Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Tidak bisa ikhlas


__ADS_3

"Apa benar ini adalah Tuan Bambang Priambodo? Saya adalah polisi yang menangani kecelakaan lalu lintas di daerah pusat kota. Dari olah TKP, ditemukan identitas putra Anda—Aldiano Priambodo yang mengalami kecelakaan." Polisi itu tadi mengintrogasi beberapa saksi.


"Para saksi yang melihat kejadian, putra Anda sengaja menghalangi laju kendaraan berat seperti ingin mengakhiri hidup. Sekarang korban dilarikan di rumah sakit terdekat," ucap sang polisi yang saat ini memegang ponsel milik korban kecelakaan.


Ia tadi segera mencari kontak keluarga dan menemukan nama ayah dari korban tersebut setelah mengecek identitas diri di dalam dompet.


Bambang yang tidak bisa berkata apa-apa setelah mengetahui kabar mengenai putranya yang ternyata sengaja mengakhiri hidup setelah masalah yang dialami akibat pria yang merupakan kekasihnya tersebut.


Ia hanya bisa terkejut dan memilih untuk mematikan sambungan telepon setelah polisi menyebutkan nama rumah sakit yang saat ini mungkin sudah menangani putranya. Hingga begitu mendengar suara dari sang menantu, seolah suaranya tercekat di tenggorokan dan tidak bisa menjelaskan, tapi harus tetap mengatakannya.


"Aldiano sengaja mengakhiri hidup dengan memutar mobil di depan kendaraan berat, sehingga kecelakaan tidak bisa dihindarkan. Anak itu kenapa bisa berubah sangat bodoh? Kenapa dia memilih mengakhiri hidup setelah masalah yang dibuat? Dasar anak tidak tahu di untung!" sarkas Bambang Priambodo yang saat ini tidak bisa lagi berkata-kata.


Ia memang mengumpat untuk melampiaskan perasaannya yang tidak karuan dan terasa dunianya hancur ketika putranya mengalami nasib buruk dan melakukannya secara sengaja.


Bahkan saat ini berpikir jika putranya telah sadar, jika perbuatannya selama ini salah dan memilih untuk mengakhirinya dengan cara yang salah.


'Apa sekarang putraku telah sadar jika selama ini apa yang dilakukannya salah? Aku hanya ingin putraku kembali dan selamat dari kecelakaan itu. Ya Allah, kalau bisa menukar nyawaku dengan putraku, aku ikhlas dan rela melakukannya,' gumam Bambang yang saat ini merasakan ucapan lembut dari menantunya.


"Pa, bersabar dan berdoa agar semuanya baik-baik saja. Tuhan tahu mana yang terbaik dan tidak untuk tuan Aldiano. Mungkin ini adalah takdir dari Tuhan yang harus dijalani dan kita hanya bisa berusaha untuk membuat semua lebih baik." Putri yang merasa sangat syok, masih berusaha untuk menormalkan perasaannya.


Ia ingin menghibur sosok pria yang jauh lebih hancur mendengar kabar tentang putranya yang sengaja bunuh diri. "Sekarang kita harus pergi ke rumah sakit. Biar putraku bersama dengan pelayan di rumah."


Bahkan masih menunggu pergerakan dari mertuanya yang belum bisa menormalkan perasaan hancur yang dirasakan. Hingga ia saat ini berpikir jika sosok pria yang tidak mau mendengarkannya tadi seperti terlihat aneh dan kini tahu apa sebabnya.


"Sekarang aku tahu kenapa tuan Aldiano terlihat sangat aneh tadi ketika marah dan pergi tanpa mendengarkan laranganku." Ia saat ini melihat pria paruh baya tersebut seketika menoleh setelah beberapa saat menundukkan wajah dengan menatap lantai.


Ia tahu jika ayah mertuanya tengah menahan diri untuk tidak mengeluarkan air mata seperti layaknya yang dilakukan oleh para wanita


"Apa yang ingin kamu katakan sebenarnya, Putri? Papa bahkan saat ini tidak bisa berpikir apapun karena hanya fokus pada apa yang terjadi pada Aldiano." Bambang masih terus berdoa di dalam hati untuk keselamatan putranya dan menginginkan yang terbaik.


