Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Pria bodoh


__ADS_3

Tanpa bersuara untuk menanggapi Putri, Arya saat ini tidak bisa menahan amarah yang memuncak di dalam hati dan langsung membungkam bibir wanita yang tadi ingin dibasahi karena sangat kering.


Arya meluapkan segala amarah pada wanita yang dianggap menjadi penyebab dari semua kesalahan. Mulai dari berhubungan dengan wanita bersuami, melawan orang tua dengan pergi dari rumah dan terakhir adalah berakhir memperkosa Calista karena efek mabuk.


Putri merasa sangat terkejut dengan serangan tiba-tiba dari pria yang berstatus sebagai suaminya tersebut. Apalagi Arya sangat brutal ketika mencium bibirnya.


Memang tadi mengatakan bahwa Arya sudah lama tidak melakukan hubungan intim dengannya, tetapi bukan ini yang diinginkan karena saat ini pria di atas tubuhnya tersebut sangat liar dan kasar.


Putri mencoba untuk menghentikan ulah gila Arya karena menyadari bahwa saat ini sedang ada di rumah sakit. Apalagi ia tidak ingin ada perawat yang tiba-tiba masuk dan melihat kegilaan sang suami yang sudah berada di atas tubuhnya.


'Apa yang sebenarnya terjadi pada Arya. Apa maksud dia mengatakan bahwa aku telah berbohong? Kenapa bisa semarah ini?' gumam Putri yang masih berusaha untuk menghentikan ulah Arya.


Namun, usahanya gagal karena tenaganya tidak sebanding dengan kekuatan Arya. Apalagi saat sedang sakit, tubuh Putri sangat lemas. Akhirnya ia membiarkan sang suami melampiaskan amarah dengan cara membuat tulang-tulangnya seketika remuk redam.


Meskipun sebenarnya ia sempat mengeluarkan suara yang mengungkapkan kenikmatan, tetapi juga merasa takut jika pintu tiba-tiba terbuka.


Arya kali ini telah dikuasai oleh emosi dan juga gairah dalam waktu bersamaan, sehingga tanpa memperdulikan apapun telah menyalurkan pada wanita yang akhirnya membiarkan ia berbuat sesuka hati.


Hingga beberapa saat kemudian ia berhasil menyelesaikan kegiatan itu dan memilih untuk berjalan menuju ke arah kamar mandi dan membersihkan diri.


Sementara Putri yang merasa sangat lemas karena ulah kasar dan liar Arya, kini merapikan pakaian dengan sisa-sisa tenaga yang terkuras habis.


'Arya, kenapa kamu jadi seperti ini? Tidak ada kelembutan dari perbuatanmu dan sangat berbeda dari yang dulu mencintaiku.' Putranya bergumam di dalam hati dengan bulir air mata yang lolos tanpa seizinnya.


'Hari ini, seolah hanya nafsu yang kamu tunjukkan padaku. Apa yang sebenarnya terjadi padamu?' Putri yang baru saja selesai membersihkan sisa-sisa perbuatan Arya, kini menatap ke arah pintu kamar mandi yang masih tertutup.


'Lebih baik aku menunggu penjelasan dari Arya. Pasti akan menjelaskan padaku setelah sedikit lebih tenang. Setelah menyalurkan hasrat, biasanya emosinya akan reda.'

__ADS_1


Putri masih dengan sabar menunggu hingga pintu kamar mandi terbuka dan seketika sudut bibir melengkung ke atas setelah melihat pria yang dari tadi ditunggu telah keluar dan berjalan.


Namun, ia mengerutkan kening karena Arya tidak berjalan mendekat ke arahnya, tetapi malah ke pintu keluar.


"Kamu mau ke mana, Arya?"


Arya yang sebenarnya tidak berani menatap ke arah Putri karena merasa bersalah telah berbuat kasar untuk melampiaskan amarah dan gairah, kini tidak berniat untuk berbalik badan.


