
Neil kini berjalan menuju ke arah kontrakan dan berniat untuk memastikan semua perkataan pria itu. Namun, tidak bisa melanjutkan langkah kaki begitu ditahan dari belakang saat pria tersebut menahan baju yang dikenakan.
"Tidak! Aku tidak ingin secara tiba-tiba mengatakan hal itu dan pastinya akan membuat seorang janda yang trauma dengan pernikahan merasa syok dan menolak. Aku mempunyai cara sendiri untuk mendekati wanita itu. Jadi, tolong jangan ikut campur dengan masalah pribadiku dengan cara merahasiakan hal yang baru saja kuceritakan."
Kemudian Ardiansyah berbalik badan dan berjalan meninggalkan polisi tersebut tanpa menoleh ke belakang lagi. Rencananya adalah besok pagi atau siang bertanya pada beberapa orang di sekitar sana mengenai kamar kos.
Neil yang masih belum puas pada pria tersebut, berteriak dengan suara kencang. "Tunggu! Aku belum selesai berbicara denganmu!"
Merasa suara teriakan polisi tersebut akan memancing perhatian dari orang-orang, Ardiansyah saat ini langsung berbalik badan dan ingin mengetahui sebenarnya apa mau pria tersebut yang masih terus mengganggu setelah mendengarkan penjelasan.
"Apa lagi yang ingin kau harapkan dariku?" sarkas Ardiansyah dengan kesal.
"Bukankah kau mencari kamar untuk tempat tinggal?" tanya Neil yang ingin membantu pria di hadapannya tersebut.
"Iya. Tidak perlu bertanya lagi."
"Kebetulan aku ada satu kamar kosong di rumah dan jika kau bisa membayar, boleh menempatinya," sahut Neil yang ingin memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan uang tambahan belanja dan pastinya sang istri akan merasa senang.
Refleks wajah Ardiansyah seketika berbinar begitu mendengarkan hal itu, sehingga tidak perlu susah-susah mencari tempat tinggal sementara saat ingin mendekati Putri.
"Benarkah? Jadi, rumah ini adalah tempat kos! Kenapa tidak ada tulisannya? Bagaimana orang lain bisa mengetahui?" Menatap ke arah rumah lantai satu yang akan menjadi tempat tinggal sementara untuknya.
__ADS_1
Kemudian Neil berjalan mendekat karena tidak ingin berteriak untuk menjawab dan menjelaskan sesuatu agar pria tersebut tidak salah paham.
"Tidak, kau salah. Rumah ini memiliki 4 kamar dan ada satu yang kosong karena putraku saat ini sedang kuliah di luar kota. Jadi, Aku ingin memanfaatkan itu untuk mendapatkan tambahan uang belanja dan pasti istriku akan senang jika diberikan pendapatan lebih."
Kini, Ardiansyah setuju dan tidak mempermasalahkan hal itu karena mau tinggal di manapun, asalkan dekat dengan wanita incarannya.
"Kalau begitu, aku setuju untuk tinggal di sini dan akan langsung membayar satu bulan. Lalu, berapa uang yang harus kukeluarkan? Kebetulan aku membawa uang." Mengambil dompet dari dalam saku celana belakang dan membuka untuk mengambil beberapa lembar uang.
"Aku tidak akan memberimu harga mahal karena kau bukan wisatawan dari luar kota. Sepertinya lima ratus ribu sangat pantas bukan untuk berjuang mendapatkan seorang wanita?" Mengulurkan tangan untuk meminta uang karena saat ini ingin memberikan langsung pada sang istri yang pastinya akan berbinar senang.
Merasa beruntung karena tidak mendapatkan tempat yang mahal untuk tempat tinggal, langsung mengambil uang sejumlah lima lembar dan menyerahkan ke tangan polisi sekaligus akan menjadi tuan rumah tersebut.
"Terima kasih karena memang uang segitu tidaklah mahal jika dibandingkan dengan tempat untuk persinggahan sementara wisatawan dari luar kota yang pastinya membayar segitu hanya untuk satu atau dua hari."
"Besok saja aku datang sambil membawa semua barang-barang. Salah, maksudku pakaian karena aku tidak mempunyai banyak barang di tempat lama." Ardiansyah kembali memasukkan dompet ke tempat semula dan berniat untuk meminta nomor ponsel pria itu dengan memberikannya.
"Tolong masukkan nomormu, agar bisa berjaga-jaga jika terjadi sesuatu, aku besok bisa menghubungimu setelah berkemas."
Tanpa ragu, kini Neil langsung mengetikkan angka di layar datar tersebut dan memencet tombol panggil, sehingga sekarang sama-sama mengetahui. "Siapa namamu? Aku akan menyimpan di ponselku setelah melakukan panggilan."
"Panggil saja aku Ardi." Mengulurkan tangan sebagai salam perkenalan karena memang tadi berawal dengan perdebatan cukup sengit dan akhirnya berakhir baik karena kesempatan untuk dekat dengan Putri lebih lebar.
__ADS_1
Keduanya kini berjabat tangan sebentar dan Ardiansyah mengakhiri dengan berpamitan karena ingin berkemas, agar besok pagi bisa pindah.
"Aku akan pulang. Apakah kau ingin pergi ke kontrakan wanita itu untuk memastikan?" tanya Ardiansyah yang merasa penasaran akan apa yang dilakukan oleh polisi tersebut.
Namun, gelengan kepala saat ini menjelaskan bahwa hal yang dipikirkannya salah. "Aku tidak akan pernah berbicara atau pun menemui wanita itu karena hanya akan dianggap mencari perhatian seorang janda. Jika sampai terdengar istriku, hubungan kami akan berakhir buruk."
"Asal kau tahu, para istri itu sangat sensitif dengan seorang janda dan jangan pernah macam-macam jika ingin selamat. Itulah yang harus diperhatikan oleh seorang suami." Neil menepuk bahu pria bernama Ardi tersebut agar mengetahui pantangan seorang laki-laki yang berstatus sebagai suami.
Kini, Ardiansyah mengerti dan sudah sering mendengar jika seorang janda selalu dianggap buruk oleh para wanita yang berstatus sebagai istri karena khawatir akan merebut suami mereka.
"Kau benar. Apalagi jika janda sangat cantik dan membuat semua pria ingin menggoda atau bahkan mendapatkan. Itulah kenapa aku ingin segera tinggal di daerah sini karena khawatir jika nasib wanita itu berakhir digoda oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab."
"Sepertinya kau benar-benar serius dengan wanita itu. Aku jadi penasaran seperti apa janda bernama Putri itu. Nanti aku pasti akan melihat dan bertemu. Pergilah! Aku sampai lupa dengan tujuanku untuk membeli sesuatu yang tadi disuruh oleh istriku."
Neil mengibaskan tangan dan berjalan ke arah toko yang berada di dekat rumah.
Ardiansyah saat ini tersenyum dan berteriak mengucapkan terima kasih, lalu berjalan menjauh sambil menenteng kantong plastik berisi makanan. Melupakan rencana untuk memberikan pada Putri yang secara diam-diam dengan menggantung di pintu.
'Sepertinya lain kali saja aku memberikan ini,' gumam Ardiansyah sambil menatap ke arah kantong plastik di tangan dan berjalan menuju ke arah jalan utama dan mencari ojek online untuk mengantarkan pulang.
Sementara itu, pria yang tak lain adalah polisi tersebut sudah berjalan ke arah toko dan melihat dua wanita berbincang di depan pintu.
__ADS_1
'Sepertinya wanita itu yang bernama Putri dan membuat Ardi tergila-gila hingga berbuat sejauh ini.'
To be continued...