Cinta Sang Pendosa

Cinta Sang Pendosa
Tatapan tidak suka


__ADS_3

Beberapa saat lalu, Amira Tan yang sudah selesai membersihkan diri, keluar dari kamar mandi dan mengerutkan kening ketika tidak melihat Noah. Berpikir jika pria itu ada di luar menunggu, lalu ia memilih untuk mengeluarkan lengkingan emas.


"Noah! Apa kau di luar?"


Hening dan sama sekali tidak ada jawaban dan hal itu berhasil membuat bulu kuduk meremang seketika karena membayangkan jika hantu tiba-tiba datang mencekik leher seperti cerita pria itu tadi.


Tidak ingin berpikir buruk, Amira Tan memilih untuk kembali berteriak, "Noah! Jangan main-main denganku! Ini tidak lucu."


Masih terus memenuhi pikiran positif pada kepala, bahwa Noah sedang menunggu di luar, tetapi mengerjai dengan cara tidak menjawab ketika dipanggil.


Dalam keheningan di ruangan kamar empat meter tersebut, Amira Tan mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk mencari sesuatu sebagai alat yang akan digunakan untuk melindungi diri dari bahaya mengancam.


Meskipun sangat tahu jika hantu tidak akan pernah bisa dipukul dengan alat apapun, tapi mendadak otaknya menjadi tumpul saat ketakutan.


Merasa harus melindungi diri, Amira Tan mengambil sesuatu dari atas nakas, yaitu alat berbentuk tongkat panjang yang biasa digunakan untuk foto selfie.


Kemudian memilih untuk mendaratkan tubuh di atas ranjang dan menggenggam erat tangan untuk perlindungan diri. Menunggu adalah hal yang terpaksa dilakukan.


Meskipun selama ini sangat tidak suka jika harus menunggu. "Ke mana Noah? Apakah sudah pergi dan meninggalkanku sendirian di sini?"


"Tega sekali dia padaku. Bukankah sudah mengetahui bahwa aku sangat takut dengan hantu yang diceritakan tadi?" Ingin sekali ia mengumpat sepuas hati, tetapi tidak berani melakukan itu karena berpikir akan mendapatkan kemurkaan dari makhluk tak kasat mata itu.


Begitu mendengar suara benda jatuh dari luar, tubuh Amira Tan berjenggit kaget dan mulai semakin meremang. "Siapa itu? Apakah itu kau, Noah? Jangan main-main seperti ini!"


"Aku benar-benar takut," lirihnya yang kini berpikir jika sesuatu yang jatuh itu adalah perbuatan hantu.


Ia berniat untuk beranjak dari kasur dan berjalan ke arah pintu untuk memeriksa dan berpikir jika Noah ada di depan. Namun, baru beberapa langkah dan belum sampai pintu, lampu tiba-tiba mati dan seketika membuatnya menjerit sangat kencang.


Tidak hanya itu saja, ia yang sangat takut sekaligus panik beberapa kali berteriak sambil menggerakkan alat di tangan ke kanan dan ke kiri.


Kaki jenjang Amira Tan bergerak mundur sambil merasakan rasa nyeri pada bagian inti. Sebenarnya Amira Tan merasa sangat lemas dan nyeri setelah perbuatan Noah tadi. Sama sekali tidak pernah menyangka jika setelah melakukan itu, seperti kehilangan seluruh tenaga.


Saat berjalan mundur karena sangat ketakutan ketika berpikir jika hantu telah berhasil masuk ke dalam kamar, beberapa saat kemudian, ia pingsan dan terjatuh di ranjang.


Tubuh Amira Tan yang lemas seketika lunglai dan terhempas ke ranjang tersebut, hingga kehilangan kesadaran.

__ADS_1


Sementara tetangga sebelah rumah yang mendengar suara teriakan, langsung datang dan membangunkan beberapa warga untuk memeriksa. Namun, sudah beberapa kali mengetuk pintu, sama sekali tidak ada jawaban.


Berpikir jika terjadi sesuatu pada wanita di dalam rumah tersebut, sehingga para tetangga tidak berani masuk dan memilih menunggu hingga sang pemilik rumah datang.


Sampai beberapa menit kemudian, masalah telah usai setelah Noah datang dan membawa ke rumah sakit.


Sementara itu, Noah yang baru saja mengatakan pada perawat bahwa tidak mengetahui apa yang terjadi pada pasien, merasa sangat terkejut karena ada yang memanggil nama Amira Tan.


Begitu melihat ada seorang wanita yang terlihat cantik, tapi dengan wajah pucat, Noah menyipitkan mata karena merasa penasaran dengan siapa sebenarnya yang tengah berjalan sambil mendorong tiang infus.


"Siapa kau? Apakah kau mengenal Amira Tan?"


Sementara itu, sosok wanita itu tak lain adalah Putri yang baru saja kembali mencari angin segar di luar ruangan dan karena bosan untuk kembali ke ruangan perawatan, Amira Tan berjalan menyusuri koridor rumah sakit dan tiba di dekat unit gawat darurat.


Begitu perhatian Putri melihat pada pasien yang baru datang, merasa sangat terkejut begitu melihat tenyata Amira Tan.


Ia kini mengamati sosok pria dengan kaos casual berwarna putih dan celana pendek, serta rambut acak-acakan yang terlihat diliputi oleh kekhawatiran. Seolah sangat khawatir pada pasien yang ternyata adalah saudara perempuan tirinya.


"Aku Putri, saudara perempuan Amira Tan dari ayah yang berbeda. Apa yang terjadi? Kenapa Amira Tan tidak sadarkan diri?" Rasa khawatir dan ingin tahu yang kini dirasakan Putri, seketika terjawab begitu bibir pria di hadapannya terbuka.


