Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Tidak sederajat


__ADS_3

"Biar aku yang memanggil perawat dan dokter," seru Noah begitu melihat keadaan sangat menyayat hati di hadapan ketika melihat wanita paruh baya yang saat ini seperti sedang menjelang ajal karena kesusahan bernapas.


Bahkan merasa merasa sangat tidak tega melihat sosok wanita yang dicintai bersimbah air mata ketika wajah diliputi kekhawatiran melihat keadaan sang ibu.


Noah langsung berjalan keluar karena ingin memanggil dokter dan perawat tanpa menunggu tanggapan dari Amira Tan dan sang ayah. Namun, saat membuka pintu, mendengar suara tarikan dari ayah wanita yang dicintai.


"Tidak perlu!" sarkas Edi Indrayana yang saat ini langsung menekan tombol darurat karena memang digunakan jika ada keadaan yang rusak dari pasien, sehingga dokter dan perawat akan langsung datang.


Sementara itu, Noah yang seketika berbalik badan dan melihat perbuatan dari ayah Amira Tan, seketika membuatnya menyadari kebodohan karena sama sekali tidak mengetahui ada tombol yang bisa digunakan untuk memanggil para tim medis agar segera datang.


Noah saat ini hanya diam di tempat dan merasa seperti butiran debu dan tidak sebanding dengan para orang kaya. 'Ini menjadi bukti bahwa aku hanyalah orang bodoh yang tidak tahu apa-apa mengenai hal-hal kecil.'


Noah masih merutuki kebodohan sendiri di dalam hati, merasa iba melihat sosok wanita yang sangat dicintai tengah menangis tersedu-sedu dengan penuh kekhawatiran melihat keadaan dari sang ibu.


Sebenarnya ingin sekali menghibur dengan cara memeluk sang kekasih dan berusaha untuk menenangkan perasaannya, tapi menyadari tidak bisa melakukan itu ketika melihat tatapan tajam penuh kebencian dari pria paruh baya yang berada di sebelah kiri ranjang perawatan.


Ingin sekali ia keluar dari sana, tidak mungkin melakukan karena khawatir jika Amira Tan merasa kecewa. Akhirnya ia memilih untuk tetap berada di ruangan dan berdiri tanpa bergerak sambil menatap Amira Tan yang masih menangis karena mengkhawatirkan kondisi sang ibu.


Hingga dokter dan perawat datang. Kemudian langsung memeriksa keadaan pasien.


"Tolong Anda menyingkir terlebih dahulu, Nona! Biarkan dokter memeriksa pasien," ucap perawat wanita yang saat ini tengah berakting totalitas untuk mengelabuhi.

__ADS_1


Refleks Amira Tan memilih untuk mundur dan melihat apa yang dilakukan oleh dokter dan perawat ketika memeriksa sang ibu. Bahkan dari tadi tidak memperdulikan jika wajahnya sudah dipenuhi oleh air mata dan terlihat sembab, sehingga sangat berantakan.


"Tolong lakukan apapun untuk kesembuhan ibuku, Dokter." Amira Tan yang baru saja menutup mulut, merasakan dekapan hangat dari tangan dengan buku-buku kuat yang tak lain adalah Noah.


Noah yang merasa harus menghibur sang kekasih ketika dikuasai oleh kecemasan memikirkan keadaan sang ibu, seketika berjalan mendekat dan memeluk erat Amira Tan untuk memberikan sebuah ketenangan agar bisa sedikit lebih tenang.


"Serahkan semuanya pada dokter, Sayang karena aku yakin ibumu akan baik-baik saja." Noah bahkan beberapa kali mengusap lembut punggung Amira Tan untuk menyalurkan aura positif.


Sementara itu, Edi Indrayana yang sama sekali tidak menyukai interaksi dari putrinya dengan pria itu, seketika berjalan mendekat dan memisahkan dengan cara menarik pergelangan tangan Amira Tan.


