
"Apakah kau berani melamarku sendiri di depan orang tuaku? Sebenarnya aku sadar bahwa usiaku sudah tidak lagi muda dan seringnya mendapatkan omelan dari ibuku agar segera cepat menikah." Amira Tan saat ini masih mengamati ekspresi wajah Noah yang berubah berminat begitu mendengar penjelasannya, sehingga kembali melanjutkan apa yang ada di pikirannya saat ini.
"Namun, aku tidak pernah membawa calon suami untuk ditunjukkan pada mereka. Jadi, tidak tahu apakah kau akan diterima atau tidak oleh mereka."
Jika pada awalnya Noah seperti dilambungkan tinggi oleh harapan, tetapi poin terakhir yang didengar dari bibir Amira Tan seolah mengempaskan sangat kuat ke bawah dan terasa sakit tak berdarah jika sampai lamaran ditolak oleh orang tua kekasih pujaan hati.
Noah yang saat ini seperti menelan saliva dengan kasar, benar-benar merasa seperti tenggorokan terhalang oleh sesuatu yang tidak bisa membuatnya bernapas dan terasa sesak.
Bahkan membayangkan wajah garang dari ayah Amira Tan saja sudah membuat bulu kuduk merinding. "Apakah jika lamaranku ditolak oleh orang tuamu, kamu akan meninggalkanku?"
Jawaban Amira Tan sangat penting bagi Noah karena berpikir bahwa itu menjadi hidup matinya saat ini.
Sementara itu, Amira Tan sebenarnya hanya ingin menggoda dan mencari tahu apa tanggapan Noah karena sebenarnya mengetahui bahwa orang tuanya tidak akan menolak pria manapun yang diperkenalkan sebagai calon suami.
Hal itu karena selama ini Amira Tan selalu menutup hati pada semua pria dan tidak pernah mau menerima perjodohan. Bahkan sampai mengancam orang tuanya akan kabur dari rumah jika sampai berani menjodohkan.
Amira Tan mengatakan pada orang tuanya bahwa akan menikah dengan pria pilihan dan sama-sama saling mencintai. Bukan dijodohkan dengan terpaksa harus menerima pasangan yang bahkan tidak tahu apakah mencintainya atau tidak.
Hal itulah yang membuatnya merasa sangat yakin jika saat Noah melamar, akan langsung menentukan tanggal pernikahan karena orang tua merasa sangat bahagia saat ia telah menemukan pasangan pilihan yang sesuai dengan hati.
Namun, ia saat ini berpura-pura untuk memikirkan jawaban atas pertanyaan pria dengan wajah gusar dan murung tersebut.
"Bagaimana, ya? Aku belum menjalani dan tidak tahu harus melakukan apa jika sampai orang tuaku tidak menerimamu sebagai menantu." Saat baru saja menutup mulut ketika menjawab dengan berbohong, tetapi mendengar tanggapan dari Noah dengan wajah penuh kilatan amarah, malah membuatnya tertawa lebar.
"Jika itu terjadi, aku akan menculikmu dari keluargamu!" Noah saat ini tidak bisa menyembunyikan perasaan galau ketika merasa sangat khawatir jika apa yang dikatakan oleh Amira Tan benar-benar menjadi kenyataan.
"Aku sangat mencintaimu dan tidak ingin kehilangan. Jadi, akan melakukan apapun agar kita selamanya bisa bersama, termasuk melawan orang tuamu dengan cara menculikmu."
__ADS_1
Hanya hal itulah yang terpikirkan oleh Noah saat ini. Apalagi berpikir bahwa itu merupakan jalan terbaik agar mereka tetap bisa bersama selamanya. Namun, lagi dan lagi bertambah kesal dengan wanita arogan yang selalu memancing emosi tersebut.
"Memangnya siapa yang mau hidup susah denganmu? Jika kamu menculikku, aku tidak bisa bekerja lagi dan tidak yakin kamu bisa memenuhi kebutuhanku yang terbilang cukup besar." Amira Tan semakin merasa senang melihat wajah masam pria yang kebingungan dan tidak bisa menjawab ejekannya.
"Memangnya kamu akan bekerja apa di tempat baru? Apakah serabutan? Ataukah ingin bekerja di club malam agar bisa bertemu dengan para wanita seksi dengan gaun terbuka?"
Entah mengapa saat selalu berbicara serius dengan Amira Tan, Noah selalu kalah. Bahkan sebenarnya, harga dirinya saat ini dipertaruhkan ketika mendapatkan pertanyaan yang bahkan tidak tahu harus dijawab apa.
Hingga saat ini hanya bisa tertawa miris karena seperti tidak punya jawaban tepat yang bisa membuat Amira Tan merasa puas.
"Kenapa kamu selalu berterus terang tanpa memikirkan perasaan orang lain, Amira?"
