulikan Arya Setelah mengalami kecelakaan? Apakah aku harus sendirian menghadapi hal buruk ini?"


Sementara itu, wanita yang saat ini bisa mengerti perasaan dari putrinya, memilih untuk memeluk erat tubuh yang sangat lemah itu dan mengusap lembut beberapa kali punggung belakang.


"Mama bisa memahami perasaan kalian. Papa butuh waktu untuk memikirkan hal ini karena sangat mengkhawatirkan keadaanmu sebagai putrinya. Semua orang tua ingin memberikan yang terbaik pada keturunan, agar bahagia dan tidak hidup menderita. Jadi, ingat itu baik-baik di pikiranmu."


Calista yang tidak bisa berpikir jernih saat ini, hanya bisa diam dan sama sekali tidak menanggapi karena masih sibuk menangis dengan bulir air mata yang menganak sungai di pipi.


Bahkan wajah yang tadinya sangat cantik tersebut kini berubah sebab dengan make up berantakan.

__ADS_1


"Mama tahu bahwa kau sangat mencintai Arya, tapi sepertinya takdir tidak berpihak padamu setelah kejadian hari ini. Namun, tetap saja kita harus pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Arya. Mama akan berbicara pada Papa agar tidak merasa egois."


Kemudian melepaskan pelukan pada putrinya. "Lebih baik kamu tenangkan diri dulu sejenak di kamar dan membersihkan diri. Lihatlah wajahmu yang sangat berantakan ini. Cuci muka, agar lebih terlihat segar. Mama akan berbicara dengan papamu."


Calista masih tidak menjawab dan memilih hanya menganggukkan kepala, lalu masuk ke dalam ruangan kamar tanpa menoleh ke belakang lagi karena saat ini pikiran dikuasai oleh rasa khawatir akan keadaan pria yang sangat dicintai.


Bahkan ditambah dengan perkataan sang ayah yang menjelaskan tentang kemungkinan terburuk dan Calista masih belum siap memikirkan hal itu.


Sementara itu, ibu dari Calista merasa tidak tega melihat keadaan dari putrinya yang terlihat terpuruk hari ini. "Kenapa ada kejadian buruk yang menimpa keluarga Arya."


"Sampai putriku benar-benar sangat terpuruk dan bersedih. Menjelaskan sangat mencintai Arya." Berbicara sambil berjalan masuk ke dalam ruangan kamar untuk menemui sang suami yang dianggap sangat egois, tapi berpikir bahwa semua itu dilakukan demi kebaikan putri mereka.


Saat sudah masuk ke dalam ruangan kamar, bisa melihat sang suami tengah berdiri memunggungi. Seolah menjelaskan bahwa pria itu sedang memikirkan sesuatu yang sangat berat dan mengganggu pikiran.


"Apakah kamu tidak akan datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan Arya?" tanya wanita berusia 50 tahun yang masih terlihat cantik tersebut.


Tanpa berbalik badan untuk menatap sang istri, hanya menjawab singkat. "Aku tidak tahu."


"Kejadian seperti ini memang sama sekali tidak pernah diprediksi. Apakah kamu bisa menerima kejadian seperti ini menimpa pada putri kita?"


"Apa maksudmu? Apakah kamu ingin mendoakan putri sendiri mengalami kecelakaan? Ibu macam apa kamu ini?" Wajah memerah dengan kilatan amarah tampak jelas saat ini.


"Bukan seperti itu. Maksudku adalah bisa memposisikan diri sebagai keluarga Arya. Jika memutuskan hubungan saat kemalangan terjadi, bukankah itu sama saja kita tidak punya perikemanusiaan?"

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2