Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Kita harus bicara


__ADS_3

Putri hendak menyeberang karena ingin terus berjalan menjauh dari Perusahaan, indra pendengaran menangkap suara dari seseorang yang memanggil namanya.


Tentu saja ia tahu siapa itu, tapi sama sekali tidak memperdulikan hal itu dan terus berjalan karena ingin menjauh.


Bahkan saat ini semakin mempercepat langkah kaki karena tidak ingin berbicara dengan siapa pun saat perasaan sedang terluka dan hancur berkeping-keping seperti kaca pecah yang berhamburan.


Sementara itu, sosok pria yang baru saja keluar dari pedagang penjual kopi, yaitu Noah, menyipitkan mata begitu melihat Putri yang berjalan keluar dari perusahaan.


Memang dari tadi ia memesan kopi dan menikmati sambil menunggu kedatangan dua wanita yang merupakan Amira dan Putri. Namun, begitu akan kembali ke parkiran, merasa aneh ketika melihat Putri berjalan keluar dari area perusahaan.


"Putri? Kenapa berjalan kaki menjauh? Di mana Amira Tan? Sepertinya ia saat ini sudah mengetahui semuanya. Bahwa Arya telah berselingkuh, merasa sedih dan hancur karena itu."


"Aku harus menghiburnya," ucap Noah yang kini bejalan mengejar wanita yang sama sekali tidak mau menghentikan langkah karena semakin menjauh.


"Putri, tunggu!" Noah tidak menyerah memanggil untuk menghentikan langkah wanita yang semakin menjauh karena mempercepat langkah.


Seolah jelas terlihat tidak memperdulikan panggilan dan ingin menjauh. "Putri, kita harus bicara!"


Noah kini memilih berlari karena Putri semakin menjauh dan tidak memperdulikan pandangan dari beberapa orang yang melintas.


Bahkan saat menyeberang jalan, hampir saja tertabrak mobil yang langsung mengerem. "Maaf," ucap Noah yang membungkukkan badan dan kembali berlari untuk mengejar Putri.

__ADS_1


Meskipun indra pendengaran menangkap suara dari pengemudi yang mengumpat dan marah-marah atas perbuatan barusan ketika menyeberang tiba-tiba.


Sampai pada akhirnya ia berhasil mengejar Putri dan merentangkan kedua tangan begitu berhenti di depan wanita dengan wajah mengenaskan karena sembab dan masih dihiasi bulir air mata di sana.


"Putri kenapa pergi? Aku dari tadi memanggilmu, tapi kamu sama sekali tidak mau menghentikan langkahmu. Apa yang terjadi sebenarnya? Kamu mau ke mana? Ayo, kembali ke parkiran. Kita pulang bersama. Aku dan Amira Tan akan mengantarmu pulang."


Saat perasaan Putri yang sangat hancur lebur belum sembuh, kini semakin bertambah besar begitu melihat pria di hadapannya.


Merasa yakin jika Noah bekerja sama dengan Amira, membuatnya merasa marah pada diri sendiri karena menganggap hanyalah orang bodoh yang bisa ditipu.


Serasa seperti dikelilingi oleh orang-orang munafik, ia bahkan kini tidak bisa membuka mulut untuk sekedar bersuara karena yang terjadi, kini malah tertawa terbahak-bahak menanggapi.


Bahkan saat tertawa, air matanya semakin mengalir deras karena sangat miris ketika mengingat pengkhianatan dari para orang-orang yang sangat dipercayai.


Sementara itu, Noah saat ini merasa heran dan bertanya-tanya atas perubahan sikap Putri yang seolah seperti menatap penuh kebencian. Apalagi kalimat sinis Putri membuat Noah sangat terkejut.


"Putri, apa yang terjadi? Apakah ini karena kamu sudah mengetahui jika Arya berselingkuh darimu? Lalu kenapa sikapmu seperti ini padaku? Kenapa menyebutku munafik? Memangnya apa yang kulakukan?"


Noah masih meminta penjelasan karena merasa sangat tidak terima dengan apa yang saat ini diperlihatkan oleh Putri karena seperti sangat membenci.


Apalagi tatapan wanita itu saat ini jelas-jelas sangat membencinya. Jadi, merasa kesal dan tidak terima karena terkena imbas dari perbuatan Arya.

__ADS_1


"Jangan melampiaskan padaku atas kesalahan yang dilakukan suamimu ketika berselingkuh darimu. Kenapa kamu marah padaku saat aku bahkan tidak melakukan kesalahan?" tanya Noah yang ingin memastikan sikap Putri yang masih mengarahkan tatapan tajam menusuk.


Sementara itu, Putri saat ini merasa tidak mempunyai tenaga untuk sekedar berdebat dengan Noah. Apalagi saat ini sudah tidak mempercayai siapa pun di dunia ini selain diri sendiri.


"Kamu memang tidak bersalah, tapi akulah di sini yang bersalah!" Setelah mengatakan itu, Putri kembali berjalan meninggalkan pria yang berdiri di hadapannya.


Tentu saja berjalan di sebelah kanan pria yang sudah menurunkan kedua tangan. Jadi, merasa sudah tidak dihalangi lagi. Tanpa menoleh ke arah belakang, Putri memilih untuk berbicara,


"Pergilah! Aku ingin sendirian saat ini."


Noah yang merasa sangat khawatir pada wanita dengan wajah mengenaskan itu, refleks kembali berlari untuk menghadang langkah kaki Putri.


"Tidak! Aku tidak akan pernah membiarkan wanita yang sedang terluka sendirian. Bagaimana jika kamu memilih bunuh diri dengan berlari menuju ke arah jalan raya agar tertabrak mobil?"


Noah kini memegang tangan Putri dan mengajak untuk berbalik badan. Tentu saja agar berjalan ke arah area perusahaan karena mobil masih ada di sana.


Refleks Putri mengempaskan tangannya karena tidak ingin menuruti perintah dari siapa pun setelah hari ini.


"Lepaskan tanganku! Aku berhak menentukan apa yang ingin kulakukan! Jadi, jangan paksa aku untuk menuruti perintah kalian yang merupakan orang-orang munafik!"


Di saat bersamaan, Putri yang baru saja menutup mulut, kini melihat Amira Tan—saudara perempuan yang sangat dibenci karena telah menipu dan mengkhianatinya.

__ADS_1


"Putri! Kita harus bicara!"


To be continued...


__ADS_2