
Amira Tan yang berbicara panjang lebar dengan suara serak khas orang mabuk, kini tertawa, tetapi beberapa saat kemudian, menangis dengan bulir air mata yang membasahi pipi.
"Kenapa ada pria jahat seperti Bagus yang diciptakan untuk menyakitiku? Padahal aku tidak pernah menyakiti orang lain karena selama ini belum pernah jatuh cinta."
"Namun, kenapa pertama kali merasakan jatuh cinta pada seorang pria, rasanya sesakit ini? Bagus sangat kejam dan tidak punya hati!" teriak Amira Tan dengan wajah berantakan dan sembab karena efek menangis, serta mabuk.
Noah yang dari tadi mendengarkan semua keluh kesah yang diungkapkan oleh Amira Tan saat mabuk, sangat yakin bahwa tidak ada kebohongan dari mulut wanita itu.
'Jadi, seperti ini ceritanya. Memang seseorang bisa dengan mudah berbicara jujur ketika sedang berada dalam pengaruh alkohol. Namun, kalimat terakhir sangat konyol. Mungkin, jika ia adalah seorang laki-laki, aku sudah membuatnya babak belur.'
'Bagaimana mungkin bisa mengatakan tidak pernah menyakiti orang lain? Memangnya tadi saat memukul kepalaku, apa? Bukankah itu sudah termasuk kategori kekerasan dalam fisik?'
Meskipun di dalam hati mengumpat sepuasnya, tetapi pada kenyataan, merasa tidak tega melihat Amira Tan menangis, sehingga memilih untuk menghibur.
"Lebih baik kau melupakannya karena sepertinya bukanlah pria yang pantas untukmu. Bahkan di dunia ini, banyak yang lebih baik darinya. Aku sangat yakin bahwa suatu saat kau akan mendapatkan kekasih yang sangat mencintaimu sampai akhir hayat."
"Itulah yang namanya jodoh dan biasanya bertemu tanpa diduga. Jadi, percayalah bahwa ada seseorang yang diciptakan untuk membahagiakanmu." Noah berniat untuk mengusap lengan Amira Tan, tetapi tidak jadi melakukan itu karena tiba-tiba wanita itu kehilangan kesadaran.
"Pingsan."
Noah melirik mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangan kiri. "Masih terlalu awal untuk pulang." Saat baru menutup mulut, mendengar suara bariton dari Lorenzo.
"Kau tidak akan pulang awal hanya demi mengantar wanita itu, kan? Jika sering melakukannya, bisa dipecat oleh bos karena sering pulang awal ketika bekerja. Aku hanya ingin mengingatkanmu." Lorenzo menepuk bahu kokoh sahabatnya, agar tidak melakukan kesalahan dan berakhir kehilangan pekerjaan.
"Lagipula di sini susah untuk mencari pekerjaan, jadi manfaatkan kesempatan dengan baik dan jangan menyia-nyiakan hanya demi sesuatu yang semu."
Tentu saja Lorenzo menganggap bahwa wanita arogan yang sudah kehilangan kesadaran karena efek mabuk tersebut hanyalah semu karena lebih banyak pengaruh negatif daripada positif untuk sahabatnya.
__ADS_1
Jadi, sebagai teman yang baik, Lorenzo berusaha untuk mengingatkan, agar tidak mementingkan wanita yang sama sekali tidak ada hubungan apapun.
Noah hanya terdiam dan membenarkan semua yang dikatakan oleh Lorenzo. "Apakah aku membiarkan saja dia pingsan di situ?"
"Bawa saja ke gudang dan biarkan wanita arogan ini beristirahat di sana. Sekalian kita balas dendam," ujar Lorenzo yang terkekeh geli mendengar ide sendiri. "Bagaimana menurutmu? Bukankah kau juga kesal pada wanita yang telah memukulmu tadi?"
Noah memang sangat kesal, tetapi tidak tega pada wanita yang sedang patah hati tersebut. "Kau benar, tapi pengacara ini bisa menuntut jika mengetahui apa yang hari ini kulakukan."
