Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Salam pada calon mertua


__ADS_3

"Sepertinya yang ini bagus."


Calista yang saat ini menunjuk ke arah cincin bertatahkan berlian dan terkesan sangat mewah dan pastinya sangat mahal dan menyuruh pegawai wanita untuk mengambilkan.


Sementara Arya merasa sangat kesal karena sudah setengah jam berada di toko perhiasan, tetapi Calista tak kunjung menemukan cincin yang akan digunakan untuk acara pertunangan hari ini.


'Apa semua wanita seperti Calista? Selalu lama saat memilih cincin? Jika terus berada di sini, aku tidak akan bisa menemui Putri,' gumam Arya yang masih berakting tersenyum simpul dan menganggukkan kepala.


Seolah saat ini menjadi orang lain di dekat Calista. Pada akhirnya Arya hanya melihat dan mengiyakan apapun yang ditunjukkan oleh wanita dengan selera berubah-ubah itu.


"Seperti yang kukatakan tadi, apapun cincin pilihanmu, aku akan membelikan. Menurutku, itu adalah cincin paling bagus. Apa yang itu saja." Arya kini melihat cincin di tangan Calista dan langsung merebut, serta memakaikannya di jari lentik itu.


Bahkan kembali berpura-pura untuk memuji. "Benar kan kataku, ini sangat pas dan cantik di jari manismu. Bagaimana kalau kita beli yang ini saja?"


Saat Arya menunggu jawaban dan berharap segera mengiyakan apa yang dikatakan, berbeda dengan Calista yang ingin berlama-lama di sana karena tidak ingin cepat-cepat pulang.


Entah mengapa perasaan Calista tidak baik dan merasa khawatir jika pertunangan hari ini gagal. 'Kenapa feelingku mengatakan ada sesuatu hal yang tengah mengganggu Arya? Seolah pria ini ingin cepat pergi dari sini.'


"Kenapa diam saja? Kamu tidak suka cincin ini?" tanya Arya yang menyipitkan mata saat melihat Calista tidak langsung menjawab pertanyaan karena malah diam menatap jemari yang baru saja disematkan cincin.


Kemudian Calista langsung menggeleng perlahan karena tidak setuju dengan apa yang dikatakan oleh Arya. Bukan membuka suara, kini mengambil cincin dan memakaikan pada jari pria yang langsung mengulurkan jari.


"Aku suka dan ingin melihat ini di jarimu, Arya. Sepertinya sangat cocok dan pas. Pasti ini sangat mahal sekali harganya karena ada berliannya."


"Tidak masalah. Bagiku, apapun yang kamu suka, akan kuberikan." Meskipun merasa sangat konyol saat menanggapi perkataan Calista, Arya tetap berakting tersenyum simpul.


Sementara itu, Calista yang kini tidak bisa menolak atau pun berlama-lama di sana karena khawatir jika Arya bosan dan ilfil, akhirnya menganggukkan kepala. "Senyuman terbit di bibir Calista saat merasa senang dengan jawaban Arya."


"Terima kasih, Sayang. Kau memang calon suami terbaik. Aku sangat suka yang ini." Kemudian melepaskan cincin itu dari jemari dan juga Arya, lalu menyerahkan pada pegawai wanita yang dari tadi setia menunggu saat melayani.


"Cincin ini saja. Jangan lupa kotak perhiasan sekalian," ucap Calista yang mengingatkan pada pegawai toko untuk memberikan tempat berbentuk cinta berwarna merah.

__ADS_1


Embusan napas lega kini seolah sangat mewakili Arya saat ini dan sekilas melirik jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangan kiri.


Tentu saja Arya tengah memperhitungkan waktu dari mengantarkan Calista pulang ke rumah, lalu ke kontrakan Putri. Terakhir adalah kembali ke istana keluarga.


'Kira-kira masih cukup atau tidak pergi ke kontrakan untuk menemui Putri? Jika aku sampai terlambat pulang ke rumah, pasti daddy akan marah. Namun, jika aku tidak memeriksa untuk memastikan bahwa Airin baik-baik saja, akan dipenuhi kekhawatiran.'


Arya dari tadi merasa khawatir jika Putri benar-benar melakukan hal buruk seperti mengakhiri nyawa sendiri bersama bayi yang baru berusia beberapa bulan itu.


Berpikir jika sampai terjadi sesuatu pada ibu dan anak itu karena menceraikan saat Airin melihat berselingkuh, Arya tidak akan pernah bisa tenang dan pastinya seumur hidup didera rasa bersalah.


Pada akhirnya Arya memilih untuk menenangkan diri dengan memenuhi pikiran positif. 'Tidak, Putri pasti baik-baik saja bersama Xander. Saat ini hanya marah saja padaku, sehingga tidak mau mengangkat panggilan.'


'Mungkin itulah yang membuat Putri menonaktifkan ponsel, agar aku tidak mengganggu,' gumam Arya yang kini merasakan Calista menepuk lengan dan menyadarkan dari lamunan.


