
Arya mulai mengungkapkan semuanya tanpa terkecuali dan benar-benar meledakkan amarah yang membuncah di dalam hati karena ulah Putri yang menipunya dengan mengatakan jika Xander adalah darah dagingnya.
Bahkan tatapan penuh kebencian diarahkan pada sosok wanita yang seolah tidak terima dengan tuduhannya hingga berurai air mata. Namun, ia tidak ingin tertipu lagi dan sama sekali tidak memperdulikan Putri lagi.
Satu-satunya hal yang diingat hanyalah kata-kata sang ibu, bahwa Putri telah menipunya karena dibutakan oleh harta.
Sementara itu, Putri yang tadinya sangat marah pada Arya, kini mendapatkan sebuah fakta yang menghancurkannya setelah sang suami yang sangat dipercaya malah mengkhianatinya dan mengatakan jika Xander adalah benih Bagus.
Bahkan ia merasa sangat shock ketika Arya mengatakan jika ternyata Amira Tan sudah mengetahui semuanya, tapi menyembunyikan darinya.
Ia yang merasa sangat hancur, kini langsung pergi meninggalkan ruangan kerja Arya tanpa memperdulikan apapun, termasuk panggilan dari Amira Tan.
'Aku yakin jika semua ini adalah ulah dari orang tua Arya yang sama sekali tidak pernah menyukaiku. Tapi aku tidak menyangka jika ternyata Arya lebih mempercayai mereka daripada aku yang telah meninggalkan semuanya,' gumam Putri yang bersimbah air mata ketika berada di dalam lift.
Amira Tan yang tadi ingin menghentikan saudara perempuan yang salah paham dengan niat baik karena ucapan dari Arya, tapi gagal.
Ia hendak mengejar Putri yang sudah pergi dengan membanting pintu tanpa menoleh lagi ke arah belakang. Namun, kini berbalik badan untuk menatap pada pria yang terlihat tengah tersenyum menyeringai tersebut.
"Kau sengaja mengatakan semuanya pada Putri agar membenciku, kan? Dasar pria berengsek! Aku melakukan ini karena ingin Putri terbebas dari kekuasaan pria bajingan sepertimu dan juga keluarga Mahesa yang tidak punya hati."
Dengan menatap penuh kebencian pada pasangan di hadapan, Amira Tan kini melampiaskan kekesalan dan melampiaskan kemurkaan.
"Sekarang Putri memang hidup menderita setelah kau hancurkan, tapi suatu saat nanti, hal yang jauh lebih buruk akan kau dapatkan, Arya. Saat itu terjadi, aku akan bersorak gembira dan memberikan sumbangan ke panti asuhan untuk para anak yatim piatu sebagai bentuk rasa syukurku!"
"Wanita sialan!" umpat Calista yang kini berjalan mendekati sosok wanita dengan wajah memerah tersebut.
"Kami akan selamanya hidup bahagia, sedangkan saudara perempuanmu itulah yang akan menderita." Calista yang dari tadi menahan semua amarah, kini memilih untuk meluapkan pada wanita tersebut karena berpikir tidak ada gunanya berakting lemah di hadapan sang pengacara arogan.
Apalagi Putri telah pergi dan semua rencana untuk mendapatkan Arya telah berhasil. Jadi, berpikir jika sekarang sudah saatnya untuk menunjukkan taring pada wanita yang telah menghina sang kekasih.
"Lebih baik kau kejar saja wanita itu sebelum bunuh diri karena sepertinya lebih menderita saat dikhianati saudara perempuan sendiri daripada Arya."
__ADS_1
Kemudian Calista berbalik badan untuk mendekati Arya dan menghibur perasaan pria itu karena sebenarnya mengetahui bahwa pria itu masih memiliki perasaan pada Putri.
Sebagai seorang wanita, tentu saja Calista mengetahui bagaimana tatapan Arya pada Putri jelas berbeda. Meskipun bibir berkata membenci, tapi hati tidak bisa dibohongi.
Apalagi keduanya dulu sama-sama saling mencintai, sehingga Calista akan berusaha dengan keras untuk membuat Arya tidak lagi mengingat Putri.
Sementara itu, Amira Tan yang merasa sangat marah pada wanita itu, refleks berjalan cepat ke depan dan menarik rambut seperti yang tadi dilakukan oleh Putri tadi.
"Dasar wanita murahan tidak tahu diri! Kau akan jauh lebih menderita suatu saat nanti. Ingat itu baik-baik!" sarkas Amira Tan yang langsung melepaskan tarikan pada rambut hitam berkilat yang terurai panjang sebahu tersebut.
Kemudian ia langsung berjalan keluar dari ruangan yang dianggap tak lebih bagaikan neraka tersebut karena ingin mengejar Putri.
Sementara itu, Calista tadi menjerit kesakitan saat rambut ditarik dan ketika ingin membalas, tubuh terhuyung ke belakang karena sempat diempaskan oleh sang pengacara.
"Wanita sialan!" teriak Calista yang saat ini tengah berniat untuk mengejar, tetapi ditarik oleh Arya di bagian pergelangan tangan.
"Biarkan saja! Tidak usah dikejar karena kamu akan mempermalukan diri sendiri nanti ketika semua staf perusahaan melihat. Maafkan aku karena kamu tersakiti gara-gara aku."