Hanya dengan alasan itu, ia menutupi apa yang dirasakan dari sahabatnya agar tidak salah paham atas sikapnya. "Namun, jika membiarkan di sini, pengunjung lain bisa saja dimanfaatkan oleh para pria berengsek."
Noah kemudian memilih untuk menghampiri Amira Tan dan melirik ke arah Lorenzo. "Sepertinya aku tahu tempat yang aman dan tidak akan dituntut oleh pengacara ini."
"Ke mana?" tanya Lorenzo yang merasa penasaran.
Noah hanya menggelengkan kepala dan tertawa. "Nanti saja kuberitahu."
Selama berjalan, ia melewati beberapa pengunjung Club dan juga rekan kerja yang menggoda jika mendapatkan kekasih baru. Noah hanya tersenyum dan terus berjalan menuju ke arah ruang ganti.
"Aku akan menguncimu di ruangan ini, karena jauh lebih aman berada di sini daripada di sana. Meskipun kamu akan merasa tidak nyaman karena tidak ada alas untuk tubuhmu."
Kemudian Noah menurunkan tubuh Amira Tan ke lantai dingin ruang ganti.
Tidak tega melihat wanita itu terbaring tanpa alas satu pun, Noah mengambil tas miliknya dan menaruh di bawah kepala. "Ini sedikit lebih baik."
Kini, Noah mengamati wanita yang saat ini tidak sadarkan diri karena pengaruh alkohol. "Kamu jauh lebih manis saat menutup mata karena ketika terbuka, seolah berubah menjadi Dewi kejahatan."
"Tenanglah di sini sampai aku selesai bekerja." Noah kini berbalik badan dan berniat untuk melangkahkan kaki keluar dari ruangan ganti tersebut.
__ADS_1
Namun, suara Amira Tan membuat Noah tidak jadi berjalan dan berbalik badan.
"Jangan pergi. Aku sangat mencintaimu."
Noah sudah menduga bahwa Amira Tan sedang mengigau karena berbicara dengan posisi mata masih tertutup. "Kamu bahkan terlihat menyedihkan hari ini."
"Aku ingin melihatmu besok saat sadar, akan seperti apa ketika aku mengatakan semua hal yang kudengar hari ini." Noah kini memilih untuk berjongkok dan berniat merapikan anak rambut yang menutupi wajah wanita itu.
Namun, baru saja ingin melakukan hal itu, belum sempat tangan menyentuh wajah, tetapi kelopak mata dengan bulu lentik tersebut terbuka dan bersikap dengannya.
"Amira," lirih Noah yang saat ini merasa sangat aneh dengan perasaan ketika persitatap dengan mata indah berkilat tersebut.
Sementara itu, Amira Tan yang baru saja membuka mata, melihat jika pria yang dicintai ada di hadapannya dan seperti tersenyum. Tentu saja ia merasa sangat bahagia dan refleks langsung menarik lengan kekar itu agar semakin mendekat.
Perbuatan Amira Tan yang menariknya, membuat Noah membulatkan mata dan seketika terkejut karena terjatuh di atas tubuh Amira Tan dengan posisi bibir saling menempel.
Bahkan Noah merasa degup jantung berdetak semakin kencang. 'Astaga! Apa yang wanita ini lakukan?' gumam Noah yang masih tak berkutik, berada pada posisi sangat intim dengan sang pengacara yang mabuk itu.
Berbeda dengan Amira Tan yang saat ini masih menganggap bahwa saat ini sedang bersama Bagus. Tidak ingin ditinggalkan, ia ingin merubah keputusan Bagus dengan cara semakin menyatukan bibir mereka dan mengikuti insting.
Sementara itu, Noah yang seketika mengerjapkan mata karena tidak pernah berpikir akan mengulangi hal sama seperti di dalam kamar.
Tentu saja sebagai seorang pria, langsung menegang seluruh urat syaraf karena perbuatan Amira Tan dan sama sekali tidak menolak karena membiarkan wanita itu berbuat sesuka hati.
'Kali ini Amira Tan membuat kesalahan lagi dan selalu memancingku. Apa yang harus kulakukan? Menerima atau menolak?' gumam Noah saat masih mengikuti alur yang diciptakan oleh wanita dengan pengaruh alkohol tersebut.
To be continued...
__ADS_1