'Mana mungkin aku berbohong dalam situasi genting seperti ini,' gumamnya yang merasa heran dengan tanggapan wanita tersebut.


"Aku tahu sekarang." Amira Tan memilih untuk menunggu di luar ruangan karena tirdi diperbolehkan masuk oleh perawat.


"Lebih baik Anda kembali saja ke ruangan dan jangan mengganggu pekerjaan kami!" sarkas perawat berbadan kurus yang saat ini tengah berusaha melakukan pertolongan pertama di unit gawat darurat.


Kemudian beralih menatap ke arah sosok pria yang dianggap memiliki paras rupawan. Meskipun saat ini berpenampilan seadanya, tapi tidak menutupi pesona yang dimiliki.


"Lebih baik Anda jelaskan lebih detail pada saya." Kemudian menarik tirai, seolah tidak ingin pekerjaan terganggu karena ulah pasien lain yang ingin tahu.


Putri sebenarnya merasa sangat khawatir dan ingin tahu apa yang terjadi pada Amira Tan, tetapi tidak bisa melakukan apapun saat mendapatkan tatapan sinis.


Sebenarnya Putri sudah merasakan sikap beberapa perawat berubah, tetapi tidak mengambil pusing semua itu. Hanya saja, merasa sangat khawatir jika semua itu karena perbuatan Arya ketika tiba-tiba datang dan marah, lalu menyalurkan hasrat dengan sangat kasar.


Putri memilih pergi dan kembali ke ruangan karena kesal pada perawat. Berpikir jika nanti akan keluar lagi demi ingin melihat perkembangan Amira Tan.

__ADS_1


Akhirnya ia berjalan keluar dan menyusuri beberapa lorong kamar dan kembali membaringkan tubuh di atas ranjang pembaringan.


Sebenarnya ia ingin sekali menginterogasi pria itu mengenai Amira Tan, tapi berpikir jika itu akan mengganggu pekerjaan para perawat. Jadi, memilih untuk menunda hingga dipindahkan ke ruangan.


Putri terdiam sambil menatap langit-langit kamar. "Apa yang terjadi padamu, Amira Tan? Apakah pria itu yang menghiburmu dan menjadi pilihan untuk bisa melupakan Bagus?"


"Bukankah Amira Tan mencintai Bagus? Kenapa jam segini ada di rumah sakit? Bahkan ini masih pukul lima pagi, tapi mereka sedang bersama? Apa Amira Tan semalaman berada di rumah itu?"


Putri hanya bisa menangkap apa yang dilihat dan memastikan jika Amira Tan tidak pulang ke rumah karena menginap di tempat pria itu. "Syukurlah jika Amira Tan bisa melupakan Bagus dan menemukan pria lain."


Amira Tan terdiam karena sedang memikirkan banyak hal. Mengenai Arya yang tanpa menelpon atau mengirimkan pesan, lalu mengenai Xander dan terakhir adalah Amira Tan bersama pria itu.


Setelah kejadian Arya memaksa dengan sangat kasar, Amira Tan tidak bisa tidur nyenyak karena memikirkan jika sikap pria itu sudah tak seromantis dan selembut dulu.


Jujur dalam hatinya tengah diliputi kecemasan luar biasa mengenai suami yang memiliki usia lebih muda dan berasal dari keluarga konglomerat. Namun, masih berusaha berpikir positif karena tidak ingin semakin sakit.


Apalagi puncak dari penyakit yang dideritanya karena pikiran dan kedua adalah makan tidak teratur. Seolah dua kombinasi yang sangat klop. Di tambah lagi, kerinduan pada Xander yang tidak bisa ditemui karena bayi dilarang berada di rumah sakit."


Akhirnya menyuruh wanita yang merupakan suruhan dari Bagus untuk menjaga Xander di rumah. Namun, tidak pernah disangka olehnya jika Arya cemburu pada Bagus dan mengganti orang yang menjaga Xander.


"Harusnya aku merasa senang saat Arya terlihat sangat cemburu tadi, tapi tidak pernah menyangka jika akan melampiaskan amarah di ruangan ini."


Putri mengusap ranjang yang menjadi tempat duduk saat ini. Mengingat tentang perbuatan Arya yang pergi tanpa pamit setelah menyalurkan gairah.


"Aku takut Arya berselingkuh dengan wanita lain. Kenapa perasaan khawatir yang berkeliaran ini telah kutepis berkali-kali, tetapi tidak kunjung hilang juga. Apa yang sebenarnya terjadi?"


Terlihat Putri menggelengkan kepala berkali-kali untuk membuang semua pemikiran buruk itu. "Tidak! Arya mencintaiku dan akan menepati janji bahwa tidak akan pernah menduakanku."


"Kenapa aku sangat takut seperti ini?" Saat Putri masih diliputi oleh kekhawatiran mengenai Arya, di saat bersamaan mendengar suara pintu diketuk dari luar dan melihat sosok pria tak dikenal yang tadi bersama dengan Amira Tan.


"Kau? Kenapa datang ke sini? Bagaimana dengan Amira Tan?" Putri masih menatap sosok pria di hadapan.


"Amira Tan masih pingsan dan perawat sedang memeriksa. Aku tadi disuruh menunggu di luar. Jadi, ingin berbicara denganmu." Noah yang berjalan sambil menjelaskan, merasa tidak punya waktu lagi karena saat ini tengah berlomba dengan waktu.


"Lebih baik cepat katakan karena aku tidak ingin ada yang berpikir jelek tentangmu. Bisa saja ada orang tidak suka denganku dan memfitnahmu," ucap Putri yang mengingat tatapan dari perawat ketika jelas terlihat tidak suka.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2