Arya kini memeluk erat tubuh Calista karena saat ini tengah membutuhkan sandaran atas perasaan membuncah yang menyeruak dan membuat rasa sesak seperti kesulitan bernapas.
Mengetahui jika saat ini perasaan pria itu sedang tidak baik-baik saja, Calista memilih untuk membalas pelukan dan mengusap punggung kokoh Arya.
"Aku baik-baik saja, Arya. Hanya marah pada wanita itu yang menghinamu. Aku tidak bisa melihat pria yang kucintai dihina oleh orang lain. Rasanya ingin sekali merobek mulut mereka."
Saat Calissa baru saja menutup mulut, mendengar suara bariton dari Arya yang seolah sedang menyembunyikan perasaan sebenarnya.
"Terima kasih. Sepertinya kamu sangat mencintaiku, sampai tidak rela ada orang yang menghinaku. Sepertinya sekarang aku langsung kembali bersemangat untuk melakukan aktivitas seperti biasa."
Kemudian Arya melepaskan pelukan pada tubuh Calista dan merapikan rambut berantakan karena ulah Putri dan Amira Tan. "Sebaiknya rapikan penampilanmu dan kembalilah bekerja!"
"Aku pun ada banyak dokumen yang harus diperiksa. Lagipula nanti rekan kerjamu akan bertanya-tanya, kenapa belum kembali juga. Mengenai kejadian hari ini, lupakan saja dan anggap ini adalah ujian untuk hubungan kita yang baru dimulai."
__ADS_1
Arya pun mengulas senyuman dan mengusap lengan wanita yang terlihat ragu tersebut.
"Kamu yakin tidak apa-apa, Arya?" Calista masih menatap penuh keraguan pada Arya. "Rasanya membiarkanmu sendiri di ruangan dengan wajah muram seperti ini, membuatku tidak rela dan khawatir."
Sementara itu, Arya kini terkekeh geli melihat ekspresi wajah menggemaskan dari Calista yang seperti sangat mengkhawatirkan keadaan. "Aku bukan wanita yang akan menangis tersedu-sedu karena cinta."
"Jadi, jangan berlebihan karena justru aku sekarang merasa lega karena akhirnya sudah tidak ada lagi yang menghalangi kita, bukan? Kita bisa berhubungan dengan tenang tanpa mengkhawatirkan apapun."
Meskipun semua yang dikatakan oleh Arya benar, tetap saja Calista merasa sangat khawatir jika membiarkan pria itu sendirian dan kembali mengingat Putri. Namun, karena tidak mempunyai pilihan lain, akhirnya memilih untuk mematuhi perintah Arya.
"Kamu benar. Sekarang kita bebas melakukan apapun karena kamu sudah tidak lagi menjadi suami wanita itu." Calista langsung menghambur memeluk erat tubuh kekar Arya.
"Aku benar-benar sangat bahagia karena akhirnya kita bisa bersatu. Meskipun aku tidak tahu apakah kita nanti akan menikah adu tidak, tapi memilikimu seutuhnya saja membuatku merasa bahagia. Bagiku, ini lebih dari cukup."
Kemudian Calista melepaskan kuasa dan mengarahkan bibirnya untuk mencium Arya. Berharap berhasil meredam perasaan pria yang tengah dilanda gundah gulana tersebut.
Arya yang tadi hanya membiarkan Calista mencium tanpa izin, kini terbawa suasana dan mulai membalas. Sampai suara deru napas memburu mengiringi ciuman mereka.
Kemudian tersenyum simpul pada Calista dan membersihkan bekas ciuman dari bibir sensual wanita yang juga tertawa tersebut.
"Terima kasih, Calista. Kamu memang selalu bisa menghiburku. Mengenai pernikahan, sepertinya kita tidak perlu membahas hal ini sekarang, tapi aku bukanlah pria berengsek yang tidak bertanggungjawab. Aku pasti akan menikahimu, tapi tidak dalam waktu dekat."
Refleks Calista menaruh jari telunjuk pada bibir Arya. "Aku tahu! Kamu tidak perlu menjelaskan apapun."
Arya kini tersenyum simpul dan menganggukkan kepala. "Terima kasih karena selalu mengerti aku."
Kemudian mendaratkan kecupan lembut pada kening Calista. "Kembalilah bekerja, tapi rapikan dulu penampilanmu yang berantakan ini. Jangan buat para staf perusahaan di sini mengira aku baru saja memperkosamu."
Refleks Calista terkekeh geli mendengar perkataan Arya. "Kalau tanggapan semua orang seperti itu, pasti mereka akan mendukung dan membelaku agar kamu segera bertanggungjawab dengan cara menikahiku. Apakah perlu aku melakukan itu?"
Arya hanya mengangkat ibu jari untuk menangapi. "Lakukan sesukamu karena sepertinya aku tidak bisa menolak dan akan langsung menikahimu."
__ADS_1
"Aku hanya bercanda. Anggap ini obat dariku." Calista mencium pipi putih Arya dan berlalu pergi meninggalkan ruangan kerja sang kekasih tanpa menoleh ke belakang lagi.
To be continued...