"Papa mencariku dan menyuruh untuk pulang ke rumah. Aku akan datang lagi besok. Kamu tahu bahwa orang tuaku tidak mengizinkan aku tidur di kontrakan, jadi hanya bisa menjengukmu sebentar."


Tanpa menunggu tanggapan dari Putri, kini Arya melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah pintu keluar. Begitu berada di luar ruangan, ia yang sebenarnya merasa bersalah, berjalan mulai seolah tidak mempunyai tenaga.


Bahkan ia sama sekali tidak menyadari bahwa ada beberapa orang yang menatapnya dengan tatapan tidak biasa.


Arya seolah berjalan dengan tatapan kosong menuju ke arah parkiran. Di mana mobilnya berada saat ini.


Arya yang saat ini menepuk jidat berkali-kali karena berpikir bahwa semua perbuatan yang dilakukan sangat keterlaluan diluar batas


"Aku telah kehilangan kendali diri saat bersama dengan Putri. Kenapa selalu seperti ini?" Arya memilih untuk masuk ke dalam mobil dan terdiam selama beberapa saat ketika memikirkan kesalahan.


"Bagaimana aku menemui Putri setelah hari ini? Bahkan tadi, aku sangat kasar dan menyakiti Putri."


Arya kini menaruh kepala pada kemudi mobil dan masih belum berniat untuk meninggalkan klinik yang menjadi tempat Putri dirawat. Entah sudah berapa lama ia berada di sana dengan terdiam seperti orang yang tertekan dan banyak pikiran.


Ia tersadar dari lamunan ketika mendengar suara dering ponsel miliknya. Berpikir jika yang menghubungi adalah sang ayah, Arya segera meraih benda pipih di kantong celana.


Begitu melihat kontak Calista, Arya merasa ragu untuk mengangkat panggilan. Sampai panggilan telpon terputus karena tidak mendapat jawaban.

__ADS_1


"Kenapa Calista menelpon? Bukankah selama ini tidak mau berbicara denganku? Saat aku menuruti apa yang diinginkan, malah menghubungi saat pikiranku kacau seperti ini."


Arya masih menatap panggilan tak terjawab di ponsel miliknya. Sampai panggilan kedua terjadi dan kali ini tidak bisa lari dari masalah.


"Aku bukanlah pengecut yang lari dari masalah. Jadi, akan menyelesaikan sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan." Arya memutuskan untuk menggeser tombol hijau ke atas dan mendengar suara dari seberang telpon.


Bahkan tanpa basa-basi, Arya saat ini mendengar Calista bicara to the point.


"Aku ingin bicara denganmu untuk menyelesaikan masalah di antara kita. Temui aku di Club. Aku akan mengirimkan alamatnya dan datanglah ke sana pukul tujuh malam."


Arya berniat untuk membuka suara, tetapi sambungan telpon telah terputus. "Astaga! Aku bahkan belum menjawab, tapi sudah dimatikan."


"Apa yang diinginkan oleh Calista?" Arya saat ini mencoba untuk memutar otak demi mencari jawaban dari pertanyaan.


"Apakah Calista akan menuntut bertanggung jawaban dariku?"


"Calista tidak akan menyuruhku untuk menikahinya, kan?"


"Bagaimana jika itu terjadi? Aku tidak bisa melakukannya karena ...."


Arya tidak melanjutkan perkataan karena mengacak frustasi rambutnya. "Aku bahkan ingin mengatakan tidak pernah mencintai Calista, jadi tidak bisa menikahinya."


"Bagaimana mungkin aku bisa bercinta dengan wanita yang tidak kucintai sama sekali. Aku memang pria yang bodoh!" umpat Arya yang akhirnya menyadari bahwa minuman keras membuatnya terpuruk dan membuat masalah.


"Aku tidak akan kembali menyentuh minuman beralkohol." Arya kini memilih untuk menyalakan mesin mobil dan mengemudikan kendaraan mewah miliknya tersebut meninggalkan kawasan klinik dan membelah lalu lintas jalanan ibu kota.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2