Kini, Putri tidak ingin bertele-tele agar mertuanya paham apa yang dimaksudkan. "Aku berpikir bahwa tuan Aldiano sudah sadar atas kesalahannya dan memilih untuk mengakhiri hidupnya karena merasa bersalah pada Papa."


"Apa Papa tidak pernah terpikirkan hal itu tadi begitu mendengar jika polisi mengatakan bahwa tuan Aldiano mengakhiri hidup dengan memutar mobil yang dikendarai saat mengerti jika bisa dihantam oleh kendaraan di belakangnya?" Saat ia sedikit merasa lega jika itu benar karena sejatinya pintu maaf Tuhan seketika terbuka saat sang pendosa bertobat menjelang kematian.


Memang bukan kematian yang ia harapkan, tapi merasa bahwa pria yang berstatus sebagai suaminya tersebut telah berada dalam jalan yang benar saat menjemput ajal dan jika sampai meninggal, sudah dipastikan surga jaminannya.


Bambang yang memang merasakan hal itu dan merasa yakin jika putranya benar-benar sudah menyadari kesalahannya. "Ya, kamu benar. Papa tadi juga berpikir seperti itu."


"Selama ini dia selalu membela pria yang merupakan kekasihnya itu dan tidak pernah menyalahkan karena lebih mempedulikannya daripada Papa sendiri. Tapi hari ini ternyata semuanya berbeda karena dia sangat marah dan memilih untuk mengakhiri semuanya." Bambang saat ini menggenggam erat telapak tangan untuk menormalkan perasaannya.


"Dasar anak bodoh! Jika sudah menyadari kesalahannya dan ingin bertobat, bukan dengan cara mengakhiri hidup seperti ini, tapi menyelesaikan masalah yang dia buat. Bukan malah lari dari tanggung jawab untuk menyelesaikan masalah yang disebabkan olehnya." Meski dari tadi asyik mengumpat putranya, jujur di dalam hatinya merasa seperti ditusuk tombak tajam.


Ia ingin menampar diri sendiri karena malah mengumpat putranya yang bahkan tengah mengalami kemalangan. Saat menyesali perbuatannya, ia seketika bangkit berdiri dari atas ranjang.

__ADS_1


"Lebih baik kita berangkat sekarang. Semoga Tuhan masih berbelas hati padaku dengan memberikannya kesempatan untuk hidup." Ia kini berjalan menuju ke ruang ganti setelah Putri menganggukkan kepala dan mengatakan akan mengganti pakaian dulu.


Putri yang saat ini memakai piyama, segera meninggalkan ruangan kamar sang ayah mertua begitu beberapa saat lalu menatap ke arah putranya yang masih tertidur pulas dan membuatnya tenang.


Ia merasa sangat lega karena putranya selama ini adalah anak yang pintar dan mengerti, sehingga jarang rewel. Jadi, ia sangat mudah jika pergi tanpa mengajak putranya. Seperti hari ini, akan menyuruh pelayan untuk menjaga putranya yang masih tertidur pulas.


"Tuan Aldiano, bunuh diri tidaklah menyelesaikan masalah karena itu hanya akan membuat pertobatan Anda sia-sia. Orang yang bunuh diri tidak akan pernah masuk surga karena perbuatan itu dilaknat oleh Allah." Putri yang buru-buru mengganti pakaiannya, di dalam hati merapat doa agar Aldiano selamat dari kecelakaan.


Ia berharap pria yang diyakininya sudah bertobat, bisa membuka lembaran baru dengan menjadi seorang manusia yang lebih baik dan tidak akan pernah kembali ke jalan sesat.


Saat ia sudah mengenakan setelan panjang berwarna hitam, seketika merapikan penampilannya di depan cermin. Beberapa saat kemudian berjalan mengambil tas di atas meja dan keluar dari ruangan kamar.


Tanpa memakai bedak atau apapun di wajahnya, Putri hanya ingin buru-buru segera berangkat ke rumah sakit dan tidak ingin sang ayah mertua menunggunya terlalu lama.


Saat menuruni anak tangga, langsung menuju ke arah belakang dan mengetuk pintu kamar pelayan. Begitu pintu terbuka dan menampilkan pelayan dengan wajah kusut karena dibangunkan tiba-tiba, ia seketika mengungkapkan semuanya.