"Bayar, Arya. Kenapa malah melamun?" Calista yang baru saja melihat pegawai toko memberikan surat keterangan sekaligus harga dari cincin pertunangan tersebut, melirik sekilas pada pria dengan tatapan kosong.


Seolah pikiran di tempat lain, sedangkan jiwa ada di sini, sehingga menyadarkan dan seolah terkejut. "Sebenarnya apa yang sedang kamu pikirkan?"


"Aku tidak memikirkan apapun, hanya saja sedikit gugup dengan acara lamaran nanti malam." Sengaja Arya berbohong dan saat ini berpikir bahwa apa yang dikatakan hari ini semuanya hanyalah kepalsuan semata demi menenangkan perasaan wanita di sebelah kiri tersebut.


Refleks Calista mendekatkan wajah dan berbisik di dekat daun telinga Arya. "Namun, kamu sama sekali tidak gugup ketika mengajakku bercinta, kan?"


Kemudian menarik diri dan tersenyum menyeringai saat melihat ekspresi wajah Arya yang seketika langsung merengkuh pinggang.


"Apakah kamu merindukannya?" Arya yang kini merasa Calista sangat nakal ketika membahas hal intim di tempat umum, memilih untuk langsung memeluk erat tubuh seksi wanita itu.


"Ya, kamu benar. Bahkan sangat." Tanpa merasa malu, kini Calista menjawab dengan jujur sambil terkekeh. "Aku yakin kamu juga seperti itu, bulan? Aku tahu yang kamu mau."


Meskipun berbicara sangat lirih agar tidak didengar oleh orang-orang yang ada di toko perhiasan, tetap saja merasa menjadi wanita nakal karena memancing Arya dengan hal-hal vulgar.


Sementara Arya yang dari tadi memikirkan Putri, seolah sedikit terhibur dengan perkataan nakal Calista saat ini. Bahkan sebagai seorang pria normal, saat dipancing seperti itu, langsung membayangkan tubuh telanjang Calista berada di hadapan dan mengungkung dalam kuasa.

__ADS_1


"Sepertinya kamu sudah sangat hafal denganku. Namun, sepertinya hari ini harus menahan diri karena tidak mungkin akan membawamu ke apartemen." Arya berbicara setelah memencet pin pada mesin untuk kartu kredit.


"Bagaimana kalau besok?" Calista berpikir bisa membuat Arya melupakan beban pikiran hari ini yang menganggu pria itu dengan cara memanfaatkan kelemahan.


Tentu saja kelemahan para pria adalah tidak bisa menahan gairah ketika mendapatkan rayuan dari seorang wanita yang mengajak ke atas ranjang. Berharap dengan tubuh yang sangat seksi dan juga pelayanan mengenai ****, pria itu akan melupakan mantan istri.


'Aku akan menggunakan semua kelebihanku untuk merantaimu di sisiku, Arya. Tidak akan kubiarkan kau sedetik pun memikirkan wanita itu,' gumam Calista yang kini melihat anggukan kepala dari Arya sambil tersenyum smirk.


"Rasanya aku ingin menculikmu setelah acara selesai." Arya yang baru saja menanggapi, mendengar suara dering ponsel milik Calista yang langsung memeriksa tas.


Calista kini melihat kontak sang ibu yang menghubungi dan menunjukkan pada Arya.


"Ada apa mama menelpon?"


"Segera jawab saja agar tahu." Arya berharap jika ibu wanita itu menyuruh agar segera pulang ke rumah karena dari tadi sudah cukup lama berada di toko perhiasan.


Calista yang mengiyakan perintah Arya dengan menggeser tombol hijau ke atas, kini mendengar suara dari seberang telpon.


"Sayang, kenapa belum pulang dari tadi? Hari ini acara lamaran dari keluarga Mahesa, bukan? Butuh persiapan dan kau pun juga harus dirias. Sebenarnya kau ada di mana? Cepat pulang sekarang!"


Calista menjauhkan ponsel dari daun telinga dan akhirnya membuka suara, agar sang ibu tidak lagi marah-marah.


"Ya, Ma. Ini baru selesai membeli cincin dengan Arya. Setelah ini aku pulang."


"Benarkah? Mama pikir kau pergi jalan bersama teman ke Mall. Baiklah, kalau begitu. Salam pada calon menantu laki-laki dan tidak perlu mengebut saat mengemudi," ucap wanita paruh baya di seberang telpon.


"Siap. Baiklah, aku pulang sekarang karena ini sudah selesai. Bye, Ma." Calista mematikan sambungan telpon setelah mendengar sang ibu mengiyakan.


Kemudian kembali memasukkan ponsel ke dalam tas dan beralih bergelayut manja di lengan kekar Arya. "Dapat salam dari calon mertua perempuan tadi."


"Benarkah? Kalau begitu, sampaikan salam balik pada mama." Arya kini melangkah keluar toko perhiasan dan seperti biasa, membukakan pintu untuk Calista.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2