Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Tidak bisa hidup tanpamu


__ADS_3

"Terima kasih ponselnya," ucap Amira Tan yang saat ini mengembalikan benda putih yang tadi dibawa untuk menemui Bagus di terminal.


Ya, sebelum berangkat ke kantor, sengaja menyuruh sopir untuk mampir ke klinik karena melarang Noah menemui Putri.


Entah apa penyebab Amira Tan merasa kesal saat melihat pria itu terlihat sangat bersemangat ketika membahas mengenai saudara perempuan tersebut.


Sementara itu, Putri saat ini hanya tersenyum simpul dan menganggukkan kepala sambil menerima benda pipi tersebut dari tangan Amira Tan.


"Bagaimana? Apa perasaanmu lebih baik setelah saling berpamitan?" Putri memilih untuk menaruh ponsel di atas laci sebelah kiri ranjang.


Sementara itu, Amira Tan merasa aneh dengan pertanyaan yang diungkapkan oleh Putri. Namun, tetap saja menganggukkan kepala karena memang saat ini sudah jauh lebih baik setelah bertemu dengan Bagus untuk terakhir kali.


"Sepertinya kamu memang benar. Aku sekarang jauh lebih baik dan tidak merasa terluka. Sebenarnya ini sangat konyol karena posisi kita saat ini adalah saudara tiri dan aku bisa memiliki perasaan pada pria yang kamu buang. Konyol sekali, bukan?"


Meskipun merasa seperti tidak mempunyai muka di hadapan Putri, tetapi seolah Amira Tan tidak malu jika sampai wanita malam di hadapan tersebut mengejek karena menyukai mantan suami saudara sendiri.


Sementara itu, Putri hanya menggelengkan kepala untuk mematahkan asumsi yang sama sekali tidak sesuai dengan pikiran saat ini.


"Kamu tahu, bahwa aku merasakan hal itu pada Arya dulu. Jadi, sampai tidak memperdulikan apapun karena berharap bisa hidup bersama pria yang kucintai."


"Itulah yang dinamakan cinta buta karena tidak tahu tempat. Aku sadar bahwa apa yang kulakukan salah, tapi keegoisan mengalahkan segalanya dan memilih jalan ini. Berharap apa yang kupilih akan mendapatkan kebahagiaan."


Putri tidak melanjutkan perkataannya karena yang selanjutnya hanyalah sebuah kepedihan dan tidak ingin diperlihatkan pada saudara perempuan yang terlihat sangat rapi dan menunjukkan akan berangkat ke kantor.


"Lebih baik kamu segera berangkat sebelum terlambat. Ini lewat jam kerja." Putri menatap ke arah jam dinding dan diikuti oleh Amira Tan yang menoleh ke belakang.


"Kamu tenang saja karena aku adalah bos di kantor sendiri. Mungkin membuat beberapa anak buah merasa iri karena tidak bisa datang sesuka hati." Amira Tan berbicara sambil terkekeh dan membanggakan diri dengan kesuksesan yang dicapai.


Refleks Putri mengangkat dua ibu jari untuk mengungkapkan applause dan mengingat akan sesuatu dan sekarang ditanyakan untuk menghilangkan rasa penasaran.

__ADS_1


"Kamu memang wanita yang sangat hebat. Mengenai pria yang tadi mengantarmu ke sini, apakah kau memiliki hubungan spesial?" Meskipun tahu, tetap saja Putri berpura-pura seperti wanita bodoh.


Seolah tidak tahu bahwa di antara mereka telah terjadi hubungan yang lebih dari sekedar teman. Apalagi tadi Noah ingin meminta bantuan untuk mendapatkan Amira Tan. Jadi, memilih menunggu pria itu menelpon.


Sementara Amira Tan saat ini hanya menggelengkan kepala untuk tidak membenarkan. "Aku belum bisa move on dari Bagus."


"Jadi, jangan berpikir macam-macam. Bahkan tadi sebelum pergi, dia memakaikan jaket pada tubuhku. Mana mungkin aku bisa melupakan dengan mudah perbuatan romantis pria bodoh itu yang menolak wanita hebat sepertiku."


"Membanggakan diri seolah menjadi wanita paling hebat dan pantas untuk pria manapun adalah ciri khas Amira Tan." Putri menyahut untuk mengungkapkan pendapat begitu melihat respon dari wanita yang berpakaian gelap tersebut.


"Semoga kamu segera menemukan pria yang bisa membuatmu move on dari Bagus. Karena aku tahu bahwa kalian berdua tidak akan pernah bersatu."


Bukan maksud Putri untuk mengubah suasana hati Amira Tan menjadi buruk, tetapi hanya ingin wanita itu sadar bahwa sama sekali tidak ada harapan di antara mereka.


"Bagus sudah mengatakan bahwa tidak akan menikah lagi dan ingin fokus mengurus anak. Aku yakin bahwa kamu pasti sudah mengerti akan hal itu." Putri kini menatap ke arah wanita yang terdiam dan seolah tertampar dengan apa yang baru saja ditanyakan.