"Maaf, Bik karena mengganggu waktu istirahat. Aku dan Papa akan pergi ke rumah sakit karena tuan Aldiano mengalami kecelakaan. Jadi, tolong jaga putraku karena aku tidak bisa mengajaknya ke rumah sakit." Putri bisa melihat raut wajah terkejut dari pelayan seperti yang dialaminya beberapa saat lalu.


"Astaghfirullah, tuan Aldiano mengalami kecelakaan? Semoga semuanya baik-baik saja dan tuan Aldiano tidak mengalami hal buruk dari kecelakaan itu." Sang pelayan benar-benar sangat bersedih begitu mendengarnya.


Meskipun ia tahu bagaimana arogannya majikan tersebut, tapi tetap tidak pernah hilang rasa hormatnya. Apalagi mengetahui bagaimana masa kecil majikannya dan mengalami fase berat setelah meninggalnya sang ibu.


"Iya, Bik. Tolong doakan yang terbaik untuk tuan Aldiano. Aku akan berangkat sekarang dengan Papa," ucap Putri yang saat ini tengah menatap ke arah pelayan dengan raut wajah sedih, sama sepertinya.


Apalagi selalu menganggap jika kemalangan yang dialaminya adalah sebuah karma yang memang harus dijalani dan diterima dengan lapang dada. Bahwa hukum tabur tuai memang ada di dunia ini, jadi tidak membenci Aldiano yang ia yakini akan mendapatkan balasan suatu saat nanti dan semuanya dimulai sekarang.


"Tentu saja, Nona. Saya akan mendoakan yang terbaik untuk tuan Aldiano. Hati-hati di jalan, Nyonya." Sang pelayan kini membungkuk hormat begitu majikannya berlalu pergi setelah mengiyakan.


Ia tahu jika majikan wanita tersebut adalah orang yang sangat baik karena tidak pernah mengeluh ketika selalu mendapatkan hal buruk dari sang suami yang bahkan tidak pernah bisa menghormati seorang istri.


"Ya Allah, selamatkan tuan Aldiano dan semoga selamat dari maut," ucap wanita paruh baya yang saat ini segera berjalan menuju ke arah anak tangga agar bisa segera melihat putra dari sang majikan yang tengah tertidur.


Sementara di teras depan, Putri menunggu ayah mertuanya. Ia tadinya berpikir jika mertuanya tersebut sudah berada di depan, tapi merasa heran kenapa belum siap juga.


"Kenapa papa sangat lama sekali? Apa papa saat ini tengah melampiaskan kesedihannya saat aku tidak ada?" Putri masih berdiri di halaman rumah dan mengamati suasana area depan yang kini dihiasi lampu di kanan kiri.


Bahkan suara air mancur menjadi sebuah hal yang serasa bising di waktu dini hari itu. "Kenapa tidak dimatikan? Apa pelayan lupa?"


Saat ia merasa aneh hari ini hanya dengan menatap air mancur tersebut, kini terdengar suara pergerakan dari sisi sebelah kanannya dan membuatnya menoleh.


"Nyonya, saya yang akan mengantarkan ke rumah sakit. Tadi tuan besar baru saja membangunkan saya dengan menelpon," ucap sopir yang baru saja keluar dari pintu samping rumah dan berniat untuk mengambil mobil di garasi.


"Tunggu!" Putri saat ini mengarahkan jari telunjuk pada air mancur. "Apa hari ini lupa matikan air mancur itu saat malam?"

__ADS_1


Sang supir yang baru menyadari jika perkataan dari majikannya benar, kini merasa sangat aneh. "Tidak, Nyonya. Saya tadi sudah mematikannya sebelum tidur. Kenapa menyala lagi?"


Di saat bersamaan, terlihat Bambang Priambodo baru saja keluar dari pintu utama dan mendengar pembicaraan dari dua orang di depan air mancur. Hingga ia menyadari jika itu adalah perbuatan dari putranya.


"Sepertinya putraku yang menyalakannya lagi karena dari dulu menyukai air mancur. Makanya menyuruh orang untuk membuatnya di depan rumah." Ia berpikir jika putranya mungkin tadi berada di sana setelah dimarahi ketika baru pulang dan dimarahi olehnya.