"Kenapa memanggil namaku?" Amira Tan mengarahkan tatapan tajam mengintimidasi karena tidak suka saat tiba-tiba mengubah panggilan seenaknya.
'Bukankah tadi memanggilku sayang? Kenapa sekarang hanya nama saja? Kenapa pria selalu tidak peka dan perlu ditunjukkan?' umpatnya saat ini masih menampilkan wajah macam pada pria yang sama sekali tidak menyadari kesalahan yang diperbuat.
"Astaga! Rasanya telingaku sangat sakit mendengarnya!" Amira Tan membuat gerakan seperti menutup telinga.
Sementara, Noah yang saat ini tengah mencari tahu apa yang diinginkan oleh Amira Tan ketika mengungkapkan nada protes pada panggilannya.
Hingga mengerti apa maksud dari sikap dan nada protes itu saat ini. "Sepertinya aku memang salah karena lupa bahwa kita saat ini sudah menjadi pasangan kekasih dan harus memiliki panggilan sayang. Aku akan selalu memanggilmu sayang, lalu kamu apa?"
"Tidak mungkin kamu akan memanggilku dengan nama saja, bukan? Bukankah itu juga menyakiti telingaku?" Tersenyum smirk saat berhasil membalikkan pertanyaan dan sekaligus merasa sangat penasaran dengan panggilan yang akan diberikan Amira Tan untuknya.
Amira Tan saat ini terdiam dan tengah mempertimbangkan jawaban apa atas pertanyaan Noah. "Kamu tahu, aku baru pertama kali menjalin kasih dengan seorang pria. Jadi, tidak tahu harus memanggil apa. Apakah sayang juga? Atau yang lain? Aku saja bingung."
Sebenarnya Noah masih ingin membahas mengenai masa depan yang tadi dibicarakan ketika orang tua Amira Tan menolak dan akan menculiknya, tetapi sepertinya ide yang ada di pikirannya tersebut tidak mendapat persetujuan oleh sang kekasih.
__ADS_1
Karena berpikir ingin membahas hal itu lagi, akhirnya ia mengungkapkan panggilan sayang yang dari dulu sangat diinginkan jika memiliki kekasih.
"Aku dari dulu mempunyai impian dipanggil prince oleh kekasihku." Saat baru saja menutup mulut, mendengar suara tawa Amira Tan yang malah membuatnya kesal.
Amira Tan yang merasa bahwa impian Noah sangat berlebihan karena menyuruhnya memanggil prince, sehingga seketika tertawa terbahak-bahak.
Bahkan ia yang berada di pangkuan Noah sambil memegangi perut dengan tubuh bergetar ketika tertawa karena menganggap sangat lebay.
"Astaga. Prince? Bahkan mengatakan itu membuatku merasa sangat mual saat ini? Apalagi jika harus memanggilmu seperti itu. Padahal aku sangat suka dengan namamu dan ingin memanggil Noah saja sebagai panggilan sayang."
Saat ini, Noah yang masih merasa kesal karena ditertawakan, mengarahkan cubitan pada kedua sisi pipi Amira Tan.
"Itu adalah panggilan sayang paling kuharapkan dari dulu. Bukankah banyak para gadis yang memimpikan pangeran berkuda putih? Jadi, aku ingin menjadi pangeran berkuda putih untuk wanita yang kucintai."
Merasa bahwa perkataan dari pria yang dianggap seperti kekanakan karena masih berpikir ada seorang wanita yang memimpikan pangeran berkuda putih.
"Aku jadi penasaran berapa usiamu? Karena aku bukan gadis remaja labil yang berpikir seperti itu. Apa kamu sadar sedang berhadapan dengan wanita berusia berapa?" Amira Tan saat ini tanpa izin, langsung meraih dompet yang ada di kantong belakang Noah.
Tentu saja untuk melihat kartu tanda pengenal yang menunjukkan tanggal dan tahun lahir karena selama ini mereka tidak pernah membahas mengenai masalah usia.
Noah yang saat ini membiarkan Amira Tan berbuat sesuka hati untuk mencari tahu apapun yang diinginkan. "Kenapa harus mengaitkan panggilan sayang dengan usia? Menurutku, usia sama sekali tidak penting, Sayang."
"Bukankah hal yang paling penting adalah saling mencintai dan sama-sama merasa cocok? Jadi, dari dulu aku tidak pernah mau mempermasalahkan mengenai usia."
Namun, hal itu sangat berbeda dengan apa yang ditampilkan Amira Tan saat membulatkan mata begitu melihat usia Noah yang terpaut jauh dengannya begitu melihat kartu tanda pengenal milik pria yang saat ini berstatus sebagai kekasih tersebut.
To be continued...
__ADS_1