Benar saja, Amira Tan selalu merasa kecil jika berhadapan dengan Putri. Padahal jika dilihat dari luar, kesuksesan membuat Amira Tan lebih unggul dibandingkan dengan saudara perempuan tiri tersebut.


"Kamu benar. Sepertinya aku harus belajar padamu mengenai cara menaklukkan hati seorang pria." Amira Tan berbicara sambil terkekeh karena merasa bahwa apa yang baru saja dikatakan sangat konyol.


Berbeda dengan apa yang saat ini dipikirkan oleh Putri. "Kamu tidak perlu melakukan apapun untuk menaklukkan seorang pria karena telah berhasil melakukan itu. Namun, kamu berpura-pura untuk tidak tahu karena menutup pintu hati."


"Lebih baik buka pintu hatimu untuk seseorang yang benar-benar tulus mencintaimu karena lebih baik dicintai dari pada mencintai. Ini adalah nasihat dari orang yang sudah berpengalaman mengenai asmara."


Meskipun nasihat yang disampaikan oleh Putri mewakili apa yang saat ini dirasakan, tetapi tidak menunjukkan jika ada sisi kehancuran dari dalam hati karena perbuatan pria yang sangat dicintai.


Putri tersenyum dengan penuh kepalsuan saat hati merintih karena menangis. "Aku yakin sebentar lagi kamu akan bahagia bersama pria yang tulus mencintaimu."


Doa tulus dari saudara perempuan tersebut, seolah menyentuh kalbu seorang Amira Tan yang sangat arogan.

__ADS_1


"Aku ingin kamu juga hidup bahagia, Putri. Jika membutuhkan bantuan apapun, katakan saja padaku. Karena sekarang sudah tidak ada Bagus di antara kita, sepertinya sudah sewajarnya jika aku bersikap baik padamu. Mengenai doa tulusmu itu, aku sangat menghargai dan terima kasih."


Amira Tan kini berjalan mendekati Putri, lalu memilih untuk memeluk tubuh wanita yang diketahui sudah dikhianati oleh sang suami.


Ingin menyalurkan aura positif untuk menghibur suasana hati Putri yang tidak baik-baik saja, Amira Tan sudah beberapa kali menepuk punggung.


Sebelum berpikir untuk mengatakan apa yang semalam dilihat, ia memilih untuk segera pergi dari ruangan tersebut.


"Terima kasih." Putri tersenyum dan merasa sedikit terhibur karena paling tidak ada satu orang yang peduli setelah mantan suami pergi.


"Iya, katakan saja jika membutuhkan bantuan. Aku pasti akan membantu jika bisa. Aku harus pergi sekarang karena waktu sudah semakin siang." Amira Tan melepaskan pelukan dan berbalik badan setelah melihat Putri menganggukkan kepala dan tersenyum simpul sebagai persetujuan.


Amira Tan yang sudah berada di depan pintu, menoleh sekilas ke belakang sebelum keluar. "Telpon aku nanti jika keluar dari klinik ini."


Tentu saja mengetahui bahwa Arya sudah tidak perduli dan mungkin tidak akan mengantarkan Putri pulang ke rumah.


"Baiklah. Aku akan menghubungimu nanti untuk mendapatkan tumpangan gratis, agar tidak mengeluarkan uang taksi saat pulang dari sini." Putri melambaikan tangan untuk mengucapkan salam perpisahan dan begitu pintu tertutup, wajah yang semula cerah tersebut, seketika muram dan menunjukkan keaslian.


Karena beberapa saat lalu hanya wajah penuh kepalsuan yang ditunjukkan pada saudara perempuan tersebut.


"Terima kasih. Aku merasa tidak sendirian setelah bertemu denganmu." Putri kini meraih ponsel yang ada di atas nakas dan memeriksa apakah ada pesan dari pria yang sangat dicintai.


Namun, ketika melihat tidak ada pesan yang diharapkan, wajah yang muram tersebut semakin bertambah penuh kekecewaan.


"Apa yang harus kulakukan? Aku tidak bisa terus seperti ini. Lebih baik aku mengunjungi Arya di perusahaan saat keluar dari sini nanti."


Putri bertekad untuk melakukan apapun agar bisa membuat Arya kembali seperti dulu dan tidak bersikap dingin seperti beberapa hari terakhir ini.


"Aku tidak ingin kehilangan pria yang kucintai. Jadi, harus berjuang sekuat tenaga untuk memperbaiki semuanya agar bisa kembali seperti dulu lagi."

__ADS_1


"Arya yang mencintai dan memujaku harus kembali. Aku tidak akan pernah bisa hidup tanpanya," ucap Putri yang kini kembali berkaca-kaca karena merasa sedih saat mengingat sikap dingin sang suami akhir-akhir ini


To be continued....


__ADS_2