"Jangan melakukan hal bodoh yang bisa membuat ibunya semakin buruk keadaannya. Apa kau sama sekali tidak sadar jika semua ini terjadi karenamu? Jika kau tidak mengganggu putriku dengan merayu, istriku pasti akan baik-baik saja sampai sekarang."


Wajah memerah terlihat jelas menandakan puncak amarah dirasakan oleh Edi Indrayana ketika melihat putrinya dipeluk oleh pria yang ingin segera disingkirkan dari sisi putrinya.


Nyalinya seketika sirna begitu menghadapi orang tua Amira Tan yang sama sekali tidak menyukainya. Apalagi melihat keadaan ibu wanita itu seperti tengah berjuang antara hidup dan mati hanya karena merasa sangat terkejut begitu mendengar hubungan mereka.


'Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan? Apakah aku harus menyerah dengan hubunganku dengan Amira Tan? Aku sangat mencintainya dan tidak tahu apa yang akan terjadi padaku jika harus hidup tanpa wanita ini.'


Saat Noah sibuk bergumam sendiri dalam hati untuk mengungkapkan segala keluh kesah yang dirasakan, melihat dan mendengar apa yang saat ini dilakukan oleh Amira Tan.


"Papa, jangan membuat masalah semakin runyam dengan menyudutkan Noah. Semua ini bukan salahnya karena ini adalah sebuah kemalangan yang terjadi pada keluarga kita," seru Amira Tan yang mencoba untuk menghentikan aksi sang ayah menyakiti Noah.

__ADS_1


Amira Tan bahkan bisa melihat raut wajah muram tampak jelas ditunjukkan oleh pria yang dicintainya tersebut. Apalagi Noah sama sekali tidak mengeluarkan sepatah kata pun untuk berkomentar demi membela diri.


Tentu saja merasa sangat bersalah karena pria itu hanya dia membisu dan tidak ingin berdebat dengan sang ayah. "Aku akan melakukan apapun untuk kesembuhan mama. Bahkan membayar mahal untuk dokter terbaik di kota ini demi bisa menyembuhkan."


Refleks Edi Indrayana tertawa terbahak-bahak tanpa memperdulikan apapun karena merasa sangat kesal dengan jawaban putrinya yang masih tidak menyadari kesalahan.


"Apa kamu pikir uangmu bisa membelinya nyawa mamamu? Semua ini tidak akan pernah terjadi jika kamu tidak berhubungan dengan pria miskin ini yang sama sekali tidak sederajat dengan keluarga kita!"


"Jika sampai terjadi sesuatu pada mamamu karena kalau lebih membela pria ini, Papa tidak akan pernah menganggapmu sebagai putriku. Kamu boleh pergi bersamanya dan jangan pernah kembali!"


Amira Tan membulatkan mata karena sama sekali tidak pernah menyangka jika sang ayah akan berbicara seperti itu di saat keadaan sang ibu sedang kritis dan ada dokter serta para perawat yang masih memeriksa.


"Kenapa Papa tega sekali berbicara seperti itu pada putri sendiri. Seharusnya sekarang berdoa untuk kesembuhan, bukan malah menyalahkanku dan berpikir buruk pada keadaan mama." Amira Tan sekilas melirik ke arah sosok pria dengan wajah pucat di hadapannya.


Rasa bersalah menyeruak di dalam hati ketika menyadari penyebab sang kekasih terlihat besar murung adalah karenanya. "Noah, jangan mengambil hati apa yang dikatakan oleh Papa."


Saat Noah mencoba untuk menormalkan perasaan tidak karuan, antara terhina, sakit hati dan marah seolah menjadi satu dan membuatnya seperti terlihat tidak sebanding dengan wanita yang dicintai, berniat untuk berkomentar.


Namun, mendengar suara lirih dari seseorang yang ternyata merupakan ibu dari Amira Tan, sehingga ia menoleh. Begitu melihat sang kekasih langsung berjalan mendekat ke arah sang ibu, rasa khawatir semakin dirasakan.


"Mama," ucap Amira Tan yang langsung menghambur ke arah sang ibu begitu mendengar suara lirih wanita yang sangat disayanginya tersebut.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2