"Pasti tadi dia berada di sini cukup lama sambil menatap air mancur yang selalu mengingatkannya pada sang ibu yang dulu sering mengajaknya bermain air." Bambang yang tadi cukup lama berada di kamar mandi karena tidak bisa menahan gelombang kesedihan yang keluar dari bola matanya.


Hingga ia benar-benar meluapkan kesedihan dengan membiarkan air mata menggenangi wajahnya dan menatap diri sendiri di depan cermin.


Jadi, cukup lama berada di kamar mandi agar tidak terlihat mengenaskan ketika nanti bertemu dengan putranya di rumah sakit. Ia ingin kuat dan tidak mengeluarkan air mata di depan orang lain.


Menjadi kuat adalah pilihannya saat ini dan berharap putranya lolos dari maut karena sampai sekarang masih belum mendapatkan kabar buruk jika putranya telah menghembuskan napas terakhir. Jadi, ia masih merasa tenang karena berpikir memiliki harapan.


"Aku baru tahu jika tuan Aldiano suka dengan air mancur, Pa. Selama ini hanya menganggap air mancur ini adalah sebuah hal biasa, tapi ternyata tidak untuk tuan Aldiano." Putri saat ini menoleh ke arah sang ayah mertua yang terlihat memerah bola matanya.


Berpikir bahwa apa yang tadi dipikirkannya benar, jika pria paruh baya tersebut meluapkan kesedihan terlebih dahulu sebelum berangkat. 'Papa pasti sangat terpukul dengan kabar buruk ini. Selama ini Papa sangat menyayangi tuan Aldiano karena sebenarnya yang dilakukan adalah hal terbaik.'


Putri mengalihkan perhatiannya agar ayah mertuanya tersebut tidak merasa malu padanya karena bola matanya memerah.


"Lebih baik kita berangkat sekarang?" Bambang Priambodo yang tidak ingin membahas mengenai perihal kesukaan putranya karena selalu saja membuatnya sesak napas


Ia berlalu dari air mancur tersebut menuju ke garasi bersama dengan sopir serta menantu yang mengekor padanya. Hingga ia pun langsung masuk ke dalam mobil bersama dengan wanita yang kini duduk di sebelahnya.


Kemudian sang sopir yang sudah duduk di balik kemudi langsung menyalakan mesin mobil dan mengemudikan kendaraan keluar dari area rumah setelah dibukakan oleh security.


Mobil mewah berwarna hitam itu saat ini membelah keheningan malam di Jakarta. Sama sekali tidak ada suara yang terdengar di dalam mobil karena saat ini semua orang tengah sibuk merapat doa untuk pria yang mengalami kecelakaan.


'Tuan Aldiano, semoga Allah memberikan kesempatan kepadamu untuk memulai hidup baru setelah bertobat,' gumam Putri yang saat ini menatap ke arah jalanan ibu kota dengan beberapa kendaraan yang melintas.


Di sisi berbeda, Bambang Priambodo saat ini tengah memikirkan segala kemungkinan terburuk karena memang ia harus bersiap jika sampai putranya tidak tertolong. Ia menoleh ke arah menantunya yang dari tadi terdiam mengamati lalu lalang kendaraan.


"Putri."


"Iya, Pa," sahut Putri yang seketika menoleh ke arah pria paruh baya yang memanggilnya dan membuatnya berpikir ada sesuatu hal penting yang akan disampaikan.


Setelah terdiam selama beberapa saat, kini Bambang Priambodo mulai membuka suaranya. "Jika putraku kembali diambil Tuhan, aku sudah tidak punya siapapun di dunia ini. Aku harap kamu tetap menjadi menantuku dan aku akan mewariskan semuanya pada Xander."


"Jika nanti aku mati dan Xander masih kecil, aku harap kamu yang mengambil alih pemimpin perusahaan. Jadi, mulai sekarang, aku harap kamu mulai belajar berbisnis." Bambang Priambodo sebenarnya tidak ingin memenuhi pikirannya dengan hal-hal buruk mengenai putranya.


Namun, ia benar-benar tidak bisa berpikir jenis saat ini, sehingga memikirkan berbagai kemungkinan terburuk dan harus menerimanya dengan lapang dada meski hati tidak bisa ikhlas.


To be continued..

__ADS_1


__ADS_2