Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Tahu jalan pulang


__ADS_3

Arya melajukan mobilnya menuju rumah kontarakannya bersama Putri setelah makan malam bersama dengan kedua orang tuanya. Ia ingin tahu, bagaimana keadaan Putri karena ternyata ponsel wanita itu tidak bisa dihubungi.


Arya kecewa saat ia tiba di rumah kontrakan. Ternyata Putri tidak ada di sana karena ia hanya bertemu dengan seorang gadis dan seorang wanita paruh baya yang katanya ditugaskan untuk menjaga Xander di sana.


‘Sakit apa Putri? Sampai ia harus dirawat di rumah sakit?’ tanya Arya dalam hati.


Setelah mendapatkan alamat rumah sakit tempat Putri dirawat, ia segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit tersebut. Ia yakin jika Bagus pasti juga berada di sana.


Sepanjang perjalanan, perasaannya tidak tenang. Entah kenapa ia masih belum rela jika Bagus selalu berada di dekat Putri. Bagaimanapun, ia merasa Putri masih menjadi istrinya.


Benar dugaan Arya. Dari jarak beberapa meter, ia melihat Bagus yang sedang duduk di sebuah kursi yang ada di depan ruangan tempat Putri di rawat.


‘Kenapa Bagus ada di luar? Kenapa tidak menemani Putri di dalam sana?’ Pertanyaan itu muncul dalam benaknya.


Arya segera menghampiri Bagus yang terlihat tengah sibuk dengan ponsel di tangannya.


Bagus menyadari kehadiran Arya yang sedang berjalan mendekat ke arahnya. Ia mendongak, menatap pria jangkung di depannya.


“Akhirnya kau datang juga. Aku pikir kau lupa dengan istrimu. Padahal aku sudah senang kalau itu benar-benar terjadi, karena pasti akan merebutnya kembali,” ucap Bagus yang memberikan tatapan tajam karena sangat kecewa pada Arya.


“Jangan pernah bermimpi. Sekeras apapun kau berusaha, Putri tetap akan memilihku. Baginya, kau hanyalah seorang mantan suami, walaupun kalian belum secara sah bercerai,” tukas Arya dengan seringai tajam.


“Oh, ya? Bagaimana jika Putri tahu kalau suami yang selalu dibanggakan dan percaya, ternyata telah membohonginya selama ini.”


“Apa maksudmu?” Arya mengeratkan giginya dan memberikan tatapan yang tajam pada Bagus.


“Tentang jabatanmu dan tentang nyonya Rani yang masih koma di rumah sakit.”


“Kau memata-matai keluargaku?” Arya tampak geram dengan Bagus.


“Aku hanya ingin memastikan jika kau benar-benar memperlakukan Putri dengan baik. Ia sudah memilihmu. Jangan pernah kau sakiti hingga meneteskan air mata!” Bagus memberikan peringatan pada Arya.


“Tidak usah ikut campur dengan rumah tanggaku. Kau segera saja urus perceraianmu dengan Putri, agar ia biasa benar-benar hidup tenang dan bahagia bersamaku,” tukas Arya tak mau kalah


"Satu lagi, apapun yang kau katakan padanya tentangku, dia tetap akan percaya dengan semua kata-kataku.” Arya tersenyum penuh kemenangan. Kemudian melangkah masuk ke dalam ruangan.


“Tunggu!” sergah Bagus, membuat Arya menghentikan langkahnya dan kembali memutar tubuhnya ke belakang.


“Di dalam, ada putraku sedang mengunjungi ibunya. Jadi, jangan masuk sebelum kami keluar dari sana. Aku tidak ingin putraku melihat pria yang telah merebut kebahagiaan keluarganya,” ucap Bagus sembari berjalan melewati Arya dan masuk lebih dulu ke ruangan Putri.

__ADS_1


Arya mendengkus kesal dan memilih untuk duduk menunggu sampai Bagus dan putranya ke luar dari sana.


Kemudian Bagus saat ini melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah ruangan perawatan. 'Aku tidak akan pernah bisa tenang atau membiarkan putraku tanpa pengawasan.'


“Sayang, kita harus segera pulang.” Bagus menghampiri putranya dan Putri. Terlihat pria itu duduk di kursi yang ada di sebelah ranjang Putri.


“Bagus sebenarnya sangat tidak tega ketika lagi-lagi mood putranya jadi buruk saat mengungkapkan keluh kesah putranya.


'Wajah putraku berubah murung seketika. Maafkan ayah, sayang.'


“Ini sudah malam, Sayang. Besok harus sekolah dan ibu juga harus itirahat agar cepat sembuh.” Bagus kembali membujuk putranya.


“Apa tidak bisa libur satu hari saja, Ayah? Aku ingin menemani ibu di sini.” Sementara itu, anak laki-laki itu masih menatap dengan penuh permohonan.


“Tidak. Nanti kita akan cari waktu lagi untuk bertemu dengan ibu, oke! Besok sekolah dulu karena sebentar lagi pembagian raport."


“Baiklah.” Akhirnya anak itu menyerah dan mengikuti perintah sang ayah dengan wajah muram.


“Jangan sedih, Sayang?” Putri mengusap pucuk kepala putranya.


Sementara itu, bocah laki-laki itu hanya tersenyum sambil menggeleng menatap sang ibu. Ia terlihat begitu pandai menyembunyikan perasaannya.


Refleks Putri memeluk putranya. Sebenarnya ia juga belum rela jika harus berpisah secepat itu. Sayangnya, memang harus pulang karena esok harus sekolah.


Kedua pria berbeda usia itu pamit pulang. Bagus juga meminta maaf pada Putri jika malam ini ia tidak bisa menemani di rumah sakit.


“Kau jangan khawatir. karena tidak akan pernah sendirian. Nanti, akan ada yang menemanimu. Kami pulang dulu.”


Dengan langkah kaki panjangnya, ia melangkah keluar karena tidak ingin berlama-lama berada di sana, sehingga nanti hanya akan mengetahui kemesraan dari sepasang suami istri tersebut."


Belum sempat bertanya apa maksud uacapan pria itu, Bagus dan Putra sudah lebih dulu pergi dari sana.


Suara pintu kamar yang terbuka, membuat Putri yang hendak membaringkan tubuh seketika menoleh ke arah sumber suara.


Ia pikir Bagus kembali lagi karena ada barang milik pria itu yang tertinggal. Tetapi, ternyata orang lain yang masuk ke dalam ruangannya. Sekarang ia mengerti apa maksud ucapan Bagus tadi.


“Kenapa kau tidak memberitahu aku kalau sakit? Kamu lebih memilih memberitahu pria itu,” celetuk Arya dengan wajah penuh kemurkaan.


Kemudian duduk di kursi yang tadi sempat diduduki oleh Bagus.

__ADS_1


“Kenapa tidak kamu tanyakan bagaimana keadaanku lebih dulu? Oh, ya, aku lupa. Itu tidak lagi penting untukmu,” balas Putri dengan suara menyayat hati.


“Bukan begitu maksudku." Arya menyadari jika ia salah bicara. Ia masih sulit untuk mengontrol emosinya akhir-akhir ini.


“Jika kamu datang ke sini hanya untuk marah-marah, sebaiknya pulang dan istrirahat saja. Aku juga ingin istirahat. Aku ingin cepat sembuh dan pulang,” imbuh Putri singkat.


“Maafkan aku. Aku terlalu kesal saat melihat Bagus di luar tadi. Bagaimana mungkin lebih tahu dari pada aku?”


“Tidak bisakah kamu bertanya dengan baik? Atau menjadi seorang pimpinan perusahaan membuat kamu lupa bagaimana cara bertanya yang baik pada istrimu? Ah, sudahlah. Aku ingin istirahat saja.” Putri membaringkan tubuhnya dan menarik selimut rumah sakit untuk menutup tubuhnya.


“Aku minta maaf. Aku tidak bermasud untuk membuatmu tersingung. Apalagi sedih. Aku frustrasi saat nomormu tidak bisa dihubungi dan saat aku datang ke rumah kontrakan kita, malah betemu dengan orang lain di sana,” keluh Arya.


Arya menggenggam tangan Putri dan memberikan kecupan lembut di sana untuk menipu wanita yang membuatnya ingin balas dendam.


“Maaf.”


Putri menghela napas berat. Ia kemudian menatap wajah suami yang sangat dirindukannya. “Aku tidak tahu di mana ponselku, mungkin batrenya habis."


"Sejak kamu berangkat kerja pagi tadi, aku tidak meyentuh benda itu karena seharian hanya berbaring di kamar. Tentang Bagus yang lebih dulu tahu aku sakit, itu karena Amanda yang memberitahunya dan meminta bantuan Bagus agar segera datang untuk mengantar aku ke rumah sakit."


Gadis itu sangat khawatir padaku yang menggigil dan demam tinggi, juga muntah-muntah. Aku bahkan sudah setengah sadar saat mereka membawa aku ke rumah sakit,” jelas Putri akhirnya.


“Aku tidak memintamu untuk percaya dengan ucapanku, tapi yang jelas, aku sudah mengatakan yang sebenarnya padamu.”


“Maafkan aku, Sayang. Seharusnya aku di rumah saja. Menemanimu serta putra kita,” ucap Arya dengan sesal yang penuh sandiwara. “Sebagai gantinya, aku akan menemanimu malam ini di sini."


"Kamu tidak akan sendiri karena aku akan menemanimu sampai dokter menyatakan sudah boleh pulang.”


Arya bahkan merasa jika ia sangat pandai berakting, sehingga bisa dengan mudahnya dapat mengelabuhi Putri—wanita yang dianggapnya adalah orang munafik.


“Tidak perlu. Kamu masih harus ke kantor besok. Aku juga sudah merasa lebih baik. Lagipula, di sini ada perawat yang akan membantu jika aku membutuhkan sesuatu.


“Sayang, bagaimana mungkin aku meninggalkanmu lagi. Tidak datang ke kantor satu hari, aku rasa tidak akan jadi masalah. Masih ada asisten pribadiku yang akan menghandel pekerjaanku besok. Kamu jangan khawatir.” Arya tersenyum lembut pada istrinya dan kembali mengecup tangan yang masih ia genggam.


“Terima kasih, Sayang.” Putri membalas senyum Tomy.


Ia merasa sangat bahagia karena sosok suami yang sangat dirindukan telah kembali.


'Akhirnya suamiku telah kembali dan tahu jalan pulang,'

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2